JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
PERASAAN ARA


__ADS_3

Empat bulan sudah ara tinggal di kota klaten, semakin hari hubungannya dengan keluarga rais pun semakin dekat. Apalagi ara yang hampir setiap hari datang kerumah rais untuk mengikuti kajian yang di ketuai langsung oleh ibu rais. Arapun sekarang sudah tau bahwa orang tua rais mempunya sebuah pesantre yang cukup terkenal di kota klaten.


Hari ini ra ber inisiatif untuk pulang ke jakarta, dia sudah rindu dengan keluarganya, terutama ayah dan ibunya. Karena ara memikih pulang ke jakarta hari jumat, jadi dia mengajak mila untuk menemaninya.


Ara sedang menunggu mila yang yang diantar oleh rais kerumahnya. sambil menunggu kedatangan mila, ara yang sedari tadi duduk diteras kontrakannya akhirnya masuk karena ponselnya berbunyi. Diraihnya ponsel yang berada diatas meja sudut ruang tamu, dilihatnya ada panggilan masuk dari nomer tidak dikenal. Arapun tidak mau mengangkatnya, karena dia juga berfikir kalau yang telpon pasien yang konsultasi pasti ke nomer ponsel yang satunya, ponsel khusus untuk dia kerja.


Tapi dilihatnya lagi nomer yang sama memanggil lagi sampai tiga kali panggilan, akhirnya arapun mengangkat telpon itu.


"Assalamualaikum...maaf siapa ya". Jawab ara .


"Waalaikumsalam,,,mbak ara ini aku mila pake nomernya mas rais,,maaf mbak agak telat nggak apa apa kan...ban motornya kempes..". Jawab orang yang menelpon ara dan ternyata itu adalah mila.


"Ya allah mila...kirain mbak siapa...iya nggak apa apa,,santai aja...". Jawab ara, karena memang ara selama ini tidak tau nomer rais. Ara hanya menyimpan nomer mila dan ibunya saja.


Sekitar tiga puluh menit sudah ara menunggu kedatangan mila, dan akhirnya mila sudah sampai didepan gerbang kontrakan ara. Arapun langsung bergegas keluar rumah, karena memang sudah siap dan tidak mau berlama lama takut ketinggalan pesawat.


"Yaudah yuk langsung berangkat,,mbak udah pesan taxi online dua menit lagi sampai sini.." kata ara sambil mengunci pagar kontrakannya.


"Ooke mbak.." jawab mila sambil mengangkat jempolnya.


"Yaudah kamu hati hati ya mil,,jangan ngerepotin bu dokter...mbak minta tolong ya jaga mila,,kalau nakal jewer aja mbak.." kata rais berpesan kepada mila dan ara.


"Siaaap" jawab ara dan mila bersamaan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di bandara jakarta ara sudah ditunggu oleh pak mus sopir keluarga ara.


"Pak mus apa kabar..."tanya ara sambil berjalan menuju sopir itu.


"Alhamdulillah baik non...maaf tuan dan nyonya nggak bisa jemput non ara...karena mendadak ada rapat dikantor katanya..." kata sang sopir memberi tahu ara sembari membukakan pintu mobil.


"Iya ara tau pak,tadi mamah udah kasih tau ara..." jawab ara.


"Ini temannya non ara..." tanya sopir ara sembari melihat ke arah mila.


"Teman rasa sodara pak" jawab ara.


Dan mila tidak menjawab hanya tersenyum kepada sang sopir.


Sesampainya dirumah, ART orang tua ara membukakan gerbang dan mobilpun melaju masuk ke halaman rumah orang tua ara.


Mila yang terperangah dengan kemewahan rumah ara, karena begitu bagusnya dan besar sekali sampai tidak berkedip sama sekali.


"Mbak ara ini rumah mbak beneran..." tanya mila dengan wajah terperangahnya.


"Bukan, ini rumah orang tua mbak, kalau rumah mbak bukan disini mil, mbak kontrakin..." jawab ara sambil mengajak mila keluar dari mobil.


"Udah ayo masuk,," kata ara.


"Kayanya sih cinta mas rais nggak bakalan kesampaian deh...karena mbak ara kaya raya gini.." kata mila dalam hati, sembari mengikuti ara masuk kedalam rumah.


"Bi... tolong bikinin mila minum ya..."kata ara menyuruh ART nya bikin minum.


"Oh ya mil...kamu mau tidur sama mbak atau tidur dikamar tamu.." tanya ara kepada mila.


"Akusih terserah mbak ara aja...gimana enaknya.." jawab mila, yang seketika berubah diam tidak sperti yang ara kenal biasanya.


"Tidur sama mbak aja ya..biar bisa cerita cerita kita, soal dunia medic..." kata ara.


"Iya mbak..." jawab mila singkat.


"Ya allah mbak ara ternyata anak orang kaya banget...jadi nggak enak sendiri selama ini kurang sopan sama mbak ara... aku jadi malu sendiri..." ucap mila dalam hatinya.


"Kamu kenapa mil...capek..yok kekamar mbak aja, istirahat disana.." ajak ara sambil menarik tangan mila.


Mila tidak menjawab hanya mengokuti langkah ara dari belakang.


"Kamu kenapa toh mil...kok dari tadi diem mulu.." tanya ara sambil membuka pintu kamarnya.


Belum sempat mila menjawab, dia sudah terkejut dengan keadaan kamar ara yang seperti kamar tidur para putri raja di film film.


"Mashaa allah mbak ara... ini kamar apa istana sih mbak...gede banget, udah gitu keren mbak..." kata mila spontan.

__ADS_1


"Hahahaha....kamu bisa aja mil... oh iya tuh ada ruang baca disebelah pintu kamar mbak, kamu bisa kesitu baca baca buku.." kata ara sambil menunjuk pintu yang terdapat didalam kamarnya, ternyata pintu itu tembus keruang baca.


"Iya mbak..." jawa mila dengan wajah merasa sungkan.


Setelah istirahat dan menunaikan sholat dzuhur ara dan mila bergegas ke ruang bawah, mereka keruang keluarga bersantai santai disana. Mila yang sedari tadi sudah merasa kurang nyaman karena merasa tidak enak kepada ara, akhirnya membuka suara.


"Mbak ara maafin sikap mila ya selama ini..." kata mila membuka percakapan...


"Maaf...??? Maaf untuk apa mil...emang kamu punya salah apa sama mbak ara..." jawab ara sambil menatap mila dan berfikir sepertinya mila tidak membuat kesalahan sama sekali.


"Ya...karena mila udah bersikap manja sama mbak ara...mila nggak tau kalau mbak ara ternyata anaknya orang kaya... mila jadi nggak enak sama mbak ara.." jawab mila sambil menunduk.


"Hey...kamu ngomong apaan sih mil...nggak boleh ngomong gitu..mbak ara nggak suka..." kata ara dengan muka masam karena tidak suka dengan kata kata mila tadi.


"Mbak dan orang tua mbak nggak pernah membedakan orang mil...kalau mbak merasa nyaman sama orang meskipun dia miskin, mbak akan merangkulnya untuk menjadi trman mbak...jadi kamu nggak boleh bilang gituagi...paham...paham dong.." sambung ara dengan mengikuti gaya bicara mila sewaktu mengharuskan sesuatu kepada ara.


"Iya mbak...maafin mila ya..."jawab mila sambil memeluk ara.


Hari sudah sore, ara dan mila sudah mandi dan selesai sholat ashar. Arapun menawarkan ajakan untuk jalan jalan kepada mila, karena waktu mereka juga tidak banyak, hari minggu pagi mereka sudah harus kembali ke klaten.


"Mila mau jalam kemana... biar mbak ara anterin.." kata ara menawarkan diri kepada mila.


"Nggak ah mbak..dirumah aja biar nggak capek..." jawab mila dengan rasa tidak enak.


"Lho emang kamu masih capek...ayo nggak usah sungkan suangkan bilang aja mau kemana... kota tua...monas...apa ya lainnya... karena memang waktu sudah sore, jadi yang ditaqarkan oleh ara tempat wisata yang bukanya sampai malam.


"Beneran mbak ara boleh minta anter mbak ara kemana..." jawab mila.


"Iya..."jawab ara dengan muka serius.


Sebenarnya mila pengen minta antar ke bogor, ketempat adeknya menimba ilmu, ya mila ingin minta antar ara ke tempat faisal. Namun mila takut untuk mengutarakannya, apalagi jakarta bogor perjalanan lumayan jauh. Akhirnya mila tidak jadi memberitahu ara tentang keinginannya itu. Apalagi mila berfikir, kalau dia ke ponpes tempat faisal pastinya kan harus memberi uang jajan atau kalau tidak memberi oleh oleh. Sedangkan mila hanya mempunyai uang yang tidak cukup untuk itu semua.


Namun tiba tiba ara mengajak mila ketempat rais, karena ara juga sudah tau tentang faisal yang menimba ilmu di kota hujan.


"Mil besok ke bogor yuk..tengok adek kamu yang mondok disana...mbak pengen kenal.." kata ara,


Mila yang tidak menyangka kalau apa yang di inginkan akan diwujudkan ara, langsung memeluk ara dengan erat.


\=\=\=\=\=\=\=


Setelah makan malam dengan orang tua ara, mila dan arapun beranjak meninggalkan ruang makan ke kamar tidur. Karena ara mengajak mila tidur dikamar ara, maka mereka masuk kedalam satu kamar.


"Mila udah ngantuk belum" tanya ara.


"Sebenernya sih belum mbak...mbak udah ngantuk ya.." tanya balik mila.


"Nggak juga sih..." jawabnya tersenyum


"Mbak ara...mila boleh na-nya... nggak..." tanya mila pelan.


Sambil memicingkan alisnya ara menjawab boleh.


"Mau nanya apa emangnya mil..." tanya balik ara.


"Tapi maaf ya mbak..ini masalah pribadi.." jawab mila sambil memejamkan matanya, karena takut.


"Emh...pribadi... iya boleh..." jawab ara dengan meneouk pundak mila.


"Coba kamu bilang mau nanya apa,,," lanjut ara.


"Mbak ara udah punya teman deket belum mbak.." tanya langsung mila tanpa basa basi.


Sejenak ara terdiam dan memikirkan jawaban untuk mila.


"Gini ya mil.."kata ara sambil menghela nafas. Ara pun mulai menjawab pertanyaan mila sambil bercerita.


"Semenjak mbak ditinggal almarhum suami mbak...mbak tidak pernah kepikiran untuk membuka hati lagi sama orang lain, karena mbak emang nggak bisa..."


"Mbak juga nggak ngerti kenapa,, mungkin karena mbak terlalu sayang dan cinta sama almarhum suami mbak..."


"Tapi kalau boleh jujur,,, sepertinya mbak akhir akhir ini mulai membuka sedikit hati untuk seseorang, ya walaupun orang tersebut tidak tau dengan apa yang sudah mbak rasakan...biarin itu menjadi rahasia hati mbak aja..."


Kata ara sambil meraih foto almarhum ali yang berada diatas meja samping tempat tidurnya, ara melihat dalam foto tersebut lalu menenggelamkannya dalam pelukan didadanya.

__ADS_1


"Maafin mila ya mbak udah mengajukan pertanyaan yang cukup pribadi sama mbak ara... mila hanya memastikan kalau mbak ara tidak menutup hati mbak untuk orang lain selain almarhum suami mbak..." jawab mila sambil memegang jemari ara yang duduk disampingnya.


"Nggak apa apa mil... lagian mbak juga mikir,mbak pengen punya anak dafi rahim mbak..."kata ara sambil memegang perutnya.


"Kalau mbak nggak membuka hati sama orang lain,,,trus gimana dong mbak bisa punya anak.." lanjut ara sambil tersenyum.


"Mil...asal kamu tau,, aku membuka hati untuk mas mu...tapi masmu cuek sama aku,,bahkan tidak pernah melihat aku kalau lagi ngobrol...jangankan melihat saat ngobrol...mengerti kalau aku suka sama dia aja,,kayanya dia nggak tau..." ucap ara dalam hatinya.


"Udah malam bobo yok..."ajak ara.


\=\=\=\=\=\=


Jam sudah menunjukkan jam tiga pagi, ara dan mila bangun untuk memunaikan sholat malam. Setelah menunaiakan sholat malam, dilihatnya mila yang sedang menghafal Al-quran oleh ara. Ara yang kagum dengan sosok mila, hanya melihat dari pojok kasur sambil melipat mukenah yang dipakainya. Setelah beberapa menit mila menghafal ayat ayat Allah, milapun meng akhiri bacaannya dan menutup Al-quran tersebut. Melihat ara yang melihatnya dengan tatapan tajam, milapun bertanya.


" mbak ara kenapa mbak..kok liatin milanya kaya gitu banget..." tanya mila.


" nggak apa apa mil..mbak seneng banget denger kamu ngaji...apalagi sepertinya kamu hafal ayat ayat yang kamu baca tadi tanpa melihat Al-quran nya..." jawab ara sambil mengelus rambut mila, yang memang sudah melepaskan mukenanya dan duduk disamping ara.


" inimah nggak seberapa mbak...mila cuma hafal 7 juz Al-quran...kalau mbak ara tau mas rais pasti mbak ara lebih kagum..." jawab mila sambil tersenyum sembari memberitahu kalau kakak tersayangnya tidak kalah baik darinya.


"Oh ya...masak sih...emang rais hafal berapa juz mil... mbak jadi malu sama kalaian..." kata ara sambil menundukkan kepalanya.


"Hafal 30 juz mbak, dan mas rais dulu juga sering ikut lomba hafidz,, sekarangpun mas rais setiap harbis magrib ngajar ngaji di masjdi mbak..." jawab mila.


"Eeh kenaoa mbak ara malu... nggak usah malu mbak,,kita kan masih tahap belajar.." imbuh mila.


"Mashaa allah,,, tapi kenapa ngajar dimasjid mil, kenapa nggak dipesantrennya aja..." tanya ara lanjut.


"Mas rais nggak mau mbak... katanya lebih enak ngajar di masjid, karena kan banyak anak yang belum masuk pesantren karena mereka masih kecil kecil, jadi mas rais memutuskan ngajar di masjid,,, apalagi kan pesantren agak jauh mbak dari rumah, membutuhkan waktu satu setengah jam..." jawab mila dengan detail.


Setelah cukup berbincang bincang, mereka keluar dari kamar untuk menghirup udara segar. Ara sengaja mengajak mila untuk jogging sebelum berangkat ke bogor.


"Mil ini sepatu pake..ayo jogging..." ajak ara sambil memberikan sepasang sepatu kets kepada mila.


"Kok mbak ara punya ukuran sepatu mila..."jawab mila sambil penasaran.


"Ya iyalah mil...mbak kan dulu pernah sekecil kamu..."ucapnya sambil tertawa.


Setelah pulang dari jogging,mereka berdua bersiap siap untuk ke bogor ketempat faisal menimba ilmu.


Diruang makan ayah dan ibu ara sudah menunggu di meja makan.


"Assalamualaikum mah..pah.."salam ara menyambut orang tuanya yang sudah menunggunya diruang makan.


"Waalikumsalam...kalian mau kemana kok udah pada rapi..." tanya ayah ara, ibu ara hanya tersenyum sambil memasukan makanan ke mulutnya.


"Iya mah...pah...hari ini mila mau ke bofor,,nganter mila ngunjungin adeknya yang sekolah disana..."jawab ara sambik tersenyum dan melihat ke arah mila.


"Iya pak...bu... boleh kan mbak ara nganter saya..."tanya mila ke orang tua ara.


"Ya boleh dong sayang...yaudah kalain sarapan dulu...biar nggak kesiangan." Jawab ibu ara, sambil menyyruh mereka sarapan pagi.


Setelah sarapan pagi ara dan mila bersiap siap untuk bergegas berangkat ke bogor. Karena ara memutuskan untuk membawa kendara sendiri, maka ara bergegas memanaskan mobil yang berada di garasi.


Ayah dan ibu ara yang hari ini libur ke kantor, mereka mendekati mila yang sendirian karena ditinggal ara memanasi mobil.


"Dek...sini ibu sama bapak mau tanya sesuatu.."panggil ibu ara lepada mila. Diajaknya mila duduk diteras rumah itu.


Milapun beranjak dan langsung berjalan ketempat ibu dan ayah ara duduk.


"Kamu deket banget kayanya sama ara,, apa kamu kakak laki laki..?" Tanya ibu ara tanpa basa basi.


Dengan wajah takut, karena takit kesalahan juga mila menjawab pertanyaan ibu ara.


"I..iya bu...pak...saya punya kakak laki laki,,,tapi mereka tidak berhubungan kok bu...pak..."jawab mila sambil menunduk, karena mila tau kalaupun kakaknya berhubungan denga ara pasti tidak akan disetujui oleh orang tua ara. Karena mila tau ara dari keluarga kaya raya.


"Nak... kamu gadis baik, ibu dan bapak bisa lihat itu dari diri kamu,walaupun kita baru beberapa jam bertemu dengan kamu...pasti kakak kamu juga laki laki yang baik..." jwab ibu ara dengan senyum.


"Ibu melihat ara juga sepertinya sangat bahagia mengenal kamu... boleh ibu dan bapak berharap, agar kamu bisa mendekatkan ara dengan kakak laki lakimu..itupun kalau kakak kamu masih sendiri..." pinta ibu ara sambil memegang jemari mila.


"Tapi maaf bu..pak...saya nggak bisa...karena semua itu kan harus dari hati mereka berdua..."jawab mila, dengan perasaan lega juga tentunya, karena pikirannya yang sudah su'udzon tadi tidak terjadi.


"Iya juga ya..."jawab ibu ara sambil tertawa melihat ayah ara.

__ADS_1


__ADS_2