Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 28


__ADS_3

Sampai di depan pintu kamar, Laura terdiam sebentar. Tangan mulus dan putih itu gemetar.


Pintu di buka oleh Angga,


Air mata tiba menetes, secara perlahan. Melihat suami yang terbaring di tempat tidur dengan ke adaan yang pucat resih.


Hati Laura merasa perih, sapuh air mata secara perlahan. Cobanya duduk di kursi kecil dekat Renggra.


Raih tangan, mencium lembut"Mas, aku di sini."air mata yang berlinang"Jangan tidur terus Mas."pejam mata kembali air itu menetes di tangan Renggra.


Bu Ani dan yang lainnya, merasa terenyuh melihat kondisi kedua pasutri itu. Satu persatu ikut menangis. Angga yang tak sengaja menoleh ke arah Amel, merasa jantungnya berdebar. Lama tak bertemu, merasa kurang nyaman sejak Amel mengungkapkan perasaannya.


Amel tak menghiraukan Angga yang diam-diam melirik ke arahnya, mungkin perasaan bersalah telah memberikan jarak di antara mereka. Seharusnya ia hanya memendam perasaan itu dalam-dalam, agar tak canggung seperti sekarang ini.


Dalam berbagai kondisi, mereka mau tak mau akan terus bertemu. Mungkin dulu dekat, sekarang dekat berasa memberi sekat.


Gerakan tangan, ingin sekali memeluk Laura. Rindu yang hanya di pedam agar semua berjalan dengan baik.


Secara perlahan mata lesu dan sayup terbuka dengan sesekali berkedip, akibat sinar mentari dari luar jendela yang menyorot langsung ke dalam ruangan.


Lepas pegangan tangan Laura, menyetuh kepala yang merasa pusing. Padahal tak ada rasa apa-apa.


Selama menjalani perawatan beberapa hari, tubuh Renggra sudah mulai membaik. Hanya saja ia butuh beberapa hari saja, agar tubuhnya benar-benar pulih.


Renggra menoleh ke arah Laura, dengan wajah yang datar. Mengerutkan alis, terbangun secara perlahan.


Sapu air mata,"Mas, bagaimana ke adaanmu?"berusaha tenang di depan Renggra, dengan menanyakan ke adaannya.


Kerutan dahi, menahan air mata yang berlinang.


Toleh ke arah Angga"Ga, siapa dia?"pura berpaling dari tatapan Laura.


DEG!


Tunduk kepala, merasa hati yang teriris-iris melihat suami yang lupa akan dirinya.


Amel memejamkan mata, menarik nafas"Kak, kenapa menanyakan itu pada kak Angga? Masa kamu lupa dengan istrimu sendiri."coba menarik perhatian Renggra.


Hembusan nafas panjang"Dia Laura, istrimu, Reng."sahut Angga yang merasa beban di pundak terlalu berat.


Senyum Bu Ani, melihat yang lain pada tegang"Bagaimana, kondisimu Nak?"alihkan pembicaraan.


Renggra melihat semua orang yang berada di ruangan"Apa yang kalian katakan, wanita ini adalah istriku."Mengerutkan alis"Sejak kapan aku menikah, jangan berbicara yang tak masuk di akal."lirih pelan, menahan gejolak di dada.


Menarik nafas, memejamkan mata"Kau lupa dengan istrimu Reng?"sahut Nova yang berada di sana.

__ADS_1


Sentak Renggra"Aku tak mau dengar perkataan kalian yang tak masuk di akal,"menahan air mata yang berlinang, sulit menjalankan kebohongan yang di buat. Genggamnya tangan, demi semua harus di lakukan"Cepat kalian semua pergi dari sini."toleh kembali ke arah Angga"Kamu Ga, bawah wanita ini pergi jangan sampai muncul di hadapakanku lagi."membuang muka ke arah lain.


"Tapi Reng,"ingin membiarkan Laura berada di sisinya sebentar.


Tubuh Renggra gemetar"Jangan ada yang berbicara lagi, cepat pergi."sentaknya.


Laura hanya diam, meneteskan air mata yang tak kunjung berhenti. Desutan Rinorea yang mengalir dari lubang hidung terdengar jelas.


Bu Ani dan Amel memegang pundak Laura"Ayo Nak, kita tunggu di luar. Biar Renggra istirahat dulu."mengajak Laura ke luar ruangan.


Angguk Laura pelan, dengan menyapuh air mata yang terus-terusan menetes.


Hembus nafas yang sesak, menahan segala duka di dada. Seketika tetesan air mata mengalir"Maafkan aku, Ay."batin yang terenyuh dengan pejaman mata, tak sanggup melihat Laura menangis.


Duduk diam di depan ruangan Renggra, dengan wajah yang lesu dengan tarikkan nafas sesak.


Bu Ani memegang pundak Laura"Sabar ya, Ra. Semua ini hanya sementara. Aku yakin Renggra akan segera pulih."coba memberi support agar Laura tenang.


Senyum Amel"Apa yang di bicarakan oleh Bu Ani ada benarnya kak, mungkin saja belum pulih. Yakinlah sebentar lagi kak Renggra akan mengingatmu."mengusap punggung Laura.


Angguk Laura,"Iya Bu, Mel."sahut pelan, merasa tubuh itu lemas.


Senyum Bu Ani"Kamu pasti mengerti, kenapa sekarang kami baru memberitahumu?"menyadarkan Laura.


Angguk, Laura"Eeemmm, iya Bu. Maaf, tadi pagi sedikit emosi."sadar diri yang tiba marah.


***


Sudah beberapa hari Renggra berada di rumah sakit akhirnya pulang ke rumah, Sesampai di dalam kamar, melihat Laura sedang duduk menunggu Renggra.


Renyit kening, merasa kurang senang"Kau kenapa masih berada di sini?"tunjuk Renggra.


Berdiri mendekati Renggra"Mas, aku tak akan pergi kemana-mana. Aku ini istri sahmu."jelas meyakinkan Renggra.


Senyum remeh"Apa kau berani sekali menentangku?"keluar kamar memanggil Angga"Ga, di mana kamu?"pekik dari lantai atas.


Angga yang duduk bersama Bu Ani mendengar teriakkan Renggra dari lantai atas.


Menghembuskan nafas, meletakkan koran yang baru saja di buka. Pergi menghampiri Renggra, membawah Map tebal.


"Ada apa Reng, kau memanggilku?"menghampiri Renggra dan Laura.


Tunjuk Renggra"Kenapa kau masih membawahnya ke hadapaku. Apa kau tau aku sangat benci pada wanita."suara tinggi yang menggelar.


Berdiri di hadapan Renggra,"Reng, dia istrimu. Mana bisa aku membawahnya pergi."hembuskan nafas panjang"Reng, kau sendiri yang berkata, bahwa kau sangat mencintainya."memberi Map tebal yang di pegang" Berkas ini, aku bawahkan untukmu. Di sana ada surat nikah, akte nikah, serta foto pernikahanmu bersama Laura."tunjuk tangan Renggra"Lihat juga di jari manismu, terdapat cincin yang melekat di sana."berupaya sabar menjelaskan tentang pernikahan mereka.

__ADS_1


Mata Renggra membulat, melihat jari manis dan dokumen yang di berikan oleh Angga"Apa benar ini semua, Ga?"coba mempertanyakan pernikahan itu pada Angga.


Angguk Angga"Iya semua itu benar, kalau kau tak percaya padaku, silahkan kau buktikan sendiri. Di sana terletak nomor serta alamat saat mendaftarkan di KUA."jelasnya lagi.


Raut wajah Laura mendatar, bingung harus melakukan apa? Ia hanya bisa mencoba secara perlahan, jika di paksakan Renggra akan semakin sakit. Sabar menghadapi Renggra yang di instal baru otak serta sarafnya.


Hebuskan nafas, mengatur emosi"Mas, jika semua ini berat untukmu, malam ini aku akan pindah ke kamar lain, supaya kau bisa tenang dulu saat ini. Tapi Mas, aku tak akan bisa berhenti untuk meyakinkanmu bahwa kita sudah menikah."tegasnya meninggalkan Renggra di kamar.


Renggra terdiam, Angga mengedipkan mata memberi kode biar mereka saja yang menenangi Laura,


Angguk Renggra,


Laura turun menghampiri Bu Ani dan Amel di ruang tengah dengan wajah yang sedih duduk di sebelah mereka.


Toleh Amel yang baru saja datang, melihat Angga tak berada di sana"Kakak ipar kenapa?"lihat wajah Laura yang murung.


Tundukkan kepala"Aku hanya sedikit sedih Mel, Mas Renggra benar-benar melupakanku."pegang kepala yang merasa pusing.


Angga datang, duduk di kursi sofa"Ra jangan sedih, aku akan berusaha membantumu. Renggra saat ini dalam kondisi yang belum stabil."menenangkan Laura.


Spontan Amel, menyahut pembicaraan Angga"Apa yang dilakukan oleh kakaku? Aku akan memarahi dia."lanjut diam tersadar, menyambung perkataan Angga.


Hembus nafas panjang, mungkin ini sudah waktunya Angga baikkan dengan Amel yang salah paham terus-menerus"Biarkan saja Mel, Renggra masih belum pulih. Kita semua hanya bisa berdoa agar Renggra kembali seperti dulu lagi."senyumnya.


Angguk Amel,"Eeemmm,"merasa Angga benar, mungkin Ia dan dirinya di takdirkan sebagai kakak beradik.


Senyum Bu Ani melihat Angga dan Amel mulai baikkan,"Ekhem, ada benarnya apa kata Angga, kita semua hanya bisa memaklumi Renggra dengan kondisi saat ini."toleh ke arah Laura"Jangan memikirkan hal yang membuatmu sedih, percaya saja. Renggra akan segera pulih."upaya meyakinkan Laura.


Angguk, Laura"Eemmm, iya Bu. Aku akan berusaha melewati ini semua dengan sabar."hembuskan nafas panjang"Sementara aku akan tidur di kamar lain, agar Mas Renggra tak merasa terganggu. Melihat kondisinya masih dalam pengawasan dokter, aku takut mengganggu kesehatannya."terang Laura, ingin suaminya tak larut dalam ke sedihan dalam masa pemulihan.


Pegang pundak Laura"Apa Renggra, mengizinkan Ra?"tanyanya.


Geleng kepala"Nggak tau Bu. Tapi melihat, Ia diam saja mungkin, sudah memberi izin."ingat kondisi Renggra yang masih belum pulih.


Senyum Bu Ani"Jika menurutmu ini baik untuk kalian berdua, maka lakukanlah. Nanti aku akan menyuruh Bik Siska menyiapkan kamar untukmu dan mengambil barang-barangmu di kamar Renggra."


Pegang tangan Laura"Kau harus sabar ya kak, kami semua ada di sampingmu."memberi semangat pada Laura


Angguk, Laura kembali"Iya Bu, Mel dan Kak Angga. Terimaksih, kalian semua sudah membantu dan mendukungku."senyum manis, menahan sesak di dada.


Angguk, mereka bertiga.


Angga dari tadi memperhatikan, satu pelayan yang sedang menguping. Dengan membersihkan Gucci keramik yang tak berdebu, sebagai landasan aktivitasnya.


Curiga mulai, mengisi benak Angga. Puranya tak melihat, tapi lirikkan Angga yang pura-pura melihat ke arah lain.

__ADS_1


Selanjutnya~>Chapter 29


__ADS_2