
Terlihat Ara dan Rais tengah bersiap-siap untuk segera pergi ke kota Solo. Ara yang selesai membersihkan badannya terlebih dulu, kini sedang memilih-milih baju mana yang akan di kenakannya untuk berkunjung kerumah saudara Rais tersebut. Pandangannya jatuh pada baju muslim berwarna ungu dengan hijab yang juga senada. Ara terlihat cepat-cepat memakai pakaian tersebut. Sebelum Rais menyelesaikan mandinya. Bukan tanpa alasan Ara cepat-cepat memakai pakaian. Sebab, ia tahu betul sang suami tidak bisa melihat dirinya bertelanjang ria. Pasti Rais akan melahap habis tubuh sintalnya tersebut.
Ara kalah telak. Rupanya Rais sedari tadi sudah melihatnya penuh nafsu didepan pintu kamar, sebuah handuk berwarna biru dongker masih melilit sebagian tubuh Rais. Pemuda itu enggan mengedipkan matanya, ketika Ara sedang bersusah payah memakai ****** *****.
Tiba-tiba saja, pelukan Rais melingkar di bagian perut Ara. "Nggak usah terburu-buru, Mi." Bisiknya ditelinga Ara.
"Abi! Bikin Ummi kaget aja. Udah siang ayo cepetan. Ntar kita ketinggalan bus." Celoteh Ara.
"Siapa yang bilang kita naik bus, Mi?" tanya Rais sembari tersenyum.
"Lho ... terus kita naik apaan, Bi?" balik tanya Ara.
"Emh ... nanti Abi kasih tahu! Cuma ada syaratnya."
"Syarat?"
"Ummi kaya nggak tahu aja. Ayo sayang, biar Abi semangat entar nyetirnya."
"Nyetir? Abi mau naik motor ke Solo? Jauh lho, Bi?"
Tanpa menjawab kata-kata Ara. Rais menggendong Ara menuju kasur. Handuk yang tadinya melilit, kini tergeletak pasrah di ubin. Sedangkan Ara yang hanya tinggal memakai hijab. Hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Abi sekarang udah mulai nakal, ya?" goda Ara.
"Sstttt.... jangan berisik. Abi pengen nitip benih sama Ummi."
"Tapi, Bi? Nanti Abi capek dijalan."
"Yang nyetir kan, Abi. Udah, Ummi diem aja ya, pasrah. Kali ini biar Abi yang kerja keras, sayang."
Tak ingin membuang-buang waktu. Ara hanya bisa pasrah dengan kelakuan sang suami. Di cium dari ujung kepala hingga ujung kaki. Membuat wanita itu menggeliat, meraung bak singa yang sedang kehausan.
"Abiiii..." Desah Ara.
"Sssttt.... diem sayang." Lirih Rais.
Hampir dua puluh menit mereka bermain diatas ranjang. Hingga pada akhirnya keduanya mendapatkan puncak kenikmatannya. Lelah? mungkin mereka berdua kelelahan. Hingga akhirnya tertidur pulas diatas ranjang tanpa sehelai benang.
Adzan dhuhur terdengar berkumandang dari masjid dekat rumah Rais, hingga membangunkan kedua sejoli yang tengah lelap akibat rasa capek.
__ADS_1
"Astagfirullah ... Abi kita benar-benar kesiangan." Ucap Ara sembari membangunkan Rais yang masih mendengkur.
"Jam berapa Mi?"
"Dhuhur, Bi? Abi nggak denger ada suara adzan?"
"Astagfirullah ... ayo cepat mandi, Mi."
Dua insan tersebut langsung lari menuju kamar mandi yang terletak diluar kamar. Karena saat ini mereka tinggal hanya berdua saja dirumah tersebut. Maka, mereka memutuskan untuk mandi berdua. Pikirnya, agar tidak memakan waktu.
Namun siapa sangka. Ternyata didalam kamar mandi ulah Rais mulai kembali.
"Nambah ya, Mi." Pinta Rais.
"Abi? Udah siang ini!"
"Dikit aja. Ya ... ya ... ya ..."
Ara hanya bisa menghela napas.
Kini Rais memulai aksinya dengan sedikit brutal. Alih-alih ingin menyingkat waktu. Malah saat ini keduanya bermain dengan penuh nafsu. hampir satu jam mereka bermain didalam kamar mandi. Sehingga membuat Ara benar-benar dilanda lelah.
Rais memutuskan sholat dirumah, sebab ia telah ketinggalan sholat berjamaah di masjid.
"Ummi tinggal tidur aja. Kan Abi yang nyetir."
"Abi beneran mau naik motor dari sini ke Solo? Jauh, Abi. Mending kita naik bus aja."
"Siapa bilang naik motor. Ummi siap-siap aja dulu. Abi mau kerumah Pak Lek. Mau ambil mobil." Tutur Rais sembari menyisir rambutnya.
"Mobil? Abi sewa mobil? Abi? nggak sayang-sayang duitnya?"
Rais hanya tersenyum sembari mengelus rambut Ara yang masih basah. Lelaki itu lalu mengecup kening sang wanita dengan penuh kasih sayang.
"Abi kan udah bilang sama Ummi. Kalau Abi udah nyiapin semua sebelum Abi menikah dengan Ummi."
Kali ini Ara benar-benar bingung dibuat oleh Rais. Apa maksud dari kata-kata suaminya tersebut.
"Abi jalan dulu, ya."
__ADS_1
***
Tin ... tin...
Sebuah klakson mobil terdengar dari pelataran rumah Rais. Sebuah mobil Innova hitam terparkir tepat di depan rumah. Ara yang masih sibuk berkemas-kemas, segera menghampiri suara klakson tersebut.
"Ya Allah ... Abi? Ini berapa kalau Abi sewa mobil?"
"Sayang ... ini mobil Abi. Kebetulan, sebelum menikah dengan Ummi, Abi titipkan sama Pak Lek. Karena sekarang Abi udah punya Nyonya. Ya, Abi ambil lagi. Buat nganter-nganter Nyonya Rais."
Sontak kedua mata Ara terbelalak. Ia tak menyangka, jika Rais pemuda yang selama ini ia kenal begitu sederhana, penjual susu keliling. Ternyata begitu banyak kejutan-kejutan yang tak diketahui oleh Ara.
"Abi lagi becanda kan?"
"Kok becanda? Ummi nggak percaya ya kalau Abi bisa beli mobil sederhana ini?" ucap Rais. "Mi, Abi selama ini jual susu, hasilnya Abi tabung buat bekal Abi nikah."
"Umma nggak dikasih?" tanya Ara penasaran.
"Yo jelas dikasih toh yo. Beliau kan Ibu Abi. Jangankan masih single, Mi. Saat ini saja, Umma masih hak Abi untuk menafkahinya."
"Masha Allah... Abi ... entah dengan rasa apa, Ummi harus berterimakasih kepada Allah. Allah menitipkan kado begitu luar biasa kepada Ummi." Tutur Ara dengan mata berkaca-kaca.
"Udah siang. Ayo berangkat. Mas Ahmad dan keluarga sudah nungguin kita dirumah."
"Iya, Bi."
****
Sepanjang perjalan Kelaten-Solo, mereka berdua terlihat begitu bahagia. Sesekali Rais mengajak Ara untuk berhenti diperjalanan, hanya karena ingin mengajak sang istri tahu, tempat mana saja yang pernah ia pijak semasa remajanya.
"Abi ... kalau capek, gantian ya, nyetirnya." Ucap Ara sembari memijat-mijat sebelah punggung Rais.
"Kasih kiss aja, Mi. Biar Abi nggak capek." Goda Rais.
"Ish ... Abi, jangan mualai."
"Ya ... kalau mau mulai, kita bisa menepi di hotel." Goda Rais kembali.
"Abi! Kita ini mau kerumah Mas Ahmad. Kalau menepi-menepi terus. Kapan sampainya. Kasihan Mas Ahmad dan istri udah nungguin kita."
__ADS_1
Perjalan yang begitu mengesankan bagi Rais. Sebab, itu kali pertamanya ia melakukan perjalanan dengan seorang wanita dan itu adalah belahan jiwanya.