Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 7


__ADS_3

Laura yang duduk mendengarkan cerita Bu Ani dan lainnya, hanya bisa diam. Tak lama, Ia melihat datangnya wanita mudah cantik berhijab panjang dari pintu masuk, ke bilik kamar tak jauh dari ruang tengah.


Renggra yang naik ke lantai atas, telah turun mengganti pakaian santai tapi sopan.


Wanita cantik itu tak lama keluar dari kamar dan menutup pintu. Ia melihat Renggra turun, langsung saja menghampiri dan bersalaman di dekat tangga.


Tertawa dan tersenyum lepas saat mereka berdua bersama, itulah pertama kali Laura melihat wajah tampan itu samakin menyolok.


Sepasang kekasih yang serasi melihat mereka bersama, Laura merasa minder tentang dirinya, yang tak cantik maupun rupawan.


Renyitnya kening dan mata yang membulat membuat hati bertanya-tanya, apa itu istrinya juga? Kesedihan bertambah kali lipat, menikah yang bukan pilihan sendiri, kemudian berbagi pada orang lain.


"Bu, maaf."ucap Laura yang ragu.


"Ada, Apa Ra?"jawab Bu Aminah.


Merasa kurang nyaman"Kepala Laura masih sedikit sakit. Laura boleh istirahat di kamar?"tanyanya yang segera ingin pergi ke kamar, menumpahkan segala isi hati. Agar beban yang di pikul sedikit berkurang.


"Mau, Ibu panggilkan dokter?"tanya Bu Ani yang merasa khawatir terhadap Laura.


"Nggak Bu, mungkin kalau di bawah tidur, akan enakkan."tolaknya yang tak mau mereka tahu, sakit kepalanya di akibatkan oleh perjodohan mereka.


"Iya sudah, kamu istirahat saja, di kamar tadi."jawab Bu Ani.


Menganggukkan kepala,


"Ibu, antar ya, Nak?"tawar Bu Aminah, yang merasa Laura masih belum menerima pernikahan ini.


"Nggak usah Bu, Laura sendiri aja."tolaknya.


Angguk Bu Aminah yang tak tahu harus berkata apa? Rasa bersalahnya muncul seketika, melihat wajah anaknya yang biasa riang, sekarang hanya berdiam diri saja.


Laura berjalan, melewati Renggra dan Amel yang mau menghapiri dirinya saat berkumpul.


Renggra dan Amel merasa aneh, Laura tak menyapa dan menoleh ketika melewati mereka.


"Laura, kenapa Bu?"rasa penasaran.


"Dia mau istirahat di kamar, masih kurang enak badan, coba kamu susul Reng. Diakan istrimu sekarang,"perintah Bu Ani.


"Bentar lagi Bu, aku mau kumpul sama bapak-bapak yang hadir. Nggak enak, tadi belum sempat bicara dengan mereka."


Menganggukkan kepala, paham maksud dari Renggra. Tak nyamannya bila tamu tak di layani, lagian mereka berdua telah menikah. Kapan saja bisa bertemu.


Sesampai di kamar, Laura berlarian ke kamar mandi dan mengunci pintu tersebut.

__ADS_1


Duduk di kloset dengan termenung, air mata yang perlahan-lahan mengalir dengan derasnya. Merasakan duka yang mendalam.


Dua jam berlalu, suara ketukan menghampiri pintu.


"Ay.."suara lembut memanggilnya.


Terdengar suara laki-laki yang memanggil nama seseorang, tapi bukan dirinya.


"Ay..."suara itu memanggil lagi.


Renggra mendengar Laura masih kurang baik, Fikirannya melayang-layang. Takut sang istri pingsan tak sadarkan diri, ingin pintu itu di dobrak jika sekali lagi tak membukakan pintu.


Laura membasuh wajah dan mengelap sampai kering. Hatinya sedikit legah saat menangis berjam-jam. Mendengar suara ketukan, Ia pun keluar memberitahu, yang di cari tak berada di sana.


"Ay..."panggilan terakhir.


Pelan-pelan Laura membuka pintu, lelaki tampan itu berdiri di sana yaitu Renggra.


Melihat kondisi Laura baik-baik saja, hatinya terasa legah. Namun, melihat matanya memerah seperti habis menangis, ingin sekali memeluk dan mengucapkan kata-kata maaf telah melakukan kesalahan.


Menikahi secara mendadak, tanpa persetujuan darinya.


"Maaf Pak! Di sini nggak ada yang nama, Ay."keluar dari bilik kamar mandi.


Senyum manis yang di lontarkan Renggra, jelaslah Laura merasa aneh, Ia bukan memanggil namanya.


Mengeruti alis"Tapi, namaku Laura Pak, bukan Ay."polosnya.


Terkekeh"Ay itu ayang atau lebih jelas sayang,"pegang tangan Laura sembari ingin membawahnya ke depan jendela.


Tepis langsung, merasa risih tangannya di pegang laki-laki walaupun itu suaminya sendiri.


"Kenapa? Akukan suamimu, Ay."yang paham Laura masih belum pernah di sentuh laki-laki.


"Tapi, aku tak terbiasa."ketusnya.


"Kamu marah, sama aku Ay?"tanyanya kembali.


"Kita belum kenal, maklumlah."ketus kembali yang memperlihat tak sukanya.


"Iya sudah, maafkan aku. Sekarang kamu bersihkan make up dan ganti pakaianmu, sebelum kita tidur."jalannya dan duduk di ranjang.


DEG!


Nafas Laura naik turun, fikirannya kemana-mana.

__ADS_1


"Kenapa masih di situ, mau aku bantuin, Ay."mengedipkan mata berusaha menarik perhatian Laura, agar tak larut dalam ke sedihan.


Laura merasa kekutkan, Ia langsung ke kamar mandi kembali. Membersihkan make up dan duduk di kloset"Apa yang harus ku lakukan?"ucap batin.


Lama berada di dalam kamar mandi, Renggra mengetuk pintu.


"Ay... Ngapain di dalam, kan tidur di sini, bukan di situ."


Laura merasa makin risih, laki-laki itu terus memanggilnya dengan sebutan Ay, dirinya pun keluar"Ngapain sih, manggil Ay terus."marahnya yang belum menerima kalau Renggra terus memanggilnya dengan lebay.


"Ay, dalam agama di haruskan suami dan istri untuk memanggil secara romantis. Selain pahalanya berlimpah, rumah tangga kita juga terlihat harmonis."lihatnya pakaian Laura belum di ganti"Kenapa pakaiannya belum di ganti? Apa mau, aku yang gantiin?"


Laura tahu lelaki itu suaminya, tapi hati masih belum juga menerima.


"Aku tak punya pakaian ganti, jika ada sudah ku ganti dari tadi."mata yang menoleh ke arah lain. Tak fokus ke wajah Renggra, karena Laura masih merasa kesal.


Tunjuk ke ruang pakaian yang tertutup"Tuh, di sana, banyak Ay. Pakaian kamu sudah ku siapin."


Laura langsung main pergi saja, tanpa basa-basi lagi. Sifat yang keras dan ketus terhadap laki-laki, membuat Renggra yakin, Laura wanita yang baik dan penuh perhatian.


Mengikuti Laura dari belakang,"Ngapain sih ikut-ikut masuk?"berhenti setelah usai di bilik ruang pakaian.


"Nanti kamu tidur di sini lagi,"


"Terus kenapa?"cungak wajah yang kesal.


Peluk paksa, yang gemas melihat tingkah laku istrinya"Kamu, kan istriku, Ay."rasa yang aneh, pertama kali memeluk pasangan halal bagi dirinya yang bertubuh pendek itu. Namun, sekarang telah menjadi pasangan halal. Dirinya ingin mencoba berbagai hal karunia yang tuhan berikan.


Meronta-ronta"Lepasin nggak?"rasa yang menakutkan, di paksa menikah sekarang di peluk paksa dengan tubuh yang lebih tinggi dan berisi, seperti dirinya harus melayani nafsu lelaki itu sekarang juga.


Melepaskan pelukan, terhadap Laura dengan wajah yang datar.


Menjauhnya Laura ke sudut lemari.


"Kamu nggak perlu takut, akukan suamimu, bukan orang lain, sudah kewajiban Ay."mencoba mendekati Laura perlahan-lahan.


Berjalan mundur menjauh"Tapi aku belum siap, kenal juga kagak."wajah ketakutan terlihat di sana.


Renggra berhenti dan berbalik arah"Ya sudah, gantilah pakaianmu dan cepat keluar tidur bersama. Kalau tak menurut, terimalah resikonya."keluar meninggalkan Laura.


Tarikkan nafas panjang"Rasanya jantungku mau copot, sebentar lagi. Ngerinya main peluk aja. Dasar laki-laki mesum."ucap batin.


Mengusap tubuhnya dengan melihat ruangan itu seperti toko pakaian, yang berjejer rapi di gantung lemari dinding, dan berbagai aksesoris di meja yang di tutupi kaca.


Mengingat ancaman Renggra, Laura mempercepat mengganti pakaiannya.

__ADS_1


Selanjutnya~>Chapter 8


__ADS_2