JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
NASEHAT


__ADS_3

Hari-hari banyak Rais dan Ara lewati dengan suka cita. Tak ada kejadian-kejadian yang membuat keduanya saling bersitegang. Semenjak ketegasan sikap Rais waktu itu, membuat rumah tangganya semakin akur dan harmonis.


Sudah hampir tujuh bulan mereka menikah. Rasa ingin segera mempunyai momongan, nampak terlihat di kedua raut pasangan muda itu. Apalagi, setiap kali ibunda Ara telepon, selalu menanyakan; bagaimana dan kapan kira-kìra akan hamil. Membuat Ara seperti diikejar target.


Siang ini, nampak kediaman Rais sunyi, pintu serta jendela rumah itu tertutup rapat. Hanya terdengar rintihan-rintihan lirih dari balik tembok. Rupanya dua sejoli itu tengah memadu cinta di atas ranjang.


"Gimana, Mi?" bisik Rais kepada Ara.


Perempuan itu nampak tersengal, napasnya berburu tak beraturan. Matanya terpejam, bibirnya nampak ia gigit kuat-kuat.


Desahan demi desahan tercipta dari bibir Ara, terkadang terdengar ia merengek kepada sang suami.


Butuh waktu hampir satu jam, mereka baru menyelesaikan misi kenegaraannya. Sebelum Rais menitipkan calon benih pada Ara. Perempuan itu segera meraih bantal untuk ditaruh dibagian bokongnya.


"Aarrrgg..." Kedua anak adam ìtu saling berteriak ketika mencapai kenikmatan.


Suara beduk duhur telah berkumandang, Ara segera meninggalkan Raia yang masih terlelap dalam tidurnya. Sepertinya laki-laki itu sangat lelah akibat permainannya beberapa menit yang lalu. Ara membiarkannya terlebih dulu, ia akan mandi dulu, setelah itu baru dia akan membangunkan Rais.


Tak butuh waktu lama, Ara telah keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk putih melilit dibagian dadanya. Perempuan itu membangunkan sang suami dengan begitu lembut.


"Bi? Bangun, udah duhur. Mandi dulu, terus sholat." ucap Ara di telinga Rais.


"Bentar Mi, ngumpulin nyawa dulu."


"Ih ngumpulin nyawanya nanti dulu. Waktunya sholat, Bi."


Dengan rasa malas, Rais pun segera beranjak dari tempat tidurnya, matanya masih nampak malas terbuka.


"Abi? Melek dulu ih. Ntar kejedot kalau jalan sambil merem."


"Heem." jawabnya.


Setelah keduanya usai melaksnakan sholat duhur berjamaah, mereka berdua terlihat sedang berjalan ke ruang tamu. Hari ini Rais memutuskan untuk libur todak berjualan susu. Mereka berdua akan berkunjung kerumah orang tua Rais.


"Kita nginep apa gimana Bi?" Tanya Ara sembari membetulkan posisi jilbabnya.


"Ehm, belum tahu, Mi."


Rais mendapat kabar dari sang ibu, jika neneknya sedang jatuh sakit. Oleh sebab itu, Rais meminta kepada sang istri untuk melihat keadaan sang nenek.


Setelah sampai di rumah sang ibu, Rais dan Ara segera berjalan menuju rumah sang nenek yang tidak jauh dari rumah orang tua Rais. Banyak para tetangga keluar rumah hanya ingin melihat wajah cantik sang dokter, yang kini sudah ber alih profesi menjadi seorang penjual susu keliling karena mengikuti jejak sang suami.

__ADS_1


Ara memang nampak begitu cantik, bahkan cenderung manis dan berkarisma. Jika ia tersenyum, membuat para penikmat senyum itu enggan berkedip. Siapa nyana, jika dokter yang begitu cantik itu akan memdapatkan seorang penjual susu keliling sebagai jodohnya. Bahkan sang suami yang begitu terlihat sederhana dan biasa saja. Namun, itulah jalan jodoh. Kita tidak akan pernah tahu, dengan siapa kelak kita akan bersanding.


Sesampai dirumah sang nenek. Kini Ara mulai mengeluarkan alat-alat kesehatannya. Ia begiu terlihat cekatan memeriksa sang nenek. Membuat wanita renta itu tersenyum melihat kelembutan sang cucu menantu memperlakukannya begitu telaten.


"Nduk? Cah ayu? nginep dirumah Mbah, ya?" Pinta sang nenek kepada Ara.


Ara tersenyum lembut, ia melihat ke Arah Rais yang tengah duduk disamping sang nenek. "Saya apa kata Mas Rais, Mbah. Kalau kata Mas Rais nginep, nggeh nginep." Ucap Ara lembut.


"Le ... Is, nginep ya, Le? Mbah kangen sama kamu dan istrimu."


"Nggeh, Mbah. Saya dan Dek Ara mau nginep nemenin Mbah disini."


Betapa bahagia wanita renta itu, ia begitu sangat bersyukur. Sang cucu mendapat wanita cantik berhati lembut serta sholehah.


"Gimana Mbak Ara? Mbah darah tingginya?" Suara sang ibu memecah dari balik pintu kamar sang nenek.


"Iya, Um ... darah tinggi Mbah naik. Makanya saya mau nginep disini dulu. Mau ngerawat Mbah, iya kan, Bi?" Tutur Ara sembari melihat ke arah Rais.


"Bersyukur kamu Le dapet istri se pengertian kaya Mbak Ara. Umma begitu bahagia lihat kalian berdua." Ucap ibu Rais sembari mengelus punggung sang menantu.


"Makasih Um." Ucap Ara.


"Umma dan Mbah yang justru berterimakasih sama Mbak Ara. Karena sudah mau menemani anak Umma yang nggak punya apa-apa ini. Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian."


"Nduk? Kalau itu jangan kamu target ya, Nak? Allah itu Maha tahu, kapan waktu yang tepat bagi kalian untuk dititipi amanah besar itu. Saat ini, kalian berdua cukup berusaha dan ikhtiar dalam doa. Umma nggak mau mengharuskan kalian punya anak di tahun ini atau tahun-tahun berikutnya Bagi Umma, kapan pun kalian di titipi amanah. Umma dan keluarga disini akan menerimanya dengan bentuk Karunia."


"Makasih ya, Um." Ucap Ara sembari memeluk sang mertua.


Sejenak ruangan tersebut nampak hening, Rais tersenyum melihat ke akaraban yang terjadi di antara ibu dan istri, begitu juga dengan nenek Rais yang masih terbaring lemah diatas dipan, ia tersenyum bahagia akan kedekatan Ara dan sang anak.


Keheningan nampak pecah ketika lengkingan ponsel Rais berdering, sebuah panggilan masuk berseru untuk segera di angkat oleh sang pemilik. Tak ada nama hanya dua belas digit angka tertera di layar ponsel.


"Siapa, Bi yang telpon?"


"Nggak tahu, Mi. Nggak ada namanya. Udah biarin, nggak Abi angkat."


"Angkat Bi, takutnya dari pelanggan."


"Ummi aja yang angkat," Raia segera menyeŕahkan ponselnya kepada Ara.


Ara pun segera mengangkat panggilan tersebut.

__ADS_1


"Assalamualaiakum," ucap Ara.


"Waalikumsalam," suara lirih terdengar dari ujung ponsel.


Kedua alis Ara nampak saling bertahutan. Perempuan itu bingung siapa gerangan yang tengah menelpon ponsel sang suami dengan suara begitu lirih.


"Maaf? Ini dengan siapa?" Selidik Ara.


"Mbak Ara? lni saya, Mayra. Mas Rais ada?" ucap penelpon yang tak lain dan tak bukan adalah Mayra.


Begitu terkejutnya Ara ketika wanita dalam ponsel itu memberi tahu namanya, Ia tidak menyangka bahwa Mira masih akan menghubungi suaminya.


" Ada apa Mbak May? kenapa menghubungi suamiku?"


" Mbak Ara, Mayra mohon supaya Mbak Ara mengijinkan Mas Rais untuk menemui saya di rumah, Mbak. Karena saya sedang sakit dan ingin bertemu dengan Mas Rais."


Ibu Rais yang tengah duduk disamping Ara terkejut ketika Ara menyebut nama Mayra.


"Sini Mbak, biar Umma yang ngomong sama Mayra." Pinta ibu Rais dengan suara lirih.


Rais yang duduk di sebelah sang nenek, kini beranjak dan menuju merek berdua.


"Um, Mi? Lebih baik diluar saja. Mbah mau istirahat. Rais mau nemenin Mbah. Rais harap, Umma dan Ummi bisa ngomong baik-baik sama Mayra. Jangan sampai ada keributan." Pinta Rais.


Dua wanita beda generasi tersebut langsung keluar dari kamar sang nenek.


"Halo Mbak Ara? Mbak masih disitu 'kan?" Ucap Mayra dari balik ponsel.


"Ngapunten Mbak May? Ini saya, Umma nya mas Rais. Ada apa ya, Mbak? Kok telpon putra saya?" Ucap ibu Rais lembut.


Mayra tak menjawab, suasanya hening beberapa saat.


"Mbak May? Mohon maaf sekali lagi. Bukan Umma mau ikut campur masalah kalian. Tapi, alangkah baiknya jika Mbak May nggak mengganggu rumah tangga putra saya, Mbak? Kisah Mbak May dengan Rais itu sudah selesai empat tahun yang lalu. Dimana, saat kami bertandang kerumah Mbak May untuk melamar Mbak dan keluarga Mbak nggak nerima lamaran kami. Jadi, Umma harap, Mbak May nggak mengusik kebahagiaan putra saya dengan istri." Ucap ibu Rais panjang lebar, namun dengan nada begitu halua dan lembut. Bahkan sesekali Ara melihat sang mertua memolea bibirnya dengan senyuman.


"Tapi, Um ... saya lagi sakit?" Ucap May dari balik ponsel dengan nada lirih, bahkan terdengar gadis itu menahan isaķaan tangis.


"Ngapunten lho, Mbak May? Jika pun Mbak sakit, itu sudah tidak ada urusannya dengan putra Umma. Kalian bùkan siapa-siapa, Mbak? Kami disini akan mendoakan kesembuhan untuk Mbak May. Tapi, bukan berarti mas Rais akan menemui Mbak May, lho? Umma berharap Mbak May ngerti jika mas Rais itu sudah tidak sendiri. Ada hati yang memang benar-benar harus dijaga Mbak. Bukan sekedar dijaga, namun harus di rawat. Gimana kalau misal saat ini posisi Mbak May ada di posisi istri mas Rais? Apa Mbak akan nerima ketika Ara juga bersikap demikian sama Mbak May?"


Mayra lagi-lagi terdiam, hanya suara isakan yang masih ia usahakan untuk tidak terdengar oleh ibu Rais.


"Umma tahu, Mbak adalah gadis yang pintar dan cerdas. Bahkan, Umma paham jika Mbak May tidak akan pernah mau menghancurkan rumah tangga orang lain demi ke egoisan Mbak. Jangan pernah merebut apa yang Allah tetapkan bukan untuk kita. Allah itu Maha tahu, siapa yang tepat bersanding dengan kita. Umma doakan semoga mbak May segera di pertemukan dengan jodoh yang kuar biasa baiknya. Dan semoga mbak May juga lekas sembuh. aamiin."

__ADS_1


"Makasih, Um." ucap May singkat, lalu gadis itu mematikan panggilannya tanpa memberi salam kepada ibu Rais.


__ADS_2