
Sesampai di ruang tengah Angga berjalan di belakang Renggra yang ingin langsung masuk ke bilik kamar.
"Reng!"peking Angga.
Toleh Renggra"Eemmm, ada apa?"
Menunduk memainkan jari"Ada yang ingin aku bicarakan sebentar."kembali melihat Renggra.
Mengerutkan kening, kenapa tak di bicarakan saat mereka jalan tadi. Senyum Renggra mungkin Angga lupa dan baru ingat"Ada apa?"
"Reng!"rasa ragu namun harus segera di ucapkan"Aku tadi bertemu Laura."rasa takut mulai menelusuri diri Angga, melihat respon Renggra saat membahas orang yang di anggapnya telah mati.
DEG!
Wajah Renggra memerah, menahan gejolak yang tiba-tiba menghampiri"Maksudmu?"menanyakan kembali apa Angga sedang bergurau.
Amel keluar dari bilik kamar memperhatikan pembicaraan Angga dan Renggra dari kejauhan.
"Aku bertemu dengan istrimu di Mall Reng."jelas Angga melihat reaksi Renggra berubah.
Senyum sinis, menarik nafas"Kamu sedang bergurau ya? Jangan! Jangan bergurau yang seperti ini."menggelengkan kepala perlahan timbul rasa sesak di dada, tak paham dengan bercandaan Angga yang tiba-tiba.
Datar wajah Angga, cobanya kembali menjelaskan"Aku tak bercanda, juga tak berbohong Reng."
Renggra mendekati Angga dan menarik kerah bajunya, marah Renggra tak terkendalikan"Aku tak menyangka, kamu sampai berhalusinasi. Jangan-jangan kamu diam-diam mencintai Laura di belakangku."mata yang merah dan membulat, menetes air mata yang membendung. Tak di sangka, Angga menghianatinya selama ini.
Bu Ani juga keluar dari bilik kamar bersama Yusuf dan Musa yang habis main di ruangan khusus bermain.
Prakk! Tibanya tangan Angga melayang ke wajah Renggra. Sadarnya ucapan Renggra dapat merusak rumah tangganya bersama Amel.
Menoleh ke lantai memegangi pipi yang merah dengan satu tangan, menoleh kembali ke Angga"Kamu berani."suara Renggra yang menggelegar inginnya meninju Angga, merasa sudah kelewatan Angga melakukan hal itu.
"Berhenti Renggra!"pekik Bu Ani"Bik!Bik!"pekik Bu Ani memanggil Bik Siska agar membawah anak-anak keluar dan tak melihat perdebatan Ayah mereka.
Takut apa yang mereka lihat, terjadi pada Renggra dulu yang mungkin sampai saat ini masih trauma.
Bik Siska mendekat mengajak Yusuf dan Musa pergi, dengan hati yang resah mereka ikuti kehendak orang tua.
__ADS_1
Angga dan Renggra menari nafas, mengontrol amarah di depan anak-anak mereka.
Bu Ani dan Amel mendekati Renggra dan Angga. Menyimak, belum paham apa yang telah terjadi?
Renggra memegangi keningnya, sandiwara apa yang Angga lakoni"Kamu taukan Ga, kita semua, sudah menguburkan Laura."nafas yang terengah-engah menahan amarah"Tapi kamu membahas ini semua."air mata yang terus mengalir, menunjuk Angga"Lihat suamimu, dia menghianati aku."tak percayanya pada Angga melihat ke arah Amel.
Cengir Angga, tak menyangka Renggra semarah ini. Ia kira Renggra akan senang ternyata ia seperti hewan yang tak mempunyai akal dan fikiran. Mungkin saja dirinya telah di kendalikan Sella.
Hembusnya nafas, upaya sabar"Aku tak sedikitpun menghianatimu Reng. Begini saja, kamu otopsi kembali mayat Laura, jika itu benar Laura,"memegang tangan Amel"Aku dan keluarga kecilku akan pergi dari rumah ini."camnya.
DEG!"Kenapa kamu harus membawah Amel?"tunjuk Amel"Dia adikku."tak ingin kehilangan adik semata wayangnya.
Tunjuk Angga"Ingat Reng, Amel sudah menjadi istriku. Kamu tak berhak lagi atas Amel."jelasnya.
"STOP!"bingung Bu Ani kenapa mereka bisa bertengkar sehebat ini? Sampai-sampai ingin meninggalkan rumah. Tunjuknya tempat duduk"Duduk dulu, dinginkan kepala kalian."perintah Bu Ani yang merasa kesal.
Mereka berdua menarik nafas dan berucap istighfar, menuruti Bu Ani.
"Jelaskan?"usai duduk Bu Ani yang berhadapan dengan Angga dan Renggra.
"Bu, Aku melihat Laura saat masuk ke dalam Mall, saat ingin menemui Renggra yang menunggu di resto."jelas pelan Angga dengan sabar.
Tunjuk tangan Bu Ani ke Renggra,"Kamu diam saja, Ibu ingin mendengar penjelasan Angga."rasa kaget dan senang memdengar cerita tentang Laura.
Sedangkan Renggra tersentak menahan gejolak di dada gurauan Angga tak lucu.
Sambung Angga"Aku sempat tak percaya, mungkin apa yang di katakan Renggra benar aku berkhayal saat melihatnya."melihat Renggra yang cengar-cengir merespon bahwa dirinya berhalusinasi"Tapi Bu aku memastikan kembali,"jelasnya.
Renyit kening Renggra menoleh serius pada Angga, rasa penasarannya memuncak.
Hembuskan nafas panjang"Aku berjalan kembali, menyenggol bahunya Bu. Dompetku ku jatuhkan, Alhasil kami bertatapan Bu dan berbicara. Tapi Ia tak kenal aku?"jelas Angga panjang lebar.
Mata Renggra membulat, rasa terkejut dan senang menjadi satu.
Sahut Amel"Benar apa kata kak Angga. Aku juga bertemu kakak ipar."jelasnya.
"Apa?"serentak Renggra dan Bu Ani rasa percaya dan penasaran menjadi satu, menoleh ke Amel.
__ADS_1
Pagi-pagi sebelum Renggra dan Angga berangkat jalan-jalan Amel sudah duluan pergi ke Mall menemui klien baru yang mengajaknya menjalin antar kerja produk ke cantikan dengan perusahaan yang melayani costumer dalam jasa perawatan diri.
Terkejut Amel melihat sosok cantik itu melepaskan kacamata dan mengajaknya bersalaman ternyata Laura.
Sontak Amel mengikuti gaya Laura yang berkelas dan berbeda dari yang dulu. Mengikuti Alur perbicangan membuat Amel tersadar Laura tak mengingat siapa dirinya itu?
"Jadi Mel, kamu bertemu dengannya dulu baru aku?"tanya Angga.
Angguk Amel,
Toleh mereka semua pada Renggra, yang seperti orang yang kebingungan.
Tepuk pelan pundak Renggra"Saksi telah dua, giliran kau mengotopsi mayat wanita yang di kubur itu."sahut Angga.
Angguk Renggra, yang bingung merasa bahagia atau hal lainnya.
Kerut kening Bu Ani"Apa nama perusahaan itu Mel?"rasa bahagia yang menerpa mendengar Laura masih hidup, inginnya menemui segerah mantu kesayangan itu. Yusuf pun harus ikut serta, pasti ia akan senang mengetahui Ibu kandungnya masih hidup.
"ZAINT."jawab Amel.
"Reng!"toleh Angga ke Renggra"Bukannya itu perusahaan Aditya."
Angguk Renggra yang mengerti berarti selama ini mereka semua di tipu Aditya. Senyum Renggra merasa senang dalam dirinya, ternyata Laura masih hidup.
Sesak yang selama ini tertahan, akhirnya pecah di hadapan mereka semua.
Angga menepuk pelan pundak Renggra"Ternyata kamu masih menyukai Laura Reng dari pada Sella."
Terkejut Bu Ani dan Amel"Apa Renggra menyukai gadis lain?"sahut Bu Ani.
Angguk Renggra,"Awalnya gitu Bu, aku mencari Ibu untuk anakku."menahan sesak di dada.
Bu Ani duduk di samping Renggra, memeluknya"Ini salah aku yang merayu Yusuf, supayah kamu menikah lagi dan hidup bahagia."Lihatnya Renggra yang hidup tanpa ke bahagian terpancar dari raut wajahnya.
Angguk Renggra, paham maksud Bu Ani, dirinya yang ragu dan bingung melepaskan cinta pertama yang di anggap mati itu. Ternyata salah.
Melepaskan pelukan Bu Ani menoleh ke Angga"Maafkan Aku Ga, tadi bersikap di luar kendaliku."meraih tangan Angga, karena sifat yang di pengaruhi oleh hawa nafsu itu membuatnya kehilangan ke sadaran. Hampir kehilangan orang yang berada di dekatnya.
__ADS_1
Angguk Angga mengerti apa yang di rasakan Renggra.
Selanjutnya~>Chapter 47