JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
KEMUNGINAN MEMANG IYA.


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Rais dan Ara ke Jakarta, Ara terlihat begitu cuek kepada sang suami. Bahkan di dalam pesawat tadi, Ara kembali tidur dengan suara dengkuran yang membuat Rais harus minta maaf kepada penumpang lain.


Sesampai di Halim Perdana Kusuma, Ara nampak tidak sabar ingin segera sampai dirumah orang tuanya. Ia seperti seterikaan yang mondar mandir menunggu kedatang Pak Mus sang sopir pribadi keluarganya.


Ara nampak merogoh sesuatu dalam tasnya. Sebuah bendah pipih bercoka hitam. Lalu jempolnya mulai menekan dan mencaŕi sebuah nama.


"Pak Mus udah dimana? Lama banget!" Tuka Ara jutek.


Rais yang melihat tingkah sang istri hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tidak menyangka jika perubahan Ara se drastis ini. Ketus.


"Yasudah! Jangan lama-lama. Kalau terlalu lama, nanti saya naik taxi." Ucap kembali Ara, lalu mematikan panggilan keluarnya.


"Mi? Kenapa harus jutek nada ngomongnya? Ummi nggak seperti biasa. Sepertinya Abi nggak ngenalin Ummi yang dulu." Ucap Rais halus.


"Maunya Abi Ummi harus gimana?" Tanya Ara jutek. "Eh Bi, beliin es krim itu Bi? Kayanya enak." timpalnya ketila sorot matanya menangkap sebuah kedai khusus es krim.


"Iya, Ummi tunggu disini, Abi beliin bentar." Jawab Rais lalu melangkah ketempat es krim


"Bi!" Panggil Ara.


Rais pun menoleh.


"Tiga ya."


Rais tercengan ketika sang istri bilang tiga.


"Seriusan Ummi mau makan es krim ini tiga-tiganya?"


"Siapa bilang Ummi yang mau makan."


"Terus?"


"Abi lah."


"Kok jadi Abi yang makan? Ummi kan yang minta?" Protes Rais.


"Nyenengin hati istri itu ibadah. Ayo dimakan." Ucap Ara sembari menyuapkan es krim ke dalam mulut Rais.


Dari gelagat sang istri yang benar-benar diluar malar. Rais pun menerka-nerka.


"Ummi hamil, ya?"


"Kok Abi bisa bilang Ummi hamil?"


"Habisnya Ummi aneh. Aneh banget malah. Sekarang Abi disuruh makan es krim sampe tiga gini."


"Entahlah Bi. Ummi nggak mau di PHP lagi. Kaya yang udah-udah. Pas di tespek hasilnya nihil. Udah ayo dimakan masih banyak nih."

__ADS_1


"Udah Mi. Abi kenyang."


Ara nampak murung, matanya seketika berair ketika Rais tidak mau memakan es krim tersebut.


"Iya-iya, Abi makan lagi, nih."


Ara nampak girang ketika sang suami mau memakan apa yang ia suruh.


Tiga puluh menit mereka menunggu Pak Mus sang sopir, akhirnya sampai di tempat Rais dan Ara menunggu.


Ngomel? Sudah tentu Ara mengomel sepanjang jalan dari bandara hingga sampai kerumah. Membuat dua lelaki penghuni mobil tersebut engab dibuatnya.


Kenapa Non Ara jadi jutek gitu, ya? Runtuk Pak Mus dalam hati.


"Assalamuaikum, Mama masak apa hari ini?" Ucap Ara ketika bertemu dengan sang Mama.


"Waalaikumsalam, bukan tanya kabar malah tanya masakan." Ucap sang mama dengan senyum.


"Nggak tahu, Ma. Dari kemaren Dek Ara pengen masakan Mama katanya." Ucap Rais.


"Hamil kali, Mas." Ucap sang mama meledek. "Kayanya kamu hamil, Nak." Lanjut sang mama sembari meraba pinggang Ara.


Ara menautkan kedua alisnya, "emh, masa sih, Ma?"


"Sepertinya gitu."


"Aamiin."


Setelah berbincang-bincang sejenak, akhirnya Ara dan Rais menuju ke dalam kamar untuk membersihkan badan.


"Abi! Bajunya jangan ditaruh diranjang." Ucap Ara setengah berteriak.


"Kenapa? Kan kotor?" Jawab Rais heran.


Ara sekonyong-koyong menghampiri Rais yang tengah berdiri disamping ranjang pakaian kotor dalam kamar.


"Sini." Ucap Ara ketus. "Abi mandi aja sana, biar baju ini jadi urusan Ummi."


"Mau Ummi apain? Kalau emang Ummi nggak suka ama Abi, jangan dibuang bajunya. Nanti Abi cuci, Abi mau mandi dulu." Ucap Rais sedikit kesal dengan kelakuan sang istri.


"Iya, udah sana mandi."


Setelah beberapa menit Rais mandi, ia nampak kekuar kamar mandi. Alangkah terkejutnya lelaki itu mendapati baju yang Ara minta tadi.


"Seprtinya Ummi memang hamil." Ucap Rais tersenyum.


Ya, baju yang dikenakan Rais seharian tadi, dibawa Ara tidur. Nampak Ara sangat menikmati aroma baju yang telah bercampur dengan keringat sang suami.

__ADS_1


Rais pun menghampiri Ara yang tengah lelap mendekap baju tersebut. Rais ingin mencium kening sang wanita. Namun, alangkah terkejutnya Rais, ketika baru saja ia akan melayangkan kecupannnya, malah harus menahan sakit akibat kena pukul oleh Ara.


"Aduh Ummi, sakit" Erang Rais sembari nyengir menahan rasa sakit di tengkuknya.


"Maaf." Ucap Ara cuek.


"Astagfirullah sabar."


"Maksud Abi apa?"


"Nggak apa-apa. Ummi lanjut tidur aja. Abi mau ngobrol sama mama."


Rais segera turun dari lantai dua untuk segera menemui sang mertua. Ia ingin bertanya apa saja ciri-ciri orang hamil muda. Sebab, Rais merasa Ara begitu anej. Bahkan, perempuan itu tidak mau sedikit pun diganggu oleh Rais. Namun, anehnya Ara malah suka mengendus baju Rais yang bau kringat.


"Ma? Memangnya kalau hamil itu ciri-cirinya apa selain perut membuncit?" Tanya Rais tanpa malu-malu.


"Ya bisa kaya istrimu itu , Mas. Lihat saja tingkahnya, apalagi makannya pilih-pilih. Yang lebih menonjol itu pinggang istrimu kaku, nggak seperti pinggang orang pada umumnya."


Rais masih nampak bingung dengan penjelasan sang mama. Ia ingin sekali mengajak Ara untuk periksa ke dokter kandungan. Namun, Ara berdalih tidak mau di PHP lagi. Bagi Ara, jika memang hamil biarkan saja. Biarkan sang jabang bayi sesuka hati dulu.


"Apa suka mengendus baju milik suami juga bisa menandakan jika dia hamil, Ma?"


Terlihat sang mama terbelalak sebelum pada akhirnya ia tertawa gelak-gelak. "Serius dia nyiumin baju kotor kamu."


"Apaan? Kok kayanya lagi pada ngomongin Ara?" Ara nampak terlihat berdiri di atas lantai dua sembari membawa baju Rais.


"Mi? Kita ke dokter, yuk?"


"Dokter? Ummi kan juga dokter Bi?"


"Ya kan bukan dokter kandungan, sayang."


"Abi aja sana. Ummi mau lanjut tidur dulu."


Mama Ara terlihat hanya menggelengkan kepala ketika sang putri menjawab ajakan sang suami.


"Kasihan dedeknya kalau nggak di periksain, Nak."


"Besok aja. Serius Ara hari ini pengen tidur, nggak pengen kemana-mana. Nggak pengen makan apa-apa."


"Lho gimana sih? Tadi pas dijalan telpon Mama, katanya pengen dimasakin sayur asem bikinan Mama. Mama udah masak lho?"


"Suruh aja Abi makan, Ma. Suruh abisin. Kalau nggak abis tidur diluar." Ucap Ara sembari berlalu masuk dalam kamar lagi.


Rais hanya terlihat menepuk keningnya. Lalu sang mama terlihat menertawakan nasib sang menantu.


"Udah turutin aja. Memang kalau orang tengah hamil muda, banyak banget maunya." Tutur sang mertua, membuat Rais menelan ludah.

__ADS_1


__ADS_2