
Setiap manusia memiliki cobaan hidup, untuk menguji kemampuan di dunia yang bersifat sementara ini. Namun, setiap ujian itu pasti ada jalannya dan itu pun di uji dengan batas kemampuan manusia itu sendiri.
Manusia hanya bisa bersabar dan berdoa, dalam setiap ujian. Perihal sabar telah tertulis dalam Alquran dan hadis. Ini berarti, bersikap sabar adalah sifat yang di perintahkan langsung oleh Allah SWT.
Tak ada kerugian bagi mereka yang bersifat sabar dalam menghadapi segala macam cobaan dan ujian hidup dari Allah SWT. Sebaliknya, Allah SWT telah menjanjikan beragam hal bagi mereka, yang mampu sabar menghadapi kesulitan hidup.
Saat ini Laura hanya bisa memperkuat hatinya, Tuhan akan memberikan kado terindah suatu saat nanti.
Syukur dan sabar mungkin itulah kunci, jalan tersebut. Namun, dirinya hanyalah manusia biasa, perasaan tercampur aduk menjadi satu.
Ingin sekali ada tempat untuk bersandar, sebagai landas menuju kedamaian.
Suara ketukan pintu akhirnya tiba dengan begitu cepat, seakan pertanyaan satu persatu, ungkapan hati yang sesak ini harus di perjelas.
Menyapu air mata. Namun, mata yang merah tak dapat di pungkiri Ia menangis.
Tak ada suara yang membukakan pintu, dua wanita paruh baya itu langsung membukanya.
Cklekk!
"Laura..."terdengar suara pelan nan merdu, memanggil namanya.
Laura melihat ke arah suara tersebut, ternyata Ibu Aminah dan satu lagi wanita paruh baya yang tak di kenal bersamanya bernama Bu Ani. Mereka berdua melihat Laura yang menangis, saat mereka tak ada.
Merasa terkejut, Ibu angkatnya datang"Loh, Ibu di sini?"berdiri, merasa tuhan mendengar jeritan hatinya.
Dengan secepat kilat, seolah doa itu terijabah langsung tanpa proses yang begitu lama. Di pertemukan pada wanita yang di inginkan, dan memberi tahukan apa yang telah terjadi.
Laura tahu, tuhan itu maha mendengar dan maha penyayang terhadap dirinya. Semoga cobaan ini tak begitu sulit untuk di lalui.
Ibu Aminah tersenyum mendekati Laura"Iya Nak, kan hari ini pernikahan kamu. Jelas Ibu di sini."
__ADS_1
Laura merasa semua ini, seperti perjodohan yang di lakukan tanpa pandang bulu. Terlihat sekali Ibu Animah sekaligus Ibu angkatnya itu, terlihat bahagia. Tak sama sekali membenarkan, bahwa apa yang terjadi tak baik-baik saja.
Laura Anindia, seorang wanita yang tinggal di panti asuhan sejak lahir. Wanita yang bernama Aminah menemukannya, di tepi pintu rumah saat mendengar suara tangisan bayi dari bilik pintu sehabis sholat magrib.
"Bu, tolong jelaskan ada apa ini? Kenapa Ibu bertingkah seolah hal ini lumrah?"pertanya demi pertanyaan ingin sekali di keluarkan semuanya. Namun bingung harus memulai dari sisi mana?
Ibu Aminah memegang pundak putri angkatnya itu, seraya mengajak duduk kembali di tempat tidur"Ra, Ibukan sudah pernah bilang, masak kamu lupa,"tutur kata yang lembut seakan memberikan ketenangan untuk Laura.
"Kapan, Bu?"kerutan alis seakan pertanyaan itu tak pernah di dengar.
"Mungkin sekitar, dua Minggu yang lalu. Kita pernah, membahas soal pernikahan. Saat sarapan pagi."memegang tangan Laura.
Mengingat-ingat kembali pertanyaan yang sudah cukup lama, saat itu benar adanya Ibu Aminah membahas soal pernikahan. Akan tetapi, dirinya hanya menganggap Ibu Aminah bercanda dan itu pun hal yang terus di pertanyakan. Kapan menikah? Sudah umur segitu, haruslah cepat menikah? Usia 21 tahun, sudah terbilang masuk katagori usia pernikahan. Namun, baginya hal itu masih terlalu dini untuk di laksanakan sebuah ikatan janji suci.
"Jadi Ibu, menjodohkanku dengan Lelaki itu?"
"Ibu sudah tak sanggup lagi Ra, melihat kamu yang sudah dewasa, belum menikah berkeliaran di luar sana, pulang malam lagi. Walaupun, itu hanya pergi untuk bekerja. Kasihanilah, pada Ibumu yang sudah tua."wajah melas dan rayuan terukir jelas di wajah Ibu Aminah, berharap sekali putri angkatnya segerah menikah.
Nyatanya yayasan panti asuhan memiliki donatur yang cukup baik, tapi Laura bersikeras ingin membantu panti asuhan agar lebih baik lagi.
"Nak, itu tak perlu kamu fikirkan lagi. Sekarang kenalkan,"menoleh"Dia Bu Ani."wajah yang tersenyum.
Bu Ani berdiri dari sofa, mendekati Laura"Hai nak!"Menadahkan tangan mengajak bersalaman"perkenalkan nama saya Ani jahyani. Ibu asuh Renggra."
Laura yang melihat Bu Ani berdiri, dirinya pun ikut berdiri dengan cepat.
"A.aku Laura, Bu."rasa gugup saat memperkenalkan diri, pada calon mertua yang sebentar lagi akan menjadi mertua. Menadahkan tangan membalas salaman.
"Maaf ya Nak Laura! Ibu menikahimu dengan anakku, secara tiba-tiba. Anak Ibu itu pemalu terhadap gadis seusianya."rasa senang tak terpungkiri di wajah cantik paruh baya itu.
Rasa serba salah itu, membuat Laura kebingungan. Apa tindakan selanjutnya yang harus di lakukan? Pasrah dengan ke adaan atau memilih melawan dengan kondisinya saat ini.
__ADS_1
Terdiam sejenak, akalnya mempengaruhi benak di fikiran. Dirinya harus menunda pernikahan ini secepat mungkin, karena semua menyangkut masa depan yang akan di jalani.
"Bu, maaf! Apa sebaiknya kita tunda dulu pernikahan ini, sampai aku dan anakmu berkenalan? Eemmm, anggap saja ta'aruf gitu."ucapan yang memalukan baginya, entah perkataan ini benar atau salah? Belum-belum ketakutannya berdatangan.
Ibu Aminah menyahut dengan hati yang gundah mendengar perbincangan Laura, air mata seketika menetes"Anakku nggak mau lagi menganggap aku Ibunya, satu permintaan ini saja, berat di jalani."
Laura menoleh Bu Aminah dan langsung memeluknya. Dada yang terasa lebih sesak dari pada memikirkan hal lainnya.
Sesaat melihat air mata itu mengalir dari wajah Ibu yang telah membesarkannya. Walaupun, bukan Ibu kandung. Ibu Aminah adalah sesosok Ibu yang tak bisa di gantikan dengan sesuatu bernilai apapun.
Ibu, sesosok wanita yang paling tinggi derajatnya di mata anak-anaknya, entah Ibu kandung, Ibu sambung, Ibu angkat. Semua yang bernama Ibu jauh lebih berharga dari apapun.
Ketika hatinya tergores sedikit pun, pasti Ia akan merasa sedih.
Doa yang keluar dari mulut dan hatinya, bisa menggetarkan arsiya Allah SWT. Semuanya dapat terkabulkan, tergantung dari apa yang di doakan olehnya.
Baik buruknya seorang Ibu, Ia hanyalah manusia biasa. Doanya menjadi lebih baik di kehidupan anak atau sebaliknya.
Ibu yang selalu ada bersama kita, ketika sakit, sedih, dan lainnya. Dirinyalah garda paling terdepan mengurus sang buah hati. Susah senang di lakukan untuk anaknya.
Maka dari itu jangan pernah sia-siakan Ibumu.
Hati Laura bergetar seraya hanya bisa pasrah demi ke bahagiaan sang Ibu"Bu, maafkanku. Jangan menangis lagi. Laura insya allah menerima pernikahan ini."
Bu Aminah mendengarnya langsung merasa bahagia"Kamu, yakin Nak?"tatapan mata seakan ingin memastikannya lagi. Apa benar, ucapan Laura yang mau menerima perjodohan ini?
Menganggukkan kepala usahanya tersenyum,"Eemmm!"walau hati tak sanggup menerima. Dirinya yakin, pernikahan ini bisa saja bersifat sementara.
Kedua hati yang tak bersifat saling mengenal maupun saling mencintai, mungkin saja percekcokan rumah tangga yang tak teratasi, membuat jalan perceraian akan datang bila waktunya tiba.
Selanjutnya~>Chapter 3
__ADS_1