
Sepulang dari resto, Ara nampak tak seperti biasa. Wanita cantik itu banyak diam serta membuang pandangannya keluar kaca jendela mobilnya. Ia hanya sesekali bersuara ketika Rais bertanya padanya. Pikiran Ara masih berusaha menebak; siapa gerangan Mayra? Mengapa Rais tidak pernah bercerita tentang dia kepadanya?
Rais yang mengemudikan mobil, terlihat sedikit canggung. Suasana memang sangat nampak berbeda, berbeda ketika perjalanan menuju resto tadi. Lelaki karismatik tersebut nampak sedikit bingung dengan tingkah sang istri. Batinnya menebak, jika Ara bersikap demikian, sebab ia menaruh curiga terhadap Mayra.
"Ummi kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Nggak biasanya Ummi diem gini."
"Capek."
"Masa?"
Ara menjawab pertanyaan Rais hanya dengan anggukan saja.
"Abi ada salah?"
Pakai bilang ada salah! Dasar laki-laki, nggak ngerasa apa! Kalau aku naruh curiga sama tingkahnya dengan Mayra. Kata Ara dalam hatinya.
Perempuan cantik itu hanya nampak menghembuskan napasnya dengan kesal.
"Masalah, Mayra?" Ucap Rais.
"Kenapa?" tutur Ara berlagak tidak paham.
"Ummi kesal sama Abi gara-gara Mayra? lya Kan?"
"Abi bilang nggak ada yang ditutup-tutupi. Tapi kenapa Ummi ngerasa aneh ya sama kalian berdua." ucap Ara datar.
"Apakah dia sebegitu penting, hingga Abi harus menceritakan siapa dia sama, Ummi?" Rais melempar tanya kepada sang istri.
"Setidaknya kasih tahu Ummi, jika Abi tidak sekedar punya kawan laki-laki."
Rais tersenyum. "Nanti Abi cerita kalau udh sampai di hotel."
Ara kembali menghembuskan napasnya kesal.
__ADS_1
Sesampai di kamar hotel. Ara masuk dalam kamar mandi. Ia menumoahkan kekesalannya terhadap Rais dengan cara mengguyur tubuhnya dengan air yang keluar dari shower.
"Ummi ngapain?" Tanya Rais dari balik pintu. Lelaki itu mencoba membuka pintu kamar mandi, namun terkunci rapat.
"Mandi." Jawab sang istrì singkat.
Lelaki itu melangkah menuju bibir dipan. Matanya fokus melihat ke sela-sela jemarinya yang ditaruhnya diatas meja. Pikirannya berhambur entah kemana. Janjinya untuk tidak menyakiti hati sang istri, mungkin kali ini telah tercoreng. Ara benar-benar berubah kepadanya.
Ara menghabiskan waktunya dalam kamar mandi hampir satu jam, hingga akhirnya ia keluar dengan memakai handuk yang melilit di bagian dadanya. Membuat Rais tak dapat memalingkan pandangannya. Namun, ia segera menepis keinginannya untuk mencumbu sang istri.
"Ummi marah gara-gara, Mayra?"
"Kenapa tanya lagi? Katanya tadi mau cerita." ucap Ara ketus.
Rais nampak ragu ingin bercerita. Ia takut kejujurannya pada sang istri aka berdampak fatal.
"Tapi Ummi jangan marah."
"Lho? Kok gitu? Apa kalian memang ada hubungan?" Ucap Ara sembari mengeringkan rambutnya didepan cermin.
Rais terdiam, lelaki itu mengumpulkan keberaniannya untuk bercerita tentang Mayra kepada Ara.
Kali ini Ara duduk dihadapn cermin. Ia mengambil posisi ternyaman untuk mendengar pengakuan sang suami.
"Abi dan Mayra memang kenal dekat."
Ara memilih tidak memotong pembicaraan Rais. Ia mendengarkan cerita Rais.
"Kami dulu sempat satu kampus. Sebwlum akhirnya Mayra pindah ke Kairo. Tapi, kami tidak satu jurusan. Abi yang memang dari awal fokus pada ilmu dagang. Mayra, dia___" Rais mengehentikan kata-katanya. Matanya mulai menyelidik ke arah Ara yang serius mendengarkan ceritanya.
"Dia apa?" tanya Ara.
"Dia ngambil filsafat Alquran."
"Lalu?"
"Yaudah gitu aja. Hingga akhirnya kami dekat."
__ADS_1
"Sedekat apa?"
"Ummi jutek amat?"
"Nggak. Biasa aja!"
"Iya, Abi memang pernah dekat sekali dengan Mayra. Itu terjadi begitu saja. Kami kenal disaat kami sama-sama Maba." Lelaki itu diam sejenak. Memikirkan kata-kata yang akan dilanjutkannya. "Setelah kami dekat, Abi mutusin untuk ngajak Mayra nikah."
"Apa! Nikah?"
"Iya. Tapi, pas Abi kerumah Mayra untuk memintanya menikah dengan Abi. Orang tua Mayra mengirim dia ke Kairo. Mereka sengaja memindahkan Mayra kesana. Hingga kami tidak bisa komunikasi lagi." ucapnya lirih, Rais terlihat menundukkan padangannya. Ia tak berani menatap wajah sang istri. "Empat kali Abi memcoba untuk mendatangi kediaman Mayra. Tapi selalu ditolak. Malah, ayah Mayra ngusir Abi. Beliau bilang jika Mayra sudah dijodohkan dengan anak kawannya."
"Sudah berapa lama kalian nggak ketemu?"
"Sudah lama, Mi. Tadi itu untuk pertama kalinya Abi ketemu Mayra lagi, sejak terakhir enam tahun yang lalu."
"Apakah benih-benih cinta itu tumbuh kembali? Setelah pertemuan tadi?" Tanya Ara sedikit bergetar.
"Ummi ngomong apa sih, Mi? Abi udah nikah sama Ummi. Nggak mungkin bagi Abi menyukai wanita lain selain istri Abi."
"Tapi tidak menutup kemungkinan, kalau rasa itu masih ada kan, Bi?"
"Atagfirullah ... Ummi."
"Entahlah, Bi. Ummi capek, mau istirahat."
"Ummi marah sama Abi?" Tanya Rais lirih.
"Nggak. Cuma sedikit syok aja. Dulu, Abi bilang nggak pernah jatuh cinta sebelumnya. Bahkan Abi bilang belum pernah menyukai seseorang. Tapi nyatanya? Abi bohong sama Ummi."
"Maafin Abi, Mi. Demi Allah, Abi saat ini hanya sayang sama Ummi."
"Iya, Ummi percaya, kalau saat ini Abi cinta sama Ummi. Tapi, tidak menutup kemungkinan, jika suatu saat nanti benih-benih cinta itu akan hadir kembali."
"Istigfar, Mi. Abi bukan laki-laki seperti itu. Abi memang salah karena telah berbohong sama Ummi. Tapi, Abi pikir untuk apa menceritakan masalalu. ltu hanya akan mengorek luka lama."
"Apa Abi ada niatan buat poligami?" tanya Ara serius. Kedua matanya jatuh tepat dikedua manik Rais.
__ADS_1
"Laki-laki memang bisa menikahi wanita lebih dari satu, Mi. Itu sunnah. Tapi itu bagi yang mampu. Abi tidak mampu, dan bagi Abi, yang mampu berlaku adil kepada istri-istrinya hanyalah Rasulullah. Tidak dengan Abi. Bagi Abi, cukup Ummi yang menemani Abi hingga ajal menjemput. Abi tidak hanya ingin se dunia sama Ummi, tapi se surga juga."
Mendengar pernyataan Rais, membuat hati Ara luluh. Namun, wanita itu tidak ingin cepat-cepat mempercayai kata-kata sang suami. Bagaimana pun juga, Allah Maha Membolak-balikkan hati Ummatnya. Jika saat ini Rais bisa berucap demikian, bisa saja suatu saat ucapannya akan bertolak 180 derajat.