
Setelah berlibur bulan madu satu minggu, akhirnya Renggra dan Laura pulang ke rumah.
"Selamat datang kakak ipar."sambut Amel yang duduk di ruang tengah sedang menonton televisi.
Senyum Laura"Iya, Mel."duduk di dekat Amel.
"Ay, Mas bawah tas ke kamar dulu."memegang koper di tangannya.
Angguk Laura,
Bu Ani datang keluar dari bilik kamar"Loh, kapan datang, Ra?"duduk di sofa dekat Laura.
Toleh Laura ke arah Bu Ani"Baru juga datang, Bu."senyumnya merasa senang.
Duduk Bu Ani"Renggra, mana?"penasaran ada Laura saja Renggra nggak ada.
Renggra memegang bantas lantai berpakaian kerja"Ay, ke atas bentar."pekiknya dari lantai atas.
Berdiri Laura"Itu Bu, Mas Renggra."tunjuknya"Laura temui Mas Renggra dulu, ya Bu."
Angguk Bu Ani,
Sesampainya di kamar menutup pintu"Ada apa, Mas?"mendekati Renggra.
Nunduk Renggra seperti biasa"Energi, Ay belum di isi."senyumnya.
Senyum Laura, mencium Renggra kali ini di bibirnya.
Renggra merasa terkejut istrinya tak malu lagi,"Makasih ya, Ay."peluknya.
Angguk Laura"Iya, Mas."melepaskan pelukan Renggra"Mas, hari ini boleh nggak, aku ketemu sahabatku?"
Menyempitkan mata"Cowok atau cewek, Ay?"selidiknya.
Senyum Laura,"Wanita, Mas."
Pegang wajah Laura,"Boleh, tapi di ikuti sama pengawal. Mas, nggak mau nanti ada netizen atau wartawan yang kenal kamu. Terus di serbu."takutnya Laura kenapa-napa.
Angguk Laura,
Cium kembali bibir Laura,"Mas pergi dulu ya, Ay. Assalamualaikum."lepasnya tangan yang memegang wajah Laura berjalan ke arah luar.
"Iya Mas, waalaikumussalam."melihat Renggra pergi meninggalkannya.
Renggra turun ke bawah.
"Langsung kerja, Reng?"tanya Bu Ani menuangkan air teh ke gelas.
"Iya Bu, banyak kerjaan."salaman dengan Bu Ani.
__ADS_1
Senyum Bu Ani seperti melihat sesuatu yang berubah.
"Renggra berangkat, ya Bu. Assalamualaikum."
"Iya, Nak. Waalaikumussalam."
***
Laura meletakkan handphone di telinganya"Halo, Mer?"duduk di sofa.
Suara lembut, seperti habis bangun tidur"Eemmm! Masih inget, Ra. Sama aku?"
Senyum Laura,"Iya, Mer masih. Kamu, mau ketemu nggak sama aku sekarang?"
"Di mana?"ucapnya lembut.
"Kafe biasa, Mer."melihat kamar yang luas.
"Eemmm, Aku siap-siap dulu."berangkat menahan kantuk.
"Eeemmm, Iya Mer."
Setibanya di kafe, Merisa melihat Laura duduk di meja VVIP dengan tiga pengawal berjas di dekatnya. Jelas sekali terlihat di wajahnya yang merasa bingung ada apa dengan Laura?
Merisa mendekati Laura, lalu Ia melihat pengawal itu satu-persatu.
Merisa langsung duduk, melihat ke arah Laura dan pengawal.
Laura menoleh ke arah pengawal"Pak, kalian duduk di tempat lain aja. Aku ada hal penting yang ingin di bicarakan pada sahabat ku."
Angguk pengawal,"Iya, nyonya."pergi duduk tak jauh dari Laura dan Merisa.
"Ra, ini benar kamu, kan? A.aku tak salah orang?"penasaran Merisa ingin sekali bertanya banyak, apa yang telah terjadi pada sahabatnya itu.
Pantas saja sudah beberapa hari sulit di hubungi, ke panti asuhan jawaban Bu Aminah, sedang pergi berlibur.
Senyum Laura"Iya ini aku Mer, Laura. Sejak kapan kau tak kenal aku? Baru juga satu minggu lebih nggak ketemu."
Mengerutkan kening"Bukan begitu Ra! Sejak kapan kau jadi nyonya besar begini? Berjalan menemuiku aja pakek acara bawah banyak pengawal?"takut Merisa pada sahabatnya ini.
Laura tersenyum menceritakan kejadian yang menimpahnya ke pada Merisa, entah itu kabar baik atau buruk.
Renyitnya lagi alis Merisa"Kenapa Bu Aminah nggak ngasih tau aku? Apalagi menikah dengan oppaku."bisiknya takut di dengar pengawal.
Merisa masih belum percaya pada Laura sepenuhnya, karena Merisa sangat ngefens dengan sosok Renggra Wijaya sejak dulu. Hanya Laura saja yang kurang kepo pada Merisa. Karena Laura juga tak suka berbau hal-hal yang di sebut mengidolakan artis, pejabat, kolomerat, dan lainnya.
Merisa tahu Renggra Wijaya baru saja menggelar pesta pernikahan tertutup sampai istrinya di blur wajahnya, siapa tahu hal itu membuat hatinya merasa sedih dan galau akhir-akhir ini. Namun, Ia tak percaya kalau Renggra menikahi Laura.
Handphone Laura berdering, Ia langsung mengangkatnya"Hallo, assalamualaikum Mas..."melihat ke arah Merisa dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Merisa penasaran dengan berbisik.
Menjauhi telepon"Suamiku Renggra nelepon."suara berbisik.
Mungkin Renggra lain, fikir Merisa.
Laura kembali berbicara dengan Renggra"Hallo assalamualaikum Mas, ada apa?"kedipan mata.
"Waalaikumussalam, kamu masih di luar ya, Ay?"terdengar suara merdu di seberang telepon.
Angguk Laura"Eemmm, Iya Mas,"
"Nanti sudah selesai dengan temanmu langsung ke perusahaan ya. Sopir sudah ku beri tau. Soalnya ada Nova yang ingin berkenalan denganmu."suara lantang di seberang telepon.
Memainkan pucuk gelas berisi teh hangat manis"Iya Mas, kalau boleh, aku bawah temanku ke sana, kamu setuju nggak? Hanya satu orang wanita."bujuknya.
Senyum tipis, di bibir yang berwarna merah jambu"Iya, sayang boleh. Aku tutup dulu teleponnya sampai jumpa di kantor. Assalamualaikum."
Senyum Laura, akhirnya bisa memberikan bukti pada Merisa"Iya Mas, waalaikumussalam."tutupnya telepon.
"Kau pasti bercandakan Ra, menikah dengan oppaku?"celetuknya.
Menyipitkan mata"Kamu masih belum percaya, ayo ikut aku melihatnya."
"Kemana?"antara percaya dan tidak.
Dengan sedikit menantang"Ikut aku ke perusahaan suamiku, yang kau sebut oppa itu."jawab lantang.
Tantang Merisa kembali, yang ingin bukti nyata bukan hanya cadaan yang di lontarkan"Oke, siapa takut! Aku juga tak akan percaya padamu, sebelum kamu memberi bukti."sipitnya mata.
Senyum Laura dengan mengangguk, reaksi apa yang di keluarkan saat menemui oppanya itu.
Setibanya di depan perusahaan Pak Tono menoleh ke arah Laura"Maaf, Nyonya. Saya di suruh Pak Renggra memberikan masker pada Nyonya dan teman Nyonya. Di luar masih banyak wartawan yang ingin mengambil foto Nyonya dan mewawancarai."berinya masker berwarna hitam"Nyonya tak perlu khawatir, di depan telah di jaga ketat."
Angguk Laura dan Merisa dengan mengambil masker yang di berikan Pak Tono, mereka langsung menggunakannya.
Penjaga membuka pintu Laura dan Merisa, wartawan sibuk mengambil foto mereka, serba serbi pertanyaan yang bermunculan.
Penjaga sibuk mengatur mereka, Laura langsung naik lift menuju tempat Renggra.
Cuilnya tangan Laura,"Ra inikan perusahaan oppaku?"liriknya ke arah Laura dengan melepaskan masker.
Laura juga melepas masker"Kau, kan belum bertemu dengannya, mana mungkin kau akan percaya."rengut Laura merasa di curigai dengan sahabat sendiri.
Memainkan tangannya,"Iya sih, takutnya Renggra lain."jebil Merisa.
Masih merasa ragu-ragu, tapi dengan kondisi tadi membuatnya sedikit percaya bahwa Laura memang istri dari oppanya itu.
Selanjutnya~>Chapter 21
__ADS_1