Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 11


__ADS_3

Malam semakin Larut, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Renggra belum juga pulang.


Hati Laura merasa resah, pekerjaan apa yang membuat suaminya pulang malam?


Bukanya hijab, dan berbaring di tempat tidur. Menunggu kepulangan Renggra, tak lama mata itu mengantuk dan tertidur pulas.


Besok adalah hari yang baru, wajib harus di jalaninya, fikiran Laura perlahan terbuka. Keyakinan atas cobaan ini, ternyata tuhan memberikan jodoh yang baik atas usahanya menjaga diri.


Larutnya Renggra pulang, melihat istrinya tak berhijab dan tidur pulas menggunakan selimut tebal menutupinya.


Leher yang jenjang, rambut yang terurai membuat Renggra terpana dengan ke cantikan asli sang istri.


Merasa tuhan memberikan bidadari dari langit, sesempurna itu Allah ciptakan.


Telah sadar menatap lama Laura, Renggra langsung pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai memakai pakai, mengambil bantal meletakkannya di sofa.


"Mas, udah pulang?"suara pelan yang tiba memanggilnya.


Menoleh Laura dengan berbaring"Eemmm, maaf ya Ay. Pekerjaanku banyak, besok mau ambil cuti. Ngajak kamu jalan-jalan."lesunya mata menahan lelah.


Perasaan sedih, melihat Renggra mahan letihnya saat kerja. Apalagi besok, Ia berupaya cuti kerja demi dirinya.


Tiduran di kursi sofa dengan meringkuk, membuat Laura makin merasa sedih"Mas, mau tidur di sampingku?"tepuknya tempat tidur"Kamu, kan capek Mas, tidur di tempat yang sempit, pasti nggak nyaman."memberanikan diri medekati sang suami.


Renggra terkejut, atas perubahan Laura,"Yakin, boleh. Ay?"duduknya segera.


Menganggukkan kepala, pernyataan boleh tidur bersama.


Renggra tersenyum langsung saja pindah ke ranjang"Selamat malam, Ay."mumunggungi Laura.


Laura jelas gemetar menahan tekanan ini, dadanya berdegup lebih cepat. Ia pun menyelimuti Renggra, dan tidur memunggunginya.


Renggra penasaran dengan sikap yang berubah secepat itu, apa hatinya sudah mulai terbuka? Peluk Renggra dari belakang,"Kayak gini, boleh ya, Ay. Mengisi daya baterai, yang habis di gunakan seharian."penasaran apa yang akan terjadi?


Menganggukkan kepala"Eemmm!"dengan tubuh yang gemetar, bak dirinya bantal guling sangking pendeknya.


"Ay, kamu takut ya?"getarannya terasa di tubuh Renggra.


"Ma.maklumlah, Mas."peluknya batal guling.


Semakin mengerati pelukkan"Nggak di apa-apain, kok Ay. Cuman mintak peluk aja."senangnya dengan perubahan Laura.


Mungkin dengan kejadian tadi pagi, membuat wanita ini berubah dengan cepat.


"Eemmm, iya Mas."menahan debaran di dada dan tubuh yang gemetar.

__ADS_1


Wangi yang khas dari tubuh Laura membuat Renggra nyaman, tidurnya terlelap begitu cepat.


Renggra tak mau melakukan kebodohan yang lainnya, sebelum izin itu keluar dari mulut sang istri.


Lambat Laun, mata Laura ikut terpejam dan terlelap dalam pelukan Renggra.


***


Seperti biasa Renggra bangun duluan untuk shalat tahajud dan membaca Al-Qur'an.


Laura yang tak sadar tidur begitu lelap, merasa nyaman dengan ke adaan serta lantunan ayat suci Al-Qur'an membuat dirinya lebih tenang.


Azan berkumandang, Renggra segerah menutup kitab tersebut. Membangunkan Laura untuk kembali mengajaknya shalat.


"Ay, bangun. Shalat yuk. Nanti sambung lagi."mengusap kepala.


Laura dengan nurutnya terbangun dan mengambil wudhu.


Shalat pun di laksanakan, sehabis shalat seperti biasa Renggra berdoa dan meniup ubun-ubun kepala istri. Kali ini mencium kedua mata serta keningnya.


Laura hanya diam terpenjam, mungkin masih bawaan mengantuk fikir Renggra padahal tidak, Laura mencoba membuka hatinya untuk sang suami, walaupun perasaan takut itu masih menggebu-gebu.


"Ay, kamu masih ngantuk?"penasaran dengan perubahan Laura.


"Eemmm.."padahal menahan malu, karena malunya terlalu tinggi untuk di musnakan itu sulit di lakukan.


Laura membuka matanya pelan,"Biar aku aja Mas,"pura-pura menahan kantuk.


Ambilnya peralatan shalat, di tangan Renggra. Serta punyanya untuk di letakkan di ruang pakaian.


Renggra terus merasa aneh dengan perubahan Laura, Ia pun mengetes sesuatu yang membuatnya yakin.


Kembali guling di atas ranjang menunggu Laura keluar, tak lama Laura berjalan dan langsung tidur di dekat Renggra dengan memunggung"Ay..."ucap pelan.


"Eemmm."perasan yang mulai tenang dengan memejamkan mata.


Peluk Renggra kembali, dagunya menyentuh leher Laura. Sontak desiran aliran darah mengalir begitu cepat, serta menahan rasa takut"Mau ibadah nggak, Ay?"pancingnya.


Laura hanya diam, pura-pura tidur, mengerti maksud suaminya. Dalam hal itu, Laura masih belum bisa melakukannya, rasa takut yang mencengkam, membuatnya lupa dengan kaudrat sebagai istri.


"Ay.."panggilnya lagi.


Laura masih tak menyahut"Udah tidur, ternyata."ucap batin.


Renggra merasa Laura masih belum menerima, atau benar merasa masih belum sadar.


Matinya lampu kamar, karena ingin melanjutkan tidur. Mulai hari ini dirinya ambil cuti, karena ingin membawah pacar halalnya jalan-jalan dan menginap di villa.

__ADS_1


Agar Laura dapat menjalani rumah tangga yang sesungguhnya, berdua saja.


Mentari telah terbit, menyinari kedua pasutri tersebut.


Posisi Laura tidur di tangan dan memeluk Renggra yang tidur terlentang, seperti memeluk bantal guling.


Renggra membuka mata pelan, melihat hari sudah pagi, di luar jendela di tutupi kain tipis. Ingin rasanya bangun, ternyata Laura memeluknya.


Rasa lemak yang banyak menempel di dada, membuat Renggra meneguk saliva. Menahan sesuatu yang ingin meluap di atas ubun-ubun kepala, area sensitif berdiri dengan luasa, tepat di bawah kaki Laura.


Menahan hasrat begitu berat, ingin di tumpah tapi tak bisa. Dirinya berusaha menahan dengan kembali mengucap istighfar"Ya Allah, aku ridho sampai istriku memberikannya, ampunilah dosa istriku."ucap batin.


Tak lama Laura bangun merasa, ada yang menganjal seperti kayu yang tak panjang juga tak kecil samar-samar.


Mata Laura sesekali berkedip, akibat cahaya mentari. Ia tersadar telah memeluk Renggra dan melihatnya"Ma.Maaf, Mas."mata mereka yang saling bertatapan, langsung terduduknya Laura.


Senyum Renggra"Nggak papa, Ay. Santai aja. Akukan suamimu, mahrammu. Halal kita bersentuhan, Ay."sebatas ini saja rasa senang, ada kemajuan dikit demi sedikit dalam hubungan mereka.


Mata Laura tak sengaja melihat ke arah bawah, terkejutnya melihat sesuatu yang berdiri. Nafasnya naik turun, ketakutannya terlihat jelas"Besar banget,"ucap batin.


Dengan cepat mengalihkan pandangan dengan beranjak dari ranjang"Aku mau mandi, Ay. Udah siang."jalanya ke kamar mandi.


Mengeryitkan kening"Jangan-jangan,"ucap batin, memeriksa tubuh yang tak terjadi apa-apa.Takutnya datang kembali.


"Ya Allah, ampunilah aku."batin kembali berucap.


Mengguyur kepala dengan aliran air yang keluar dari shower"Begini rasanya menahan luapan nafsu."menarik nafas"Apa yang di fikirannya, pasti ketakutan lagi."ucap batin, merasa bersalah padahal bukan salahnya.


Seperti biasa Renggra keluar dari kamar mandi, menggunakan handuk batas pinggang.


Laura yang melihat mulai takut, namun di tahan"Harus terbiasa, Ra. Dia suamimu."ucap batin.


"Kenapa, Ay?"lihatnya ke arah Laura yang melamun.


"Nggak papa, Mas. Namanya juga bangun tidur, masih kebawah mimpi."ucap santai.


Renggra merasa Laura, berubah sikap. Biasanya menjerit melihatnya menggunakan handuk. Gelengnya kepala, mungkin masih belum sadar. Lanjut berjalan ke ruang pakaian.


Laura langsung ke kamar mandi,"Apa yang barusan aku lakukan, bener nggak ya?"jantungnya memopa begitu cepat"Kenapa, dadaku berdebar-debar begini? Apa, aku mulai... udah ah mandi."tepisnya yang merasa ini masih dalam proses.


Renggra seperti biasa, menunggu Laura di kursi sofa dengan memainkan handphone.


Laura yang lupa pakaian gantinya di bawah merasa panik, keluar takut di lihat kembali Renggra. Tariknya nafas panjang"Ra, kamu tuh istrinya. Sampai kapan takut berlebihan begini, kan udah janji jadi istri shalihah?"mondar mandir di bilik kamar mandi, menggigit jari"Aku menjaga diri untuk suamiku, maka aku harus ikhlas."ucap batin kembali dengan tarikkan nafas panjang.


Keluarnya pelan, berjalan ke ruang pakaian.


Renggra yang melihat Laura merasa lebih aneh"Biasanya Lari, seperti di kejar hantu. Ini kenapa santai aja, aku di sini?"ucap batin dengan kerutan alis.

__ADS_1


Selanjutnya ~> Chapter 12


__ADS_2