
Mayra sebenarnya bukan gadis cengeng. Tapi baru kali ini dia ingin meluapkan tangisannya sejadi-jadinya. Jika saja mungkin, tentu saat ini ia sudah kabur dari ranjang pesakitannya. Mencari Rais dan mengungkapkan keinginan terbesarnya.
Gadis itu nampak duduk bersandar di bahu dipan. Mengusap air matanya yang mengalir deras di pipi dengan lengan baju panjangnya. Inikah akhir dari perjuangan hatinya? Memperjuangkan cinta yang menurut keyakinannya tepat sasaran. Harapan serta mimpi-mimpinya ia tanam hanya untuk lelaki yang telah berkeluarga. Beberapa bulan sakit, semua hanya untuk kesia-siaan. Mayra mengeraskan buku-buku tangannya. Kesal.
Bahkan Umi nggak tahu gimana rasanya jadi Mayra. Bergelut dengan perasaan ini setiap detik. Mayra mengerang terluka.
Jika boleh Mayra memilih, mungkin gadis cantik itu juga enggan mau ada di posisi yang saat ini ia jalani. Mencintai suami orang, memikirkannya sampai sakit, bahkan sampai ingin memiliki. Mayra tentu tidak ingin seperti itu. Namun apa boleh buat. Setiap rasa itu ia tepis dan mencoba untuk lari, justru perasaan ingin memiliki Rais semakin besar menghantui Mayra.
****
Di suatu tempat, seorang perempuan yang memiliki hak penus atas suaminya, begitu menginginkan kehadiran buah hati. Sayang, hingga saat ini impian itu belum juga terwujud. Namun, ia tak mau berputus asa. Ara yakin, jika suatu saat Allah pasti menghadirkan buah hati di tengah-tengah kebahagiaannya dengan Rais.
"Ummi kenapa ngelamun?" Suara Rais memecah lamunan Ara yang sedang duduk bengong di jendela rumahnya.
Ara memoles senyuman di kedua sudut bibirnya. "Abi ngagetin Ummi."
"Masa gitu aja kaget? Padahal Abi ngomongnya pelan, sayang. Ada apa? Coba ngomong sama Abi."
"Ini masalah Ummi yang belum juga hamil, Bi. Kita menikah sudah memasuki bulan ke tujuh. Tapi, tanda-tanda itu belum ada sama sekali."
"Hal kaya gitu jangan dipikirin sayang. Nanti malah menjadi beban yang malah akan menunda kita punya momongan. Setidaknya kita sudah ikhtiar, Mi. Selanjutnya, biar kuasa Allah yang bekerja." Ucap Rais menenangkan hati sang istri.
"Iya, Bi. Makasih, Abi udah bersabar dalam hal ini."
Rais tersenyum serta mengangguk.
"Gimana kalau sekarang kita jalan-jalan." Ajak Rais.
"Jalan-jalan? Kemana Bi?"
"Kemana aja, terserah Ummi. Ummi pengennya kemana?"
"Emang Abi nggak dagang hari ini?"
"Emh, hari ini Abi hanya mau kirim pesanan aja, Mi." Jawab Rais. "Oh ya, Mi. Kita ke Parang Tristis, yuk. Ada kawan kuliah Abi yang mau kerja sama dengan Abi. Sekalian biar Ummi kenal sama kawan-kawan Abi."
"Kerja sama apa, Bi?"
"Ya susu, Mi. Sekarang Ummi siap-siap. Bentar lagi kita berangkat. Sekalian nanti Abi mampir ngasih susu pesanan buat pelanggan yang di perumahan Bukit Cengkeh."
Tanpa menunggu lama, akhirnya Ara pun segera siap-siap seperti yang sudah di titahkan oleh sang suami. Wanita itu nampak begitu cantik, mengenakan gamis warna pink di padukan dengan jilbab lebar berwarna gelap. tak lupa, ia membubuhkan pelembab di bibirnya.
"Ummi kalau kaya gini, bikin Abi males mau ngapa-ngapain."
"Hah! Kenapa Bi? Dandanan Ummi norak ya? Ummi ganti dulu ya Bi?"
__ADS_1
"Bukan norak, Mi. Tapi bikin Abi pengen manja sama Ummi." Jawabnya berbisik.
"Ish... apaan sih, Bi. Ayo cepat udah siang. Ntar keburu sore malah nggak jadi."
"Kata siapa nggak jadi? Mau siang, sore, malem, pasti hari ini kita berangkat. Nanti kita nginep di Jogja. Tapi ada syaratnya."
Ara mengerutkan keningnya, "ehm mulai deh. Nggak pake, Ummi udah mandi, udah cantik, udah___"
Belum sempat Ara melanjutkan omelannya, lelaki itu tiba-tiba melàyangkan kecupannya tepat dibibir sang istri. Membuat dia tak bisa berkutik dengan apa yang dilakukan sang suami.
Rais segera membuka resleting baju berwarna pink dengan berlahan. Ara hanya bisa pasrah ketika suaminya menginginkan apa yang sudah jadi haknya.
Hampir satu jam mereka bercengkerama, memuaskan hasrat satu dan yang lainnya. Kini, nampak kedua sejoli itu sedang mengatur pernapasannya dengan seperti diburu oleh pemburu.
Setelah membersihkan diri masing-masing. Kini Ara dan Rais nampak bersiap-siap menuju kota Klaten. Menemui kawan Rais yang hendak mengajaknya kerjasama dengannya.
"Seriusan Abi mau nginep di Jogja?"
"Kenapa? Ummi nggak mau?"
"Kalau Ummi sih terserah Abi. Cuma emang besok Abi nggak jualan susu?"
"Waktunya libur Mi. Dagang terus, waktu berpacarannya kapan?"
"Emang bocah." Jawah Rais tertawa.
Sepanjang perjalanan keduanya nampak menikmati panorama jalanan menyeruak. Sesekali Rais memutar music untuk menghilangkan kejenuhan.
"Assalamualaikum, posisi Bro!" Ucap Rais ketika sudah memasuki Prang Tritis, ia terlihat menelpon seseorang yang hendak ditemuinya.
"Waalaikumsalam, rumah makan Mbah Minto. Kamu emang udah sampe mana, Is?" Ucap seseorang melalui ujung telepon.
"Udah masuk daerah Parang Tritis, ini."
"Yaudah hati-hati, ditunggu. Nanti saya share lock biar nggak nyasar. Ama Nyonya 'kan?"
"Iya."
Setelah percakapan singkat usai, kini Rais mulai membuka gawainya kembali, melihat alamat yang dikirim oleh sang kawan. Manik Rais menangkap wajah Ara yang tengah duduk di sampingnya sedang tidur pulas.
"Ealah, Ummi tepar." Gumam Rais lirih.
"Belum, Bi. Masih denger kok." Jawab Ara dengan mata terpejam.
"Masya Allah, istri Abi tidur aja masih bisa ngomong, lho."
__ADS_1
"Ih, Abi. Kan Ummi nggak jadi tidur." Ucap Ara manja.
Beberapa menit kemudian Rais dan Ara sampai disebuah rumah makan bernuansa jawa kental. Ditambah dengan alunan musik jawa menambah syahdu.
Di dalam resto tersebut telah nampak seorang laki-laki ditemani oleh seorang wanita yang sedang menyuapi anak di atas sebuah kereta dorong. Nampak mereka adalah keluarga yang kompak.
"Assalamualaikum." Ucap Rais dari jarak beberapa meter.
"Waalikum salam, wih Pak Ustadz jenggotnya makin panjang." Seloroh lelaki berpostur sedikit tambun, kulit putih dengan sebuah kacamata bertengger di batang hidungnya.
"Ngeledek, ustad dari mana? Eh kenalin, ini Nyonya saya." Ucap Raia sembari mengenalkan sang istri.
Lelaki itu nampak tersenyum kepada Ara, lalu menyuruh sang iatri yang sedang menyuapi anaknya untuk segera berkenalan dengan Ara.
"Ismi, Mbak. Nama Mbak siapa?" Ucap wanita tersebut sembari menyalami Ara.
"Shamira, panggil aja Ara, Mbak." Jawab Ara tersenyum.
"Kalau saya Hafid, Mbak, kawan seperjuangan suami Mbak pas kuliah dulu. Suami Mbak ini dulu terkenal sebagai mahasiswa paling pinter dan agamis." Tutur lelaki yang bernama Hafid kepada Ara. Membuat Ara tersenyum sembari melirik sang suami.
"Kamu bisa aja, Kang. Gimana ini, apa kita mulai diskusinya?"
"Pesan makan dulu lah. Kalian pasti laper perjalanan jauh." Ucap Hafid.
Ara nampak begitu menyukai anak dari Hafid dan Ismi. Nampak seseklai ia mengelus-elus pipi balita yang berjenis kelamin perempuan itu.
"Mbak Ara kerja apa?" Tanya Ismi.
Ara tersenyum, "kerja dirumah Mbak. Bantu suami." Ucapnya.
"Oh, sebelum nikah? Kerja apa?" Lanjut Ismi.
Ara tersenyum, wanita itu enggan menjawab jika bukan Rais yang menjawab.
"Dokter Mbak. Tapi setelah nikah dia milih regsign katanya mau fokus sama suami."
"Masya Allah."
"Wah beruntung kamu Is dapet istri seperti dia." Ucap Hafid.
"Ayah beruntung nggak dapet bunda." Ledek Ismi kepada sang suami.
"Wah kalau itu sih bukan sekedar beruntung, Bu. Berkah." Jawabnya, lalu diselangi gelak tawa oleh mereka.
Obrolan ringan mereka terhenti ketika makanan sudah tersaji diatas meja. Saling menyantab hidangan yang telah di pesan dengan begitu khitmat.
__ADS_1