Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 17


__ADS_3

"Ay, kamu istirahat aja di kamar. Oh ya, bentar tunggu di sini."Renggra pergi ke mobil mengingat sesuatu yang belum di berikan ke Laura.


Tak lama datang membawah plastik kecil"Nih, Ay."di berikan ke Laura.


Bukanya plastik itu berisi handphone mahal"Mas, kamu kapan beli? Ini mahal banget Mas."di berikan ke Renggra lagi"Kamu jual aja lagi, beli yang murah aja."


"Nggak papa, Ay. Mas beli buat kamu. Jika ini di jual nanti harganya lebih murah."bohong Renggra"Sayang uangnya, hilang begitu aja."bujuknya.


"Tapi, Mas. Ini mahal banget temenku pernah beli kredit sampai 30 juta lebih."kerutnya dahi"Mas, jangan-jangan kredit, ya."ingin tahu.


Renggra terkekeh,"Mas, nggak kayak gitu, Ay."duduk di kursi depan TV.


Menghampiri, ikut duduk"Mas, beli kes ya?"pastikannya lagi.


Angguk Renggra,


"Uang Mas sebanyak itu, lebih baik di tabung Mas, buat masa depan."tak ingin menyusai.


"Ay, insyaallah uangnya cukup buat masa depan kita."pegang tangan Laura"Jangan kamu fikirkan,"senyumnya merasa ini semua tak berarti apa-apa.


Anggukkan kepala,"Eemmm, makasih ya Mas."


Di buka handphone itu,"Nomor, Mas mana?"


"Sini, Mas ajarin."ambilnya handphone, memberikan letak nomor Renggra, dan cara lainnya supaya Laura paham menggunakan handphone.


"Mas, aku istirahat di kamar ya. Sekalian belajar gunai handphone ini."


Angguk kepala,"Oh ya, Ay. Sore kita mancing di danau, malam kita ajak pak Maman dan lainnya makan bersama sambil manggang ikan dan lain-lain. Kamu mau nggak?"ajaknya.


"Iya, Mas. Aku nurut aja."masuk ke bilik kamar.


Setelah Ashar berkumandang, Renggra melaksanakan shalat sendirian. Kemudian mengajak Laura memancing bersama dengan yang lain juga di danau.


Berkumpul bercanda layaknya warga biasa. Sering ia lakukan saat libur, tak memandang statusnya dan status yang lainnya. Bagi Renggra manusia itu hidup sama saja, bedanya ada yang di beri kekayaan untuk membantu sesama ada juga yang di beri kemiskinan untuk menaikkan derajatnya di hadapan sang pencipta yaitu Allah SWT.


Selang azan Magrib berkumandang, Renggra melaksanakan shalat, setelahnya menemui warga di sana yang telah berkumpul.


Dekatnya Renggra dan Laura ke Pak Maman dan Bu Siti.


"Mana Citra Bu, nggak kelihatan?"tanya Renggra.


Dengan rasa malu, telah melakukan ke salahan tadi siang di hadapannya"Citra ketiduran, Nak."jawabnya dengan rasa kurang nyaman"Nak, maafin putri Ibu bicara basingan."liriknya ke Laura dan Renggra"Ibu doakan kalian cepat di berikan momongan dan langgeng sampai tua."senyum Bu Siti hanya itu yang bisa Ia berikan selain doa.


Renggra tersenyum, paham dengan maksud Bu Siti"Iya Bu nggak papa. terimakasih atas doa Ibu, semoga Allah mengabulkannya,"liriknya ke Laura, dengan menaikan alis dengan mengedipkan mata kemudian tersenyum-senyum seperti memberikan isyarat.


Laura hanya tersenyum merasa kurang nyaman, dan menyipitkan mata ke arah Renggra yang selalu memberi kode.


Makan-makan pun telah usai, rasa kantuk yang berat di rasakan. Melihat Renggra sedang menelepon seseorang dengan serius.


Lepasnya hijab, mengganti pakaian, mencuci wajah dan kaki sebelum tidur.


Lihatnya kembali Renggra telah mematikan telepon"Kamu, ngomong sama siapa di handphone, Mas?"rasa penasaran.


"Angga yang nelepon, Ay."


"Siapa Angga, Mas?"


Dekatnya Renggra"Itu yang di rumah sama Bu Ani dan Amel."


Duduk di atas tempat tidur"Ohh, Angga itu siapa kamu, Mas?"ingin tahunya.


"Masa kamu nggak ingat, Ay?"duduk dekat Laura.


Geleng kepala menandakan Laura tak tahu siapa Angga.


Renggra menceritakan kembali kisahnya, bersama Laura dan Angga waktu kecil.


Teringat sekilas bayangan yang memperlihatkan kisahnya bersama Renggra dan Angga.


Angguk Laura,"Benar apa yang di ceritakan oleh Bu Ani."ucap batin dengan tersenyum.


"Kamu, kenapa tersenyum, Ay?"


"Lucu, aja Mas. Dulu kamu benci sama aku, sekarang cinta."nyindir Renggra.


Usap kepala Laura,"Tapi kamu senangkan dapetin, Mas?"guraunya.


Geleng langsung menandakan tak senang.

__ADS_1


Wajah Renggra cemberut, merasa ingin terbang tapi tak jadi.


"Nggak salah lagi Mas."jahilnya.


Cubit pelan pipi Laura"Udah pinter gombal, ya."cium bibir Laura"Ay, Mas seneng banget kamu kayak gini."


"Mas, sakit pipiku. Bisa lepas nggak, mana main cium aja lagi."marahnya.


Lepas tangan yang memegang Laura"Untung cium, Ay. Kalau nggak haid aja udah ku telen."guraunya yang selalu mengggoda Laura.


"Mas, mulai deh. Mesumnya."guling di tempat tidur"Mas, ganti pakaian dulu sana. Bau asep. Aku capek, Mas. Mau tidur."


"Iya, Ay!"


Lepasnya membersihkan tubuh, Renggra tidur di samping Laura menyelimuti dan memeluk.


"Ay, udah tidur ya?"ucap pelan di telinga Laura.


Bangun Laura merasa kaget mendengar suara Renggra,"Eemmm, tadi tidur suara Mas deket banget di kupingku. Jadi bangun."suara pelan menahan kantuk.


"Ay..."panggilnya kembali.


"Eemmm, kenapa Mas?"


"Ay, besok ikut Mas ke tempat kerja ya."


"Emang, kenapa Mas?"pejam mata menahan kantuk.


"Angga, telepon ada berkas yang harus di tanda tangani. Tadinya Mas suruh ke sini, tapi dia sibuk nggak sempet."menahan luapan panas, mencium leher jenjang itu.


Merasa geli"Eeemmm, Iya Mas."Laura merasa Renggra semakin nakal"Mas, tidur nggak. Geli tau di gituin."


Ciumnya sekali lagi,"Iya sayang."


Peluknya erat, tak lama mereka berdua tertidur lelap.


***


Laura dan Renggra telah bersiap-siap, kali ini Renggra pergi ke kantor memakai pakaian santai.


"Mas, kamu nggak pakek baju kantor?"tanya penasaran, suaminya santai sekali.


Mendekat"Mas, nggak papa. Aku ikut?"


Mendekati Laura,"Nggak papa sayang, datang cuman meriksa berkas dan tanda tangan aja."nunduk seperti biasa meminta di cium.


Laura tanpa berfikir panjang, langsung mencium kening Renggra. Seperti sudah menjadi kebiasaannya saat ini.


"Makasih ya, Ay. Yuk berangkat."


Angguk Laura,


Sesampainya di perusahaan, Laura merasa aneh di sambut orang berpakaian berjas tersusun rapi di depan bangunan besar dan tinggi.


Angga pun menunggunya di sana.


Laura masih terdiam, belum berani keluar.


"Ayo, Ay. keluar."ajaknya.


Tarik tangan Renggra,"Mas, kenapa banyak orang di luar? Apa kamu telat?"


Senyum-senyum Renggra,"Keluar aja dulu, nanti, kalau sudah di dalam Mas jelasin."


Angguk Laura,


Mereka berdua keluar, sapaan demi sapaan di lontarkan ke arah mereka. Pegang erat tangan Laura memegang tangan Renggra.


Banyak setiap orang melihat ke arahnya, seperti tanda tanya ingin mereka sampaikan. Degupnya rasa jantung Laura menahan malu serta bingung.


Liriknya ke arah Renggra yang hanya fokus ke Angga, entah apa yang di bahas.


Sampai di depan lift, Angga menekan angka 105.


Renggra melihat ke arah Laura dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya.


Sampai di ruang derektur utama, tariknya tangan Renggra.


"Kenapa, Ay?"berhenti di tarik Laura.

__ADS_1


Angga telah membuka pintu.


Liriknya sebentar,"Mas, kenapa bawah aku ke ruangan derektur kamu?"merasa takut.


Senyum Renggra,"Ay, itu ruanganku."rangkul pundak Laura mengajaknya ke dalam.


Mata Laura membulat seperti bola pingpong, kedipnya mata sesekali. Cubit tangan sesekali, mungkin masih tidur dan bermimpi.


Terasa sakit mengeyit di kulit, tanda Ia tak bermimpi.


"Duduk, di sini dulu ya, Ay."ajaknya ke ruangan pribadi seperti kamar dan duduk di atas tempat tidur"Mas, mau ganti baju dulu."dengan santai melepaskan pakaian di hadapan Laura.


Laura tak fokus dengan ke adaan Renggra yang melepas pakaian di hadapannya.


Masih dalam lamunan, sebenarnya apa yang telah terjadi? Pekerjaan apa yang di lakoni Renggra selama ini?


"Ay..."panggilnya lembut, merasa Laura tak malu lagi melihat tubuh Renggra.


Laura memandang ke arah lain dengan melamun, senyumnya Renggra apa yang di kira ternyata salah lagi.


Duduk di dekat Laura, meraih tangannya"Ay, kamu ngelamuni apa?"


Merasa kaget"Eemmm, apa Mas?"toleh ke arah Renggra.


"Kamu, lagi ngelamuni apa, Ay?"ucap santai.


"Bingung, dengan pekerjaan yang kamu kerjakan."


Renggra tersenyum,"Nanti Mas jelaskan, setelah selesai pekerjaan di ruang sebelah."tunjuknya kaca memperlihatkan dari ruang itu tempat duduk, penuh berkas. Namun, jika dari luar melihat ruang pribadi Renggra tak terlihat hanya kaca gelap anti tembus pandang.


Angguk Laura,


Ciumnya bibir Laura dengan lembut,"Mas kerja dulu ya, Ay."senyumnya merasa senang mencium Laura tanpa berontak. Kemudian Renggra pergi ke ruang sebelah.


"Mas, sekarang berani main cium bibir,"ucap batin, merasa malu di cium suami sendiri. Jantungnya seperti sedang menari-nari.


Lihat Laura ke arah Renggra yang sedang fokus ke layar komputer dan berbagai berkas di sana.


Ada Angga juga yang duduk tak jauh dari Renggra, melihat penampakan mereka yang seperti CEO dan sekertaris.


"Apa, sebenarnya pekerjaan, Mas? Apa gedung ini miliknya?"kecurigaan Laura seperti galaksi yang melintas.


Cepatnya mengambil handphone membuka internet, dan mencari tahu tentang tulisan yang terpampang di depan perusahaan.


Di situ banyak sekali, foto-foto Renggra dan Angga. terus di selusuri mencari info yang akurat. Ternyata benar Renggra pengusaha sukses di bidang perekonomian termudah di Indonesia.


Banyak sekali fans-fans mulai dari kalangan Anak-anak, Remaja, Ibu rumah tangga, sampai lanjut usia.


Tolehnya lagi ke arah Renggra, memastikan kembali sama tidak foto itu dengan dirinya. Ternyata hal itu benar-benar sama.


"Ya Allah, suamiku ternyata."memegangi handphone sampai gemetar"I.ini mimpikan?"tepuk wajah sekali"Aawww, sakit! Ini bukan mimpi."mengelus-elus pipinya.


Tarikan nafas dan detakan jantung yang begitu kuat membuat Laura merasa ini tak bisa di percaya.


Tapi banyak artikel sampai saat ini, belum memperlihatkan bahwa Renggra telah menikah. Kecurigaan membendung di kepalanya, kenapa di sana tak tertulis soal pernikahan mereka?


Tak begitu lama Renggra menghampiri, melihat reaksi Laura yang berlebihan dengan memegang handphone,"Ay, ada apa?"duduk di dekat Laura.


Toleh Laura langsung, menyerahkan handphone di tangannya"Mas, coba jawab?"


Ambil handphone itu dan memeriksanya,


Renggra terkekeh"Kamu menyelidiki aku, Ay?"letaknya handphone itu di tempat tidur.


"Aku penasaran dengan pekerjaan kamu, Mas? Tapi yang buat aku bingung kamu itu pengusaha dan status kamu..."tutupnya mulut Laura dengan jari telunjuk Renggra.


"Ay, Mas baru saja posting pernikahan kita. Mas, memang memiliki banyak usaha di luar sana."raihnya tangan Laura.


"Tapi, Mas. Kenapa menikahi aku yang orang biasa-biasa aja? Mas, nggak malu dan takut di serbu netizen di luar sana?"


Peluk Renggra, menenangkan Laura,"Ay, kamu adalah wanita yang bisa menjaga diri, itu cukup buat Mas. Mas, nggak peduli dengan urusan di luar sana. Hanya kamu, cukup kamu. Udah jangan di fikirin lagi. Kita jalani rumah tangga kita seperti biasa aja, santai aja Ay."


Hati Laura merasa tenang, saat Renggra memilihnya karena pandai menjaga diri. Apalagi tak menghiraukan perkataan orang lain di luar sana, sungguh cobaan di balik awal pernikahan hanyalah lapisan sementara, menguji kuatkan iman seseorang.


Setelahnya semua terlewati dengan sabar dan ikhlas, Allah kasih kado terindah di sana.


"Makasih, ya Mas."


Angguk Renggra,

__ADS_1


Selanjutnya~>Chapter 18


__ADS_2