
Berjalan kaki sepanjang hari membuat tubuh merasa lelah, mungkin diri yang jarang berolahraga membuat tubuh mudah sakit.
Membuka pintu masuk ke bilik apartemen, melepaskan sendal.
Membulatkan mata, melihat suaminya telah berada di rumah dengan duduk santai menonton televisi, bak dirinya yang mempunyai rumah.
Menunjuk"Ba.Bagaima kamu masuk?"perasaan pintu terkunci dengan baik, lagian tak seorang pun yang tahu kuncinya termasuk Aditya.
Senyumnya"Kamu lupa, Ay. Suamimu siapa?"
Menghebuskan nafas panjang"Aku nggak tau siapa kamu. Pulanglah."sadar dengan status suaminya yang bisa melakukan apapun.
Berjalan pelan ke bilik kamar rasa tubuh ini semakin letih.
Berhenti langkah kaki mencium aroma sedap di hidung. Menoleh ke atas meja, benar suaminya memasak lagi.
Berjalan mendekati"Makan dulu, Ay. Kamu pasti laper."
Menoleh ke Renggra yang sudah dekat di belakangnya"Nanti, aku tak lapar."kembali berjalan, menahan perut yang menari-nari.
Krruuukk!
Senyumnya kembali"Jangan di tahan, Ay."
Menahan malu, memejamkan mata berbalik kembali berjalan ke meja makan. Mau tak mau dirinya harus makan.
"Mas, yang belanja?"usai duduk di kursi, puranya tak tahu dengan cara basa basi.
Menganggukkan kepala, duduknya di kursi"Eemmm, Mas lihat semuanya kosong, termasuk kamu. Kamu dari mana, Ay?"menyelidiki, tak mau istrinya berjalan dengan lelaki lain.
"Berkencan."jawab lantang, ingin melihat respon suaminya nyambil menyuap sesendok nasi"Mas, nggak makan?"melihat banyaknya makanan.
Menggelengkan kepala"Nggak nafsu, Ay?"wajah yang merenggut, rasa cemburu meluap.
Mengedipkan mata"Tumben nggak nafsu, lagi banyak fikiran ya?"senyumnya.
Menganggukkan kepala"Eeemmm, kefikiran kamu nanti di ambil orang."
Tersedak, mendengar gombalan suaminya.
Langsung mendekati Laura, dengan menepuk pundaknya"Ay, nggak papa, kan? Makan dulu, baru ngomong."rasa khawatir, mengambil segelas air putih "Minumlah dulu, Ay."menyerahkan.
Laura langsung meminumnya, rasa hati yang sangat senang melihat perhatian suami yang selalu sigap.
"Ekhem, makasih."meletakkan.
__ADS_1
Menganggukkan kepala"Eemmm,"duduk kembali.
Melihat Renggra"Makanlah, jangan hanya melihatku. Tadi aku hanya bercanda,"jujurnya.
Senyumnya merasa senang"Jawab dulu, dari mana Ay?"terus menyelidiki.
"Jalan sama tamen yang jelas wanita. Dia butuh teman curhat."kembali menyuapi makanan.
Meneguk Saliva"Eemmm, iya Mas percaya."senyumnya dengan hati legah"Suapi, Ay."mendekati wajahnya.
Mengangkat sendok"Makan sendiri, kalau mau makan."merasa malu, masa bekasnya harus di beri ke orang lain. Walaupun itu suaminya sendiri, alangkah tak sopannya.
Menghebuskan nafas, berdiri mengambil piring"Iya sayang."lirihnya.
DEG!
Rasa hati yang berdegup dengan kencang, mendengar perkataan yang tak pernah di dengar. Seromantis itukah dirinya.
Pura mengalihkan pandangan ke ruang dapur, melihat bekas masakan masih belum di cuci.
"Nanti, biar aku aja Mas yang nyuci. Kamu boleh pulang setelah ini."menguji sampai mana pengejaran suaminya itu.
Renggra hanya diam, tanpa merespon.
Meneguk makanan, rasa aneh melihat wajah yang datar. Tanpa ekspresi itu. Apa dirinya sedang marah atau tersinggung langsung di suruh pulang?
Masih diam mengunyah makanan.
Menghebuskan nafas panjang, apa dirinya salah bicara?
Mempercepat makan, berdiri membawah piring kotor ke dapur. Terserah dirinya mau apa, nanti bicara malah salah lagi.
Lanjutnya mencuci piring setelah memakai celemek, Renggra meletakkan piring langsung memeluk Laura dari belakang.
Berhenti menggosok piring.
"Diam, seperti ini aja, Ay. Bentar."bisiknya di telinga Laura, rasa rindu yang tak mau jauh-jauh lagi dengan sang istri.
Cukup memeluknya saja sebentar mungkin itu akan hilang.
Dada yang semakin memopa begitu kencang, bingung harus melakukan apa? Dirinya yang tak pernah berpelukan dengan orang lain, rasa yang tak tahu seperti apa dulu.
Membuat diri yang mematung.
Dagu yang berada di atas kepala, tangan yang melingkar di perut ramping itu, membuat Renggra enggan melepaskannya.
__ADS_1
Entah kenapa setelah sadar, istrinya hanya diam tanpa berontak. Apa dirinya juga terbuai dengan suasana? Senyuman yang di lontarkan oleh Renggra, tunggu Laura minta di lepas baru dirinya lepas.
Menghembuskan nafas panjang, kaki yang terasa pegal, tangan yang mungkin sudah keriput. Suaminya itu tak kunjung melepaskan, teriang dengan ucapan Merisa menahan sesuatu selama enam tahun.
Membuat tubuh Laura gemetar, mengingat kembali dirinya tidur dengan sang suami.
Tapi sisi lain, tubuh yang entah merasakan sesuatu gairah yang bermunculan.
Apa ini di sebut, nafsu syahwat saat berduaan dengan lawan jenis? Bisa jadi ketiganya syaitan.
Dirinya yang sadar berstatus istrinya. Jika tiba meminta. Diri yang tak bisa menolak, bisa apa? Selain menyerahkan. Seandai di tolak, dosa besar menghampiri.
Meneguk Saliva, mencoba memecahkan suasana"Ma.Mas udah belum? Kakiku keram dan tanganku keriput."
Melepaskan pelukan, berjalan ke ruang tengah tanpa berkata apa pun.
Laura hanya bisa mengeruti alis, hati yang bertanya-tanya ada apa dengan suaminya itu?
Main peluk, meminta lepas dirinya main pergi tanpa berkata apa-apa.
Renggra sebagai lelaki normal, memeluk sang istri tak bisa di pungkiri nafsu syahwatnya berkembang. Ingin rasa mengangkatnya ke bilik kamar menuai apa yang di rasa.
Namun sadar dengan tubuh Laura yang gemetar, ingat pada saat pertama kali memeluk sang istri. Diri yang menyatakan takut itu, tak bisa berkata banyak.
Mendengar suara Laura menyuruhnya lepas, hanya bisa menarik nafas tanpa berkata dahulu nyambil mengucap istighfar di dalam batin.
Mengalihkan pandangan dan syahwat tersebut, agar tak berkembang lagi seperti bunga yang bermekaran.
Waktu bergulir, Laura telah usai mencuci piring. Melepaskan celemek yang di gunakan, berjalan pelan melihat Renggra yang tidur pulas terguling di kursi sofa.
Senyumnya mendekati secara pelan-pelan, duduk di lantai memandangi wajah yang tampan itu, dengan hidung mancung"Letih ya, Mas. Maaf jika aku tak bisa mengakui semuanya."ucap batin, ingin menyentuh garis hidung yang mancungnya tak terbilang.
Renggra terbangun langsung manarik Laura ke kursi sofa. Tanpa sadar tubuh Laura ikut terbawah dengan tarikan kuat suaminya itu.
Mencium leher, tangan yang meraba kemana-mana. Dengan hati yang berdebar-debar, bingung harus melakukan apa? Takut yang semerebak, ingin meronta namun tak mungkin.
Dirinya hanya bisa menahan kuat pegangan Renggra. Tiba memegang dadanya, tak tahu kenapa rasa yang aneh menjalar menjadi sebuah ke nikmatan dari permainan suaminya itu.
Nafas Renggra yang terengah-engah, sadarnya saat melihat wajah sang istri memerah dengan tangannya yang memegang wadah air susu buat debay.
Meneguk Saliva, ingin di lanjuti namun melihat respon Laura menahan getaran ketakutan, dengan mata yang terpejam. Membuatnya langsung melepaskan dengan cepat, duduk kembali di kursi sofa.
Rasa takut Laura akan marah kali ini, terlanjur sudah. Ingin mendapatkan secara bertahap, sekarang harus hancur kembali dengan kesadaran yang tak terkendalikan akibat menahan syahwat.
Salahnya memulai duluan, akhirnya menjadi fatal. Dirinya yang mengira tadi itu sedang bermimpi ternyata semuanya benar-benar terjadi.
__ADS_1
Selanjutnya~>Chapter 66