
Banyak pembelajaran yang diberikan guru saat mondok di pesantren, Renggra terus di getarkan hatinya dan di bukakan pintu jalan fikiran tentang masalah manusia yang hidup di muka bumi ini dengan berpasang-pasangan.
Dalil tentang hukum menikah, dalil yang tak menikah, ada juga berjodoh tak di dunia melainkan di akhirat.
Renggra merasa mungkin selama ini, fikirannya salah terhadap kedua orangtua yang bertengkar saat itu. Adakalahnya anak-anak tak perlu ikut campur urusan orang dewasa. Namun, secara mental dirinya saat masih kecil benar-benar trauma melihat pertengkaran tersebut.
Setelah dewasa, mampu beradaptasi dan memaklumi. Itulah jalan yang sudah di takdirkan oleh Allah SWT.
Mulai secara perlahan membuka hatinya untuk lawan jenis, tapi tak satu pun, wanita lain yang di sukai kecuali Laura. Itu pun masih dalam keraguan, apakah dirinya benar-benar menyukai gadis tersebut?
Banyak sekali zaman sekarang muda-mudi yang melakukan maksiat dan menimbulkan perzinahan.
Renggra khawatir, Ia salah memilih pasangan hidup. Sesaat terkenang sosok wanita yang bernama Laura, yang di perhatikannya lama. Melihat sisi bedanya, terutama tak pernah pacaran apalagi teman dekat(laki-laki).
Di panti asuhan berbeda, Laura menganggap laki-laki di sana seperti keluarga saja.
Ada hari di mana mengetahui Laura telah bekerja, di Mall miliknya. Sering duduk nongkrong bersama Angga di sana. Namun, Laura sama sekali tak mau melayaninya kecuali sesama perempuan. Itulah bedanya dengan wanita lain.
Sesaat memperhatikan ada lelaki yang melihat Laura, sama dengan tindakan yang tiap hari nongkrong di sana, terlihat jelas kesal itu di wajah Renggra.
Setiap malam hanya bisa berdoa di waktu shalat tahajud, di mana terdapat doa yang ingin di pastikannya.
Apakah benar rasa yang di milikinya hanya hutang budi, atau rasa cinta yang timbul sebagai sepasang kekasih"Ya Allah, jika dia jodohku maka datangkanlah, jika bukan jauhkanlah dariku."ucap batin.
***
"Reng.. kok nggak di jawab Ibu nanya? Sini kamu duduk, Ibu mau bicara."perintahnya dengan penasaran.
Berjalan dan duduk di sebelah Angga, yang sibuk membaca koran.
"Reng, siapa gadis itu?"tanyanya kembali.
Angga melipat koran"Itu Bu, Laura gadis yang di panti asuhan."letaknya koran di atas meja.
__ADS_1
Renggra menarik nafas dan menghembuskannya.
"Ooh, gadis itu,"menyipitkan sedikit mata"Kenapa kamu tak langsung lamar saja? Ibu sering lihat gadis itu, tapi tak pernah bertemu atau berbicara padanya."
Renggra hanya diam, wajahnya terlihat bimbang.
"Renggra, Angga. Apalagi yang kalian berdua fikiran. Ingat umur, kalian itu sudah tak mudah lagi, 28 dan 29. Kapan kalian siap menikah?"rasa kesal melihat kedua putranya yang ingin menjadi bujang tua"Terserah kalianlah, Ibu dukung siapa saja yang kalian nikahi? Asal jangan istri orang."
Angga yang tadinya ingin menjahili Renggra, ternyata kena imbasnya juga. Baginya menikah itu pasti, tapi tak tahu kapan tuhan akan memberikannya. Pasrah itulah keadaan Angga.
Renggra masih bingung dengan doa yang belum terijabah itu, apa benar Laura bukan jodohnya? Pegang kepala mungkin inilah jawaban doanya, rasa sedih dan galau menjadi satu. Bertanya-tanya dalam hati, wanita mana yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Apa cocok dengan dirinya?
Pasrah hanya itulah yang bisa di lakukan, jodoh telah di tentukan baik buruknya, itulah hidup yang telah di takdirkan.
Diam-diam Bu Ani berdiskusi dengan Bu Aminah, menceritakan perjodohan antara Laura dan Renggra. Setelah sekian lama mereka berdua bertemu, kedua paruh baya itu terlihat akrab seperti saudara. Saat membahas pernikahan pun sama-sama tak malu dan setuju.
Bu Aminah ingin sekali, jika jalannya sudah tepat, hal itu harus segerah di laksanakan. Semua ini di lakukan, demi kebaikan dan kebahagiaan Laura.
Saat itu pun Renggra melaksanakan pengecekan langsung ke Mall miliknya, sembari melihat proses langsung atas acara rapat yang di adakan.
Mereka ingin mengadakan pembuatan pembangunan Mall tersebut di bagian belakang, agar lebih luas, juga menyediakan taman tempat tongkrongan keluarga saat berlibur dan pengujung pun lebih nyaman saat berkumpul.
Ketika masuk Renggra berbicara dengan Angga, membahas jadwal selanjutnya. Saat menoleh ke depan, dirinya telah di suguhkan wanita cantik bernama Laura yang berlari menabraknya.
Sontak dada terasa sakit, dan terjatuh kelantai. Akibat benturan kepala Laura. Mencoba menahannya, tak lama hilang. Namun, melihat Laura yang sempoyongan di hadapannya dan berkata maaf.
Jatuh tak sadarkan diri, dirinya yang melihat langsung menangkap Laura secara reflek dengan kedua tangan"Ya Allah, ampunilah aku, memegang yang bukan makharam ku."ucap batin.
Angga dengan sigapnya menyuruh pegawai wanita yang berada di sana, membantu Laura untuk di bawahkan ke dalam mobil.
Teman restoran Laura sempat menghadang biar mereka saja yang mengurusnya, tapi Renggra merasa ini kesempatan, biarlah wanita ini ikut kerumahnya untuk di periksa.
Rapat di tunda, Angga langsung menghubungi dokter dan Bu Ani. Pada kesempatan itu pula Bu Ani langsung menyuruh pengawal menjeput Bu Aminah datang kerumah.
__ADS_1
"Bu, Pak. Wanita ini hanya kecapean, sebentar lagi akan pulih kalian tak perlu khawatir."ucap dokter perempuan paruh baya, sekaligus dokter keluarga.
"Terimakasih dok,"ucap Bu Ani.
Dokter itu keluar bersama Angga.
"Reng, turun sebentar, kami ingin berdiskusi."ajak Bu Ani.
Di ruang tengah mereka berkumpul,"Reng, ini ke sempatan bagus. Menikahlah malam ini juga dengan Laura."ucap Bu Ani kembali.
Bu Aminah tersenyum"Iya, Nak. Ibu yakin, kamu sudah mampu menjaga, serta membimbingnya."inginnya Laura segera menikah.
Bu Aminah yakin, Renggra bisa membuat putri angkatnya bahagia.
Rasa bahagia muncul tanpa arah, dan tiba-tiba. Restu Bu Aminah menambah keyakinan Renggra, ini jawaban atas doanya.
Menganggukkan kepala dengan wajah datar, menyatakan dirinya setuju. Bu Ani dan lainnya tersenyum bahagia dan mengucap syukur"Alhamdulillah hirobbil alamin."
Angga sebagai sekertaris, langsung mengurus berbagai dokumen yang di perlukan sebelum acara di mulai.
***
Acara yang berlangsung hikmat, Laura turun selepas ijab kobul di lantunkan.
Memakai kebaya dres putih dan hijab polos yang di sarungkan di kepala. Duduk berhadapan dengan Renggra, jari gemetar saat di pasangkan cincin tanda pernikahan telah sah. Ciuman pertama yang di tempelkan Renggra di kening Laura tanda mereka telah menjadi suami istri.
Laura yang merasa dirinya bak di setrum listrik bertenaga tinggi, tubuhnya terasa aneh saat di sentuh laki-laki.
Hanya diam dan mengikuti arahan, saat dirinya telah sah menjadi istri orang lain. Hatinya remuk, tak karuan senyuman paksa yang terukir di sana.
Acara makan-makan dan kumpul keluarga, setelah ijab. Renggra langsung ke dalam bilik kamar untuk melaksanakan shalat isya, Ia tak ingin, shalatnya di pertaruhkan untuk urusan duniawi.
Selanjutnya~> Chapter 7
__ADS_1