Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 38


__ADS_3

Usia yang masih enam belas tahun, membuat perasaan Aditya gelisa dan jenuh di dalam rumah. Ia berjalan ke ruangan yaitu tempat kerja Pak Septo.


Larangan keras bagi orang lain masuk selain izin dari Pak Septo. Namun, keadaan rumah sepi, membuat fikir Aditya tak masalah Ia masuk ke dalam ruangan, karena dirinya anak kandung Pak Septo. Lihatnya banyak sekali tumpukan dokumen membuat fokus itu pada satu buku di ujung lemari berukuran kecil tapi menarik.


Ambilnya perlahan, membuka secara seksama jatuhlah sebuah kertas ke bawah lemari. Meraih sana sini, Ia malah menemukan sebuah dokumen yang sudah berdebu. Penasaran dalam dirinya memuncak, apa isi dokumen tersebut?


Memasukkan ke dalam pakaian, membawah dokumen itu ke tempat lain.


Aditya melihat foto-foto semasa hidup Ibu kandung dan dirinya, Ia juga menemukan sebuah petunjuk di dalam ruangan kerja Pak Septo.


Renyitnya kening membuat Aditya penasaran, berjalan pelan kembali lagi ke dalam ruangan itu, mencari sebuah buku, ketika di tarik lemari yang berada di hadapannya terbuka menjadikan sebuah ruangan.


Aditya semakin penasaran ada apa di dalam ruangan itu? Masuk secara perlahan, melihat tombol di dinding yang berdebu.


Menekan tobol itu, tampak hiduplah beberapa lampu yang menerangi.


Melihat isi ruangan yang tampak berdebu dengan satu buah peti mati yang tergeletak di lantai.


Aditya mendekati dan bertanya-tanya, ada apa lagi di dalam? Bukanya pelan, ternyata mayat ibunya yang di awetkan. Air mata yang berlinang secara perlahan menetes, genggamnya tangan, menahan amarah yang semakin memuncak.


Menjerit dalam hati, tega seorang Ayah memperlakukan perbuatan keji pada anak dan Isterinya.


Pada saat itulah Aditya diam-diam mempunyai dendam pada Pak Septo, Ayah kandungnya sendiri.


Semakin hari tubuh kecil itu meranjak dewasa, rasa bosan dalam hidupnya membuat ingin berjalan ke suatu tempat agar benak di fikiran itu hilang. Berjalan mengitari jalan tibalah Mall baru milik Renggra di buka.


Duduk di kursi memesan makanan dan minuman. Melihat sana sini situasi begitu ramai, tampaklah wanita berhijab panjang menghampiri pelanggan wanita di meja samping Aditya.


Di perhatikan wanita itu hanya melayani costumer wanita saja, panggilnya untuk mengetes apa benar yang di lihat itu, atau hanya sekedar dapat pesanan dari costumer wanita saja.


"Mbak,"pekik Aditya memanggil Laura.


Toleh Laura sebentar dan mengalihkan pandangan,"Maaf Kak, saya hanya melayani costumer wanita saja. Kalau ada apa-apa langsung aja ke kasir."larinya ke meja mengambil pesanan.


Aditya tertegun, melihat sisi dari wanita itu. Perasaan yang datang, menilai perbedaan Laura dengan wanita lain.


Di sanalah mula asalnya Aditya ingin memiliki Laura.


Senyum Pak Septo, memainkan tangganya"Apa lagi yang kau inginkan Dit? Bukannya sebagai imbalan wanita yang sedang terbaring di sana itu untukmu. Santai saja Dit, ambisi kita sudah di dapatkan, sesuatu yang di inginkan sudah kita miliki."mendekat ke arah Aditya.

__ADS_1


Angga mengetukkan jarinya ke lantai untuk memanggil semua orang yang berada di luar, masuk ke dalam gedung mengepung Pak Septo dan Aditya. Sama-sama para pengawal mengarahkan senjata api.


Aditya melihat suasana semakin mencengkram Ia menginjakan tombol di kakinya dan keluarlah asap yang tebal. Renggra, Angga dan Nova berhasil di selamatkan oleh pengawal saat asap tebal itu bermunculan.


Tak lama tempat itu meledak dengan sangat kuat.


Duuuuuuuuaaarrrrrrrrggggggg!


Sebelum kejadian itu terjadi, Aditya telah merancang lokasi dengan berbagai macam rakitan bom, untuk membalas dendam kepada Pak Septo yang sudah membunuh Ibu kandungannya dan juga Renggra yang sudah mengambil Laura dari dirinya.


Renggra melihat tempat itu meledak dan menghambisi semua yang berada di sana Ia langsung teriak"Tiiiddaaakk, jangaaann, Lauraaaaaaa."inginnya mendekati menyelamatkan sang Istri yang masih di dalam gedung.


Angga dan Nova meraih langsung tangan Renggra dan memeluknya, rontahan Renggra pun sangat kuat dengan isak tangis yang menggebu-gebu. Air mata yang membasahi wajah Renggra membuatnya tak tahan dengan perih luka di hati melihat sang istri ikut terbakar di dalam gedung.


Sampai ke sadaran Renggra habis, akibat syok berat yang di rasakan.


Angga dan Nova langsung membawah Renggra ke rumah sakit, tak lupa mereka menyuruh pengawal memeriksa keadaan gedung itu untuk mencari Laura.


***


Dua hari telah berlalu, mata yang sayup dengan tubuh yang lemas. Membuat Renggra enggan menggerakkan tubuhnya. Liriknya sanan sini, melihat ruangan yang pernah Ia tempati sewaktu di rawat di rumah sakit kurang lebih dua minggu itu.


Terlintas bayangan yang terjadi dalam ingatan Renggra, air mata mulai membendung di klopak mata.


Mengalir tanpa sadar, mengingat luka yang terbuka.


Besuk Amel, Angga, Bu Ani yang membawah yusuf, dan Nova yang secara bersama masuk ke dalam ruangan. Melihat Renggra ternyata sudah sadarkan diri.


Amel mendekat, merasa senang kakaknya telah sadar"Kak gimana keadaanmu?"duduk di kursi kecil dekat Renggra, lihatnya air mata itu membasahi pipinya.


Menoleh ke Amel"Mel, semuanya sudah selesai."suara lirih yang penuh dengan sesak.


Ibu Ani mendekati Renggra nyambil memeluknya"Reng kamu harus sabar dalam menjalani ini semua."tepuk pelan pundak Renggra, menyerahkan yusuf ke pangkuannya"Kamu masih punya anakmu dan kami semua."berusaha tersenyum walau di hati merasa perih.


Menganggukkan kepala memeluk yusuf yang sedang tertidur pulas, tangisnya pecah memeluk sang anak.


Suasana di ruangan itu penuh dengan duka, satu persatu mereka pun ikut menangis.


***

__ADS_1


Pulang ke rumah mengendong Yusuf di tangannya, melihat isi kamar yang penuh dengan wangi Laura.


Membuat air mata itu mengalir kembali, melihat ke arah Yusuf"Nak, sekarang hanya kita berdua di sini. Ayah akan selalu merawatmu. Hanya kamu satu-satunya penyemangat Ayah."menyapu air mata.


Bu Ani datang menghampiri"Reng, sini biar Ibu yang urus Yusuf. Ada Nova dan Angga di ruang kerjamu"inginnya mengambil Yusuf.


Menganggukkan kepala,"Eemmm, iya Bu."menyerahkan Yusuf ke Bu Ani.


Pergi meninggalkan Bu Ani di kamarnya,


Toleh Nova dan Angga yang duduk di kursi menunggu Renggra.


Duduk Renggra"Ada apa Nov, Ga?"


Mata Renggra terlihat merah, akibat tangisan.


"Eemmm, gimana keadaanmu?"tanya Nova.


Renggra berupaya tersenyum"Iya, beginilah keadaanku sekarang. Kalian pahamlah."rasa duka yang masih membekas tak dapat di pungkiri hatinya bersedih.


Mencoba ikhlas dengan segala sesuatu yang telah terjadi, butuh waktu agar kesedihan itu larut tenggelam ikut bersama hari-hari yang di lalui nantinya. Semua akan ada jalan, sabar menghadapi segala cobaan. Itulah yang di tekankan dalam dirinya, pengalaman dahulu yang Ia rasakan menjadi motivasi semua akan indah pada waktunya.


"Ada apa kalian ke sini?"sambung Renggra.


Ragu Angga dan Nova ingin membahas ke jadian malam itu, pada saat seperti ini. Dimana kondisi Renggra yang masih berduka.


"Kenapa kalian, diam?"tanya Renggra kembali.


"Ekhem, Reng. Sebenarnya."toleh ke Nova"Kami ingin membahas, masalah."sahut Nova yang takut Renggra kembali bersedih.


Senyum Renggra, menyambung maksud dan tujuan Angga dan Nova"Ceritakan saja, jangan berfikir hal lain. Aku sudah ikhlas."upayanya tegar, menerima laporan yang di dapat.


Angga menyerahkan Map yang di buat oleh pengawal suruhan, berisi mayat yang di temukan. Ciri-cirinya sama persis dengan Laura, inginnya di otopsi agar lebih jelas namun meminta persetujuan dulu dari pihak keluarga. Apa hal itu harus di lakukan atau tidak.


Gertakan gigi Renggra menahan kesedihan yang mendalam, hembusan nafas terdengar"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."pejamnya mata sebentar, manarik nafas dalam-dalam, agar hati dan pikirannya di berikan ke tabahan"Tak perlu di otopsi, kita lakukan pemakaman langsung."jelasnya yang tak mau jenazah Laura lama tak di kebumikan akibat keingin tahuan mereka.


Sudah jelas ciri-ciri itu Laura, bagi Renggra sudah cukup.


Selanjutnya~>Chapter 39

__ADS_1


__ADS_2