JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
AWAL BERTEMU


__ADS_3

Hari jumat ini, seperti biasa. Mila kembali kerumah dari pesantren, dan seperti biasa pula, gadis rupawan itu di jemput oleh sang kakak tercintanya. Kali ini Mila mengajak Rais untuk langsung kerumahnya. Sebab, gadis itu sudah rindu akan celoteh dua keponakanannya.


Sesampai dirumah Rais, Mila nampak terperangah. Melihat beberapa tukang yang sedang membangun sebuah tempat. Pikiran Mila menebak-nebak untuk apa sebenarnya bangunan yang lumayan luar biasa tersebut.


"Mau bikin apa, Mas?"


"Tempat praktek Mbak Ara."


"Seriusan? Mbak Ara mau buka praktek, wah ... nanti Mila bisa belajar-belajar tentang dunia medis sama Mbak Ara, nih." ucapnya girang. Langkahnya berhambur tatkala ia sampai di depan pintu rumah.


"Assalamualaikum, Mbak Ara." Ucap Mila dengan penuh semangat.


"Waalaikumsalam, anak gadis kok teriak-teriak. Nggak baik, Dek." Tutur Ara yang nampak sedang menyusui bayi Zulvi.


"Astagfirullah, maaf, Mbak. Ini saking bahagianya, sampai teriak-teriak." ucap Mila sembari mencium punggung tangan sang kakak ipar.


"Bahagia kenapa?"


"Karena Mbak Ara mau buka praktek. Jadi ... nanti Mila bisa belajar banyak."


"Gimana bisa, kamu kan bentar lagi mau kuliah di Jogja. Emang mau tiap hari pulang-pergi? Nggak capek?"


Mila menganjur napas, "iya, ya? Tapi nggak apa Mbak. Ntar kalau pas Mila libur kuliahnya, baru bantu-bantu Mbak Ara periksa pasien." Ucapnya penuh dengan semangat.


"lya, atur aja. Eh, Mas Rais mana, Dek?"


"Di luar, lagi lihatin orang-orang kerja." Ucap Mila, "Hei! ponakan jelek, ayo bangun. Tante udah dateng nih, kangen ama tawa kamu." Lanjut Mila sembari menciumi pipi Zulva yang nampak tengah pulas dalam tidurnya.


"Mila udah punya rencana masadepan belum?" Ara bertanya ketika Mila masih sibuk dengan Zulva. Sehingga membuat gadis itu menghentikan ciuamannya di pipi sang bayi.


"Masadepan? Masadepan gimana maksud Mbak Ara?"


"Ya, kriteria untuk calon pendamping."


Mila tertawa hingga menyebabkan bayi Zulva bangun.


"Eh ketawanya jangan keras-keras, ntar kalau di denger perjaka lewat. Nggak jadi ngelamar kamu." Goda Ara, membuat Mila semakin terbahak.


"Lagi Mbak Ara lucu. Lulus SMA aja belum, udah ditanya kriteria. Gimana nggak ngakak, coba?" Mila masih tergelak.


"Jaman sekarang 'kan ... gadis seusia kamu udah pasti punya gebetan. Malah nggak sedikit yang udah beberapa kali pacaran."


"Itu 'kan orang lain, Mbak. Mila nggak pernah kepikiran akan hal itu. Apalagi pacaran. Mila maunya langsung nikah nggak pakai pacaran. Nggak mau jagain jodoh orang. Kalau jagainnya bentaran nggak seberapa ngenesnya. Kalau jagain jodoh orang sampe lima tahunan, bisa di ketawain Bank, Mila, Mbak."


Ara mengernyitkan kening, bingung dengan pernyataan sang adik ipar, "apa hubungannya pacaran sama Bank?"

__ADS_1


"Adalah! Kalau pacaran, bisa lima tahun atau lebih jagain jodoh orang tanpa dapet apa-apa, selain nyesek. Kalau Bank? Kita nyicil rumah selama lima tahun, udah pasti dapet rumah plus surat-suratnya. Coba tuh, apa nggak di ketawain."


Ara terbahak mendengar penjelasan sang adik, betapa cerdasnya gadis itu memberi contoh perumpamaan orang yang tengah pacaran.


"Yaudah, kalau gitu langsung nikah aja." ucap Ara, lagi-lagi membuat Mila terkekeh.


"Ih Mbak Ara, dikira nikah itu nggak butuh biaya apa?" TuKas Mila. "Urusan biaya oke, eh ... calonnya belum dateng," lanjut Mila.


Ditengah-tengah mereka sedang bersenda gurau, tiba-tiba Rais ikut nimrung ditengah-tengah mereka.


"Ini lagi bahas apa? Kok kayanya seru banget?"


"Mas Rais kepo."


"Kepo? Kepo apaan?"


"Ya Mas Rais itu kepo."


Nampak suasana dalam rumah itu riuh dengan kedatangan Mila. Ditengah-tengah ke asyikan mereka, tiba-tiba di depan rumah ada seseorang yang memanggil dengan ucapan salam yang lumayan keras. Hingga membuat suasana hening sejenak.


"Siapa, Bi? Coba Abi lihat?"


"Udah Mas Rais disini aja, biar Mila yang nemuin."


"Maaf, nyari siapa?" Tanya Mila ketika lelaki itu menghadapkan pandangannya ke arah langit di pelataran rumah.


Pemuda itu menoleh, "Mira sama Mas Rais." Ucapnya tersenyum, membuat Mila sedikit terusik hatinya.


"Anda siapa?" Ucap Mila kembali.


"Sahabat Mira."


"Mira? Mira siapa, Mas. Disini nggak ada yang namanya Mira." Ucap Mila sedikit ketus. Pasalnya memang tidak ada yanģ mengenal nama tersebut.


"Siapa, Dek!" Teriak Ara dari arah ruang tamu.


"Nah, itu dia, Mira." Ucap lelaki berkemeja putih, yang tak lain adalah Zaki.


"Zaki? Ada apa Zak?"


"Ealah Mas ... Mas. Mbok bilang, nyari Mbak Ara, disini tuh nggak ada yang namanya Mira." sahut Mila ketus, lalu meninggalkan Zaki yang masih terlihat berdiri di beranda rumah.


Ara tersenyum ketika melihat kejutekan sang adik ipar. "Jangan jutek-jutek, nggak baik anak perawan." Bisik Ara kepada Mila. Yang membuat Mila hanga mencebikkan bibirnya.


"Abi? Ada Zaki Bi." Ucap Ara setengah berteriak. "Bawa apaan, Zak?"

__ADS_1


"Oh, ini buat ponakan tersayang."


"Wah, makasih lho ya, jadi ngerepotin."


"Siapa itu tadi, Mir? Jutek banget."


"Adik Mas Rais." Jawab Ara membuat Zaki manggut-manggut.


"Wah, Assalamualaikum, Mas. Apakabar?" Sambut Rais dengan senyum.


"Alhamdulillah baik, Mas." Jawab Zaki setelah membalas salam dari Rais.


"Yaudah kalian ngobrol, aku mau ngurus Zulva ama Zulvi."


"Oh, ya, Mi. Mila suruh bikinin minum untuk Mas Zaki." seru Rais yang di iyakan oleh Ara.


Didalam kamar, nampak Mila sedang bermain dengan Zulvi yang memang tidak tidur.


"Dek, bikinin minum buat Zaki, ya?"


"Iya, Mbak." ucap Mila turun dari atas dipan, "Oh, ya, Mbak. Kenapa dia panggil Mbak Ara, Mira?"


"Ya, itu nama panggilan kecil Mbak."


"Owh, gitu." Jwab Mila manggut-manggut, bibirnya nampak mengerucut.


"Kenapa? Ganteng, ya?" Goda Ara.


"Ih, ganteng apaan, nggak. Biasa aja."


"Masa?"


"Iya."


"Yaudah, sana gih bikinin minum, sekalian kue di kulkas bawa juga biar dimakan sama mereka." titah Ara.


Mila segera melangkahkan kakinya ke arah dapur, mengalakan kompor, lalu memasak air dalam teko. Dia mengambil dua cangkir bercorak putih susu, sembari menunggu mendidih, Mila sempat bertanya-tanya pada hatinya. Siapa Zaki? Kenapa biaa akrab dengan sang kakak ipar? Sahabat? Swjak kapan sang kaka ipar punya sahabat bernama Zaki? Dan kenapa Raia sang kakak pun bisa kenal dekat. Pertanyaan-pertanyaan kian berjubel dalam otak Mila.


"Nduk, Mila! Mana tea nya?" teriak Rais dari beranda rumah.


"Iya, Mas. Bentar masih di aduk." Jawab Mila, ia nampak teegesa-gesa mengaduk tea dalam cangkir.


"Silahkan diminum," tutur Mila kepada Zaki.


Pemuda tampan itu nampak melihat lekat ke arah Mila. Ada sekelumit senyum yang menenangkan ketika Zaki mendapati Mila menatap sekilas wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2