
Laura merasa bingung, entah apa yang harus di lakukan. Dalam agama memang di anjurkan seorang istri boleh meminta duluan, pahala yang di beri pun tak sedikit.
Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka, memberinya pahala dua ratus ibadah Haji dan Umroh, dicatatkan untuknya dua ratus ribu kebaikan, dan diangkat untuknya dua ratus ribu derajat di Surga.
Walaupun begitu Laura tetap merasa ini hal pertama yang di alami, pengalaman dalam merayu suami saja belum pernah Ia lakoni.
Mungkin hanya bisa bertanya, bisa membuat mereka saling terbuka satu sama lain.
"Mas, kamu kenapa?"tolehnya ke arah Renggra, yang masih guling di atas lengannya.
Renggra hanya diam dengan terpejam, menahan sahwat yang takut merusak hubungan mereka berdua.
"Mas, kamu udah tidur ya?"tanya Laura kembali, ia tahu Renggra hanya pura-pura tidur.
"Eemmm, mungkin sudah tidur."peluk Laura.
Ubun-ubun Renggra seperti berasap, menahan tapi tak bisa di curahkan apalagi lemak-lemak itu menempel di tubuhnya"Ay..."reflek langsung berbicara.
"Eemmm, kamu belum tidur?"masih memeluk Renggra.
"Nggak bisa tidur, Ay. Kamu banguni Mas."
Laura melepaskan pelukannya"Kapan, Mas? Baru aja di peluk. Giliran di panggil kamu nggak nyahut."cemberut Laura, benar dugaannya Renggra pura-pura tidur.
Toleh Renggra ke Laura melihat penampakan yang membuat pompahan jantung semakin kuat.
"Maaf ya, Ay. Aku sedang menahan sesuatu. Takut kamu marah."
Duduknya Laura"Belum juga, ngomong udah marah, Mas. Kamu aneh."mengusap wajahnya.
Renggra ikut duduk, meraih tangan Laura"Ay."ragu-ragu.
"Eemm kenapa, Mas?"
Jantung Renggra berdebar-debar, tariknya nafas panjang"Ay, udah siap belum. Kalau kita ibadah?"ucapnya pelan, pasrah dengan ke adaan.
Jika Laura tak mau, ia akan tidur di luar. Agar semuanya teralihkan.
"Shalat, kan udah, Mas?"guraunya dengan wajah yang memerah.
Tariknya nafas menahan semua yang bergejolak"Maksudnya Ibadah, dalam selimut, Ay."
Laura hanya diam,
"Diam berarti setuju, ya Ay?"pancing Renggra yang geram melihat Laura diam tanpa menjawab.
Laura merasa malu untuk berkata, mencoba mengangguk pelan.
Renggra bernafas legah"Alhamdulillah."ucapnya pelan.
"Nggak terpaksakan, Ay?"pastikannya lagi.
Angguk Laura dengan tersenyum, merasa malu.
Senyum Renggra"Kalau gitu, kita shalat sunnah dulu, Ay."ajaknya berdiri mengambil wudhu.
Angguk Laura,
Shalat Sunnah yang begitu nikmat di rasakan, tetesan air mata keduanya mengucap syukur terhadap Allah SWT semoga benih yang di taman bisa menjadikan anak yang shaleh atau shalihah.
Selesainya seperti biasa Laura membereskan alat shalat"Mas, ambilin aku air putih dong sebentar aja haus."manjanya.
Renggra tersenyum-senyum, ada aja mau nundanya. Menggelengkan kepala keluar mengambil minum.
Tak lama Ia datang"Nih, Ay."menutup pintu.
__ADS_1
Kagetnya Renggra melihat Laura memakai pakaian yang di buang di kotak sampah, membuat pacu adrenalin semakin meluap.
Tahannya, karena Laura merasa haus,"Minumlah dulu, Ay."mendekati Laura"Kamu, kenapa pakek baju itu, Ay?"penasaran Renggra.
Minumnya seteguk air putih"Makasih, ya Mas."meletakkan gelas di atas lemari kecil dekatnya"Eemmm, sayang Mas di buang. Aku lihat di internet baju ini walau kayak gini, mahal Mas."
Senyum Renggra yang menaiki tempat tidur menutupi dirinya masih menggunakan pakaian lengkap"Kamu mau pakek atau enggak sama aja, Ay. Toh juga di lepas. Sini masuk,"ajaknya melihat Laura masih duduk di pinggir tempat tidur.
Dengan debaran jantung yang memompa begitu cepat, Laura mengangguk mendekati Renggra"Mas, pelan-pelan ya."
Angguk Renggra, dengan tersenyum.
Perasaan kasih sayang yang timbul, membuat aliran darah mengalir deras, pompahan jantung yang begitu cepat, nafas yang tak beraturan.
Perlahan membuka lapisan-lapisan kain yang masih menempel, menambah pacuan adrenalin semakin kuat. Membuat keduanya semakin yakin, ini sudah jalannya.
"Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."
Laura menarik kuat selimut, menahan sakit.
Renggra merasa pintu itu belum juga terbuka. Melihat ke arah Laura yang memejamkan mata dengan menahan sakit"Ay, maafin Mas ya."bisik di telinga Laura"Ay, Mas sangat mencintaimu, sangat sayang padamu."mengalihkan diri Laura agar lebih rileks. Memegangi tangan Laura apa yang di rasa bisa Renggra ke tahui.
Angguk Laura"Aku juga mencintaimu, juga menyayangimu, Mas."memegang tangan Renggra.
Renggra kembali mencoba, dengan perlahan-lahan. Laura memegang erat tangan Renggra, tibanya lemas.
Air mata yang mengalir di wajah Renggra, merasa haru dan bahagia akhirnya terlewati masa yang di tunggu-tunggu.
Tarikan nafas panjang, merasah legah telah menumpahkan semua yang tertahan selama ini"Makasih, ya Ay."tangisnya pecah di pelukan Laura.
Laura meneteskan air mata. Apa yang di jaga selama ini, akhirnya telah di serahkan sepenuhnya pada Renggra.
***
Jam telah menunjukkan pukul empat subuh, Renggra terbangun mendengar suara mengaji di masjid terdekat.
Memeluk Laura untuk mengajaknya mandi bersama sebelum azan berkumandang.
"Ay.. Bangun, mandi bareng yuk. Bentar lagi shalat."ucap pelan di telinga Laura.
Mata Laura terbuka perlahan, mendengar ajakan Renggra"Eemmm, mandi berdua ya, Mas?"mengusap-usap mata.
"Iya sayang."berbisik.
"Malu, Mas."
Renggra terkekeh pelan"Udah kelihatan semua, Ay. Kenapa harus malu?"
"Iya, ya Mas."
Renggra berdiri duduk membantu Laura duduk, ketika Ia bergeser seperti ngilu dan nyeri di area sensitif. Pejamnya mata menahan itu semua.
"Masih sakit, ya Ay?"khawatir Renggra melihat Laura meringis menahan sakit akibat ulahnya.
Angguk Laura,
Renggra langsung mengambil celana pendek dan menggunakannya. Setelah itu menggendong Laura ke kamar mandi.
"Mas, Mas."tepuk pelan Laura di bahu Renggra menunjukkan ke arah seprei.
Renggra melihat bercakan berwarna merah, yang menghiasi seprei berwarna putih.
Senyum Renggra, ternyata Ia lelaki perkasa.
"Biar, Mas aja yang bersihin kamu mandi duluan,"
__ADS_1
Angguk Laura,
Renggra mengantar Laura ke kamar mandi dengan menggunakan selimut tebal, kemudian Ia merendam seprei dan memasang seprei yang baru. Merapikan kembali tempat tidur, agar Laura bisa kembali istirahat.
Selesai mandi dan shalat Renggra menyuruh Laura tidur kembali, agar tubuhnya kembali membaik.
Renggra ke dapur menyiapkan sarapan dan kembali mencuci pakaian dan seprei.
Tak lama Laura, bangun menghampiri Renggra yang menyiapkan makanan di atas meja.
"Masih sakit, ya Ay?"mendekati Laura yang masih kurang nyaman saat berjalan.
Menganggukkan kepala"Eeemm, masih sedikit ngilu, Mas."
Senyum Renggra, membantu Laura duduk di kursi untuk sarapan"Maaf, ya Ay. Gara Mas, kamu kayak gini."kembali mengambil piring menyiapkan makanan untuk Laura.
"Udahlah, Mas jangan di bahas lagi. Mungkin semua wanita akan merasa begini. Lagian ini juga udah kewajiban aku."menyuapi makanan di mulutnya.
Renggra tersenyum-senyum.
"Ngasih makan singa, taunya di telen singa semalaman, buas juga Mas."gurau Laura.
Memegang sendok,"Namanya juga baru pertama kali, Ay. Menahannya cukup lama."berkata jujur.
"Apa, kamu selama ini menahannya, Mas?"ingin tahu.
Angguk Renggra,"Eeemmm, lumayan."mengunyah makanan.
"Maafin, aku ya Mas. Menahan hajatmu?"merasa bersalah.
Senyum Renggra"Mas, ngerti, Ay. Sudah ini kamu duduk di sofa, nonton TV. Banyak-banyak istirahat. Siapa tau malam singa itu menerkam."ajaknya bergurau agar Laura tak merasa sedih.
Gelengnya kepala,"Mas, mas. Aku benar-benar masuk kandang singa."guraunya kembali.
Renggra tersenyum-senyum bahagia, sekarang rumah tangganya benar-benar sudah di jalani.
Haknya sebagai suami telah di tunaikan bersama istri tercinta.
Menjemur pakaian dan seprei, dengan doa dan shalawat Renggra ucapkan. Agar doa tersebut menjadikan rumah tangga mereka yang sakinah, mawadah, dan warahmah.
Laura melihat TV penuh dengan penayangan Renggra, penulisan dengan kata pata hati sedunia mendengar kabar tentang pernikahan mereka. Wajah Laura saat akad pun di blur agar tak kelihatan wajah aslinya.
Banyak netizen yang mencibir maupun mendoakan mereka.
"Bigini menikah dengan orang terkenal,"ucap batin.
Duduk Renggra di sebelah Laura,"Kenapa, Ay?"lihatnya berita pernikahan mereka"Jangan di ambil hati ya sayang. Resiko kamu mencintaiku."
Toleh ke Renggra,"Mas, juga mencintai aku, kan?"
Geleng kepala menyatakan tak mencintainya.
Wajah Laura cemberut,"Udah di ambil semuanya, nggak cinta lagi."marah yang kembali ke bilik kamar.
Renggra tersenyum-senyum, mengejar Laura.
Raih tangan Laura dan memeluknya,"Bercanda, Ay."merasa luapan sahwat kembali lagi, langsung saja Renggra menggedong Laura ke atas tempat tidur.
"Mas, kamu mau ngapain?"
"Ambil wudhu dulu, Ay."mengedipkan mata memberi kode.
"Masih siang, Mas?"
"Kapan, aja boleh, Ay? Asal suka sama suka."duduk menarik tangan Laura mengambil wudhu.
__ADS_1
Selama dua hari, Renggra dan Laura mengabiskan waktu bulan madunya di rumah. Renggra pun tak memberikan Laura melihat sosial media, karena Ia takut Laura akan sedih dengan cibiran buruk netizen.
Selanjutnya~>Chapter 20