
Pakaian kerja telah di pakai, semoga Laura senang melihatnya seperti dulu lagi.Turun dari anak tangga menghampiri meja makan untuk sarapan pagi.
Lihat Bu Ani"Udah mulai kerja di kantor, Reng?"mengiris roti sandwich.
Angguk, Renggra"Eemmm, dokter sudah menyatakan Renggra telah sembuh. Bisa melakukan aktivitas kembali."senyumnya melirik ke arah belakang"Laura, masih di belakang, ya Bu?"toleh lagi ke arah Bu Ani.
Berhenti menguyah, kerutnya alis"Eemmm, dari subuh Ibu belum lihat Laura, Reng. Sampai sekarang."fikiran Bu Ani merasa gelisa.
"Apa?"dengan terkejut, ada apa dengan istrinya yang belum juga keluar dari bilik kamar. Rasa cemas itu berdatangan, segerah Renggra menghampiri pintu Laura, ternyata tak di kunci.
Lihatnya, kain tebal menyelimuti Laura. Renggra mendekat, melihat sang istri berwajah pucat resih. Rabah kening Laura dan tubuh lainnya.
Tubuh yang panas sedangkan kaki dan tangan dingin, mencoba menggerakkan tubuh Laura"Ay, kamu kenapa?"bangunnya pelan, panggil sekali lagi"Ay, bangun udah siang?"Laura masih tak bangun dan menjawab.
Resah hati membuka selimut, dan memakaikan hijab langsungan. Membawah Laura keluar.
Bu Ani dan lainnya merasa terkejut, langsung berlarian menghampiri Renggra yang menggendong Laura.
"Kenapa, Reng?"cemas Bu Ani.
Toleh ke arah Bu Ani,"Badan Laura panas, Bu. Sudah Renggra banguni, nggak bangun."
Bu Ani dan Amel, memegang dahi dan tubuh lainnya"Iya, Panas."ucap serentak mereka berdua.
Angga yang melihat langsung memanggil Pak Tono mempersiapkan mobil, membawah Laura ke rumah sakit.
Semuanya merasa panik, duduk di kursi menunggu hasil dari pemeriksaan dokter,"Ini salahku, membiarkan dia semalaman."bisik Renggra memegangi kedua tangan.
Tepuk Amel di pundak Renggra"Sabar, ya Kak. Bentar lagi dokter akan datang."
Mengusap wajahnya"Eemmm,"
Usap bahu Renggra"Sabar, ya Nak?"
Angguk, Renggra.
Perawat keluar memanggil, suami dari nyonya Laura.
Renggra langsung berdiri, menghampiri dokter.
Toleh dokter"Silahkan duduk, Pak."menunjuk ke arah kursi depan meja.
Renggra melihat Laura sudah terpasang infus dan oksigen di tubuhnya, rasa khawatir yang menghantui sisi Renggra.
Ada apa dengan Laura yang belum juga sadar?
Senyum dokter Zen,"Pak, Nyonya Laura harus di rawat inap. Kondisi dari nyonya dan janin sedang melemah."memegang pena, melihat Map tipis di atas meja.
Kerut alis"Ja.janin Dok?"belum mengerti maksud dari penjelasan dari dokter.
Senyum wajah dokter paruh baya itu"Jadi bapak belum tau, kalau istri sedang hamil?"tanyanya kembali.
Mata Renggra membulat"Apa?"terkejut kembali, mendengar Laura sedang hamil.
Dokter berdiri, duduk di samping Laura memegangi alat.
__ADS_1
Perawat membuka sedikit perut Laura,
Tunjuk dokter ke layar televisi di dinding,"Bapak lihat."
Renggra berdiri mendekat, melihat gambaran aneh menyerupai bentuk kancang tanah berkulit di lingkaran hitam.
"Itu adalah anak bapak"kembali mendengarkan irama jantung"Itu denyut jantung anak bapak, yang berkembang sempurna. Namun, kondisi Nyonya melemah. Dia ikut melemah."mematikan layar dan duduk kembali di tempat semula.
Air mata Renggra berlinang, melihat jelas anak yang di kandung Laura"Alhamdulillah."ucap batin.
Sapunya segerah, kembali duduk.
Menyerahkan selebar kertas tipis"Ini foto yang saya ambil, untuk bapak."di ambil Renggra"Wajar jika kondisi Ibu melemah, kalian semua tak tau dan Ibunya pun tak tau. Kurangnya asupan gizi dan vitamin lainnya. Serta stress yang berkepanjangan, membuat kondisinya tak baik."jelas kembali dokter paru bayah itu.
Pejam mata sebentar,"Lalu apa yang harus saya lakukan, Dok?"meminta solusi.
Menulis,"Ini obat yang akan di berikan perawat, dan sekali lagi Nyonya harus rawat inap sampai badanya pulih kembali. Baru boleh pulang."sabar menjelasi.
Angguk, Renggra."Eeemmm, baiklah Dok."mengikuti anjuran.
Renggra berdiri, dan berjalan keluar.
Wajahnya hanya datar, memegang kertas kecil di jemari.
Mereka yang duduk, melihat Renggra sudah keluar dari ruangan langsung mendekati,"Gimana, apa kata dokter?"tanya Bu Ani memegang lengan Renggra.
Renggra memberikan kertas, kecil ke Bu Ani.
Ambilnya cepat, mereka bertiga terkejut melihat hasil USG yang berusia dua bulan.
Saling berpelukan merasa bahagia akhirnya, yang di tunggu-tunggu datang juga.
Angga bersalaman dengan Renggra,"Selamat, ya Reng. Bentar lagi menjadi ayah."senyum bahagia.
Senyum Renggra,"Eemmm!"
Bu Ani, menepuk pelan lengan Renggra,"Katanya belum pecah ketuban, masih pacaran dulu."geram Bu Ani"Taunya udah nabung mana udah dua bulan lagi, pas usia kalian menikah. Eeh kalian menikah udah dua bulan lewat. Berarti nggak lama dari pernikahan dong,"gurau Bu Ani yang merasa bahagia akhirnya mempunyai cucu.
Wajah Renggra memerah,"Sekalian Bu."malunya"Emang Ibu nggak mau?"menaikkan alis.
Hembusnya nafas,"Bukan Ibu nggak mau, malahan ini yang di tunggu-tunggu. Ibu menanyakannya takut hal seperti ini terjadi, agar bisa jaga-jaga. Eh nggak taunya ke jadian juga."lirik ruangan"Mana Laura?"
Tunduk Renggra,"Laura masih belum siuman, kata dokter kondisinya melemah. Banyak faktor yang di sebabkan, ini semua salah Renggra memikirkan diri sendiri."air mata yang di tahan akhirnya pecah.
Peluk Bu Ani,"Sabar, Reng. Ini bukan salahmu. Salah kita semua yang kurang peka dengan tingkah laku Laura akhir-akhir ini."
Keluar perawat membawah Laura yang terbaring di hospital bad, menuju ruangan yang di sediakan.
Sudah dua hari Laura di rawat inap, tak kunjung sadar. Siang dan malam Renggra merawat Laura, membacakan shalawat, kitab Al-Qur'an, dan bacaan lainnya. Mengelus perut Laura berbicara pada anaknya, agar kuat dan sehat.
Mata sayup nan lesu, pelan-pelan melihat Renggra yang tertidur di sampingnya.
Kepala yang menyender di pinggiran tempat tidur, membuat Laura merasa kasian.
Mengangkat pelan tangan yang masih lemas, memegang kepala Renggra.
__ADS_1
Tiba mata Renggra langsung terbuka, merasa Laura mengelus-elus kepalanya itu.
Toleh ke arah Laura,"Ay, udah bangun?"suara pelan menanyakan ke adaan"Mas, panggil dokter dulu, ya?"
Angguk, Laura yang masih merasa kepala itu berat.
Berdiri Renggra menelepon perawat, memberitahu Nyonya Laura telah sadar. Tak lama dokter datang, menghampiri mereka.
Periksa sana-sini, serta kandungan Laura.
"Pak, Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik. Nyonya Laura dan janin semuanya kembali sehat. Kami akan memberikan obat pereda nyeri bagian kepala,"senyum dokter merasa legah, melihat ke adaan Laura membaik.
Angguk, Renggra"Iya, Dok."
Setelah dokter pergi, perawat datang kembali membawah obat suntikan yang di berikan pada infus Laura. Usai sudah obatnya masuk, perawat meninggalkan ruangan.
Renggra membantu Laura duduk, secara perlahan hanya dengan menaiki tempat tidur dengan alat di sampingnya"Ay, gimana. Enakan?"kembali menanyakan ke adaan Laura.
Menganggukkan kepala"Eemmm iya Mas."masih merasa lemas"Mas?"
"Eeemmm."duduk di tempat tidur dekat Laura.
Menaiki alis"Kenapa, aku di sini, Mas?"
Senyum Renggra menceritakan apa yang sudah terjadi. Laura mendengar merasa kasian melihat suami yang menemaninya di rumah sakit, padahal dirinya juga masih sakit.
Pegang tangan Renggra"Mas, kan masih sakit?"
Cium punggung tangan Laura"Enggak lagi, Ay. Udah sembuh."senyum Renggra"Malahan, Mas seneng banget."
Renyit alis"Seneng, kenapa Mas?"penasaran.
Mengelus pelut Laura"Ay, di sini ada anak kita."suara yang berbisik tapi terdengar.
Mata Laura membulat, dengan renyitan kening"Ma.maksud, Mas?"masih belum percaya.
Kecup pelan punggung tangan kembali"Kamu, hamil Ay."
Mengedipkan mata,"Yang bener, Mas?"merasa terkejut dan senang ternyata tuhan memberikan kado terindah di balik semua cobaan.
Renggra berdiri mengambil secarik kertas tipis bergambar anak mereka di atas meja kecil dekat tempat tidur dan memberikan kepada Laura.
Air mata Laura berlinang, Renggra yang melihat langsung memeluknya"Makasih, ya Ay. Sudah memberiku zuriat di rahimmu."mengelus pundak Laura.
Angguk, Laura yang merasa hatinya begitu bahagia."Eemmm, Iya Mas."
Senyum Renggra"Air tepung yang ku siram, ternyata menjadi kayak gini ya, Ay."gurau Renggra agar Laura lebih rileks.
Laura hanya bisa tersenyum, kembali suami menjahilinya.
Memegang tangan Laura"Maafin, Mas. Selama ini menelantari kamu, Ay. dan buat kamu dan anak kita jadi begini."sesalnya.
Senyum Laura,"Nggak papa, Mas. terpenting sekarang kamu udah pulih dan kita bisa bersama lagi."
Peluk Renggra kembali"Iya, Ay."elus punggung Laura.
__ADS_1
Selanjutnya~>Chapter 32