Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 16


__ADS_3

Perasaan yang selalu menghantui, akhirnya telah terjawab. Cinta pertama dan cinta terakhir itulah yang dirasakan oleh Renggra dan Laura, semoga abadi selamanya.


Pelukan yang belum juga lepas, menenangi Laura. Mungkin bapernya itu terbawah tinggi akibat datang bulan.


Hormonal seorang wanita saat sedang datang bulan sering sekali tidak stabil, perasaannya yang naik turun membuat luapan emosi tanpa sebab.


"Mas, peluknya udah belum? Aku nggak bernafas nih."guraunya.


Renggra melepas pelukan"Udah tenang, Ay."memastikan.


Angguk Laura,


"Ay, kamu cinta nggak sama Mas? Kamu dari tadi nggak jawab, Ay."tanyanya kembali agar Laura lebih rileks.


Angguk kepala kembali"Iya, Mas."tersenyum malu.


Renggra memegang dada, kemudian terguling di lantai.


Laura yang melihat langsung merasa panik,"Mas. Mas ada apa? Dadanya sakit? Kita ke dokter ya Mas."pegangnya bahu Renggra rasa khawatir yang terlukis di sana, takut suaminya kena serangan jantung.


Tariknya nafas,"Ay, panahmu tepat sekali menusuk jantung ini."guraunya.


Nafas legah yang di rasakan, ternyata Renggra hanya bergurau"Mas, Nih. Bercandanya berlebihan."tepuk bahu Renggra.


"Aawww... Sakit, Ay."puranya sakit padahal tak ada rasa.


Duduknya kembali di depan Laura,"Kalau nggak kayak gini, kamu nangis terus."pegangnya pipi Laura.


Rengut Laura"Iya itu,kan gara-gara kamu, bikin hatiku lumer."guraunya balik,


Renggra merasa greget"Ihhh kalau nggak datang bulan, udah ku terkam kamu."guraunya lagi, agar Laura semakin tenang.


Sipitnya mata"Ihh takut tau Mas, apalagi lihat penampakan pagi-pagi waktu itu. Besar banget."ingatnya melihat area sensitif Renggra.


Renggra terkekeh mendengar perkataan Laura yang jujur,"Belum juga di rasa, udah takut. Itu juga gara-gara kamu tidur yang nempel di badan Mas,"


Laura diam dengan wajah yang merona.


"Udah, Ay kita bahas nanti aja, nunggu kamu udah selesai."merasa senang melihat Laura sudah semakin membaik.


Sipitnya kembali mata"Kodemu keras banget Mas."


Renggra terkekeh, melihat Laura yang ketakutan"Udah ah, sekarang kita buat sarapan. Biar Mas aja yang masak selama di sini, kamu nyuci piring aja."alihanya pembicaraan dengan berdiri melentangkan tangan mengajak Laura berdiri.


Angguk Laura,


Sarapan telah usai, Renggra mengajak Laura jalan-jalan di area sekitarnya.


Laura di kejutkan dengan suasana di sana,"Mas, inikan tempat panti asuhanku dulu."terpanahnya melihat sekitar telah berubah semakin indah"Mas, lihat di sana ada kebun sayuran dan buah"tunjuknya di dekat danau.

__ADS_1


Renggra memegang tangan Laura"Yuk kesana, Ay."


"Yuk, Mas"merekatkan pegangan tangan.


Renggra tersenyum-senyum, merasakan bahagia luar biasa saat berpacaran dengan yang halal. Apalagi pasangan yang di cintai itu juga mencintainya.


"Ay, asal sayur dan buah yang kau makan tadi, dari sini."pegang sayuran segar di hadapan mereka berdua.


"Segernya,"memetik buah tomat di sana.


Ambil buah tomat di tangan Laura, yang hampir di makan"Cuci dulu, Ay. Sebelum di makan."letaknya di keranjang dekat pondok.


Datanglah dua pasutri paruh baya mendekati Renggra dan Laura.


"Kamu datang berlibur, Nak?"tanya Pak maman.


Senyum Renggra,"Iya, Pak. Bulan madu sama istri."jawabnya lantang.


Bu Siti merasa terkejut, Renggra telah menikah"Kapan, nak menikah? Perasaan kemarin ke sini masih single."keponya.


"Mungkin sekitar empat hari, Bu. Ngundang seperlunya aja."sahut Renggra dengan ramah.


Mereka berdua telah di anggap Renggra seperti keluarga sendiri, tak lama gadis cantik, berwajah kebulekan datang menghampiri.


Dia bernama citra, anak semata wayang Pak maman dan Bu Siti yang sangat menyukai Renggra.


"Mas, Renggra."pekiknya dari kejauhan.


"Sayangku, kapan pulang?"


Laura hanya diam, mengernyitkan kening.


Tarik Bu Siti,"Cit main peluk aja, nggak malu apa di lihat istrinya?"marah Bu Siti, melihat gadis kecil yang meranjak dewasa memeluk laki-laki dewasa tanpa izin, apalagi telah beristri.


Bu Siti tahu anaknya tergila-gila pada Renggra. Tapi Ia tak mungkin memperbolehkan anak usia 14 tahun itu telah mulai berperilaku yang tak baik.


Di tambah Renggra adalah majikannya.


Renggra merasa biasa-biasa saja, karena telah menganggap citra sebagai adik kecilnya.


Terkejutnya citra melihat pujaan hati telah menikah"Mas, udah nikah. Kenapa nggak sama aku?"rengutnya.


Laura hanya diam menyimak, melihat anak kecil itu seperti istri Renggra.


"Iya, karena nunggu kamu kelamaan. Keburu tua"guraunya.


"Mas, tua nanti citra masih mau kok, jadi istri kedua."godanya.


Bu Siti merasa malu dengan ucapan anaknya"Sssuttt, citra kamu ngomong kok basingan. Ikut Ibu,"tariknya pulang kerumah.

__ADS_1


"Nggak mau, aku mau sama calon suamiku,"berontaknya melepaskan tangan Bu Siti.


Tibalah kesabaran Bu Siti habis.


Praakkk!


Menampar wajah putrinya itu.


Renggra dan Laura hanya bisa diam melihat Bu Siti marah pada anaknya, memang hal itu harus di ajarkan pada anak perempuan agar tak melawati batas.


Tapi tak menggunakan dengan cara kekerasan, jika anak di nasehati dengan cara lembut tak juga nurut, mungkin dengan memukulnya pelan membuat anak sadar.


Bu Siti telah habis cara, mungkin Ia menampar putrinya di depan orangnya langsung agar rasa malu itu timbul.


"Sadar Nak, dengan umurmu dan status kita."tariknya kembali pulang kerumah.


Citra hanya diam, dan nurut dengan Bu Siti akibat pukulan yang mengenai wajahnya.


"Maaf Nak Renggra dan istri, atas perilaku anak dan istri saya. Saya pamit dulu."menahan malu Pak Maman terhadap apa yang telah dilakukan oleh anak dan istrinya.


"Ay... Kamu pasti kaget ya melihat hal tadi?"merangkul di pundak Laura.


Renggra sekarang tak mintak izin lagi saat menyentuh istrinya, karena Laura telah memberikan izin sepenuhnya.


hanya tersisa satu hal yang Ia harus tahan dan belum mendapat izin, ibadah suami dan istri.


"Iya, Mas. kasian adik kecil tadi di tampar."merasa ikut sedih.


Usap kepala Laura"Ay, citra itu memang tergila-gila pada Mas, berhubung masih kecil aja."jahil Renggra yang ingin melihat respon Laura.


Lirik Laura dengan wajah yang tak senang, dan melepaskan tangan Renggra"Nggak papa Mas tunggu aja, empat tahun lagi usia 18 tahun. Bisa di jadiin istri."ngambeknya Laura dengan pergi meninggalkan Renggra dan kembali ke villa.


Renggra tersenyum-senyum melihat istri yang akhirnya cemburu.


Mengejar Laura"Ay, tunggu."


Laura langsung lari, tak menghiraukan panggilan Renggra.


Masuknya rumah, dan ingin kembali ke kamar.


Raihnya tangan Laura dan memeluknya"Ay, Mas hanya bercanda."


"Canda, Mas tuh bikin nyesek."memeluk Renggra.


Renggra merasa Laura mulai berani memeluknya,"Ay, kamu sadarkan memeluk Mas?"kodenya.


"Nggak boleh?"sahut dengan nada merajuk.


Setelah Renggra menyatakan perasaan, Laura tak merasa takut lagi. Ia benar-benar telah jatuh cinta dengan suaminya itu dan merasakan takut kehilangannya.

__ADS_1


Selanjutnya~>Chapter 17


__ADS_2