Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 61


__ADS_3

Hati dan fikiran penuh dengan rasa resah membuat diri ini tak ingin jauh dari sang istri. Melihat kondisi yang bisa di bilang lemah, ada apa dirinya yang tak menjaga dengan baik?


"Ay!"melihat Laura dengan mata yang sayup"Apa kamu membutuhkan sesuatu? Kamu istirahat dulu, Ay. Biar Mas aja yang ngelakuin."perhatiannya pada sang istri, takut kenapa-kenapa dengan kondisi yang masih belum stabil.


Menggelengkan kepala"Nggak ada, Mas. Aku baik-baik aja, kamu sekarang boleh pergi dan istirahat di rumahmu."hati yang merasa kurang nyaman, masa dirinya main usir"Eemmm, kamu juga boleh istirahat di kamar sebelah sebentar. Anggap terimakasihku atas bantuanmu."meneguk Saliva merasa gugup.


Menghebuskan nafas legah,"Iya sudah, Mas numpang sebentar ya, Ay. Setelah itu Mas pulang."berdirinya"Jika ada apa-apa panggil aja lewat telepon."senyumnya.


Laura hanya menganggukkan kepala, tanpa kata sedikitpun.


Renggra berjalan ke luar kamar menutup pintu, dirinya masuk ke bilik kamar sebelah. Melihat jam sudah pukul lima subuh, segeranya mengambil wudhu melaksanakan shalat.


Membentangkan kedua tangan"Ya Allah, engkau maha pengasih dan penyayang. Berikan kesembuhan untuk istriku. Berikan Ia jalan dan petunjukmu, agar menjadi istri dan Ibu yang baik. Kembalikanlah pada kami. Hanya padamu aku meminta dan memohon, Amiin."mengusap wajahnya.


Melipat sajadah, meletakkan di atas lemari kecil di sudut ruangan. Ingin beristirahat, namun diri yang harus membuat sarapan dahulu sebelum pulang. Kasihan Yusuf, pasti bersedih tak berjumpa seharian dengan sang Ayah.


Berjalan keluar ruangan, Laura masih di bilik kamar. Mungkin dirinya kembali beristirahat.


Mencuci piring semalam dan alat masak.


Menyiapkan sarapan pagi bertulis secarik kertas di samping makanan, dirinya pergi meninggalkan rumah.


Renggra tak mau membangunkan Laura yang masih ingin istirahat, di lihat juga tak ada kendala apapun. Besok atau lusa dirinya akan menemui Laura kembali.


Banyaknya pekerjaan, anak yang harus di bimbing dan istri yang harus di dapatkan, rasa pundak semakin bertambah berat.


Di hatinya yakin, Allah menguji setiap hambanya pasti karena Ia sayang.


Memulai hari dengan bersyukur, melihat sang istri masih hidup membuat dirinya semangat walau beban terasa beras insyaallah akan ada jalannya.


Laura yang lepas melaksanakan shalat subuh dirinya memang kembali beristirahat, karena kepala yang masih terasa berat. Mengharuskan pulih dahulu sebelum melakukan aktivitas lainnya.


Alarm yang di hidupkan menggunakan handphone, berdering.


Membuka mata pelan, meraih handphone yang berada di samping tubuhnya, melihat jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.

__ADS_1


Dirinya yang masuk kerja setengah sembilan itu, bisa lebih santai dalam beraktivitas pagi.


Tubuh yang lebih ringan, teringat pada suaminya itu.


Duduk mengambil hijab sarungan, pasti semalam suaminyalah yang melapaskannya.


Tersenyum-senyum, tak menyangka bahwa dirinya telah menikah dan mempunyai anak. Tapi itu hanya ingatan, sebagai wanita yang hidup selama enam tahun melajang, dirinya tak tahu apakah benar semua itu terjadi atau hanyalah khayalan semata.


Memasangkan hijab, keluar kamar. melihat kamar sebelah terbuka. Jalan pelan tak sedikitpun menunjukkan bahwa suaminya masih di sana.


Jalan sebentar, melihat makanan berbentuk omelet telur bulat seperti berisi dan saus di atasnya.


Minuman jus buah pun tersedia di sana, secarik kertas berwarna pink tertulis"Ay, maaf aku pulang dulu. Tak mau mengganggumu tidur. Sarapan sudah ku siapkan, makan yang banyak, agar kamu cepat pulih. By : Mas Renggra."


Menggigit bibir, merasa senang di hati tak bisa di pungkiri, dirinya bak ratu yang di layani setiap hari.


Suami yang di idam-idamkan kaum hawa itu, ternyata seperti ini.


Duduk inginnya memakan omelet yang di sediakan, memejamkan mata omelet buat suaminya itu benar-benar enak, berisi nasi bercampur sayur dan daging.


Entah itu enak karena di sediakan, atau dirinya yang sedang kasmaran jadi semua terasa nikmat.


Menghebuskan nafas panjang, menepis itu semua. Mengalihkan dengan mempercepat makan, setelah itu mencuci piring dan bersiap-siap berangkat kerja.


Mulai hari ini dirinya harus mencari tahu semua kebenaran yang terjadi.


Usai makan dan meminum Jus, melihat ruangan dapur begitu bersih, kiranya lelaki itu tak mencuci bekasnya memasak, ternyata dirinya merapikan semuanya sebelum pulang.


Rasa tak nyaman terlalu membebani, dirinya yang acuh tak acuh sok jual mahal. Merasa bersalah berdatangan.


Hanya mencuci bekasnya saja, seperti benar-benar telah menyusahkan orang lain.


***


Sesampai di rumah, Renggra berjalan ke arah kamar dengan tersenyum-senyum.

__ADS_1


Angga, Amel dan Bu Ani yang duduk di ruang tengah merasa bingung, ada apa dengan Renggra yang masuk rumah tanpa mengucapkan salam dan tersenyum-seyum langsung ke bilik kamar?


Tak begitu lama Renggra turun dengan berpakaian kerja, menghampiri semua yang duduk di ruangan.


"Renggra duduk."perintah Bu Ani.


"Eemmm, Iya Bu."mendengar suara Bu Ani.


Mengeryitkan alis"Kamu dari mana semalam nggak pulang? Yusuf nangis nyariin kamu."rasa kesal tak memberi kabar.


"Hah, mana Yusuf Bu?"usai duduk di samping Bu Ani, rasa khawatir melihat ruangan.


Memegangi tangan Renggra"Dia ikut mengantar Musa ke sekolah. Jawab pertanyaan Ibu, Reng. Kemana kamu semalam?"penasaran.


Angga dan Amel menyimak.


Senyum Renggra"Tidur di tempat pacar Bu."


Mata yang membulat"Apa Renggra?"rasa terkejut anaknya sudah berani main perempuan"Kamu sekarang berani ya, main wanita. Astagfirullah Reng..."marahnya dengan perkataan terputus karena langsung di potong oleh Renggra, sebelum Bu Ani salah paham.


"Bu, aku tidur di tempat pacar halal. Laura menantumu."jelasnya.


Raut wajah Bu Ani dan yang lainnya terlihat senang.


"Apa? Gimana kamu bisa di sana Nak?"rasa hati yang sangat senang"Terus Laura sudah ingat kamu belum? cerita-cerita sama Ibu."ingin sekali mendengar penjelasan dari Renggra.


Tersenyum-senyum"Ceritanya panjang Bu! Tapi, semalam Laura tiba-tiba pingsan, entah ada apa dengannya? Kata dokter, dirinya hanyalah letih dan kecapean aja. Mangkanya aku malam tadi nggak pulang, nggak mungkin ninggalin dia dalam kondisi gitu Bu. Kalau ingatan Laura, sepertinya belum mengingat kita semua."memegang tangan Bu Ani"Tapi aku akan berusaha terus Bu, mendapatkan istriku kembali. Maaf nggak ngabari,"


Menghebuskan nafas panjang"Eemmm, ya nggak papa Nak. Semoga Laura cepat pulih, sabar ya Nak. Allah pasti mendengar doa kita semua. Kamu tak perlu khawatir Yusuf nggak nangis. Ibu hanya bergurau saja."


Menghebus nafas legah, syukurlah Yusuf nggak nangis. Semoga anak itu mengerti kondisi ayah dan Ibunya saat ini"Eemmm, Iya Bu."senyumnya.


"Sabar ya kak."senyum Amel, memberikan dukungan.


Sambung Angga"Yakin Reng, kalau sudah jodohmu pasti kembali."

__ADS_1


Menganggukkan kepala"Eemmm!"


Selanjutnya~>Chapter 62


__ADS_2