Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 63


__ADS_3

Merisa telah mengetahui bahwa sahabatnya bernama Laura masih hidup karena kabar itu sampai, akibat Nova suaminya yang menceritakan.


Nova awalnya merasa terkejut dengan Angga dan Renggra yang bercerita sewaktu mereka berkumpul membahas perkerjaan.


Merisa yang mendengar, ingin menemui Laura sesegera mungkin. Namun, Nova melarangnya. Di karenakan Laura yang lupa ingatan.


Saat bertemu dengan ketidak sengajaan, Merisa sangat senang. Akhirnya tuhan memberikan jalan menemui sahabatnya itu.


Sadar dengan tingkah Laura, yang benar-benar melupakan dirinya. Namun, saat mencoba meyakinkan Laura. Dirinya memperlihatkan sesuatu bahwa ingin sekali mengetahui masa lalunya.


"Duduklah."usai sampai di apartemen"Aku ambil minum, dulu."berjalan ke ruang dapur.


Merisa menganggukkan kepala dengan wajah yang tersenyum-seyum, duduk di kursi sofa melihat ruangan yang kecil tapi terasa nyaman.


Meletakkan dua gelas di atas meja, untung dirinya masih mempunyai minuman Jus. Berarti di kulkas tak boleh kosong makanan dan minuman, karena tamu tak mengenal waktu untuk berdatangan.


"Maaf, hanya ini saja."duduk di samping Merisa.


Senyumnya"Santai aja, Ra. Dulu kita aja segelas minum berdua tanpa apapun. Karena di panti serba berbagi."jelasnya.


Mengernyitkan alis"Panti."


Menganggukkan kepala"Eemmm! Kamu nggak ingat sama sekali. Kita berasal dari mana?"cobanya menyelidiki.


Menggelengkan kepala, menandai dirinya tak tahu apa-apa. Tapi ingatan jelas bahwa pernah di sana.


Hembuskan nafas panjang"Eemmm, aku ceritakan masa kita dulu ya, Ra. Siapa tahu kamu mengingat sesuatu."ingin melihat respon Laura.


Menganggukkan kepala, menyetujui bahwa dirinya juga penasaran. Apa benar dengan ingatannya semalam.


Merisa menarik nafas, menjelaskan kisah mereka berdua tinggal di panti asuhan secara teliti. Tak sengaja Laura ikut tertawa mendengarnya, tiba Merisa menceritakan tentang Ibu asuh mereka.


"Bu Aminah, kan namanya."coba tebak apa benar itu nama Ibu asuhnya.


"Iya, Ra benar."memegang bahu Laura, merasa sangat senang ada secercah harapan untuk semuanya"Jawab jujur, kamu ingat kami, semuakan Ra?"ingin tahu jawabannya"Serta anakmu Yusuf."


Menganggukkan kepala"Rahasiakan dulu dari semuanya, ya Mer. Awal memang ku akui hanyalah rekayasa saja. Saat bertemu suamiku bernama Renggra, dan menganggap semua itu hanya khayalanku saja."


Merisa tersenyum-senyum, menganggukkan kepala dirinya janji akan membantunya


Mengingat anaknya"Mer, gimana soal anakku? Apa sekarang dirinya baik-baik aja?"

__ADS_1


Senyumnya"Iya Ra, kamu harus berjumpa dengannya. Kasihan Ra dengan Yusuf, hanya Bu Ani dan Oppa Renggra saja yang mengurusnya."meraih tangan Laura"Kamu harus bertemu dengannya."


Hati Laura terasa terenyuh sebagai seorang Ibu, anaknya selama ini hanya berharap pada ayah dan neneknya saja"Gimana Mer, aku bisa bertemu dengannya tanpa sepengetahuan siapa pun?"


Senyumnya"Tenang aja ada anakku Adam yang bisa beralasan mengajak bermain di rumahku. Kamu bisa mampir ke sana menemuinya."


"A.Apa anakku akan mengenaliku Mer?"tahunya tak pernah bertemu semeja Yusuf masih bayi.


"Tenang aja, dia anak yang pintar. Yusuf pernah cerita padaku, bahwa di kamar ayah dan dirinya ada foto kamu yang terpanjang jelas."


Menaiki alis"Apa, Mer?"


"Eemmm, suamimu orang yang sangat istimewa. Dirinya tak pernah memikirkan cara menggantikanmu dengan wanita manapun. Walaupun Yusuf ingin sekali mempunyai Ibu dan terus mendesak Oppaku, dirinya tetap tegar. Berusaha sekuat mungkin."jelasnya agar Laura segera kembali.


Entah kenapa hati Laura semakin sedih? Inginnya sekali memeluk sang anak dan suami yang berusaha tegar dalam cobaan apapun. Dirinya juga merasa bersalah telah menuduh suaminya sendiri dengan berbagai macam tuduhan.


"Oh iya Ra, ceritakan padaku gimana selama kamu hidup bersama Aditya?"ingin tahunya langsung dari Laura.


Mengerutkan kening"Kamu kenal dengan Bang Aditya?"penasaran dengan apa yang terjadi.


Senyum Merisa, merasa takut untuk bercerita, tentang semua yang dirinya tahu.


Menghembuskan nafas"Aku, takut kamu marah dan tak mempercayaiku Ra."


Senyumnya"Katanya kamu bestieku, pasti kamu mengetahui semuanya dan ingin yang terbaik untukku."


Menganggukkan kepala"Eemmm! Kamu benar Ra. Aku coba memberitahumu, setalah itu terserah kamu mau mempercayainya atau tidak."


"Eemmm, Iya Mer."


Menceritakan yang Merisa ketahui pada Laura, sungguh miris saat mendengar cerita tersebut.


Air mata Laura tibanya berlinang, mendengar ke adaan suaminya saat itu.


Kenapa begitu kejam Aditya melakukan semuanya demi mendapatkan dirinya? Rasa hati Ingin segera menemui Aditya. Mendengar penjelasan darinya langsung.


Cinta yang dirasanya saat itu ternyata salah. Mungkin perasaan itu bukan cinta melainkan hutang Budi padanya telah membuat dirinya menjadi wanita karir.


"Ra, aku harap setelah kamu mengetahui kebenaran suatu saat nanti. Buatlah keluarga kecilmu bahagia."harapnya.


Menyapu air mata"Eemmm! Iya Mer"lirihnya.

__ADS_1


"Aku tak tahu di apartemen ini, Aditya telah memasang mata-mata atau belum yang pasti hati-hati. Jaga Oppaku, jangan sampai ketika datang ke sini. Aditya melakukan sesuatu untuk kembali memisahkan kalian berdua."takut Merisa.


"Iya Mer, Insyaallah."


Melepaskan tangan yang memegang Laura"Jangan insyaallah, harus di jaga. Oppaku itu sangat istimewa."guraunya"Jangan lupa, kasih sentuhan sedikit."menjahili.


Mengeruti alis"Sentuh apanya, Mer?"


Senyumnya"Kasihan Ra menahan selama enam tahun."


"Apaan, sih Mer. fikir yang lain ajalah."merasa malu.


Terkekeh"Iya. Iya! Eh ceritain gimana kamu dan Aditya selama hidup berdua? Belum kamu ceritain."penasaran.


Menganggukkan kepala"Eemmm!"menarik nafas"Awal aku bingung kenapa tiba di rumah sakit, melihat laki-laki di sampingku penuh dengan alat dan perban di kepala."


Mengedipkan mata"Terus, Ra?"penasaran.


Senyumnya"Tibalah dokter memeriksa kami, dan hasilnya Alhamdulillah semuanya baik-baik saja"menghebus nafas"Tak lama kami dirawat pulang. Entah waktu itu aku hidup merasa bingung gimana dengan semua jalanku? Benar-benar kosong, Aditya bilang aku dan dirinya bertunangan sejak lama waktu kedua orang tua kami meninggal."


Cengir"Ihh aneh."


Memegang tangan Merisa"Tapi Mer, mendengar ceritamu tadi. Ada keadaan yang menurutku Aditya tak sejahat kalian fikirkan."


Menaiki alis"Yakin Ra, saat dirinya sudah melakukan semua ini?"tak percayanya.


Menganggukkan kepala"Eemmm! Entah dirinya merasa bersalah atau hal lain. Aditya tak pernah melakukan apapun padaku, terus dia benar-benar orang yang baik sampai aku jadi sekarang ini. Berbalik arah bukan."


"Hah apa?"rasa kaget tak percaya.


"Benar, pas membahas pernikahan kami saja baru beberapa hari yang lalu, di karenakan aku ingin pisah rumah. Yaah karena dengan status kami."wajah yang malu"Kalau boleh jujur, aku mempunyai perasaan padanya."


Memegang pundak"Ini aneh, kamu harus memastikannya lebih dulu Ra. Setelah itu jangan lupa kasih tahu aku."senyumnya merasa ingin tahu"Apa sekarang setelah mengingat semuanya, kamu masih mempunyai perasaan?"tak mau sampai sahabatnya berpisah lagi.


Senyumnya"Eemmm! Maka dari itu, aku mau memperjelas semuanya. Semoga kamu mengerti. Sekali lagi, bantu aku merahasiakan semuanya."


Menganggukkan kepala"Eemmm!"pahamnya bahwa kondisi Laura yang berpisah dengan semua kenangan masa lalu dan menganggap dirinya lajang. Siapa saja pasti berubah?


Yakin Merisa, sahabatnya pasti kembali.


Selanjutnya~>Chapter 64

__ADS_1


__ADS_2