
Bu Ani dan Angga telah duduk di meja makan.
"Loh, kamu kerja ya Reng, Nggak ambil cuti?"lihat Bu Ani, ke arah pasutri yang sedang bahagia.
Duduk Renggra dan Laura"Nggak, Bu. Mungkin beberapa hari kedepan. Aku mau nyelesain pekerjaan kemarin yang tertunda."memotong roti yang telah di sediakan atas meja oleh Bik Siska pelayan rumah.
Laura hanya diam menyimak.
"Makan yang banyak, Ra."ucap Bu Ani.
Menganggukkan kepala, nyambil mengiris roti yang lembut. Berisi sayur daging dan lainnya.
Melirik Renggra dan Laura dengan tersenyum-senyum"Ekhemm, Lah pecah ketuban Reng, semalam?"celoteh Bu Ani.
Angga tersenyum-senyum.
"Belum pembukaan, Bu."nyambungnya.
Laura hanya diam menyimak, mendengar siapa yang ingin melahirkan.
"Sabar, lagi proses Bu."sambung Angga.
Angga yang sudah lama di angkat menjadi anak Bu Ani, Ia sudah tak merasa segan lagi. Bu Ani benar-benar orang yang baik, mau menerima apa adanya.
Menghebuskan nafas"Jangan lama menunda, ingat umur."jahilnya kembali"Kamu, kapan, Ga?"
Angga yang di tanya langsung batuk-batuk saat minum air putih.
"Hati-hati, Ga?"khawatir Bu Ani.
"Ekhem.. Iya Bu, do'ain aja."kena imbas lagi dirinya.
"Mana amel?"tanya Renggra.
"Masih di kamar, mungkin bentar lagi keluar."jawab Bu Ani.
Yang di tanya tak lama menghampiri"Hai... Kakak ipar,"pekik Amel yang bergegas duduk di sebelah Laura.
Laura merasa kaget, melihat tingkah Amel yang periyang. Beda dengan apa yang di lihatnya semalam.
"Kakak, Aku Amel. Adiknya kak Renggra,"menyalimi Laura.
"Jadi adik Renggra, aja. Kak Angga bukan? Kemarin, ada yang bilang adik kak Angga, bukan kak Renggra."merajuk Angga.
"Kak Anggakan, suami Amel."jawabnya lantang.
Sedak Angga dua kali saat minum"Nih anak. Mentang gue jomblo."ucap batin.
Laura tersenyum, dan yang lainnya menggelengkan kepala, melihat tingkah Amel yang tak malu-malu. Tubuh aja yang besar, sifatnya masih seperti dulu, sering jahilin orang.
"A.aku, Laura."jawab gugup yang melihat gadis cantik itu tampak lebih tua darinya.
"Nanti lagi bicaranya, Ay kekamar sebentar."ajaknya ke kamar selesai makan dan sebelum berangkat kerja, ada hal yang perlu di sampaikan.
"Belum pecah ketuban, tapi manggilnya, Ay."gurau Angga.
Jelit Renggra ke Angga. Angga yang merespon tersenyum-senyum.
Laura masih belum nyambung, Sedangkan Amel dan Bu Ani. Menahan tawa.
Sampai di kamar Renggra mengumpulkan barang yang ingin di bawah"Ay, aku kerja dulu. Pulangnya bisa telat, tapi Mas usahain pulangnya cepat. Banyak kerjaan yang harus di selesain."
Menganggukkan kepala"Eemmm, Iya Mas! Aku ngapain selama di sini? Dan kamu liat nggak di mana handphoneku dan tasku?"
Dekat Renggra ke Laura"Kamu turun aja ke bawah, temui Amel atau Bu Ani. Ada juga taman di belakang rumah kalau kamu mau, Ay. Handphone kamu rusak kebanting di lantai saat pingsan. Nanti kita beli yang baru. Tasmu ada di lemari lihat aja."
Menganggukkan kepala kembali, merasa malu berdua terus menerus di bilik kamar.
Renggra menunduk dan memejamkan mata dengan tersenyum. Kedua lengsu pipi tampak jelas di wajahnya, di pandang wajah itu double sempurna.
Mengernyitkan kening"kamu mau apa Mas?"bingungnya.
"Kasih aku energi, Ay. Sebelum kerja biar semangat."berharap di beri ciuman oleh Laura.
Laura ragu, campur takut"E.Emang, apa Mas?"tak tahu apa yang harus di beri energi?
Intip sebelah mata kiri"Nggak kiss, di elus-elus juga boleh, Ay."berharap lebih.
__ADS_1
Membulatkan mata takutnya berdatangan"Nggak, Mas."
Berdiri tegak, melihat Laura"Ay, pilih! Mau ngasih ciuman atau mengelus-elus wajahku. Eemmm, mau..."melirik ke ranjang dengan senyuman.
Mata Laura semakin melebar, fikirnya kemana-mana"Mengelus-elus wajah saja."dadanya berdebar-debar.
Menunduk kembali nyambil memejamkan mata, berhasil mengikatnya.
Mencoba mengangkat pelan kedua tanganya, yang mengarah ke arah wajah Renggra, takut campur malu, Ia harus mulai membiasakan diri. Tangannya kembali gemetar melus-elus pelan pipi mulus itu, Renggra tersenyum-senyum batrenya terasa penuh.
DEG!
Tangannya di lepaskan"udah Mas,"tolehnya ke arah lantai merasa takut.
"Ciumnya nggak, Ay?"tahan Renggra yang berharap di beri lebih.
Menggelengkan kepala, dirinya yang menyentuh saja gemetaran apa lagi mencium.
Mengangkat kepala"Iya udah, Ay nggak papa."puranya cemberut.
Menghebuskan nafas"Mas, marah ya. Akukan masih belum siap."takut menambah lagi dosanya.
Menoleh"Oke, tapi, malam di kasih ya, sebelum tidur."rayuan dengan nada merajuk.
"Kasih apa Mas?"kerutnya kening.
"Cium pipi, lebih juga boleh, Ay."guraunya.
"Mas...."pekiknya.
Melengos Renggra mengambil barang yang ingin di bawah"Iya udah, aku pergi, Ay. Aku tau kok, di hatimu belum ada aku. Setidaknya kamu..."hentinya ucapan, tangan Renggra di tarik cepat oleh Laura kemudian mencium pipinya.
Laura merasa takut, kalau tak di turuti bisa saja nanti malam lelaki ini akan melakukan hal yang menakutkan itu.
Rasa kaget dan senang, hati Renggra di cium oleh istri tercinta"Ay, kamu.."Angguk Laura"Udah pergi sana,"dengan malu-malu.
"Makasih, ya Ay. Batreku full."senyumnya.
Menganggukkan kepala, menahan malu.
"Assalamualaikum, Ay."
Keluar kamar, manarik nafasnya dalam-dalam. Mengatur emosi yang naik turun. Akibat ciuman pertama dari sang istri.
Angga yang melihat Renggra tersenyum-senyum turun dari anak tangga, membuatnya penasaran. Apa yang telah terjadi dengan dirinya? Ia langsung saja mengikuti Renggra dari belakang saat melewatinya.
Sedangkan Laura merasa gemetar dan malu, tiba-tiba refleks mencium Renggra"Ada apa denganku?"ucap batin dengan dada yang berdebar-debar.
Memejamkan mata"Apa aku udah mulai memberi ruang padanya?"menggelengkan kepala"Udah Ah sekarang, beresin kamar dan cuci baju."tepis fikiran yang memacu percepat adrenalin"Tapi, gimana mau nyuci? Aku, kan baru di sini. Mana belum kenal sama orang di sini."ucap batin merasa malu keluar kamar membawah pakaian.
Tariknya nafas, memberanikan diri. Masa tinggal di rumah hanya berdiam diri di kamar, mulanya membereskan kamar, mengambil pakaian Renggra dan dirinya ke lantai bawah untuk di cuci.
"Ra..."panggil Bu Ani yang duduk di kursi sofa.
Laura menghampiri.
"Mau di bawah kemana, pakaian itu?"menujuk bawaan Laura.
Senyumnya"Itu Bu, mau nyuci baju, ini pakaian kotor."
"Bik! Bik!"pekik Bu Ani memanggil Bik Siska.
Bik Siska datang menghampiri"Iya nyonya!"berdiri di dekat Bu Ani.
"Ambil pakaian di Laura,"tunjuknya.
"Nggak Bu, Laura mau nyuci sendiri."tolaknya.
"Itu udah tugas pelayan, Ra."jelasnya.
"Biar Laura aja ya Bu, Laura nggak mau pakaian sendiri dan suami di cuci oleh orang lain. Ini kewajiban Laura sebagai istri." Mohonnya"Laura juga bosen kalau hanya duduk aja,"ajuan inginnya, yang tak biasa hanya duduk-duduk saja tanpa melakukan hal apapun.
Bu Ani tersenyum, paham betul maksud Laura"Iya sudah,"tolehnya ke Bik Siska"tolong ajari nyonya Laura."
Menganggukkan kepala"Iya Bu,"tolehnya ke Laura"Ikut saya nyonya."
Senyum Laura"Makasih ya Bu,"senangnya di beri izin.
__ADS_1
Menganggukkan kepala, dengan wajah yang tersenyum.
Tak lama Amel datang"Mana kakak ipar Bu,"liriknya sana sini.
"Nyuci Mel,"fokus di majalah.
Mengerutkan alis"Kok, nyuci Bu? Bukannya pekerjaan pelayan?"kesal Amel.
Tolehnya ke Amel"Tadinya Ibu, sudah bilang Mel. Laura masih ngotot mau nyuci."tariknya nafas"Mungkin, Ia fikir setelah menikah dan tak bekerja, sudah kewajibannya mengurus rumah tangga dengan baik."
"Iya udah, aku susul aja."gegasnya mencari Laura.
"Kakak ipar.."pekik Amel mendekati Laura.
Laura mencuci pakaian menggunakan mesin yang di ajarkan Bik Siska.
Tolehnya ke sumber suara"Iya..."
"Kakak ngapain, di sini?"dekatnya di samping Laura.
"Nyuci.."
"Oohhh! Kak, biar Biar Bik Siska aja yang nyuci. Paling kalau kakak malu cuci pakaian dalam aja, sisa mereka yang melakukan."jelasnya.
"Eemmm..."ragu-ragu.
Tariknya tangan Laura, mengajaknya kumpul di ruang tamu"Bik lanjuti ya,"jawab langsung Bik Siska"Siap, non."ancungnya jempol.
Laura hanya diam menuruti, Amel menariknya ke ruang tengah berkumpul dengan Bu Ani atas perintah kakaknya lewat via SMS.
Renggra tak mau Laura menjadi stress saat sendirian di dalam kamar, akibat ulahnya.
"Duduk bareng kak, sini."ajaknya duduk bersama di kursi sofa.
"Udah nyucinya, Ra?"tanya Bu Ani
"Belum Bu, Amel ngajak ke sini."masih merasa malu.
Laura melihat wajah Bu Ani merasa tak asing.
"Kamu kangen ya, sama Bu Aminah?"
Menganggukkan kepala"Iya Bu, rasanya ingin pulang bertemu mereka."senyum yang masih kurang nyaman.
Bu Ani dan Amel tersenyum"Nanti kalau Renggra nggak sibuk kerja, Ibu suruh ajak kamu ke sana."
Menganggukkan kepala kembali"Iya, Bu."
"Ibu lihat, kamu masih meragukan Renggra, ya? Wajar kamu lupa padanya."Bu Ani mencoba membantu Renggra, agar hubungannya menjadi dekat.
Bu Ani paham betul berada di posisi Laura, yang menikah terpaksa tanpa persetujuan.
Mata Laura membulat, kenapa pertanyaan itu membuat dirinya seperti pernah bertemu laki-laki itu?
"Maksud, Ibu."tanyanya pernasaran.
Bu Ani tersenyum, menceritakan tentang Renggra sewaktu kecil yang menyukai gadis yang di cintai itu.
Laura terkejut, dengan cerita Bu Ani"Jadi selama ini, Ibu sama Mas Renggra, donatur yang di maksud Bu Aminah."
Menganggukkan kepala, pelan.
"Kakakku, orangnya kaku. Tak bisa mengungkapkan perasaannya terang-terangan."ucap Amel.
Merasa tak percaya, apa yang di bicarakan Bu Ani. Banyak sekali orang yang di bantunya sejak kecil, anak-anak hingga dewasa. Dirinya tak tahu di antara mereka ada yang jantuh cinta padanya secara diam-diam.
Senyum terukir di wajah Laura, seperti bohongan, tapi nyata.
"Ra, Ibu yakin. Suatu saat, hatimu akan terbuka untuk Renggra."harap Bu Ani pada Laura"Rahasiakan cerita ini pada Renggra, Ibu tak mau kenangan masa kecil membuat traumanya kembali."semoga cerita ini bisa mengetuk hati sang mantu.
Bu Ani tak membahas pekerjaan Renggra, takut Laura semakin terkejut. Bagian itu, Ia serahkan pada Renggra saja.
Menganggukkan kepala"Eemmm, Iya Bu."perasaan yang benar-benar remuk, mendengar kisah hidup suaminya.
Berusaha menjadi istri yang shalihah dan penurut padanya, walau butuh proses, dirinya yakin bisa membangun bahtera rumah tangga yang harmonis.
Menghilangkan trauma yang di derita oleh suaminya itu.
__ADS_1
Selanjutnya~> Chapter 11