
Handphone Angga berbunyi dentingan, menandakan pesan masuk. Rogonya kantung celana melihat pesan, seseorang memberikan lokasi keberadaan Laura.
Dengan cepat Angga menghampiri Renggra yang masih mencari-cari Laura di dekat balkon.
"Reng, coba kau lihat."menyerahkan handphonenya ke Renggra.
Mata Renggra membulat, melihat pesan yang membuatnya marah.
"Jika kalian ingin berpamitan dengan pujaanku, datanglah segerah."pengirim pesan Aditya Mehesa. Sharelok📁.
Pejamnya mata merasa geram, Renggra langsung berjalan keluar ruangan bersama Angga.
Tibanya Handphone Nova berdering"Halo, Assalamualaikum?"
Suara Renggra yang syahdu, di seberang telepon"Waalaikumussalam, gimana ke adaan Merisa Nov?"tanya Renggra sebelum memberikan kabar, bahwa mereka telah menemukan tempat Laura berada.
Hembus nafas legah"Merisa Alhamdulillah baik-baik aja Reng, kata dokter hanya di beri obat tidur. Sekarang Ia lagi istirahat dulu di sini. Gimana dengan Laura, sudah ketemu belum?"
Helayan nafas terdengar"Kami di beri alamat pada Aditya, untuk menemuinya di sana."
Rasa khawatir di rasa Nova"Baiklah aku ke sana kirim alamatnya, nanti Merisa ku titipkan dengan tim medis di sini. Aku tak mau kalian kenapa-napa, kita hadapi bersama."erat hubungan persahabatan membuat ikatan itu tak mau jika orang yang di sayang terluka.
"Iya, Nov."jawab Renggra.
Mematikan telefon, mengirim alamat pada Nova.
Segerahnya Nova pergi ke tempat alamat yang di berikan oleh Angga, sesampai di sana penjaga sudah berkeliling di tempat itu.
Suasana yang mencengkam dan sepi, jalan yang di lumuri dengan lumut. Tempat yang dulunya di jadikan produksi minyak mentah, sekarang hanya bekas gedung tua yang tak terurus.
Renggra, Angga, dan Nova masuk ke dalam dengan hati-hati, tibanya di kepung oleh orang yang memegang senjata api.
Berada di situasi yang mencengkam, mereka bertiga setengah duduk di lantai yang kotor, menyerahkan diri sebelum memulai pertandingan gulat.
Berhadapan dengan seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi dan satu orang lagi berdiri di sampingnya tak jauh dari mereka. Saat lampu telah hidup, mereka bertiga melihat wajah Pak Septo dan Aditya.
__ADS_1
Senyum sinis terpancar dari raut wajah Pak Septo"Wah-wah selamat datang keponakankku, sudah lama kita tak bertemu."kerutan kening tampak jelas"Dulu kau bisa menatapku dengan sinis, sekarang hanya manusia yang tak berdaya di hadapanku hahahaha."tawa puas yang terlontar dari mulut Pak Septo.
Rasa emosi yang meluap di ubun-ubun kepala, membuat Renggra harus mengatur nafas. Beristighfar dalam hati, agar tak terpancing amarah yang membuatnya terpengaruh buruk Syaitan"Apa mau kalian? Setelah itu kembalikan Laura padaku?"gemuru di dada rasa ingin menghajar mereka berdua.
Aditya membawah Laura yang masih belum sadarkan diri, sedang berbaring di atas tempat tidur"Kau mau dia, sudah ku bilang ini milikku bukan milikmu."sombongnya.
Mata Renggra membulat, melihat sang istri tidur terlelap di kerumunan lelaki"Beraninya kamu."ingin berdiri, namun senjata mengarah ke mereka bertiga.
Lirik Angga,"Sabar Reng, kita ikuti dulu apa maunya."suara pelan terdengar jelas, agar Renggra tak mengambil keputusan yang berakibat fatal dalam kondisi yang mencengkram.
Pak Septo melihat langsung mengangkat tangan"Jangan terlalu gegabah pengawalku biarkan saja, kita lihat apa maunya."sifat sombong yang di lontarkan ingin melihat reaksi Renggra.
Beberapa menit Renggra hanya diam, mengikuti arahan Angga.
"Reng,"sambung Pak Septo"Apa kau tak senang saat melihat istrimu disini?"melirik sebentar ke arah Laura"Dia tak begitu cantik, tapi menjadi rebutan antara kau dan anakku Aditya."
Renggra tak tau, jika Aditya adalah anak kandung Pak Septo.
Renyitnya kening, merasa terkejut terjebak dalam permainan ikatan sedarah itu.
Mata Renggra membulat, tak mengerti maksud dari perkataan Pak Septo barusan"Apa maksud paman?"
Menaikan alis"Kau sampai sekarang belum tau ya kejadian masa lalu saat Aku, Ibu dan Ayahmu bersama?"
Geleng kepala Renggra, menandakan dirinya tak tahu apa yang telah terjadi.
Hembusnya nafas"Apa Bibikmu Ani juga diam saja?"
Renggra hanya diam, mendengar perkataan yang selalu memberikan tanda tanya.
"Hah, Renggra-Renggra. Hidupmu itu sangat malang sekali ya, di kelilingin oleh orang yang peduli padamu dan tak mau kau terluka. Sayang sekali hal yang mereka simpan itu ternyata petaka bagi dirimu."
"Cepat katakan saja, apa maksud paman?"inginnya mendengar penjelasan Pak Septo secepat mungkin, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kedua orang tuanya juga di sangkut pautkan?
Pak Septo berdiri"Baiklah jika kau ingin tau sekali, masa lalu kami."berjalan perlahan mendekati Renggra.
__ADS_1
"Saat itu Aku dan Ayahmu adalah saudara tiri, kami berdua beda Ibu tapi satu Ayah. Ayahmu itu orang yang selalu berada dalam keberuntungan di kehidupanya, sehingga kakekmu selalu memperhatikan Ayahmu dari pada Aku. Ibu kami berdua sama-sama meninggal saat usia kami masih kecil, kematian mereka berdua akibat kecelakaan lalu lintas.
Setelah besar Aku dan Ayahmu menemukan wanita yang cantik, tapi sayang Ia di jodohkan Kakekmu dengan Ayahmu. Di sanalah Aku benar-benar sangat marah, betapa menyedihkan diri ini, saat orang-orang yang ku sayangi selalu memihak pada Ayahmu.
Kakekmu sakit keras, Ia memberikan kami berdua saham, pertama itu Ayahmu dan kedua itu Aku dengan alasan Ayahmu mendapatkan banyak saham di karenakan sudah menikah dengan Ibumu dan sudah memiliki seorang anak yaitu Kau dan Amel.
Aku merasa benar-benar menjadi orang yang menderita saat itu, makanya aku berambisi untuk merebut Ibumu dari tangan Ayahmu.
Aku membuat perusahaan dalam masa kritis dan menguasai perusahaan orang lain agar Ibumu beralih kepadaku, tapi sayang ternyata Ia bertahan dengan Ayahmu yang hampir bangkrut dan sakit-sakitan karena penyakit itu aku yang membuatnya.
Saat itu kondisi Ayahmu dalam ke adaan sakit parah Ia membutuhkan uang untuk operasi dan menyelamatkan perusahaan, akhirnya Ibumu menemuiku dan meminta bantuan.
Ibumu menyetujui syarat yang ku berikan yaitu Ibumu harus menikah denganku, tapi na'as saat semua bantuan yang ku berikan padanya dan sudah ku bawah dia pergi, Ibumu memainkan setir mobil yang ku bawah yang mengakibatkan kami berdua kecelakaan.
Ibumu meninggal di tempat, sedangkan aku di larikan kerumah sakit menjalani berbagai pemeriksaan.
Di sanalah aku tau bahwa aku bukan orang beruntung dalam kehidupanku, merasakan kehilangan orang yang kucintai dan semua harta bendaku yang ku berikan pada ayahmu.
Saat itulah aku berjanji akan mengambil semua yang kau miliki Renggra harta, kekuasaan dan semuanya. Sekarang semua itu akan terwujudkan."jelas Pak Septo yang ambisinya sebentar lagi akan tercapai.
Renyit kening Aditya"Pa, jadi aku ini anak siapa?"tanyanya penasaran siapa dirinya bagi Pak Septo.
Melirik ke arah Aditya"Kau itu anak haramku dari wanita yang aku paksa menikah, untuk melampiaskan amarahku. Kau ku jadikan alat untuk memulai permainan ini."tunjuknya dengan sinis.
Hembusnya nafas panjang, menjilati kedua bibirnya"Pa, kau sangat kejam. Sudah lama, ku ingin tau cerita ini darimu?"perasaan yang tertimbun itu akhirnya meluap"Aku menemukan sebuah dokumen rahasia di ruang kerjamu?"
Aditya dari kecil sudah di didik oleh Pak Septo untuk melakukan hal yang tak sesuai dengan usianya saat itu.
Menjadikan seseorang yang selalu berambisi dengan segala sesuatu.
Dengan perasaan yang dalam dari lubuk hatinya Aditya tak suka dengan hal yang di ajarkan oleh Pak Septo.
Aditya ingin hidup layaknya seperti orang biasa, menjalani apa yang sudah di takdirkan.
Selanjutnya~>Chapter 38
__ADS_1