Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 30


__ADS_3

Tak butuh waktu lama Renggra dan Angga melakukan sidak rumah. Selesainya Angga menghubungi Bu Ani bahwa mereka telah usai.


Senderan di kursi sofa ruang tengah, menarik nafas legah. Dengan wajah yang tersenyum akhirnya Renggra bisa tidur dengan sang istri malam ini.


Renyit kening Angga melihat penampakan aneh di wajah Renggra, senyum-senyum sendiri melihat televisi yang tak menyala.


Sadar Renggra yang di perhatikan Angga, dengan kepala yang sedikit menyungak"Kenapa, lihat-lihat?"renyitkan dahi.


Senyum Angga"Aneh lihat dirimu."mengambil koran di atas meja.


Jebil Renggra"Biarin,"menunggu kepulangan Laura.


Selang beberapa waktu Laura, Bu Ani, dan Amel pulang kerumah, membawah barang belanjaan. Kecuali Laura yang tak membeli apa-apa.


"Assalamualaikum."serentak mereka ucapkan ketika masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumussalam."sahut Renggra dan Angga dengan tersenyum.


Lihat Laura ke arah Renggra merasa ilfil itu muncul, toleh cepat ke arah Bu Ani dan Amel"Aku ke kamar duluan Bu, Mel. Mau istirahat."


Angguk, Bu Ani dan Amel.


Jalannya cepat ke kamar,


Renggra yang melihat Laura telah pulang hatinya merasa tenang, tiba kegundahan Laura tak lagi menyapa. Berjalan cepat masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu.


Kerutnya kening, ada apa dengan istrinya itu?


Angga menahan tawa,"Kasian deh, nggak di hiraukan."mata yang fokus di selembaran koran.


Bu Ani menepuk pundak Renggra, sambil berjalan"Sabar, ya Reng."lanjutnya masuk ke arah kamar.


Amel tersenyum-senyum, juga kembali ke dalam kamar.


Setiap hari Laura menjauhi Renggra. Dirinya benar-benar sudah pasrah dan kesal, melihat respon Renggra yang di dekati marah di dekati lagi menjauh.


Sekarang giliran dirinya yang benar-benar menjauh, akhirnya Renggra kesal sendiri melihat Laura berkuncian pintu agar tak ada yang masuk kedalam bilik kamarnya.


"Bik Siska, Bik."pekik Renggra.


Bik Siska langsung menghampiri"Ya, Pak. Ada apa?"berdiri tak jauh dari hadapan Renggra.


Hembus nafas panjang"Tolong, carikan kunci kamar Laura."pintanya.


Kedip mata Bik Siska"Bukannya, kunci kamar nyonya Laura di bawah semua ke dalam."ancungnya jempol ke arah kamar Laura.


Tarik nafas panjang, memejamkan mata. Memegangi kening, dirinya bak kena karma, di dekati Laura yang susah payah mendekatinya, sekarang di jauhi Laura saat ingin mendekat ke arahnya.

__ADS_1


***


Malam menunjukkan pukul 9:30, perut Laura keroncongan. Cacingnya seperti sedang menari-nari meminta makan, menjilati lidah ingin makan yang manis, kejal, ada sayur, juga kacang.


Semakin hari mulut Laura tak ingin makan masakan rumah, inginnya membeli makanan di luar.


Buka pintu, lirik sana sini. Melihat tak ada orang.


Pelan melangkah mencari seseorang pelayan atau supir meminta bantuan membelikan sebungkus siomay.


Bu Ani keluar dari kamar, ingin mengambil minum. Melihat Laura seperti orang yang ke bingungan, Ia pun merasa aneh"Cari siapa, Ra?"mendekati Laura.


Toleh Laura ke arah Bu Ani, hentinya langkah kaki"Eemmm, cari Pak Tono, Bu."senyum ragu.


Mengerutkan alis"Kenapa dengan Pak Tono, Ra?"tanyanya kembali.


Tunjuknya keluar"Itu, Bu."takut di marah Bu Ani"Itu, mintak beliin siomay."mengaku paksa, dengan tersenyum.


Tarik nafas"Kirain kenapa? Cari aja Bik Siska, Ra. Biar di masakin."dari pada makan beli yang tidak sehat, lebih baik di masak sendiri.


Geleng kepala Laura,"Nggak mau Bu, dikit juga."berusaha ngeles.


Senyum Bu Ani"Iya udah, cari aja di luar. Mungkin masih kumpul sama penjaga,"perintanya.


Cengir Laura"Iya Bu,"jalan cepat ke luar mencari Pak Tono.


Renggra penasaran, mendekati Bu Ani"Ada apa, Bu?"melihat Laura sudah keluar"Itu mau kemana Laura?"tunjuknya.


Toleh Bu Ani"Mau nemui Pak Tono, mintak beliin siomay."


Lihat Renggra ke arah jam"Ini udah mau jam sepuluh Bu, emang masih jualan."tegasnya.


Senyum Bu Ani,"Entah, akhir-akhir ini istrimu makan diluar terus, Reng."hembuskan nafas panjang"Sepertinya, dia tress. Dulu Ibu juga gitu, kalau stres maunya aneh-aneh, agar bisa menghibur diri."menyindir Renggra agar lebih memperhatikan Laura.


Tepuk pundak Bu Ani"Ini kesalahan Renggra, Bu. Biar Renggra menghampiri Laura."sadarinya.


Senyum, Bu Ani dengan mengangguk.


Renggra jalan ke arah pintu, melihat Laura yang duduk meringkuk menunggu seseorang.


Duduk di samping Laura,"Kenapa masih di sini?"senyum Renggra.


Lirik Laura dengan wajah yang tak begitu senang, mencium bau Renggra.


Tibanya Pak Tono datang, Laura langsung tersenyum tak menghiraukan Renggra. Berdiri mengambil bungkusan Hitam di tangan Pak Tono"Makasih, ya Pak?"


Senyum Pak Tono"Sama-sama, nyonya."

__ADS_1


Laura masuk dengan cepat, Renggra mengerutkan alis. Kenapa Laura tak menyahutnya?


Sabar membuntuti Laura dari belakang,


Senyum-senyum melihat bungkusan siomay, meletakkan di atas piring.


Renggra tanpa sadar, meneguk Saliva melihat siomay itu seperti sedang memanggil.


Kerut alis, melihat Renggra masih duduk di sampingnya"Ngapain kesini, lihat-lihat makananku?"jauhi piring dari Renggra.


Menjilati bibir dan tersenyum"Boleh mintak sedikit, nggak Ay."bujuk Renggra.


Cemberut Laura"Enak aja, beli sendiri napa."mengerutkan kening.


Memuncungkan bibir,"Mintak, sedikit aja kok, Ay."rayunya.


Laura merasa kasihan,"Ambil piring sendiri."


Raih tangan Laura"Pakek sedok, Ay. Aja."


Melepasi tangan Renggra, merasa risih"Nggak mau, bekas Mas."duduk menjauh"Kalau nggak mau, udah."suap sesendok siomay ke dalam mulut.


Renggra dengan terpaksa berdiri mengambil piring kecil dan sendok, menyodorkan ke Laura.


Laura memberikan dua sendok ke piring Renggra.


"Dikit, Ay."gurau Renggra.


Menatap tajam"Mau banyak, Mas mintak Bik Siska buatin."suruhnya.


Menarik piring kecil di dekat Laura,"Nggak jadi, Ay."langsung menyantap siomay yang enak di mulutnya.


Entah kenapa malam ini pertama kali Renggra makan Siomay. Rasanya benar-benar aneh, begitu nikmat di lidah.


Selesai Laura makan, Ia meletakkan piring di cucian piring kotor. Lalu berjalan meninggalkan Renggra.


Renggra langsung berdiri melihat Laura yang main pergi begitu saja. Raih tangan Laura"Ay, nggak ngajak Mas?"


Melepaskan kembali tangan Renggra"Untuk malam ini, jangan dulu Mas. Aku lagi ilfil lihat kamu."jujur Laura, yang benar-benar tak mau dekat suaminya itu.


Hati Renggra merasa sedih, mungkin benar semua yang dilakukan pada Laura kemarin-kemarin, telah berbalik arah ke dirinya.


Angguk, Renggra"Eemmm."pergi meninggalkan Laura.


Laura yang terbebas dari bau tubuh Renggra, rasa ingin muntah. Cepatnya kembali masuk ke dalam bilik kamar menarik nafas panjang.


Selanjutnya~>Chapter 31

__ADS_1


__ADS_2