
Sudah beberapa hari Renggra meninggalkan rumah, Laura merasa seperti kehilangan seorang teman. Hati dan pikirannya merasa jenuh sulit di lukiskan betapa rindu dirinya pada Renggra.
Berada di rumah yang tak mempunyai pekerjaan, inginnya pulang ke panti asuhan melihat apa kabar anak-anak panti asuhan beserta Bu Aminah? Selagi Renggra pergi keluar kota.
Duduk di taman belakang, bernuansa alam yang membuat fikiran merasa tenang dan damai.
"Kakak ipar..."pekik Amel dari belakang menghampiri Laura.
Toleh Laura"Iya, Mel."
Duduknya di samping Laura.
"Kakak, ngapain?"perhatian Amel melihat Laura yang murung, di tinggal suami pergi keluar kota.
"Duduk aja, Mel. Bingung mau ngapain."perasaan yang hampa.
Amel tersenyum,"Kakak, kangen ya sama kak Renggra?"dugaannya.
Senyum Laura"Nggak, Mel. Malahan seneng nggak ada yang gangguin."bohongnya.
Amel tersenyum melihat kebohongan yang jelas terukir di sana"Yakin nih. Aku kalau di posisi kakak, bakalan rindu banget."pancingnya agar Laura mau bercerita.
Laura terkekeh,"Kamu, bisa aja Mel."merasa kebohongannya terlihat jelas"Kamu sendiri kenapa belum menikah? Belum ada jodoh."tanyanya penasaran, mengalihkan pembicaraan agar tak terus-terusan memikirkan Renggra.
Bingung Amel ingin cerita atau tidak"Menurut kakak, aku udah pantas belum menikah?"tanyanya pendapat Laura terlebih dahulu.
Bersender di pinggiran kursi dengan sedikit menyipitkan mata,"Emang kamu usianya berapa?"
"23 tahun"jawab lantang.
Laura terkejut ternyata usia Amel lebih tua dari usianya"Tua kamu dong dari pada aku."wajar dari awal Laura merasa berbeda.
Terkekeh Amel"Nah, menurut kakak ipar gimana?"tanyanya kembali.
Laura merasa malu di panggil kakak padahal usianya di bawah Amel, mungkin menikah dengan kakaknya Ia harus memanggil kakak juga"Iya, kalau menikah dengan orang yang tepat, nggak masalah sih. Tapi kalau bukan orang yang tepat itu yang sulit di jalani."pendapat yang merasa menikahi orang yang tepat.
Senyum Amel,"Iya sih, kakak benar."merasa malu"Menurut kakak nih, kita mencintai orang itu tapi dia tak mencinta atau peka sama kita. Menurut kakak gimana?"merasa Amel ada teman yang bisa di ajak bertukar pendapat.
Selama ini hanya ada teman yang dekat, demi mendekati Renggra. Mungkin puranya akrab dengan adiknya, kakaknya bisa di garap. Amel tak sebodoh yang mereka fikirkan.
Laura terkekeh,"Kamu nanya aku yang belum ada pengalaman yang kayak gitu. Nikah aja dadakan."tepuk pelan pundak Amel merasa lucu, nanya dengan orang yang tak tepat.
Sipitnya mata, merasa malu"Seandainya aja nih, kalau kita ungkapkan isi hati kita ke orang itu, gimana pendapat kakak?"ingin Amel, kakak iparnya itu memberikan solusi.
Senyum Laura yang merasa Amel, menyukai seseorang,"Jawab jujur, kamu menyukai siapa sih?"selidiknya.
Merasa malu, Laura tiba-tiba menebak fikiran Amel,"Menurut kakak?"balik tanya lagi malu mengungkapkannya.
__ADS_1
Laura tersenyum-senyum, benar fikirannya"Emang, aku paranormal, Mel. Tau kamu pacaran ama siapa?"
DEG!
Sekilas Laura teringat perbincangannya dengan Renggra, menanyakan soal apa pekerjaan Renggra yang tak diketahui dahulu.
Rindu itu melekat, walau tiap hari di beri kabar. Namun, tetap saja rindu itu belum hilang jika orangnya tak berada di sampingnya.
Ragu Amel"Sebenarnya!"malu mengungkapkan tapi terlanjur bicara"Sebenarnya!"ragu-ragu takut Laura mengejeknya atau hal lain.
Kerutnya alis"Sebenarnya apa Mel?"penasaran.
Pejamnya mata"Aku menyukai kak Angga."intip mata sebelah.
Reaksi Laura yang biasa-biasa saja"Terus, kamu mau apa?"menanyakan tindak lajut kalau Amel mencintai Angga.
Hebusnya nafas panjang"Kakak, nggak terkejut gitu?"mengerutkan alis.
Menggelengkan kepala menandakan biasa-biasa saja.
Mereka berdua, tak tahu kalau Bu Ani dari tadi mendengar pembicaraan yang membahas Amel menyukai Angga.
Bu Ani juga ingin tahu bagaimana perkembangan Laura dan Renggra.
Bujuk Amel."Ayolah kakak kasih aku pendapat."pegang pundak Laura meminta bantuan.
Laura saja merasa bingung dalam hubungannya dengan Renggra yang tiba-tiba nikah, tiba-tiba juga jatuh cinta.
Bu Ani tersenyum-senyum mendengar pendapat Laura. Tak menyangka putri bungsunya mencintai diam-diam anak angkatnya itu.
Memang tak ada masalah jika mereka menikah memang bukan saudara kandung. Defenisi Angga pun orangnya yang cukup dewasa menyikapi Amel.
Memang harus main jodoh dulu baru bisa menyatukan. Angga juga sampai sekarang belum menentukan siapa yang akan dia nikahi, jangankan menikah punya pasangan saja belum.
Pusing kepala Bu Ani memikirkan anak-anaknya yang sibuk dengan dunia pekerjaan.
Amel diam merenung, baginya memang tak ada jalan lagi selain hal itu.
Bu Ani mendekat"Ekhem,"pura-puranya tak tahu apa-apa"Kalian ngapain di sini?"duduk di dekat Laura.
Mata Amel membulat takut Bu Ani tahu, dan marah padanya.
Laura tersenyum"Duduk-duduk aja Bu di sini, jenuh di dalam."mengalihkan pembicaraan.
"Kamu boleh ke mana aja Ra, ke panti juga boleh, Ra nginap di sana sampai Renggra pulang."usulnya"Tapi izin dulu sama Renggra."Bu Ani ingin Laura tak merasa lebih galau saat di tinggal Renggra.
Senyum Laura,"Boleh, ya Bu?"pegang tangan Bu Ani.
__ADS_1
Angguk Bu Ani.
Selang beberapa waktu Laura menghubungi Renggra, meminta izin untuk pulang ke panti asuhan selama Ia berada di luar kota.
Izin suami saat istri keluar rumah perlu di lakukan, diharamkan bagi seorang wanita keluar rumah suaminya tanpa seizinnya, kecuali karena darurat atau kewajiban syari’at”. (Adab Syar’iyyah: 3/375)
Maka sebagai wanita yang shalihah mendapatkan ridho Allah maka Ia harus mendapatkan ridho suaminya.
Laura telah mendapat izin dari Renggra, beberapa hari di sana membuatnya merasa semangat kembali. Walaupun saat tidur pasti ingat dengan Renggra yang selalu menggoda dan menjahilinya.
***
Renggra akhirnya pulang dari luar kota. Namun, belum pulang kerumah. Masih menghadiri acara kumpulnya karyawan setahun sekali itu, bersama dengan klien-klien perusahaan lain untuk mempererat tali silaturahmi antar pekerja di hotel milik Renggra terbesar di kota.
Pelayan membawah minuman jus ke arah Renggra, karena Ia tak minum Wine, Alkohol dan jenis lainnya.
Seteguk jus tak terasa telah habis, nyambil berbincang dengan klien perusahaan lain.
Tibanya merasa panas, meluap seperti ruangan itu tak memakai pendingin udara, keringat perlahan mengucur.
Renggra meminta pelayan menyiapkan kamarnya di lantai paling atas. Mungkin dengan berendam di bathtub dan mandi dapat menghilangkan dahaga.
Sebelum itu Ia meminta karyawan mengecek suhu pendingin di ruangan itu, karyawan memberikan alat bahwa suhunya tetap sama saat Ia datang.
Renggra langsung menelepon Angga menyuruhnya menghampiri di ujung balkon.
Kepala yang terasa berat, panas yang semakin meluap membuat Renggra tak tahan, Ia langsung saja pergi ke kamar.
Angga terus-menerus menelepon,
Renggra akhirnya mengangkat telepon saat sudah di dalam kamar"Kamu pulang aja duluan, aku nginep di hotel malam ini. Badanku terasa kurang baik ingin langsung istirahat aja."menahan nafas yang tak beraturan, ucapnya istighfar, dan bacaan lainnya dalam batin agar lebih tenang.
Matinya telepon, membuka pakaian dan berendam di bak mandi"Ada apa denganku? Kenapa ini membuatku sangat bergairah?"ingatnya kembali hanya minum jus tak makan yang lainnya"Ada yang salah dari jus yang ku minum itu."fikirnya siapa gerangan ingin sekali mencelakainya.
Fikiran Renggra hanya butuh Laura berada di sampingnya, untuk meluapkan semua yang di rasa.
Lama berendam di bathtub, membuatnya tak kunjung menghilangkan panas di tubuhnya. Penglihatan yang kabur, Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang.
Samar-samar melihat wanita cantik berdiri di hadapannya, fikirannya tak dapat di kontrol hanya hawa nafsu yang tinggi bergejolak dalam dirinya.
Seperti singa yang kelaparan berhari-hari tak makan apapun.
Tariknya wanita itu langsung ketempat tidur, melampiaskan apa yang di rasa. Otaknya tak bisa berfikir panjang, apa yang telah di lakukan.
Nafsu itu terus memuncak, penglihatan yang samar-samar, kepala yang pusing, terus memaksa sang wanita pelampiaskan nafsu syahwatnya.
Renggra benar-benar seperti di kendalikan seseorang, tak lama kesadarannya hilang.
__ADS_1
Selanjutnya~>Chapter 23