
Fokus Renggra ke sebuah leptop di pangkuan, dengan bersender di dinding tempat tidur.
Laura keluar dari ruang pakaian, Renggra langsung menutup leptop dan meletakkan atas meja kecil di dekatnya, melihat Laura yang masih menggunakan hijab saat di kamar.
Disanalah masih menyatakan, belum menerima Renggra sebagai suaminya.
"Kamu pakai hijab, saat tidur Ay?"menyelidiki, apa benar Laura masih singkuh.
"Kalau di rumahku enggak. Di sinikan ada kamu."ucap ketus.
Senyum tipis dengan hembusan nafas kecil, ternyata benar dugaannya"Ay, sini duduk."tepuk pelan tempat tidur.
Mengerutkan kening"Ngapain?"berdiri memegang kedua tangan.
"Aku, ingin berbicara Ay."sabar menghadapi Laura yang singkuh terhadapnya.
"Di sinikan bisa!"tak suka dekat dengan laki-laki yang belum dikenal, walaupun itu suami sahnya sendiri.
"Ay, nanti dosamu banyak loh, nggak nurut sama suami."menasehati.
Laura merasa, tekanan batin menerpa.
Paksanya duduk di ujung tempat tidur"Ada apa?"mainnya jari, menandakan gelisa.
"Ay, kita buat kesepakatan yuk."
"Eemmm, apa?"menyetujui.
"Aku, tak akan menyentuhmu. Tapi kamu harus janji, mau nurut apa kataku. Kalau tak..."menghentikan perbicaraan, agar Laura bisa memikirkan hal aneh yang membuatnya takut.
Jelas Laura merasa benar-benar khawatir saat malam pertamanya"Iya. Iya. Tapi, awas aja macem-macem."ancamnya dengan mata yang kesana kemari.
Renggra tersenyum-senyum, merasa berhasil membuat sejata ampuh pada istrinya, agar kedekatannya semakin erat"Eemmm, awal yang baik."ucap batin."melihat Laura masih ketakutan"Ay, sekarang panggil aku Mas, jangan Pak atau Kamu lagi. Nggak enak di dengar."pintanya.
"Eemmm."mengikuti ke inginannya, sebelum di perbuat yang tidak-tidak.
lirik ke Renggra sesekali,"Sekarang ngapain, Kamu, eh Pak. Duuh Mas maksudnya, duduk di kamar ini?"rasa gugup.
Terkekeh,"Inikan kamarku, Ay. Masak sudah beristri, tidurnya di luar."
Cungak dengan memuncungkan mulutnya"Tuh tadi, kan istrimu yang datang,"
Mengeryitkan kening"Yang mana?"ingat pada amel"Ohh, itu Amel Ay, adikku. Dia baru sampai dari luar kota, mendengar kakaknya menikah."merasa kecemburuan itu muncul.
Laura terdiam, merasa bersalah menudu yang bukan-bukan.
"Ay...."
"Eemmm, napa lagi?"risih selalu di ganggu terus.
__ADS_1
"Kamu, udah shalat belum, Ay?"mengingati sang istri, menyuruh shalat Isya sebelum tidur agar hati dan fikirannya tenang.
Menepuk kening"Ya Allah."bergegas mengambil wudhu, dalam hal ini dirinya benar-benar lalai. Terlalu hanyut dalam urusan duniawi dan lupa urusan akhirat.
Menggigit bibir bawah"Untung di ingatin."ucap batin.
Setelah berkeluarga, Renggra merasa bebanya akan bertambah. Terutama mengajarkan hal baik pada istri dan keturunan jika kelak tuhan memberi.
Setelah shalat dan berdoa, Laura membereskan alat sholat.
"Ay, setelah selesai, tidurlah di sini."beranjak dari tempat tidur ke sofa"Aku tidur di sini."meletakkan bantal.
"Tidurlah yang nyenyak, Ay. Selamat malam. Semoga mimpi indah."senyumnya yang berbaring memunggungi Laura.
Merasa tak nyaman, lelaki itu benar-benar menghormati dirinya. Melihat tidur di sofa, ada rasa bersalah menghampiri. Ingin mengajak tidur di sebelah atau dia yang di sofa tak masalah, toh ini kamarnya, dan lelaki itu sudah berjanji tak akan menyentuh sebelum mendapat izin.
Setelah meletakkan alat sholat di ruang pakaian, merangkak pelan dan tidur menyelimuti diri sendiri, merasa rindu terhadap rumah dan anak panti. Tak lama matanya terlelap tidur.
***
Suara lembut nan merdu, lantunan ayat suci Al-Quran, membuat Laura terbangun merasakan kedamaian dalam dirinya. Suasana yang masih malam menunjukkan pukul empat pagi, tampak Renggra yang duduk di atas sejadah nyambil mengaji.
Kenyamanan hati mendengarnya, melihat sesosok laki-laki yang sempurna, penuh dengan tanda tanya. Siapa sebenarnya Renggra? Apa pekerjaannya? Kenapa, mau di jodohkan seperti ini? Banyak sekali, pertanyaan yang ingin Laura ketahui.
Tak lama azan berkumandang terdengar dari handphone Renggra, Laura pura-pura tidur kembali. Melihat Renggra menutup kitab suci yang di bacanya.
Wajah yang tersenyum, mendekati Laura"Ay, bangun, shalat yuk."ajaknya mengusap kepala Laura.
Renggra tahu Laura pura-pura tidur, kecupnya pipi Laura agar bangun.
DEG!
Mata Laura langsung terbuka dan bangun dari tidurnya"Mas, kok main cium aja, kan udah janji nggak akan nyentuh aku."sewotnya, yang tak suka di sentuh.
"Aku nggak janji yang satu ini, kan yang lain."guraunya"Sekarang, udah bangun. Yuk shalat berjamaah."
Dengan perasaan kesal, Laura berdiri mengambil wudhu dan bersiap-siap.
Renggra merasa semakin gemas melihat tingkah Laura, yang mau tapi malu.
"ALLAHUAKBAR."ucapan yang mulai menjadi imam bagi istrinya.
Menahan haru air mata, menjadi imam. Sungguh besar kuasamu, telah memberikan hadiah terindah di saat yang tepat"Ya allah, semoga pernikahan ini, menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah."ucap batin, selepas shalat.
Berbalik ke arah Laura, mengangkat tangan menyuruhnya menyalami.
Laura masih terdiam, merasa takut menyentuh laki-laki.
"Ay, biasakan menyalami suamimu."pintahnya lagi.
__ADS_1
Laura masih diam.
Turunnya tangan Renggra"Ay, cobalah membuka hatimu untukku. Sekarang, akulah yang berhak atasmu. Akulah pemimpin serta imammu, beranikanlah sedikit demi sedikit. Jika kamu masih belum menerimanya, aku tak apa. Mungkin ini sudah jalanku."
Terenyuh hati Laura mendengar ucapan Renggra, angkatnya pelan tangan itu ingin menyalimi Renggra. Dengan tangan yang gemetar, takutnya melewati batas ambang ke hidupan. Tariknya lagi, namun Renggra langsung memegang tangan Laura, agar tak lama menunggu.
Dengan pelan-pelan menundukkan kepala, mencium punggung tangan laki-laki membuat aliran darah berdesir begitu kuat, serta jantung yang memompa begitu kencang. Setelah usai menciumnya, Laura langsung menarik tangannya.
Renggra hanya bisa tersenyum-senyum, melihat istrinya mati ketakutan, entah apa yang di fikirkannya, tangan Renggra semakin erat enggan melepaskan"Ay, coba diam. Tarik nafas panjang, lalu keluarkan agar hatimu tenang. Ingat aku suamimu. Halal kita bersentuhan."perintahnya"Kalau tak.."mencoba mengancam kembali. Agar istrinya itu menurut.
Meneguk Saliva, takut dengan ancaman yang selalu di lontarkan, dirinya langsung mengikuti dengan menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan.
Memang benar adanya, dirinya sedikit tak gugup maupun takut. Namun, tak bisa di pungkiri tangannya masih gemetar.
Masih tersenyum-senyum"Ada doa yang ingin aku bacakan. Pejamkan matamu."
Laura hanya diam dan menuruti, takut dengan ancaman suaminya itu"Ya Allah, aku ridho atas apa yang di lakukan istriku. Maka putar baliklah hantinya. Engkau maha mengetahui lagi maha mendengar."ucap batin. Mendekati kepala Laura, meniupi ubun-ubun serta mengusap-usap kedua mata Laura.
Ingin sekali mencium kening, tapi dirinya tak mau membuat istrinya marah. Hati yang beku suatu saat akan mencair, yakinnya.
"Bukalah Ay,"perintahnya kembali.
Laura merasa tenang, tak tahu apa yang sudah di doakan olehnya. Apa ini yang di sebut ridho suami atas tingkah laku istri.
"Maafkan aku yang belum bisa menerimamu, Mas."ucap batin.
"Ay, mau lanjut istirahat, atau..."berhenti bicara terus menjahili, agar fikirannya terus melayang.
Laura langsung berdiri, membereskan alat sholat"Aku mau siap-siap kerja."ingatnya kembali, kejadian kemarin.
"Kenapa Ay, kok diam?"penasaran yang tiba-tiba Laura berdiri mematung.
"Aku, telah bersuami. Semuanya telah berubah, pekerjaanku gimana?"mulai terbuka.
"Ay, duduk dulu sini."tepuknya ranjang agar lebih rileks.
Laura langsung duduk di sebelah Renggra, dengan tak sadar. Fikirnya terus fokus pada pekerjaan yang susah di dapatkan itu.
Renggra tersenyum"Ay, kamu tau nggak, Mall itu milik siapa?"
Menggelekkan kepala, menandakan tak tahu itu mall milik siapa, Ia hanya tahu Pak Bram pengusaha restoran tempat bekerja. Orangnya di siplin jika melakukan ke salahan seperti Laura kemarin, yang main pergi tanpa kabar. Pecat hukumannya.
"Eemmm, Kamu mau tau nggak Ay?"menaikkan alis, ingin memberitahu.
Menunduk dan meratapi nasib"Eemmm, nggak! Lagian, sekarang aku sudah di pecat. Itulah peraturannya."perasaan yang campur aduk, dengan linangan air mata.
Tariknya kepala Laura, menempelkan di pudaknya"Jangan sedih, Ay. Aku yang akan menafkahimu lahir dan batin."senyumnya merasa mulai menurut.
Laura tersadar"Mesum banget kamu nih Mas."menyampu air mata, yang hampir menetes dan lari ke bilik ruangan pakaian nyambil membawah alat shalat.
__ADS_1
Renggra terkekeh melihat tingkah Laura yang lucu"Gemasnya,"ucap batin.
Selanjutnya~>Chapter 9