
"Ra, mau jalan ke panti asuhan nggak?"ajaknya siapa tahu, Laura merindukan tempat tinggal mereka dulu.
Menganggukkan kepala"Eemmm! Boleh."rasa penasaran dengan masa lalu yang terus menghampiri, banyak sekali ke ingin tahuan berjumpa dengan orang terdekat. Termasuk Ibu asuh yang membesarkannya sejak kecil"Aku siap-siap dulu."berdirinya.
Tersenyum"Baiklah, aku mau ngabari suamiku dulu. Takut nyariin."mengambil handphone di dalam tas.
"Eemmm, Iya Mer."berjalan ke bilik kamar.
Rasa bahagia mulai berdatangan, suasana yang penuh dengan tanda tanya selama ini benar-benar terungkap.
Mengeruti kening, dengan senyuman tipis. Tinggal dirinya menguji sang suami, sampai mana suaminya itu benar-benar mempunyai perasaan cinta.
Sedangkan Aditya, yang juga penuh pertanyaan. Sama masuk dalam ujian, akankah maaf tulus yang di dapatkan atau rasa iba atas kebaikkannya selama ini.
Melihat hidup Aditya yang tak memiliki sanak kerabat dimana-mana, hanya dirinya yang dimiliki. Perasaan kasian yang timbul, dengan siapa dia akan hidup jika diri ini pergi.
Semoga Allah memberikan jalan keluarnya nanti.
Usai berhijab dan berpakaian santai, berjalan keluar menemui Merisa yang masih fokus pada handphone"Yuk, Mer."ajaknya segera pergi, tak ingin mengulur-ngulur waktu.
Lirik ke Laura"Yuk."meletakkan handphone di dalam tas.
Berjalan menaiki mobil pesanan online, mereka berdua meninggalkan apartemen.
Tak lama berhenti di depan pagar berwarna hijau muda, tempat panti asuhan berada. Laura menggunakan kacamata hitam dan masker hitam.
Dirinya yang ingin bertemu Bu Aminah secara diam-diam, sampailah Bu Aminah menyambut mereka berdua.
Merisa berpelukan dengan Bu Aminah.
Sedangkan Bu Aminah dan Laura yang belum terbuka dengan satu sama lain, hanya bersalaman biasa.
Mengeryitkan kening Bu Aminah penasaran siapa gadis cantik yang datang bersama Merisa. Inginnya bertanya langsung, namun rasa enggan takut salah tanya.
Mungkin orang baru yang ingin memberikan bantuan atau ada keperluan lainnya.
"Silahkan masuk, Nak!"ajaknya sembari memberikan jalan ke arah ruang tamu.
Senyum Merisa dan Laura dengan menganggukkan kepala.
"Duduklah,"usai duduk di kursi.
Merisa menutup pintu,
Menaiki alis"Mer, kenapa di tutup? Nggak enak sama mbak ini, udaranya panas dan bengap."tak nyaman dengan kondisi ruangan yang ada tamu. Takut memberi pandangan yang kurang baik.
__ADS_1
Senyum Merisa tanpa menjawab, masihnya menutup pintu kemudian duduk di samping Bu Aminah.
Laura membuka kacamata dan masker, tiba mata Bu Aminah membulat melihat Laura"Anakku!"lirihnya pelan menahan rasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata lagi.
Senyumnya"Iya Bu, ini aku!"mata yang merah menahan sesak di dada, kerinduan yang tak ada habis-habisnya ingin segera memeluk saat berjumpa di depan teras. Namun di tahan agar orang lain tak tahu.
Sama-sama berdiri, berpelukan"Ibu nggak bermimpikan, Nak?"mengalir air mata di wajah sang Ibu, betapa senang melihat anak asuhnya masih hidup. Anak perempuan yang lebih tua dari anak-anak lainnya dan bersikap dewasa dalam bertindak. Apalagi panti asuhan dulu, sering di bantu dari hasil kerjanya.
Walaupun panti itu tak kekurangan apapun, Laura masih saja bertindak sesukanya demi kebaikan panti asuhan.
Banyak yang harus di balas, kebaikan yang dirinya lakukan.
Menggelengkan kepala di pelukan Bu Aminah"Nggak, Ibu nggak bermimpi."sama-sama terhanyut dalam kesedihan yang mendalam, mencurahkan segala isi hati yang rindu akan kebersamaan.
Melepaskan pelukan"Ceritakan sama Ibu apa yang terjadi?"menyampu air mata Laura,
Menyapu air mata Bu Aminah, dengan bersama-sama duduk kembali berdampingan.
Menceritakan semua yang terjadi, Bu Aminah hanya menyimak. Entah dirinya harus bagaimana menyikapi kondisi anaknya itu.
Di mana, cobaan yang begitu berat harus di jalani.
"Syukurlah, kamu selamat."memegang tangan Laura"Kita jangan memandang kesalahan orang lain buruk dulu, perjelas dulu ya Nak."
"Iya, Nak. Pasti Ibu bantu."memeluk Laura kembali"Ya Allah, terimakasih engkau telah menjaga anakku."mengusap-usap punggung.
Senyum Laura sembari melepaskan pelukan Bu Aminah"Gimana, Renggra dia terus mencarimu, kan?"tanyanya.
"Eemmm, Iya Bu."
"Semoga kalian di satukan kembali, jika memang jodohnya."senyumnya.
Menaiki alis"Haruslah, Bu. Jangan enggak Oppaku dan Laura, kan serasi."jawab Merisa, tak maunya Laura berlabu pelayaran di kapal lain.
Senyumnya"Tapi Mer, ini semua termasuk salah Ibu. Main jodoh, kan saja Laura tanpa berunding dulu dengannya. Siapa tau, jodohnya si.Siapa tadi namanya, Nak?"melihat Laura.
"Aditya, Bu!"
"Nah, Iya itu Aditya. Kita nggak tau, kan Mer."
Merengut"Ibu benar, tapi aku nggak mau."terus membantah.
Menghembuskan nafas"Yang nggak mau kamu. Tapi ingat Allah yang menentukan."memegang tangan Merisa yang berada di samping kirinya.
Menganggukkan kepala"Eemmm!"rasa hati tak rela, tapi ada benarnya apa yang di katakan Bu Aminah. Mereka di nikahkan atas perjodohan, siapa tahu mereka bukan berjodoh.
__ADS_1
Laura hanya bisa tersenyum-senyum, melihat reaksi Merisa yang merengut. Tak maunya diri ini pisah dengan Mas Renggra.
Hati yang mulai merasa legah, satu persatu tuhan ungkapkan.
Rasa bahagia, enggan beranjak dari panti asuhan, karena banyak anak-anak dan lainnya berkumpul di sana.
Namun, dengan kondisi yang sudah bersuami dan anak. Mau tak mau dirinya menjalankan ke wajiban nantinya setelah semuanya terungkap.
"Nak, Yusuf anakmu, sering main ke sini sama Bu Ani dan Nak Renggra."menoleh ke Laura.
Mengedipkan mata"Oh, ya."senyumnya.
Menganggukkan kepala"Iya Suamimu itu. Dia sering di tanya. Kapan menikah lagi, menggantikanmu yang di anggap sudah meninggal? Mau tau nggak apa jawabannya?"
"Eemmm, apa Bu?"rasa penasaran.
"Katanya, cukup Laura sebagai istriku. Sekarang dan selamanya."tersenyum memberikan bocoran, betapa setia menantunya itu.
Laura hanya diam dengan wajah yang datar, dirinya tak tahu harus bagaimana menyikapi kondisi ini? Di sisi ini merasa senang mendengar ucapan Bu Aminah, namun di sisi lain dirinya merasa terenyuh sebagai istri yang tak bisa membahagiakan suaminya malah pergi dengan laki-laki lain.
Dirinya tak sebaik itu untuk bersanding dengan suami yang sempurna.
Akankah benar suaminya itu masih mencintai atau bertahan demi anak.
Secara garis besar jika di lihat dirinya seperti berselingkuh dengan laki-laki lain, dan pernah berkata padanya langsung bahwa dirinya mencintai laki-laki lain dan sudah bertunangan.
Akankah dirinya menerima atau menahan saja. Namun benar, semua akan tahu jika sudah terungkap.
Kepala yang terasa pusing, memikirkan jalan yang terbaik untuk kedepannya.
"Pokoknya, Ra. Semua ada di tanganmu. Kami hanya bisa berharap, pilihan itu membuat hidupmu bahagia. Bukan kesedihan."ucap Merisa.
Menganggukkan kepala"Eemmm! Iya Mer."senyumnya.
"Ra, mau jalan ke luar nggak lihat-lihat panti? Sekalian mengenang masa lalu."menoleh ke Laura, mengajaknya ke tempat lain. Agar ingatannya benar-benar pulih kembali.
Senyumnya nyambil mengangguk"Ayo! Tapi aku pakek masker ya. Takut anak-anak kenal terus ngelapor ama Paksu."mengenakan masker.
"Iya, terserah kamu aja. Mana baiknya."berdiri.
Bu Aminah hanya bisa tersenyum-senyum bahagia, melihat kedua putri angkatnya bersanding lagi seperti dahulu.
Ucapan syukur selalu di lantunkan di dalam hatinya, betapa senang tuhan memberikan kesempatan kedua.
Selanjutnya~>Chapter 65
__ADS_1