
Mila menikmati suasana pagi yang masih dingin. Kegiatan pagi yang tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya di pesantren tempatnya menimba ilmu. Terlihat, lututnya disedekapkan ke dada. Sementara mata bulatnya terasa penat menjelajahi langit-langit kamar yang berukuran tak seberapa luas tersebut. Mila bahkan tidak menyadari kalau beberapa kawannya menyapanya.
"Mila, kamu kenapa toh?" tegur salah seorang kawan dengan logat Jawa kental.
Mila tergegap, lalu mengucek mata beberapa kali. Ternyata dirinya memang telah menghabiskan waktu beberapa saat untuk termangu. Bahkan, terlihat kamar yang memang berisi beberapa anak asuh pesantren tersebut sudah sepi.
"Kamu kenapa? Kok bengong," sekali lagi, kawannya yang memakai stelan berwarna ungu tersebut bertanya.
"Nggak apa-apa, Mbak."
Kawan Mila melihat Casio biru yang melingkar di tangannya. Nyaris pukul tujuh pagi. Lalu memandang kembali ke arah Mila. "Ayo ke kelas. Sebentar lagi jam ujian, Mil."
"Astagfirullah!" ucap Mila sembari meraih sebuah buku diatas meja kecil disebelah kasurnya.
Sepanjang perjalanan menuju bangunan yang tak jauh dari kamar, Mila dan kawan-kawannya nampak sibuk membuka buku masing-masing untuk sekadar membaca sebelum ujian dimulai.
Hati Mila berdetak. Manakala melihat sesosok pemuda berdiri cukup jauh dari pandangannya. Alisnya mengkerut, saat tahu jika pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah Zaki. Pemuda yang beberapa hari ini telah berhasil meracuni hatinya.
Mau apa dia! Gumam Mila sedikit kesal.
__ADS_1
Zaki nampaknya tidak menghiraukan dengan keberadaan Mila. Pemuda itu sibuk berbincang dengan salah seorang ustadz.
"Mil! Ayo masuk, ustadzah udah di dalam kelas!" Seru salah seorang kawan Mila. Hingga berhasil membuat Mila kalang kabut berlarian ke arah kelas tersebut.
Ujian yang cukup membuat isi kepala Mila terasa jebol. Bagaimana tidak? Hari ini gadis rupawan itu tengah mengerjakan soal Kimia. Namun, bukan Mila namanya, jika tidak bisa menyelesaikan ujian tepat pada waktunya. Meskipun ada beberapa soal yang mampu membuatnya seperti ingin mengibarkan bendera putih.
Seusai ujian, Mila beserta kawan-kawannya yang lain berhamburan keluar kelas. Dilihatnya tempat dimana ia melihat seorang Zaki tadi berdiri. Tak ada.
Kemana dia? Ngapain kesini? Runtuknya dalam hati. Rupanya, gadis itu menaruh rasa penasaran akan kedatangan Zaki ke pesantren.
"Mila!" seorang ustadz memanggil Mila dari seberang kelas.
"Ustadz memanggil saya?"
"Iya," jawabnya sembari merogoh kantong baju putih yang ia pakai, "tadi ada saudara kamu kesini, dia nitipin ini untuk kamu." Lanjutnya sembari menyodorkan dua amplop berwarna putih kepada gadis tersebut.
Alis Mila lagi-lagi bertautan. Hatinya bertanya-tanya, dari siapa gerangan amplop putih terasebut? Saudara siapa gerangan yang dikatakan oleh sang ustadz?
"Terimakasih Ustadz."
__ADS_1
"lya, sama-sama."
Setelah menerima dan mengucapkan kata terimakasih, Mila buru-buru meninggalkan ustadz tersebut, rupanya, ia ingin segera membuka isi amplop tersebut.
Tanpa pikir panjang, ia segera membukanya. surat? Gumam Mila. Kali ini, kedua tangannya bergetar hebat.
Semakin dag-dig-dug ketika ia tahu, jika nama pengirim surat tersebut adalah Zaki. Ya, kali ini pemuda itu memberanikan diri mengirim sepucuk surat tentang isi hatinya kepada adik ipar sahabatnya.
Entah perasaan apa yang Mila rasakan. Senang atau malah marah. Namun yang jelas, gadis itu saat ini tidak bisa menyembunyikan ranum di wajahnya, ketika ia membaca surat tersebut.
Assalamualaikum, gadis sholihah.
Saya minta maaf, karena sudah lancang mengirimimu sebuah surat. Namun, percayalah. Ini bukan sebuah bualan atau gombalan seorang lelaki yang hanya ingin mengajakmu bersenang-senang.
Sholihah, saya hanya ingin memberi tahumu satu hal. Saya mencintaimu. Entah sejak kapan rasa ini hadir. Namun yang jelas, saya ingin meminangmu, dan menjadikanmu makmum bagi saya. Saya ingin mendengar langsung jawaban darimu. Oleh sebab itu, saya berharap jumat depan kamu pulang dan menemui saya serta ibu saya dirumah orang tuamu.
Zaki
Dibawah langit mendung itu, Mila menutup sepucuk surat dari Zaki. Kali ini, netranya melihat ke arah sebuah amplop putih yang belum ia buka.
__ADS_1
Apalagi ini?