Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 44


__ADS_3

Cuil sedikit pundak Aditya"Apa kamu, baik-baik saja?"rasa takut melihat Aditya hanya menatapi langit-langit rumah sakit.


Kedip mata Aditya, mendengar suara Laura. Namun tak menjawab, rasa malu dan kecewa pada diri sendiri membuatnya enggan berbicara.


Kerut alis Laura, merasa bingung kenapa laki-laki itu hanya diam saja, apa mungkin mengalami penyakit serius? Berdiri melihat pintu masuk, inginnya memanggil seseorang di luar, agar bisa memeriksa ke adaan laki-laki tersebut. Siapa tahu, Ia merasakan sakit di tubuhnya, ingin berkata namun tak dapat berbicara.


Ingin berjalan, Aditya langsung meraih tangan Laura. Ia tahu Laura ingin keluar memanggil seseorang, namun keadaan mereka yang belum tahu di luar sedang terjadi apa? Entah dirinya tertangkap atau di bawah kabur seseorang.


Aditya ingin memastikannya dulu, sebelum melakukan tindakan lainnya.


Toleh Laura"Ada apa?"Aditya melepaskan tangan Laura senyumnya.


"Jangan keluar,"lirihnya pelan"Mungkin, saja sebentar lagi ada yang datang, kita tunggu saja."lihat kondisi Laura yang sudah bisa berdiri dan berjalan"Gimana keadaamu?"ingin tahu apa Laura baik-baik saja?


Mendengar perkataan lelaki itu, Laura kembali duduk"Eemmm,"sahutnya yang merasa kurang nyaman bersentuhan dengan laki-laki"Aku, baik-baik saja! Gimana kalau kamu?"kembali memastikan lelaki itu dalam keadaan yang baik.


Senyum Aditya, merasa senang bisa berkomunikasi lagi dengan Laura"Aku sama sepertimu,"jawab singkat tak mau menjelaskan bahwa dirinya masih kurang nyaman.


Masuk dua dokter dan dua perawat ke dalam ruangan.


"Selamat pagi Tuan dan Nona, kalian telah siuman."dua perawat mendekati Laura"Mari kita berbaring kembali ke tempat tidur Nona, dokter ingin memeriksa kembali keadaanmu."ajaknya berdiri kembali.


Angguk Laura mengikuti arahan.


Dokter laki-laki memeriksa Aditya dan Dokter perempuan yang masih mudah memeriksa keadaan Laura.


"Kami akan memberikan hasilnya nanti."ucap salah satu dokter yang usai memeriksa keadaan mereka.


Aditya dan Laura hanya menganggukkan kepala. Mereka pergi meninggalkan ruangan.


Tak lama dua orang masuk dengan berpakaian rapi berjas hitam, tinggi, putih, salah satu dari mereka membawah Map tebal dan berkaca mata mendekati Aditya.


Senyum Aditya melihat pengawal sekaligus sahabat karibnya"Apa kabar Dit?"berdiri di hadapan Aditya yang sudah bisa duduk mandiri.

__ADS_1


"Kabarku baik-baik saja,"mengedipkan mata memberi kode, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi?


Senyum Bagas yang mengerti maksud Aditya"Kamu di suruh dokter, pindah ruangan untuk pemeriksaan di bagian lain."ajaknya pindah tempat, agar Laura tak mendengar.


Angguk Aditya, toleh ke Laura"Aku ke tempat lain dulu, kamu tunggu saja di sini. Nanti ku jelaskan kenapa kita bisa di sini?"memberikan arahan agar Laura tak bertanya dalam dirinya, kenapa mereka bisa berada di rumah sakit?


Angguk Laura"Eemmm!"mengerti bahwa kesehatan laki-laki itu lebih penting dari pada harus menanyakan tengah apa yang terjadi?


Menyerahkan Map ke Aditya saat mereka pindah ke ruangan lain"Kau lihat saja dulu, nanti ku jelaskan."


Lihatnya foto-foto tempat kejadian yang menewaskan beberapa orang termasuk Pak Septo yang telah di kebumikan, sedangkan Renggra dan lainnya selamat. Rasa legah akhirnya musuh bebuyutan itu selamat walaupun dalam persaingan mereka sering lakukan, Aditya masih tak tega jika melakukan hal jahat lainnya.


Baginya sudah cukup, pelajaran yang Ia terimah. Masih hidup saja, suatu hal keberuntungan mungkin tuhan memberikan kesempatan kedua.


Lihat juga foto Renggra yang sedang menangis sedang memakamkan seseorang. Toleh ke Bagas memperlihat foto itu nyambil menaiki alis, kodenya untuk memperjelas apa yang terjadi?


Senyum Bagas"Pada malam itu, aku dan lainnya. Menyobek-nyobek baju kamu dan Laura itu sedikit, juga membawah jasad wanita lain ke sana yang tanpa identitas sama akibat ke bakaran, bentuk dan rupa tak bisa di kenali. Kami letakkan sobekan itu di bagian tubuh mereka."gesitnya melakukan perkerjaan.


Tunjuk foto di tangan Aditya"Jadi, Renggra tak tahu. Laura masih hidup?"


Aditya hanya bisa terdiam bingung dengan keadaan yang berubah drastis.


Bagas kembali melanjutkan penjelasan"Dit identitas Laura juga sudah aku ganti bernama Eyrin tempat tinggal dan lainnya kamu lihat saja di Map itu. Dia lupa ingatan, akibat benturan di kepala saat kamu menyelamatkan Laura. Kalian sama-sama jatuh ke lantai, lepas tak sadarkan diri sampai sekarang, sudah tiga hari. Masih untung kamu tak lupa ingatan juga. Dit semua kami lakukan demi ke bahagianmu, bukalah lembaran baru. Sudah cukup kamu menderita."mereka yang tahu jelas cerita hidup Aditya dan selalu mendukung demi kebahagiaan sahabatnya itu, terutama mendapatkan wanita yang di cintai agar benar-benar berubah.


Senyum Aditya"Eeemm, terimakasih kamu telah melakukan ini padaku, aku berhutang budi padamu."senangnya ternyata ada jalan lain menempuh hidup baru.


Angguk Bagas dengan tersenyum"Tak ada balas budi di antara kita Dit, malahan kamu yang lebih banyak membantu kami. Ini semua bukan apa-apa."


"Eeemmm!"ternyata berbuat baik pada orang lain, cukup menyenangkan hatinya.


Aditya berfikir sejenak, awal yang baru untuk mendekati Laura, mungkin ke depannya tak ada pengganggu kecuali Renggra menyadarinya.


Jika suatu saat nanti Renggra tahu, kali ini Aditya hanya bersaing mendapatkan Laura seadanya. Tak seperti dulu yang menggebu-menggebu, sadar telah melakukan ke salahan besar. Jika Laura memang mengingat masa lalunya secara perlahan, Aditya hanya bisa membuka jalan, terserah Laura memilih dirinya atau kehidupan masa lalunya.

__ADS_1


Masuk kembali ke dalam ruangan, Bagas dan lainnya pamit pergi.


Toleh Laura yang hanya diam, ingin mendengar penjelasan dari Aditya.


Senyum Aditya yang duduk di tempat tidur"Aku bersyukur kita masih selamat."mulainya bercerita.


Mengedipkan sesekali kelopak mata"Emang, apa yang terjadi sama kita?"ingin tahunya.


Senyum Aditya melihat kain tebal menutupi kakinya, tak sanggup melihat wajah Laura saat berbicara"Kita mengalami kecelakaan,"tak menjelaskan kecelakaan apa?"Tadi itu orang-orangku salah satu dari mereka sahabatku."memainkan jari-jari bingungnya mau menjelaskan dari mana dulu, mungkin banyak kebohongan yang tersirat agar awal yang baru itu berjalan dengan baik.


Kedepannya Aditya hanya bisa pasrah dengan keadaan.


Laura masih melihat ke arah Aditya"Hubungan kamu dan Aku apa?"tanda lupa dengan kehidupannya.


Aditya tersenyum"Kita! Kita!"ragu ingin berkata bohong lagi.


Menaikkan alis"Eemmm, kita apa?"


Toleh ke Laura"Kita ini sudah bertunangan dari kecil, waktu kita di tinggalkan orang tua meninggal saat masih anak-anak."hembusnya nafas merasa ini membingungkan.


"Maksudmu?"belum mengerti apa yang di katakan Aditya?


Senyum Aditya kembali"Kamu dan aku sudah bertunangan Ey."


Renyit kening Laura"Siapa Ey?"tanyanya lagi.


Tunjuk dengan jari ke arah Laura"Kamu!"Aditya ingin memastikan, apa benar Laura melupakan semuanya?


Tangan Laura membentang di dadanya"Aku Ey."


Angguk Aditya"Eemmm, namamu Eyrin!"


Mengeryitkan kening"Eyrin,"ucap batin. Liriknya sana sini, mencari sebuah jawaban di otaknya. Tak satupun yang muncul gambaran apa pun, tantang dirinya.

__ADS_1


Selanjutnya~>Chapter 45


__ADS_2