Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 26


__ADS_3

Memeriksa beberapa Map berisi dokumen penting, sebelum di serahkan ke Renggra. Dentingan suara handphone, menandakan pesan masuk lewat SMS.


Bacanya sebentar, kemudian mendekati Renggra"Reng, ada undangan untukmu."berdiri di hadapan Renggra.


Tolehnya memegang dokumen,"Siapa?"


"Perusahaan ZAINT, klien yang memproduksi tas bermerek."


Naiknya alis"Ada urusan, apa?"tiba perusahaan mengundangnya secara pribadi.


Naik sedikit pundak"Nggak tau Reng, hanya mengundangmu untuk makan malam."


Lihatnya dokumen"Tolak, bilang jadwalku penuh."tak mau berurusan dengan suatu hal yang tak penting bagi Renggra, paling membahas kerja sama dengan perusahaan lain.


Setelah itu, mencoba berontak menjatuhkan nama perusahaan. Senyum tipis Renggra, membodohinya bukan pada tempat yang sesuai.


Esokkan hari setelah udangan itu di tolak, perusahaan tiba-tiba di serbu hackers. Lonjakan hacker membuat perusahaan kewalahan, banyak data-data perusahan di ambil.


Renggra dan Angga tak pulang kerumah sibuknya mengunci data. Siang dan malam mereka lembur. Nova yang masih bulan madu pun, ikut membantu dari jarak jauh.


Beberapa hari tak berjumpa dengan Laura rasa rindu berat di jalani, entah cobaan apa yang sedang menerpa kali ini. Semoga Laura di rumah memaklumi pekerjaan suaminya itu.


Sibuk mengatasi kebocoran sana sini dokumen, membuat Renggra tetap berada di depan layar komputer.


Fokus pada apa yang di lakukan hancker tersebut.


Beberapa hari setelahnya, Renggra bisa menghebuskan nafas legah, perusahaan kembali seperti biasa. Data-data terkunci dengan baik, semua aktivitas hacker tak dapat masuk lagi ke jaringan perusahaan.


Memainkan leher yang tegang, akibat terlalu banyak menatap layar"Reng..."pekik Angga mendekati Renggra.


Menatap layar komputer,"Eemmm."


Berdiri di hadapan Renggra"Perusahaan itu kembali mengundangmu. Setelah ku fikir-fikir, sepertinya perusahaan itu yang melakukan ini pada kita. Saat kau tolak undangannya."memijit pelan lehernya.


Renggra memang sudah menebak semua ini ulah mereka, memaksa bertemu dengan cara apapun. Entah apa maksud dan tujuan mereka sebenarnya.


Toleh ke arah Angga"Buatlah janji besok malam. Malam ini aku mau pulang menemui istriku."senyumnya ke arah Angga, menaiki alis memberi kode bahwa Ia rindu pada sang istri.


Hembusan nafas kembali, merasa jomblo ini harus bersabar"Eeemmm, baiklah."duduknya kembali di kursi tempatnya.


Renggra merasa hal ini cukup mengganjal, mengapa mereka lakukan penyerangan tiba-tiba dan menghilang pun tiba-tiba.


Fikiran saat ini harus di kesampingkan. Malam ini inginnya menemui istri, rasa rindu yang menggebu-menggebu ingin memeluknya.


Pulang larut, langsung membersihkan tubuh. Melihat Laura tidur terlelap, memakai selimut dengan memeluk bantal guling.

__ADS_1


Masuknya ke dalam selimut, memeluk dari belakang, rindu itu sangat menyengat di dalam kalbu. Pekerjaan yang banyak membuat hubungan mereka seperti memberi sekat yang jauh.


Laura terbangun, merasa pelukkan hangat dari suaminya. Berbalik arah melihat Renggra sedang tertidur,"Mas, udah pulang?"pegang wajah Renggra rindunya tak berjumpa suami beberapa hari.


Intip mata sebelah, dengan tersenyum menutup matanya kembali. Mengeratkan pelukan"Eemmm, ya Ay. Maaf ya baru pulang."cium kening Laura.


Tepuk pelan punggung Renggra, menyender di dada hembusan nafas terdengar"Iya Mas, nggak papa. Asal kamu jaga kesehatan."khawatir Laura takut suaminya sakit, akibat banyak pekerjaan.


Hebusan nafas kembali terdengar"Iya, Ay. Sepertinya batre Mas ngedrop. Nggak di cas,"bujuknya memberi kode.


Lepasnya pelukkan, menoleh ke arah Renggra"Maksud Mas?"puranya tak tahu.


Senyum Renggra"Pulang ngisi batre dulu sama istri. Capek nggak, Ay?"bujuknya.


Geleng kepala"Nggak, Mas. Kamu kali yang capek, lembur tiap hari."sentuh dada Renggra dengan telunjuk.


Bangun memegang tangan Laura"Shalat dulu, yuk Ay. Capek itu hilang kalau udang di cas sama istri."bisiknya.


Senyum Laura,"Iya, Mas."hanya bisa mengikuti kehendak suami yang lelah bekerja butuh energi baru.


***


Berhentinya mobil di depan klub malam, dengan nuasa gedung yang mewah.


Angga dan Nova ikut mengantar Renggra, tak bisa di pungkiri dengan ke jadian kemarin membuat kedua sahabatnya merasa khawatir.


Pegang pundak Renggra"Kami akan mengawasimu."sahut Nova.


Angguk Renggra,"Eemmm."


Renggra turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam klub,"Semoga kau baik-baik saja Reng."batin Angga.


Pelayan membuka pintu, dan menyuruh Renggra masuk ke dalam ruangan. Di sana terdapat laki-laki muda duduk sendirian dengan melihat ke arahnya.


Berdiri menyambut kedatangan Renggra"Mari duduklah tuan Renggra, tenang tak akan terjadi apa-apa."memberi sapaan keakraban.


Renggra duduk di kursi yang telah di siapkan, lelaki itu memetikkan jari memberi kode pada pelayan untuk menghidangkan minuman ke pada mereka.


Naiknya alis"Terimakasih, kau telah mengundangku. Sekarang apa maumu?"senyum tipis merasa luapan emosi.


Lihat reaksi wajah Renggra yang tak begitu senang, lelaki itu merasa terlalu cepat untuk bernegosiasi"Ayolah tuan Renggra, jangan terlalu tegang dalam suasana kita. Mari saya perkenalkan dulu identitasku agar kita bisa saling kenal. Namaku Aditya Mahesa, usiaku 25 tahun jauh di bawahmu."duduknya kembali.


Melipat tangan ke dada"Baiklah sekarang saya sudah tau identitas anda, sekarang apa tujuan anda dengan semua ini?"inginnya segerah selesai, mengetahui apa mau dari laki-laki mudah yang tampan melakukan tindakan seperti anak kecil. Walaupun usianya memang masih ingin main-main.


Aditya tersenyum-senyum"Ayolah kita minum dulu tenggorokan ku kering setelah perkenalan, agap saja malam ini pertemuan yang menyenangkan antara kau dan aku."bujuknya agar tak tegang dalam perbincangan, menuangkan botol minum ke arah gelas Renggra dan gelasnya"Mari kita bersulang?"angkat tangan yang memegang gelas berisi minuman ke arah Renggra.

__ADS_1


Ambilnya gelas berisi jus jeruk"Maaf, aku tak suka minum dengan tradisi begitu."minumnya seteguk.


Aditya menarik kembali tangannya"Oh, oke. Santai saja dan nikmati."minumnya seteguk meletakkan kembali gelas di atas meja"Kenapa auranya dingin sekali ya di sini?"menyindir aura dari Renggra.


Ambilnya tisu dan mengelap sisa jus di mulutnya"Aku datang bukan ingin bersenang-senang denganmu, kita berbicara pada intinya saja, apa maumu?"sekak Renggra, merasa mengulur-ngulur waktu.


Tepuk tangan menyender di kursi"Waw tak sabaran sekali, baiklah tuan Renggra."menyerahkan sebuah kertas di dalam sakunya"Lihatlah."menyipitkan mata dengan senyuman tipis.


Ambilnya secarik kertas yang berisi foto Laura memakai seragam kerja, kerut kening apa hubungan dengan istrinya itu. Lirik kembali ke Aditya dengan wajah yang datar.


Naiknya Alis"Kenapa kau tak suka melihatku?"tantangnya.


Letaknya kertas itu kembali"Apa, maumu sebenarnya?"meletakkan tangan di atas meja.


Senyuman tipis,"Mauku, kau pisah dengan wanita itu. Dia milikku,"lirihnya pelan inginnya mereka berpisah.


Hembusan nafas"Milikmu, tapi dia istriku. Berarti milikku."santai Renggra, menyikapi kebucinan laki-laki pada istri orang.


Tunjuknya"Kau yang berani mengambil milikku dengan paksa tuan Renggra."marah Aditya.


Singkirnya tangan Aditya"Kalau aku tak mau bagaimana?"tantangnya kembali.


Duduk santai kembali, memainkan jari-jari tangan"Masih banyak seribu cara untuk mendapatkannya, kita lihat saja besok."berdiri meninggalkan Renggra, dengan tatapan sinis, tibanya berhenti dengan jarak yang tak begitu jauh"Lihat di jarimu, ada serbuk pelupa ingatan. Kau akan lupa pada istrimu sendiri."suara tawa meninggalkan Renggra.


Angkatnya tangan, benar serbuk itu menepel"Benar-benar manusia licik."ucap batin, tiba penglihatan berbayang hilang berbayang lagi hilang.


Rasa sakit yang menggigit di kepala, membuat Renggra merasa pusing. Berinya sinyal lewat jam tangan menghubungi Angga.


Usahanya berdiri, menarik nafas. Sakit itu sekejap hilang, jalan seperti biasa kembali ke dalam mobil.


Sebotol cairan obat, di berikan Nova ke arah Renggra"Minumlah obat pencahar ini sebelum kau bicara."melihat reaksi tubuh Renggra tak baik-baik saja.


Obat yang di berikan Nova dapat menjinakkan efek samping dari obat lain.


Renggra meminumnya, tariknya nafas. Sesaat tubuhnya melemas, menahan sakit yang menjalar di kepalanya. Tariknya nafas legah, obat itu meminimalisir rasa sakit tersebut.


Mengedipkan mata"Bagaimana, apa yang terjadi di dalam?"ingin tahu, kenapa wajah Renggra bisa menjadi pucat.


Letaknya botol di pinggir pintu"Dia mengenal Laura. Dia hanya ingin aku bercerai dengannya."meneguk Saliva, merasa pahit di lidah.


Mengeruti alis"Apa! Dia benar-benar sudah gila. Meminta kau bercerai dengan istrimu."terkejut Nova rasa yang aneh, ingin mengambil istri orang.


Geleng kepala"Entahlah aku tak paham, Ia menaburkan obat serbuk di meja. Tanpa sadar tanganku terkena serbuk itu. Katanya aku bisa lupa dengan Laura. Tadi sempat kepalaku pusing sekarang sudah hilang."hembusnya nafas panjang.


Toleh Angga"Aku khawatir dengan mu, Reng. Sekarang kita kerumah sakit, periksa kembali kondisimu. Nanti kita bahas jika keadaamu baik-baik saja."kesehatan Renggra lebih penting bagi Angga saat ini, melihat kondisi Renggra yang masih pucat.

__ADS_1


Angguk Renggra,"Eeemmm!"


Selanjutnya~>Chapter 27


__ADS_2