Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 18


__ADS_3

Bu Ani datang, sekalian mampir mendengar Laura ikut ke perusahaan.


"Mana, Ga. Laura dan Renggra?"duduk di kursi sofa.


Melihat berkas"Di kamar, Bu."


Teleponnya Bu Ani,


Renggra langsung mengangkat telepon belum sadar, Bu Ani di ruang sebelah dengan Angga"Iya Bu, ada apa?"masih memegang tangan Laura.


"Kamu, ada kerjaan apa dengan Laura di ruangan?"gurau Bu Ani.


Tolehnya langsung ke arah jendela, Bu Ani sedang duduk, Laura ikut melihat ke arah luar mereka berdua bergegas ke luar dan Renggra menutup telepon.


"Ibu, kapan sampenya?"duduk berhadapan di depan Bu Ani.


Bu Ani melihat Laura dan Renggra seperti biasa saja, apa kerjanya di dalam berdua? fikirnya.


"Barusan aja datang, saat dengar dari Angga kalau Laura ikut ke sini."memandangi Renggra"Gimana ada kemajuan?"jahilnya kembali.


Angga hanya menggelengkan kepala dan menahan senyuman, akibat Bu Ani sering menjahili kedua pasutri yang baru menikah.


Geleng kepala Renggra, menandakan belum terjadi apa-apa.


Laura fokus pada ruangan Renggra.


Bu Ani memejamkan matanya merasa geregetan melihat kedua pasutri yang belum juga ada kemajuan. Fikirnya yang salah pada Renggra atau pada Laura.


"Kamu nggak minta?"mengedipkan mata.


Menggelengkan kepala,"gimana mau minta, istri aja masih haid."ucap batin.


Tarik nafas Bu Ani, ternyata salah di Renggra"Reng, ambil cuti lama-lama. Sampai pulang memberi kabar. Jangan pulang sebelum...."liriknya ke Laura yang melihat ruangan"Sebelum pecah ketuban."nada suara yang merendah.


"Kamu kerja dari villa aja, paham nggak?"gereget Bu Ani. Sampai kapan lagi harus bersabar menantikan cucunya lahir?


Laura merasa terkejut melihat Bu Ani seperti sedang menceramahi mereka.


"Iya Bu!"tak bisa berbuat banyak saat yang lebih gereget Bu Ani melihat dirinya belum menyentuh Laura.


Laura langsung nyambung, apa yang di inginkan Bu Ani. Memang wajar memberikan teguran pada dirinya yang selalu menolak untuk ibadah. Apalagi dosa besar saat ibadah itu tak terlaksanakan.


Bu Ani terkekeh"Maaf ya Nak, Ibu hanya bercanda."menjahili Renggra dan Laura sangatlah membuatnya merasa bahagia.


Tarik nafas legah,"Bercanda Ibu itu berlebihan, terus memaksa."raih tangan Laura tanpa ragu"Kami masih mau pacaran Bu, nanti kalau sudah waktunya insyaallah semua terkabulkan."memberi pengertian Bu Ani sekalian memberi kode ke arah Laura.

__ADS_1


Sekali dayung dua pulau terlampui.


Angguk Bu Ani dengan wajah yang tersenyum-senyum.


***


Sesampainya di villa, Renggra membawah leptopnya masuk ke kamar. Takut ada masalah pekerjaan, Ia tak susah-susah lagi pergi ke perusahaan.


Waktu cutinya tinggal lima hari kedepan, Renggra tak mau bulan madunya di ganggu dengan urusan pekerjaan.


Setiap hari Renggra dan Laura banyak melewati hari yang membuatnya bahagia, joging, jalan-jalan, shopping, memancing lagi, belajar menanam sayur dan buah-buahan dengan Pak Maman dan Bu Siti. Menjalani rumah tangga yang baru di bina dengan biasa-biasa saja. Namun, memiliki kenangan yang manis.


Tak terasa cutinya mau habis sisa dua hari ke depan.


Azan Magrib berkumandang,"Mas, aku ikut shalat ya?"selepas mandi besar karena dirinya telah usai suci dari hadas besar.


"Udah beres ya, Ay?"siapnya membentangkan sejadah.


Angguk Laura, mengambil wudhu.


Shalat berjamaah telah usai,


"Ay, malam ini kamu mau di masaki apa?"


Lipatnya alat sholat,"Terserah di kamu aja, Mas. Masakan kamu itu enak semua."berhentinya melipat"atau aku aja yang masak, Mas."bujuknya.


"Kalau kamu, bisa dan mau, Ay."pegangnya letop"Mas, mau nyelesaiin kerjaan. Siapa tau malam ini begadang."memberi kode pada Laura, jalannya keluar kamar menuju kamar sebelah agar lebih fokus.


"Mulai lagi nih, kodenya."ucap batin.


Hampir selesai memasak berbagai macam makanan. Laura tak mau kalah dengan Renggra yang memasak selalu enak dan banyak, merasa diri ini tambah gemuk akibat di sodorkan makan yang sedap setiap hari.


Bau yang enak sampai ke hidung Renggra, fokusnya teralihkan. Ia pun memutuskan lanjut menyesaikan pekerjaan di lain waktu.


Keluar Renggra dari bilik kamar, terpanahnya melihat istri memasak menggunakan pakaian daster pendek, rambut yang di kuncir satu, memakai clemek yang Ia sering gunakan.


Peluk Renggra dari belakang,"Ay, masak apa?"


"Mas, jangan main peluk aja. Aku lagi masak."fokusnya mengaduk sayur.


Dagu Renggra berada di atas kepala Laura,"Nggak papa, Ay. Tinggal ini aja, kan."


Jantung Laura merasa begitu cepat memompa, saat Renggra memeluknya terus.


"Udah, Mas lepas. Aku mau masuki sayur ke wadah. Kamu tunggu di meja aja."matinya kompor listrik.

__ADS_1


Lepas pelukan,"Eeemmm."jalannya ke meja makan melihat makanan telah siap.


Laura meletakkan lauk sayur di meja,"Ayo, Mas. Makan."


"Makan kamu, boleh?"clotehnya.


Toleh ke arah Renggra"Mas..."kodenya yang merasa masih belum siap, padahal menahan malu.


Renggra tersenyum-senyum, melihat wajah yang tertulis masih takut.


Shalat berjamaah telah usai, seperti biasa Laura membereskan alat sholat.


"Ay, Mas lanjut nonton TV. Kamu kalau mau istirahat tidur aja duluan, kan capek seharian jalan-jalan."jalannya ke arah luar.


Seharian mereka berdua jalan-jalan di taman dekat villa dan melanjutkan menyiram tanaman yang di tanamnya beberapa hari yang lalu.


Laura merasa letih, Ia memang ingin langsung istirahat. Lampunya Laura padam, karena ada lampu kecil yang menerangi, tak lama Ia terlelap.


Renggra tanpa sadar, tertidur kembali di sofa dengan menonton TV. Ia pun terbangun kali ini, kebiasaan baginya tidur di depan TV.


Tolehnya jam menunjukkan pukul sebelas malam"Eeemmm, aku tertidur lagi."bangunya memegangi kepala dengan mematikan TV dan lampu tengah.


Masuk melihat Laura tidur tak berselimut"Allahuakbar, Astaghfirullah."membalikkan tubuhnya ke belakang"Ay, kamu benar-benar. Memberikanku cobaan terberat."ucap batin.


Laura memang segaja menggunakan pakaian pendek, Ia ingin melihat reaksi Renggra yang selalu memberi kode tapi tak berani memintanya langsung.


Takut itu masih di rasakan. Namun, saat sering baca di artikel tentang rumah tangga, Laura sadar sebagai istri harus menumpahkan hajat seorang suami. Jika tidak menunaikan hajat tersebut, bisa saja meminta poligami dengan alasan istri tak memenuhi syarat tertentu.


Takut di duakan lebih besar dari pada takut yang lainnya.


Tariknya nafas panjang, berusaha menahan diri. Tidur memunggungi Laura, tibalah Laura memeluknya dari belakang.


"Lailahaillallah."refleks terucap dengan nada tinggi membengunkan Laura.


Laura langsung bangun dan panik"Kenapa, Mas?"mengusap mata.


"Panas, Ay."


Laura menoleh ke AC yang hidup"Eemmm, ACnya kurang dingin, aku besarin dul-."ucapnya terputus Renggra langsung menarik Laura kepelukkannya.


"Bukan panas itu, Ay."bisiknya.


Laura langsung memegang dahi Renggra, takut Ia demam"Mas demam, ya?"


Tariknya nafas melepaskan pelukan Laura"Nggak, Ay. Udahlah Mas mau tidur."sadarnya, tak boleh melakukan ke salahan.

__ADS_1


Laura menahan kantuk, sadar Renggra menahan hajatnya kembali.


Selanjutnya~>Chapter 19


__ADS_2