JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
RAIS GALAU


__ADS_3

Hari berganti bulan pun berlalu. Kini Rais dan Ara telah memasuki biduk rumah tangga sekitar lima bulan lebih. Kejadian-kejadian lalu tak ada yang membuat Rais serta Ara bersungut-sungut. Semenjak pertemuan Rais dan Mayra di area masjid beberapa bulan lalu. Menjadikan Mayra tidak lagi berani menampakkan batang hidungnya di hadapan Rais. Bak ditelan bumi, wanita cantik dengan balutan hijab super besar itu benar-benar hilang dari kehidupan Rais dan Ara.


Lima bulan berlalu, tak ada tanda-tanda jika Ara akan berbadan dua. Menunggu hari-hari dimana banyak dinanti oleh pasangan yang baru menikah, membuat Ara sedikit menciut. Pasalnya, wanita cantik itu belum juga hamil. Padahal, medis mengatakan jika dirinya sehat tak ada yang harus dikhawatirkan. Pun dengan sang suami, sehat juga.


Malam sudah menyapa, Rais dan Ara tengah menikmati santab malam diruang meja makan. Beberapa makanan lezat telah memenuhi sebagian meja tersebut. Hingga membuat sang empunya lahap memakan tiap suapan demi suapan kedalam mulutnya.


Setelah ritual makan malam usai, kini keduanya beranjak kedepan ruang tamu untuk melihat acara televisi. Bosan dengan acara-acara yang dirasa kurang mutu, akhirnya Rais dan Ara beringsut keberanda rumah. Menikmati udara malam yang dibalut dengan gemerlap bintang.


"Abi?" Panggil Ara memecah keheningan diantara mereka berdua.


"Iya, sayang. Ada apa?"


"Maafin Ummi ya?"


"Maaf kenapa?"


"Iya, sudah hampir enam bulan kita berumah tangga. Tapi, Ummi belum juga hamil. Padahal kita sama-sama sehat." Lirih Ara.


"Mungkin belum waktunya, sayang? Jangan patah semangat. Banyak diluran sana yang menunggu kehamilan mereka sampai bertahun-tahun."


"Ummi takut, Abi jenuh."


"Ummi ngomong apaan sih. Ya nggak lah, Mi. Sembari kita menunggu hari itu tiba, kita kan bisa pacaran dulu, sayang." Hibur Rais.


"Makasih, ya Bi."

__ADS_1


"Abi yang harusnya berterimakasih sama Ummi, karena udah mau nemenin Abi yang nggak punya apa-apa ini."


Perbincangan ringan mereka berlanjut hingga jam sembilan malam, tanpa terasa rasa kantuk menggelayuti mata mereka masing-masing. Akhirnya, dua sejoli itu melesatkan langkah memasuki rumah menuju kamar untuk beristirahat.


"Ummi capek banget, Bi. Boleh Ummi tidur duluan?" Ijin Ara sebelum merebahkan dirinya diatas kasur.


"Yaudah, Ummi tidur duluan. Abi juga ngantuk, tapi mau ke kamar mandi dulu." Jawab Rais sembari melayangkan kecupan di kening sang istri. "Maafin Abi ya Mi untuk hari ini."


Memang sudah menjadi kebiasaan Rais, setiap menjelang tidur, lelaki itu selalu berucap maaf kepada sang istri. Pun sebaliknya.


Ara terlihat begitu lelap dengan tidurnya. Membuat Rais yang awalnya ngantuk berat serasa hilang. Lelaki itu memandang lekat wajah istri yang sedang lelap. Betapa bahagianya ia bisa menaklukan hati seorang dokter yang begitu cantik serta memiliki kepribadian yang begitu lembut. Sungguh Rais sangat bersyukur akan hal itu.


Baru saja Rais hendak merebahkañ tubuhnya diatas kasur, sebuah pesan masuk ke dalam selullarnya yang ia taruh diatas nakas. Sebelum Rais melihat isi pesan tersebut, lelaki itu nampak melihat ke arah jam dinding. Hampir pukul sebelas malam.


Karena takut itu pesan dari salah satu pelanggan susunya. Maka, ia memutuskan untuk segera meraih ponsel dan mengecek isi pesan tersebut.


Betapa kagetnya Rais, ternyata yang mengirimi dia pesan adalah masalalunya, Mayra. Sudah hampir dua bulan Mayra tak lagi mengganggu hidupnya dan Ara. Tetiba, malam ini gadis itu kembali muncul dengan sederet pesan yang lumayan panjang.


'Assalamulaikum, mas Rais. Mas apa kabar? Semoga Allah senantiasa melindungi Mas juga mbak Ara. Maaf Mas, May ganggu malam-malam. Sudah hampir sebulan, May sakit nggak kunjung sembuh. Sudah berobat, tapi nggak ada hasil, Mas. May harap, Mas Rais mau maafin May. Salam untuk mbak Ara ya, Mas. Maaf udah ganggu Mas malam-malam gini.'


Rais bergeming, kedua lututnya saling gemetar. Tatapannya lekat kepada pesan Mayra yang membuat hatinya bergetar. entah apa yang dirasakan oleh lelaki tersebut. Kasihan kah? Iba kah? Yang jelas saat ini Rais benar-benar bingung harus membalas pesan Mayra seperti apa.


Limabelas menit Rais terdiam duduk dibibir dipan. Sedangkan Ara masih terbuai dengan alam bawah sadarnya. Sesekali Rais menatap wajah sang istri yang begitu mendamaikan perasaanya. Rasanya ia tak mampu untuk membohongi sang istri lagi. Awalnya, Rais berfikir akan membalas pesan Mayra tersebut. Namun, lelaki itu mengurungkan niatnya setelah melihat wajah Ara yang sedang pulas tidur.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, Rais belum juga bisa memejamkan matanya. Rasa kantuk yang awalnya sudah tidak bisa ditolerir, kini entah hilang kemana. Pikirannya gunda gulana. Memikirkan pesan Mayra yang ada kata-kata 'sakit' nya. Membuat lelaki itu tergetar hatinya. Ingin membalas pesan namun takut jika harus berbohong lagi kepada sang istri.

__ADS_1


Rais beringsut ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air wudhu untuk melaksanakan sholat sunnah. Jika ia tidak bisa membalas pesan Mayra, setidaknya ia bisa memohonkan kebaikan Mayra kepada Pemiliknya.


Setelah sholat sunnah ia laksanakan, lelaki itu memohon kesembuhan untuk Mayra. Bodohnya Rais, dalam doa tersebut, ia berkali kali menyebut nama Mayra, tanpa sekali pun ia menyebut nama sang istri, bidadari yang mungkin akan membawanya kelak ke pintu surga.


Usai dengan ritual keagamaan, Rais mencoba untuk merebahkan diri diatas kasur. Kini korneanya memandang lekat kepada wanita disampingnya. Sesekali ia bergumam, meminta maaf kepada sang wanita.


*****


Semilir angin berhembus sepoi-sepoi, pagi yang begitu cerah, membuat siapa pun yang ingin beraktifitas pasti semangat empat lima. Namun, terlihat tidak dengan Rais. Lelaki itu begitu lesu, bahkan, ia memutuskan untuk tidak berjualan hari ini. Membuat Ara kalang kabut. Wanita itu takut, sang suami sedang tidak enak badan. Berkali-kali ia menanyakan tentang kesehatannya. Bahkan, Ara bersiap untuk memeriksa keadaan sang suami. Namun Rais menolaknya, lelaki itu hanya bilang kepada Ara, jika hari ini ia butuh istirahat.


Mendengar penjelasan sang suami, Ara pun mengerti. Memang seharusnya Rais istirahat, sebab sudah hampir tiga minggu mereka berjualan susu tanpa ada libur sama sekali.


Ara beringsut ke dalam dapur. Wanita cantik itu dengan cekatan memasak makanan yang bisa memulihkan stamina sang suami. Tak butuh waktu lama bagi Ara, menyilap beberapa bahan mentah menjadi hidangan yang membuat perut keroncongan. Setelah siap diatas meja, kini Ara bergegas mencari keberadaan sang suami. Ia masuk dalam kamar, namun Rais tak ada disitu.


Rais tengah berjemur dibawah paparan mentari pagi di pelataran rumahnya. Lelaki itu terlihat begitu banyak pikiran. Hingga membuat Ara begitu berhati-hati dalam tutur katanya. Perempuan itu sungguh ingin menjadi istri yang sempurna untuk sang suami.


"Abi? Sarapannya udah siap. Kita makan yuk?" Ajak Ara dengan tersenyum.


Rais pun segera menghampiri Ara yang tengah berdiri diantara tiang rumahnya. "Ummi masak apa?"


"Sayur sop, ayam goreng sama sambel terasi, Bi."


"Makasih ya, sayang? Ummi bener-bener istri terbaik buat Abi."


Ara membalasnya dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2