Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 49


__ADS_3

Berhentinya mobil di tengah hotel berbintang lima, menurunkan kaki yang menggunakan high heel, berpakaian dress ungu panjang dan hijab pashmina ungu muda. Langkah kaki Laura masuk ke dalam ruangan.


Berbincang seadanya dengan temuan teman kerja, Amel yang datang melihat Laura telah hadir segera menghampiri.


"Selamat malam."sapanya ketika berada di sebelah kanan Laura.


Toleh Laura mendengar suara wanita yang memanggilnya"Selamat malam."sahutnya dengan tersenyum.


Mereka berdua bersalaman.


"Gimana kabar anda?"tanyanya.


"Alhamdulillah baik, kalau Ibu Amel apa kabarnya?"tanyanya kembali.


Senyum Amel"Alhamdulillah baik juga."


Pelayan datang membawah minuman ke arah Amel dan Laura.


Ambil segelas minuman berisi Jus Apel Laura pegang, sedangkan Amel mengambil Jus Mangga.


"Mari kita minum duduk di sebelah sana."mengajak Laura duduk di ujung koridor yang telah sediah meja makan khusus tamu.


Angguk Laura dengan wajah yang tersenyum.


"Mari di minum Jusnya."usai duduk di kursi dan meminum Jus buah.


Laura mengangguk, meminum sedikit Jus buah.


"Ayo cicipi juga makanan di sini."tunjuk ke meja makan.


Angguk Laura kembali dengan tersenyum,


"Eyrin,"memanggil nama palsu Laura"Kamu mau menginap di sini, cobalah."menyerahkan kartu kamar VVIP"Gratis, dengan pelayanan yang cukup baik."senyumnya.


Menggelengkan kepala"Nggak perlu Mel, lain kali aja."menolak dengan rasa canggung.


"Ayolah kapan lagi. Anggap saja ini tanda pertemanan kita."paksanya yang tau Laura akan menolak.


"Teman!"lirihnya yang merasa hati itu senang ada juga orang yang menganggapnya teman. Selama ini hanya Aditya teman satu-satunya. Ada juga yang mengajaknya berteman hanya mendekati Laura yang memiliki kekayaan.


Angguk Amel"Eeemmm,"senyumnya paham.


Senyum Laura"Baiklah, terimakasih."menerima tawaran Amel. Ambilnya kartu itu memasukkan ke dalam tas kecil yang di bawah.


Laura fikir, mungkin kali ini Ia benar-benar mendapatkan teman yang tulus selain Aditya. Melihat kondisi Amel yang tak kurang dari segi apapun.


"Sama-sama,"tersenyum kembali, merasa senang Laura mau menerima tawarannya.


Amel menghabiskan segelas Jus"Mel!"suara pekikan seorang wanita tak jauh darinya.


Toleh Amel"Iya Bu tunggu, sebentar."melihat lagi ke arah Laura"Aku ke sana dulu, ada Ibu asuhku memanggil."senyumnya.

__ADS_1


"Iya silahkan,"


Amel berdiri meninggalkan Laura di meja makan, menemui Bu Ani yang memanggil dengan membawah Musa di sampingnya.


Laura mengedipkan sesekali mata, memperlihatkan kebahagiaan Amel bisa secepat itu memiliki anak. Wanita karir yang bisa melakukan apa saja.


Hembuskan nafas panjang liriknya kembali ke meja makan, mengambil steak menyuapi ke dalam mulut.


Rasa hati yang teramat sedih, kegalauan merasuki fikiran membuat Laura hanya menyantap makanan, tibanya berhenti air mata membendung. Rasa hati yang di rasuki jiwa kesedihan itu memuncak, sapunya dengan tisu sebelum air mata mengalir.


Kapan sebenarnya Aditya akan mengajaknya menikah? Membuat fikirannya semakin tak karuan.


Pusing itu semerebak di kepala Laura, mungkin malam ini benarnya menginap di hotel berbintang dengan kamar yang sudah di sediakan.


Meninggalkan sesaat kenangan bersama Aditya, mungkin dengan bermalam di sana suasana hati yang menggebu-gebu itu akan redah.


Takut nanti bertemu Aditya dirumah malah membuat kekacauan di antara mereka.


Menghampiri pelayan di kasir, menanyakan letak kamar tersebut.


Tunjuk pelayan ke arah dinding, yang berbentuk peta lokasi Hotel.


Senyum Laura telah mengerti keberadaan kamar tersebut.


Berjalan menaiki lift, tibanya tubuh itu terasa panas, keringat yang mengalir di sela-sela jilbab.


Nafas yang tak beraturan membuat Laura bingung, apa yang di rasakannya itu?


Life berhenti membuka jalan, cobanya mengedipkan mata fokus mencari kamar yang di tunjukkan oleh pelayan.


Berjalan harus profesional dalam keadaan apapun, jangan sampai dirinya di lihat orang lain berperilaku tak baik. Mencoreng nama perusahaan dan membuat malu Aditya.


Cepatnya mengambil kartu di dalam tas, setelah menemui kamar itu.


Melihat suasana kamar yang berbayang, indah saat di pandang, juga membuat nyaman.


Nafsu itu membuatnya tak tahan, nafas yang tersengal-sengal. Perasaan yang campur aduk, melepaskan hijab yang terpasang.


Menaiki tempat tidur inginnya segera istirahat mungkin dengan itu dirinya bisa sadar kembali.


Melihat bayangan laki-laki di sampingnya, sedang tertidur pulas ternyata Renggra.


Peluk Laura dari belakang, fikiran Laura, laki-laki itu adalah Aditya. Gaya potongan rambut hampir sama. Namun wajah yang berbayang tak jelas akibat kepala yang pusing dan lampu kuning sedikit redup.


Balik Renggra terkejut Laura memeluknya.


"Ay, kamu datang ke sini?"langsung memeluk Laura dengan perasaan bahagia. Rindu tak tertahan, akhirnya bisa di curahkan.


Tak menyangka Laura tiba-tiba hadir di hadapannya.


Pendengaran Laura panggilan Ay itu adalah Ey,"Iya bang, tolong aku."lirihnya menahan gairah.

__ADS_1


"Kenapa, Ay?"rasa panik.


Laura melepaskan pelukan Renggra dan membuka pakaiannya satu-persatu.


"Ay!"tak tahu apa yang membuat Laura tibanya membuka pakaian di hadapannya?


"Aku tak tahan lagi bang, kitakan sudah bertunangan."asal ucap yang tak sanggup menahan gairah.


Mengernyitkan kening"Tunangan,"ucap batin,


Sadarnya secara spontan mungkin ini rencana Angga, Bu Ani, dan Amel yang menyusun strategi ini semua.


Senyum Renggra yang masuk kedua kali dalam perangkap mereka, senang campur haru pertemuannya dengan Laura sekian kali harus di awali dengan malam yang penuh sensasi.


Fikir Renggra kembali, apa dari maksud tunangan yang di ucapkan Laura? Apa jangan-jangan Laura akan menikah sebentar lagi? Namun semua tak akan Sah, jika status Laura masih istrinya.


Senyum sinis"Semua tak akan terjadi. Laura hanya milikku."batin kembali berucap.


Laura telah usai membuka semua atasnya, memegang pundak Laura"Bang!"lirihnya tanpa sadar.


Renggra tersadar, mengedipkan mata melihat Laura yang sudah tak sehelai pun tertutupi kain bagian atas.


Ubun-ubun kepala Renggra rasa ingin meluap, nafsunya memuncak melihat tubuh sang istri yang semakin indah di pandang, gejolak yang selama ini tak pernah ia rasakan lagi, akhirnya keluar begitu saja.


"Aku bantu, Ay."mencium bibir Laura.


Suasana yang penuh dengan segala macam sensasi itu, membuat kemahiran Renggra dalam urusan ibadahnya selama ini. Membuat Laura ikut terhanyut dalam tenggelamnya air yang mengalir.


Kenikmatan yang tak pernah Laura rasakan selama ini, akhirnya bisa tertumpahkan"Aku mencintaimu."lirihnya.


Setelah Renggra terus-menerus menggerayangi tubuh yang mulus itu.


"Aku juga mencintaimu, Ay."bisik di telinga Laura.


Laura melepaskan pakaian Renggra satu persatu,"Ayolah bang."ajaknya yang tak sadar, nafsunya semakin memuncak.


Renggra sempatnya menutupi tubuh mereka berdua menggunakan kain tebal, fikir Renggra beginilah rasa Laura saat itu, mengikuti dirinya yang terpengaruh obat bius.


Entah saat itu dalam kondisi seperti apa? Namun melihat reaksi Laura, seperti singa betina yang ingin kawin. Tersenyum Renggra, sadarnya ganas di atas ranjang yang elastis.


"Ay, siap ya?"bisiknya kembali.


Angguk Laura yang memeluk erat tubuh Renggra.


Laura merasakan nafas yang tak beraturan, sensasi kenikmatan itu sungguh membuatnya hilang akal dan fikiran.


Kegilaan Laura membuat Renggra tak bisa mengikuti secara baik-baik dalam senggama. Hanya bisa pasrah Laura melakukan sesukanya seperti bukan Laura yang dulu.


Senang Renggra, menikmati permainan adu gelut dalam selimut yang tebal. Penuh dengan hawa nafsu yang memuncak.


Selanjutnya~>Chapter 50

__ADS_1


__ADS_2