Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 50


__ADS_3

Setelah bertemu dengan beberapa orang, Renggra kembali ke dalam kamar hotel. Letih di tubuh beberapa hari kerja tanpa istirahat penuh, inginnya tidur di hotel sebentar. Jika di rumah pasti Yusuf akan meminta bermain bersama dan mengajarkan hal lain.


Anak yang berusia enam tahun itu, dalam kondisi penuh dengan tanda tanyanya besar. Keinginan tahuan tentang apapun membuat Renggra tak henti-hentinya mengajari Yusuf selepas pulang kerja.


Setelah pulih dan membaik, dirinya akan segera pulang menemui anak kesayangannya itu.


Menghubungi Angga lewat Via SMS. Jika Ia mencari, tinggal langsung menemuinya di kamar.


Rasa tubuh yang di peluk dari belakang, membuat Renggra bangun dari tidur yang entah kapan Ia begitu cepat terlelap. Takut yang berdatangan membuat Renggra begitu cepat menoleh ke arah belakang.


Lihatnya wanita cantik dengan rambut yang terurai, bak bidadari surga ternyata Laura.


***


Pagi yang menyinari, saling berpelukan Laura yang belum sadar menikmati pelukan Renggra.


Tariknya nafas mencium aroma wangi yang nyaman, inginnya tidur lebih lama dalam suasana saat ini.


Tangan Laura memegang kulit yang kenyal nan mulus, elusnya kulit itu rasa beda dengan bantal guling yang sedikit kasar.


Terus menggerayangi sampai atas. Kenapa ada kepala fikir Laura? Langsungnya membuka mata, melihat kulit yang putih dengan lekukan dada yang gagah, membulat mata Laura dengan cepat melepaskan pelukan itu.


Renggra yang merasa Laura telah bangun dan menggerayangi tubuh belakangnya itu, membuat Renggra terbangun.


Semakin erat memeluk Laura, enggannya melepas pelukan itu. Rasa rindu yang tak bisa di hilangkan dengan hanya semalam tidur berdua.


Meronta-ronta,"Lepaskan,"pekiknya.


Ingat dengan wajah ketakutan Laura saat mereka berdua masih pengantin baru, langsungnya menghindar, takut dirinya di apa-apakan.


Lepas pelukan Laura tibanya Renggra berekspresi terkejut"Kau!"tunjuknya setelah melepaskan pelukan melihat Laura, ingin membuat Laura terikat dengan dirinya.


"Aaaaaaaa...."pekiknya yang duduk menyelimuti tubuh.


Renggra mengedipkan mata, melihat Laura terjerit, ikutnya duduk.

__ADS_1


Laura melihat tubuh Renggra dan dirinya berselimut menjadi satu. Lihatnya ke dalam kain, yang tak memakai sehelai benang.


Air mata Laura tibanya mengalir,"A.apa, yang telah terjadi?"ucap batin.


Pejamnya mata"Tidak, ini tidak mungkin. A.aku melakukan zina."ucap batin kembali.


"Kamu memperkosaku?"alihnya lontaran ke arah Laura, yang meneteskan air mata. Tak sanggup melihat wanita yang di cintai tibanya menangis.


Hembus nafas panjang,"Kamu sudah gila, bagaimana aku bisa memperkosamu?"menunjuk"Jangan-jangan kamu ya, sudah melakukan kejahatan. Aku tuntut kamu di pengadilan."tuduhnya yang marah telah melakukan zina.


Senyum Renggra"Oke, kita cek Cctv."membuktikan.


Ruangan Renggra yang khusus untuknya, terpasang berbagai fasilitas.


"Mana?"ingin bukti itu ada, cepatnya menjebloskan laki-laki mata keranjang itu ke jeruji besi.


Renggra mengambil remote di dalam lemari, mengotak-atik televisi yang terpasang. Memperlihatkan Laura masuk melepaskan hijab serta pakaiannya dan memaksa Renggra.


"Stop! Tolong jangan lanjutkan."malu semerebak menjalar ke tubuhnya.


Jika Amel dia juga ikut minum, tapi kalau makanan Ia tak ikut. Menyerahkan kunci kamar, mata Laura membulat. Ia harus menanyakannya langsung, apa maksud dari ini semua? Apa ini kesalahan atau buatan yang di rekayasa? Jika Amel ikut terpengaruh obat, bagaimana kondisinya saat ini?


Memegang selimut, inginnya menjerit. Nasi telah menjadi bubur, ingat Laura pada Aditya. Bagaimana Ia bisa melanjutkan ke jenjang lebih serius jika telah melakukannya pada orang lain?


Renggra merasa hatinya terenyuh mendengar suara Laura yang mengerang-erang menangis di dalam selimut. Inginnya memeluk namun tak dapat, bisa-bisa dirinya akan di sembur dengan beberapa ucapan berbentuk makian. Dirinya tak mau jika pertemuan di awal mereka berjumpa, menimbulkan banyak masalah.


Tepuk pelan pundak Laura"Berhentilah menangis, Ay. Sekarang fikirkan cara kamu bertanggung jawab atasku."menarik ulur.


Rasa kesal timbul mendengar perkataan Renggra, bukanya kain selimut menutupi kepala dengan menyapu air mata.


"Kamu itu aneh, seharusnya aku yang berkata begitu. Gimana nasibku kedepannya?"menahan air mata"Aku sudah gagal menjaga diriku,"air mata kembali mengalir"Aku juga bakal gagal menikah, dengan orang yang kucintai."cobanya mengusap air mata yang terus-menerus mengalir.


Gejolak di dada tak bisa di bendung, sesak, kecewa, perasaan sedih dan marah menjadi satu.


Renggra menunduk, mendengar Laura ternyata mencintai Aditya. Kemana cintanya dulu, terhadap dirinya? Angguk Renggra pelan fikirannya harus positif, dalam keadaan yang masih sensitif dan Laura juga lupa ingatan.

__ADS_1


Bisa saja rasa yang berpisah bertahun-tahun itu berubah, seperti yang pernah Renggra lakukan. Merasa cinta yang timbul terhadap wanita lain. Entah itu karma atas dirinya yang melakukan kesalahan atau hal lain.


Senyum Renggra, Bagaimana pun Laura tetap istrinya. Cinta itu bisa berubah kapan saja, kalau ikatan pernikahan masih tertulis di buku nikah.


Menyepihkan rambut yang setengah bahu ke atas"Gimana jika aku hamil?"lirihnya pelan melihat ke arah selimut.


Senyum Renggra, berarti Yusuf bakal mempunyai adik fikirnya.


Toleh ke Renggra yang hanya diam saja, setelah di perhatikan wajahnya pernah di lihat. Sipit mata Laura cobanya mengingat, bayangan laki-laki ini di mana-mana jelasnya di Mall saat Ia tak sengaja melihat dirinya yang sedang memandangi wanita cantik.


Renggra melihat Laura yang merasa di perhatikan terus, Renyit kening apa yang sedang di fikirkan oleh istrinya itu?


"Kamu!"spontan berucap.


Mengedipkan mata, Renggra semakin penasaran apa Laura mengingatnya walaupun sedikit?


"Eeemmm!"menyahut dengan menaiki alis.


Menunjuk"Kamu laki-laki yang beberapa hari yang lalu, duduk di restoran sedang melihat wanita cantik di depan kasirkan?"


Mata Renggra membulat, ternyata Laura melihat kelakuan suaminya yang mencoba melirik wanita lain"Kamu lihat, Ay?"tanyanya.


Hembus nafas, merasa risih Renggra terus salah memanggil dirinya Ay.


"Namaku Ey. Eyrin. Bukan Ay, atau Ayrin."jelasnya.


Senyum Renggra, hal itu terjadi lagi"Ay itu Ayang atau Sayang. Karena aku nggak tau siapa namamu? Lagian hal itu pantas denganmu."menyipitkan mata"Apalagi kamu telah melakukan, tindakan mesra padaku."menyudutkan.


Teguknya Saliva"Iya aku liat!"mengalihkan pembicaraan lain, terserah Renggra mau memanggilnya apa? Laura juga merasa takut laki-laki di sampingnya akan balik lapor ke polisi atas tindakan pelecehan seksual.


Renyit kening Renggra, berarti Laura melihatnya duluan. Pejamkan mata sebentar ke khilafannya pada saat itu di lihat juga oleh Laura. Seperti dirinya terpergok selingkuh. Kenapa juga Angga tak bercerita? Mungkin saja dirinya lupa fikir kembali Renggra.


Cobanya tersenyum"Ay, kamukan, hanya melihatku ke arah wanita itu, tapi kamu tak tau apa aku fokus ke wanita itu atau sedang memikirkan hal lain?"tepisnya agar Laura berfikiran bahwa dirinya suami yang baik.


Mengalihkan pandangan ke arah selimut"Ada benarnya juga, seperti sedang melamun. Melihat kemana fikiran ke mana."ucap batin.

__ADS_1


Selanjutnya~>Chapter 51


__ADS_2