
Sepanjang perjalanan menuju rumah, fikiran Laura terus terbayang dengan kejadian semalam. Rasa yang tak tahu harus melakukan apa saat menghadapi Aditya.
Nafas yang naik turun, menyender di kursi mobil melihat ke arah luar tapi fokusnya dengan semua keadaan.
Bingung harus mulai dari mana? Terus dirinya ke fikiran dan bertanya-tanya. Sebenarnya siapa laki-laki yang di jumpainya? Kenapa saat berhubungan intim dirinya tak memberikan tanda bahwa masih perawan? Rasa pusing di kepala membuat darinya di penuhi kegelisahan.
Mobil telah sampai di depan rumah, menarik nafas panjang. Pasti ada jalan keluar.
Masuk ke dalam rumah, Aditya yang sudah menunggu di ruang tengah penuh dengan tanda tanya.
Laura semalaman tak pulang dan tak memberi kabar. Apa Laura sudah di tahan oleh Renggra? Biasanya saat menelepon Laura, dirinya langsung membalas. Namun kali ini, sudah beberapa kali menghubungi Laura tak kunjung memberi kabar.
"Ey, kamu dari mana?"melihat Laura sudah kembali pulang.
Mendengar suara Aditya, dirinya menghampiri"Maaf Bang, semalam aku tak pulang?"senyumnya seperti biasa.
"Eeemmm, kenapa nggak mengangkat teleponku dan memberi sedikit kabar, Ey?"menyelidiki.
Mata Laura membulat, bingung harus berkata apa? Lupa memberi kabar apalagi mengecek handphone, padahal pagi tadi Ia membuka handphone mengisi nomor laki-laki yang belum memberitahukan namanya itu.
Salah dirinya juga yang tak bertanya dan main pergi saja.
"Handphoneku nggak di deringkan, mana rasa capek semalam. Aku main tidur aja Bang. Maaf ya?"bohongnya.
Menghebuskan nafas legah"Iya nggak papa, lain kali kabari ya Ey. Kita nggak tau apa yang terjadi di luar sana."sadari Aditya yang ingin tahu keadaan Laura baik-baik saja.
Aditya tahu jika Laura menginap di hotel Renggra, saat dirinya menelepon supir yang pergi bersama Laura. Itulah yang di takuti Aditya, tapi dirinya masih saja tetap bingung kenapa Renggra belum ada pergerakan sama sekali?
Menganggukkan kepala"Eeemmm! Lain kali, aku sempatnya memberi kabar bang."merasa resah. Ingatnya pada pertanyaan yang terus mendesak"Bang!"panggilnya saat melihat Aditya ingin pergi ke arah kamar.
"Eemmm!"tolehnya.
"A.Ada yang ingin mau aku tanyakan."ragu campur malu, namun tak di tanyakan dirinya akan semakin pusing.
__ADS_1
Bibir yang tersenyum"Tanya, lah Ey?"duduk di kursi, agar lebih rileks.
Laura juga ikut duduk, meletakkan tas di sampingnya"Bang, maaf jika pertanyaanku, agak sedikit sensitif."menyipitkan mata.
Mengerutkan alis, rasa resa bermunculan ada apa dengan Laura?"Nggak papa, tanya aja Ey?"bersikap santai.
Memainkan kedua bibir, ragu-ragu dalam pengucapan"Bang!"memainkan tangannya, menandakan kegelisahan"Kita dulu sebelum aku lupa ingatan, pernah nggak sih. berzina?"mengedipkan mata dengan pompahan jantung yang berdegup kencang, rasa takut nanti Aditya menanyakan lebih teliti.
"Maksudmu, Ey. Berzina gimana?"tak paham maksud Laura yang menanyakan hal aneh, tibanya ingat pasti sudah terjadi sesuatu pada mereka, fikirnya.
Aditya merespon dengan reaksi wajah yang biasa-biasa saja di hadapan Laura.
"Eeemmm!"berusaha santai"Jangan berfikir yang aneh, tadi malam aku melihat wanita dan laki-laki yang masih mudah masuk ke dalam kamar berdua. Yah kamu taukan zaman sekarang gimna? Apa dulu kita begitu bang?"menyusun kata agar Aditya tak curiga.
Hembusnya nafas panjang, Aditya tersenyum-senyum. Dugaan sepertinya benar, Laura dan Renggra sudah bertemu dan sekamar. Sudah enam tahun bersama Laura, tak sedikitpun dirinya membahas hal yang aneh seperti ini.
"Coba kamu ingat, selama kita bersama. Ada nggak aku menyentuhmu, Ey?"usahanya menahan sesak di dada.
Upaya terus tersenyum"Berarti, Ey. Kamu masih aman. Tenang aja kita tak seperti mereka."jelasnya.
Berdiri Laura mengambil tas"Ohh, syukurlah. Aku ke dalam dulu ya Bang."
"Ya, Ey. Istirahatlah yang banyak. Jangan terlalu capek."ikut berdiri memasukkan tangan kanan ke dalam saku celana.
Menganggukkan kepala"Eemmm!"berjalan ke arah kamar.
Aditya kembali ke dalam kamar, cukup baginya mendapatkan berita pagi-pagi bahwa Laura dan Renggra telah bersama. Rasa hati yang cukup menyayat dalam goresan, sadarnya Laura bukan miliknya. Namun, sebelum menyerahkan Laura sepenuhnya pada Renggra, Ia ingin tahu dulu apakah benar Renggra tulus mencintai Laura atau sebaliknya.
Menguji kembali perasaan yang mungkin saja berubah oleh waktu, tak maunya Laura kenapa-kenapa di tangan orang yang salah.
Masuk ke dalam kamar melepas hijab, segeranya duduk di tepi ranjang. Air mata yang membentang di seluruh kelopak mata itu akhirnya mengalir.
Terlalu rumit ingin mengetahui keadaan apa yang harus di jalani.
__ADS_1
Perkataan Aditya yang menjawab begitu santai, dirinya dan dia tak sedikitpun bersentuhan bagaimana bisa mereka dulu berzina? Diri yang sudah kotor tak berhak lagi mendapatkan laki-laki seperti Aditya yang tampak sempurna, hembuskan nafas panjang, mungkin ini yang di sebut jodoh tak terduga.
Sudah bertahun-tahun bertunangan ternyata tak sampai ke pelaminan hanya menjaga jodoh orang lain.
Menyapu air mata, saatnya mulai mencari identitas siapa laki-laki yang telah menodainya itu.
Mengambil handphone membuka situs tentang Amel terlebih dahulu, mengotak-atik situs yang menceritakan tentang saudara laki-lakinya.
Tibalah melihat semua foto profil Renggra. Bacanya menelusuri setiap info, ternyata Renggra pemilik perusahaan Root yang saat ini sedang berkerja sama dengan perusahaan milik Aditya.
Terus mencari, dapatnya tulisan bahwa Renggra telah berstatus beristri. Rasa terkejut terlihat jelas di wajah cantik itu, dirinya bak di sambar petir, melakukan zina dengan suami orang.
Dosa apa yang dilakukannya selama ini? Sehingga dirinya mendapatkan balasan yang menurut Laura sangat pedih dalam hidupnya.
Terus menelusuri foto pernikahan Renggra dengan wajah pengantin wanita yang di blur, mengerutkan alis seperti wanita itu sangat cantik di sampingnya.
Meletakkan handphone di atas ranjang tak sanggupnya lagi, mencari informasi. Sudah cukup baginya, sampai di situ saja.
Kepala yang makin pusing, sejenak menunduk lepas bayangan-bayangan gelap dirinya dulu seketika bermunculan. Suara dirinya memanggil Mas pada seorang laki-laki tampan yang wajahnya tak terlihat jelas. Memanggil juga dengan sebutan Ibu ke arah ramainya anak-anak seperti berkumpul di panti asuhan.
Nafas yang tersengal-sengal keringat yang bercucuran bayangan itu hilang, sontak Laura merasa ke takutan apa yang barusan Ia lihat?
Rasa dengan penuh penasaran cobanya lagi mengingat, namun semakin di paksakan kepala itu sakit.
Tariknya nafas panjang, kenapa semenjak bertemu Amel dan laki-laki itu dirinya selalu melihat bayangan-bayangan aneh, seperti pernah hidup bersama mereka.
Sedangkan selama bersama Aditya dirinya tak menemukan jawaban atas ingatannya dulu. Semakin ke sini membuat Laura penasaran, akankah saat bertemu dengan laki-laki itu lagi, dirinya akan mengingat sesuatu.
Namun ingatnya Renggra telah beristri membuat Laura harus menjaga jarak, Ia tak mau menganggu rumah tangga orang lain.
Biarlah kedepannya bagaimana? Jika suatu saat ternyata dirinya hamil, cukup ia akan mengurusnya dan pergi sejauh mungkin dari hadapan Aditya.
Selanjutnya~>Chapter 54
__ADS_1