Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 52


__ADS_3

Telah usai memakai pakaian serta hijab, dirinya masih bingung. Kenapa pakaian itu bisa pas di tubuhnya?


Menggelengkan kepala tak mau ambil pusing, keluar dari bilik kamar mandi. Memperlihatkan kamar yang bersih dan rapi.


Padahal tadi seprei dan pakaiannya masih berantakan semua.


"Tadi ada pelayan yang masuk ya?"berdiri melihat Renggra yang sudah duduk di kursi sofa minimalis.


Lihat Laura memegang smartphone"Menurutmu, Ay?"balik tanya.


Mengerutkan alis, jika pelayan masuk Kenapa tak terdengar suara orang lain? Apalagi mereka tau yang menginap bukan pasutri dan kenal dengan dirinya, pasti akan mengeluarkan berita yang hebo di luar sana"Gimana nih?"ucap batin.


Renggra tersenyum, melihat ke khawatiran Laura"Tenang aja, Ay. Tadi aku yang membereskan bukan orang lain."jelasnya tak mau membuat Laura kefikiran hal yang aneh.


Mata Laura ke sana kemari, yang benar saja laki-laki di hadapannya bisa merapikan ini semua. Apalagi pakaian dalam dan pakaian luar tersusun rapi di atas lemari. Pejam mata Laura merasa malu, dirinya yang tak tahu harus berucap terima kasih atau memarihi. Laki-laki yang benar-benar penuh tanda tanya.


"Sini duduklah, Ay."tunjuk Renggra ke arah tempat tidur berhadapan dengannya.


Laura langsung mengikuti perintah Renggra, jelas Ia pun ingin melakukan diskusi sebelum keluar dari bilik kamar.


"Sekarang, kamu mau apa?"usai duduk di ujung ranjang.


Renggra tersenyum, mendengar Laura yang dengan cepat ingin keluar dari kamar"Aku tak akan, melaporkanmu ke pihak berwajib."Laura menghembuskan nafas legah"Tapi!"alisnya mengkerut"Kamu harus bertanggung jawab."menyender di kursi"Dan sekarang kita telah sah berpacaran."ikat Renggra agar Laura tak lepas.


Laura tercengang,"Apa?"berdirinya"Kamu sudah gila aku sudah bertunangan, tapi berpacaran denganmu juga."


Renggra ikut berdiri"Apa kamu masih mau menikah dengannya, Ay. Jika kondisimu sudah bekas laki-laki lain."terus menyudutkan.


Tarik nafas"A.Aku!"bingung harus melakukan apa? Laki-laki itu benar kondisinya sudah berbeda.


Tunjuk Renggra ke perut Laura"Aku tak mau jika kamu hamil, lalu menggugurkan anakku, Ay."


Duduk Laura, matanya kesana kemari. Laki-laki itu terus berkata benar"Tapi, kita menikah tak saling mencintai. Apalagi saling kenal."


Tangan Renggra menadah"Sini handphonemu, Ay?"


"Buat apa?"


Menarik tangan Renggra"Gimana kamu akan menghubungiku, Ay. dan memperjelas identitasku."


Berdiri lagi"Tunggu dulu!"menyetopi.

__ADS_1


Renggra menaiki alis.


"Kamu belum punya istrikan?"pastikannya terlebih dahulu, Laura tak ingin menikahi laki-laki yang sudah beristri. Lebih baik dirinya sendirian dari pada menganggu rumah tangga orang lain.


Tersenyum Renggra"Sudah."jawabnya lantang.


Menaiki alis"Apa?"rasa kaget yang benar saja dirinya menikahi laki-laki mata keranjang. Satu istri saja belum cukup atau dirinya banyak wanita simpanan.


"Kamu, Ay!"jawabnya lagi, nyambil mendekati Laura secara perlahan.


"Apa?"tak paham dengan sifat laki-laki yang sering berubah-ubah. Apa ini, cara mengait wanita simpanan? lihat Renggra semakin mendekat dirinya kembali duduk"Eesstt mau apa kamu?"menyetopi Renggra dengan satu tangan menunjuk ke arahnya.


Senyum Renggra dengan berhenti"Kamu Ay, kan istriku."cobanya membujuk siapa tau Laura ingat sesuatu.


"Aku tanya jujur, bukan candaan."senyum sinis, merasa kesal.


Renggra kembali duduk melihat wajah Laura yang ke takutan.


"Aku jujur. Kapan aku bohong, Ay? Buktinya kita sudah tidur semalam."memojokkan Laura.


Hembus nafas bingung, berbicara dengan laki-laki yang tak jelas ini.


"Begini saja! Beri aku waktu, nanti aku pasti akan mengabarimu."sabar menghadapi laki-laki yang banyak tanda tanya. Setidaknya sebelum memutuskan sesuatu dirinya harus tau identitas lengkap laki-laki di hadapannya.


"Ada di tas, ku ambilkan sebentar. Sebutkan saja berapa nomormu."tak maunya laki-laki itu melihat berbagai informasi dan foto dirinya yang tak memakai hijab. Walaupun telah di lihat semalam, tapi itu sedang tak sadarkan diri.


Renggra hanya bisa tersenyum-senyum, mengait sang istri dalam genggamannya saja sudah cukup untuk saat ini.


"Berapa?"memegang handphone.


Renggra menyebutkan nomornya, tibalah handphonenya berdering.


"Itu nomorku, save aja. Eyrin."jelas Laura.


Renggra mengotak-atik handphonenya"Nih."menunjukkan nomor tertulis My Wife(Istriku).


Hembus nafas Laura, terserah laki-laki itu mau tulis apa? kesalnya.


"Sekarang kita sudah selesai, aku mau keluar banyak kerjaan."berdiri menyusun pakaiannya ke dalam tas."Muat."ucap batin.


"Terimakasih. Aku pergi dulu, nanti ku kabarin."berjalan keluar kamar.

__ADS_1


Renggra hanya menganggukkan kepala, mengikuti Laura jalan keluar. Mengikuti dari belakang, melihatnya dari kejauhan saja sudah cukup untuk menghilangkan rasa rindu yang tak kunjung hilang.


Laura berhenti di depan pintu, melihat Amel yang keluar dari kamar lain tak jauh darinya.


Amel melihat ke arah Laura"Sudah bangun Ey?"jalan menghampiri.


Laura termenung Amel juga menginap di hotel tersebut, fikirnya apa Amel sama seperti dirinya?


Mengedipkan mata, Renggra keluar dari bilik kamar.


"Loh kakak, juga di sini?"mengedipkan mata pada Renggra memberi kode.


"Kakak?"toleh Laura ke Renggra.


Angguk kepala Amel"Kalian tidur sekamar?"sekaknya.


Mata Laura membulat, takutnya kepergok Amel.


"Eeemmm..."jawab Renggra.


"Mel, jujur. Ini permainan kamu, kan?"tanya Laura langsung yang sudah tertangkap basah.


Menaiki alis"Maksud kamu?"puranya tak tahu.


"Kamu yang memberi kamar ini padaku, kan. Menjebak aku?"muncul rasa marah.


"Tunggu dulu. Mana kuncinya."sabar Amel yang ingin memperjelas keadaan.


Laura mengerutkan alis, mengapa Amel terlihat santai saja fikirnya. Mengambil dengan cepat kunci kamar bertulisan nama hotel di dalam tasnya dan menyerahkan ke Amel.


Amel segera membuka sebuah kamar di hadapannya dan kamar Renggra"Ini kunci khusus dua kamar Ey. Saya tak tau jika kakakku berada di kamar yang ini."jelasnya menunjukkan pintu kamar dekat Renggra.


Pejamnya mata, merasa pusing. Satu sisi salah dirinya main masuk saja, satu sisi kunci kamar itu ada dua.


"Maaf ini ke salahanku yang tak memperjelas lebih teliti."ucap Amel, cobanya merasa bersalah di depan Laura.


Hembuskan nafas panjang"Sekarang nasi telah menjadi bubur. Aku hanya bisa berharap kalian berdua"menunjuk Amel dan Renggra"Merahasiakan ini semua. Aku pergi duluan."rasa kesal campur malu Laura pergi meninggalkan dua kakak beradik di lorong jalan.


Laura telah memasuki lift. Sedangkan Renggra dan Amel saling tersenyum,"Gimana semalam lancarkan?"menyuil pundak Renggra.


Renggra hanya menggelengkan kepala, ingin tahu saja fikirnya kembali masuk ke dalam kamar tak jadi menyusul Laura.

__ADS_1


Amel tersenyum-senyum, melihat wajah Renggra yang kembali berwarna"Semoga kalian berdua cepat kembali seperti dulu,"ucap batin, berjalannya kembali ke tempat tujuan.


Selanjutnya~>Chapter 53


__ADS_2