
"Zaki kenapa ya, Mi?" tanya Rais ketika pemuda yang berstatus sahabat sang istri telah pulang dari kediamannya.
Ara menggeleng, "Ummi nggak tahu, Bi. Apa? Apa mungkin si Zaki___" belum sempat Ara melanjutkan kata-katanya, Rais memotong.
"Jatuh cinta?" ucapnya gamang.
"Emh ... bisa jadi, Bi. Soalnya tiap kali ummi lihat Zaki ketemu Mila, dia kaya yang gugup gitu."
"Tapi masa iya, Mi?"
"Kenapa? Kalau Allah udah ngasih jalan jodoh, nggak ada yang nggak mungkin 'kan, Bi?"
Rais bergeming, ayah dua anak itu hanya menggeleng sembari mengerucutkan kedua pundaknya.
****
Hari beranjak sore, senja yang nampak terlukis diatas awan begitu cantik dengan penampakan kilau kuning saga. Nampak seorang gadis berjihab tosca sedang duduk di pelataran rumah Rais. Netranya berhambur ke arah sang senja yang sepertinya sudah akan berpamitan untuk berganti deengan gulita malam. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Mila. sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.
"Ndug, nanti setelah sholat magrib, Mas anter kamu balik ke pondok, ya?" sebuah suara memecah lamunan Mila.
"Iya, Mas." Jawab Mila singkat, gadis itu pun tak lupa mengulum senyum pada sang kakak tercintanya.
"Kamu kenapa? Kok sepertinya banyak pikiran?" Rais beringsut duduk di sebelah sang adik tercinta.
Mila menggeleng, kedua tangannya saling beradu mengopek-ngopek ranting kayu kecil. "Nggak apa-apa, Mas."
"Sejak kapan adik mas Rais suka bohong?" ucap Rais tersenyum.
Mila terdiam, ranting kayu yang ia mainkan sedari tadi, sekonyong-konyong ia lempar jauh ke arah depan pandangannya. "Mila hanya mikir, apa kira-kira Mila bisa menghadapi ujian akhir ya, Mas? Mila takut nggak lulus."
Rais memegang jemari sang adik disertai senyum, "sejak kapan juga, adik mas Rais nggak percaya diri seperti ini?"
"Mila serius Mas!"
"Apa Mas kelihatan nggak serius?" Rais memasanv wajah serius, hingga kedua alisnya saling bertautan. "Mas yakin dan percaya, adik mas yang cantik ini pasti bisa melewati ujian akhir dengan mulus dan lancar, tanpa ada halangan sedikitpun."
"Aamiin." makasih ya, Mas."
"Iya sama-sama sayang. Ayo masuk, udah mau magrib. Pamali anak gadis surup-surup masih di luad rumah. Bengong lagi." Canda Rais sembari menarik tangan Mila untuk segera masuk ke dalam rumah.
Sepuluh menit berlalu, suada adzan dari segala penjuru kampung di mana tempat Rais dan Ara tinggal telah berkumandang. Seruan untuk mengajak para mengikut agama islam terdengar. Serempak keluadga kecil Rais itu pun segera menuju pancuran untuk berwudhu, setelah berwudhu, mereka siap-siap untuk melaksanakan sholat magrib, kecuali Rais. la melesatkan langkahnya menuju surau yang tak jauh dari kediamannya untuk berjamaah.
Setelah ritual ke agamaan usai, Rais, Ara dan Mila kumpul di ruang makan. Ya, mereka hendak melaksanakan makan malam sebelum pada akhirnya Rais mengantar Mila kembali ke tempat penjara sucinya.
"Dek, makan yang banyak. Mbak tadi sengaja masak menu favoritmu, biar kamu makannya banyak."
Mila nampak tak segut, gadia itu hanya mengangguk dan mengucapkan terimaksih pada sang kakak ipar yang sudah bersusah payah memasakkan makanan favoritnya.
"Nggak usah dipikir, jalani saja. Ber ikhtiar, setelah itu serhkan semua hasil akhirnya pada Allah." Celetuk Ara.
"lya Mbak. Tapi Mila takut nggak lulus, Mila kan pengen nerusin kuliah di UGM. Kalau sampe nilai Mila anjlok, Mila nggak bakal di terima di universitas itu."
"Kamu boleh bermimpi ingin mewujudkan cita-citamu dengan belajar disana. Tapi kamu juga harus tahu batasan-batasan apa yang nggak bisa kamu lampaui, Dek. Disana emang bagus, tapi ... nggak menutup kemungkinan tempat yang lain juga bagus untuk menimba ilmu, andai disana kamu gagal. Percayalah, bukan hanya satu tempat yang akan membuatmu meraih impian dan sukses." Terang Ara panjang lebar.
"lya, Mbak. Makasih untuk nasehatnya."
__ADS_1
Setelah makan malam usai, kini waktunya Rais mengantar Mila kembali menimba ilmu di pondok milik keluarga besarnya.
Sepanjang perjalanan Rais mengantar Mila, gadia itu banyak diam. Tidak seperti biasanya, gadis itu bahkan tidak bawel sama sekali.
Sesampai di gerbang pondok, Rais mematikan mesin kendaraannya. Mengantar sang adik hingga ke pelataran pondok. Sebelum meninggalkan Mila pulang, Rais nampak bertanya sesuatu pada sang adik.
"Jujur sama Mas. Apa yang membuat kamu galau seperti ini, selain masalah ujian akhirmu."
Mila menggeleng, "nggak ada Mas."
"Kamu yakin?"
"Yakin."
"Mas nggak akan memaksamu untuk cerita sama Mas. Tapi, mas Rais harap jika kamu memang ada masalah, ceritakan sama Mas kalau nggak sama mbak Ara."
Mila tersenyum mengangguk.
"Yaudah, Mas balik dulu. Jumat depan sepertinya Mas nggak bisa jemput kamu, Mas harus ke Bekasi ada urusan disana."
"Iya, Mas. Mas hati-hati."
Setelah berpamitan dan menguluk salam, Rais pun segera melangkah keluar gerbang pondok. Namhn, beberapa langkah Rais berjalan menuju parkiran, Mila mengejarnya.
"Mas Rais!" teriak Mila.
Sontak Rais menoleh ke arah sang adik, "ada apa lagi?"
"Sebenarnya mas Zaki ngasih surat ama Mila." ucap Mila tertunduk.
"lni, Mas baca saja dirumah sama mbak Ara."
"Emang isi suratnya apa?"
Mila tertunduk diam.
"Mas tanya sama kamu, isinya tentang apa?"
"Tentang perasaannya sama Mila, Mas."
Kali ini Rais semakin syok, mendengar kata-kata sang adik.
"Maksudnya Zaki suka sama kamu?"
"lya."
"Lalu?"
"Lalu apa, Mas?"
"Lalu kamu membalas surat ini?"
"Ya nggak lah, Mas."
"Apa kamu suka sama Zaki?"
__ADS_1
Mila melongo, gadis itu hanya diam tak menjawab.
Rais segera mengambil surat dari Zaki untuk Mila, lalu ia pergi meninggalkan pesantren untuk segera pulang kerumah.
Sesampai dirumah, Rais segera berhambur mencari keberadaan saang istri.
"Mi .... Ummi? Ummi dimana?" ucapnya setenfah berteriak, membuat Ara keluar dari kamar.
"Mbok ya ucap salam dulu kalau masuk rumah, Bi?"
"Astagfirullah, iya maaf sayang." ucap Rais sembari menepuk kening, "Assalamuaikum."
"Waalaikumsalam, ada apa tho kok tegang gitu mukanya?"
Rais menyodorkan sebuah kertas berwarna pink dengan atoma semerbak wangi. Kedua alis Ara pun saling bertautan, "apa ini, Bi?"
"Kelakuan kawan Ummi."
"Hah ... maksud Abi siapa?"
"Siapa lagi? Zaki, Mi."
"Zaki? Tapi, Bi. Ummi sama Zaki nggak ada hubungan apa-apa. Kita hanya sebatas sahabat dari kecil." Ucap Ara tanpa tahu apa maksud Rais sebenarnya.
"Lho ... emang Abi bilang apa, Mi?"
"Surat dari Zaki 'kan?"
"lya."
"Nah, Ummi sama Zaki sungguh nggak ada hubungan apa-apa. Mungkin itu surat untuk orang lain bukan untuk Ummi."
"Ummi baca dulu isinya, baru Ummi komentar." ucap Rais menyodorkan secarik kertas bernuansa pink tersebut.
Muka Ara memerah, manakala ia telah membaca isi surat dari Zaki tersebut yang ternyata menyebut nama Mila. Ara tersenyum, membayangkan ketika Zaki menulis surat itu, betapa gugupnya.
"Kawan Ummi gila! Masa dia mau melamar Mila."
"Lho ... kok gila? Malah bagus, Bi. Dia ngajakin Mila nikah, berarti dia serius sama Mila."
"Tapi Mila kan mau kuliah dulu, Mi."
"Ya emang anak kuliah nggak boleh nikah? Lagian nggak mungkin kan, Zaki meminang Mila secepat kilat. Butuh proses pengenalan lebih dalam, ya taaruf lah ya."
"Tapi, Mi? Mila kan mau ujian akhir, pasti kelakuan Zaki ini yang membuat Mila semakin galau."
"Yaudah, besok kita temui Zaki. Kita ajak ngomong baik-baik. Agar dia tidak mengganggu Mila terlebih dahulu untuk beberapa bulan hingga Mila masuk kuliah."
👇👇👇👇
Salam penulis, untuk pembaca.
Maaf ya, untuk pembaca setia novel saya ini, saya lama nggak up. Soalnya lagi sibuk sama RL. Karena memang RL harus di utamakan. Terimakasih untuk para pembaca, berkat kalian saya masih berkomitmen untuk menyelesaikan tulisan amburadul ini. Meskipun tidak bisa setiap hari atau minggu upnya.
Sekali lagi terimakasih sudah memberi apresiasi kepada novel perdana saya ini. Love You All.
__ADS_1
Labibah ❤