JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
PERTENGKARAN


__ADS_3

Bruak


Ara setengah membanting keranjang tempat susunya, hingga membuat Rais terperanjat dari lamunannya di teras rumah. Rupanya, lelaki itu lebih dulu sampai kerumah dibanding Ara.


Sorot mata Ara penuh dengan kegeraman. Ia menatap lekat wajah Rais yang masih dibalut dengan senyum. Namun, Ara enggan membalas senyum tersebut. Wajahnya merengut kesal.


"Ummi capek? Kan udah Abi bilang tadi, Ummi nggak usah bantuin Abi, sayang." Ucap Rais lembut.


"Batin Ummi yang capek. Bukan fisik!" timpal Ara kesal.


"Maksud Ummi?"


Ara melesat kedalam rumah. Ia menuju dapur untuk segera minum air putih, agar hatinya lebih tenang.


"Ummi kenapa? Ada apa?"


"Harusnya Ummi yang tanya sama Abi! Abi kenapa? Ada apa? Apa selama ini Ummi pernah membohongi Abi?"


Rais masih terlihat bingung dengan perubahan sikap Ara terhadapnya. Lelaki itu tidak menyadari, jika kebohongannya telah terbongkar oleh Ara.


"Abi nggak paham maksud Ummi? Jelasin sama Abi, Abi ada salah apa sama Ummi?"

__ADS_1


Ara menatap lekat kedua mata Rais. Perempuan itu duduk persis dihadapan Rais.


"Kebohongan apa yang Abi lakukan kepada Ummi?" Tanya Ara lirih.


"Maksud Ummi?"


"Abi jangan bohong sama Ummi. Kita baru menikah. Hampir tiga bulan. Harusnya kità masih merasakan keindahan yang namanya kemantin baru, Bi!"


"Ummi nyesel udah berumah tangga sama Abi?" Tanya Rais.


"Ummi bukan type orang yang menyesali nasib. Tapi, Ummi akan marah jika Ummi dipermainkan."


"Maksud Ummi apa? Sungguh, Abi nggak paham, Mi?"


Rais tertunduk lesu. Lelaki itu benar-benar merasa tertampar oleh kata-kata sang istri. Harusnya memang benar, ia tak perlu berbohong waktu itu.


"Maafin Abi, Mi. Abi hanya takut Ummi___"


Belum sempat Rais melanjutkan kalimatnya, Ara sudah memotongnya. "Takut Ummi salah paham? Iya? Bi ... Ummi akan lebih salah paham dan sakit hati jika Abi tidak jujur terhadap Ummi. Ummi merasa di khianati oleh Abi."


"Bukan begitu maksud Abi?"

__ADS_1


"Lalu apa? Membohongi istri? Demi kebaikan? Nggak ada yang namanya berbohong itu baik Bi."


"Iya. Abi mengaku salah. Saat itu Abi bingung mau bilang jika telpon itu dari Mayra. Abi takut Ummi salah paham. Sungguh Abi tidak ada hubungan apa-apa dengan Mayra Mi. Ummi harus percaya itu."


"Ummi percaya Bi. Tapi, apakah Abi benar-benar sudah mengubur nama Mayra dari hati terdalam Abi?"


"Ummi tidak percaya sama Abi?"


"Lho? Siapa yabg bilang nggak percaya Bi? Ummi percaya sama Abi. Apa salah Ummi tanya hal tersebut?"


"Abi sudah tidak mencintai Mayra, Mi. Sungguh."


"Jika memang demikian, bisa kah Abi tidak membohongi Ummi lagi. Sakit Bi saat kita dibohongi oleh orang yang benar-benar kita sayang."


"Maafin Abi, Mi."


"Ummi udah maafin Abi, jauh sebelum Abi minta maaf. Namun, harus Abi tahu. Ummi benar-benar tidak suka dibohongi. Itu sebabnya, sebelum kita menikah dulu, Ummi jujur tentang jati diri Ummi kepada Abi. Karena Ummi sendiri tidak suka dibohongi."


"Abi janji, Abi tidak akan mengulangi kebohongan lagi Mi."


"Nggak usah janji Bi. Tapi buktikan. Dulu Abi juga gitu sama Ummi. Nggak akan bohong lagi, nyatanya apa? Abi lagi-lagi membohongi Ummi."

__ADS_1


Rais bergeming, Lelaki itu menenggelamkan pandangannya ke meja makan dihadapannya. Ia merasa begitu malu terhadap Ara. Sebab sudah dua kali ia membohongi Ara hingga membuatnya sakit hati.


__ADS_2