
Renggra terkekeh melihat reaksi Bu Ani dan Angga, yang menantikan jawabanya.
Tarik nafas Bu Ani dan Angga merasa terkena prank Renggra,"Sudahlah, aku malas bertanya padamu."kesal Bu Ani melihat ke arah lain, ingatnya pada Yusuf"Oh ya Reng,"menoleh lagi ke Renggra.
Senyum Renggra, yang masih merahasiakan"Eemmm, kenapa Bu?"
"Reng, gimana pendapatmu masalah sekolah Yusuf, umurnya, kan udah enam tahun, sebentar lagi masuk SD. Kamu mau masuki dia ke pesantren tempatmu dulu atau gimana?"meminta saran Renggra dalam sekolah Yusuf, cucu kesayangannya itu.
Berfikir sejenak"Menurutku, dia masuk pesantren tapi nggak mondok Bu. Biarkan tunggu sampai SMP baru kita pondokkan."menoleh ke Angga"Sekalian bareng anakmu Ga."
Angga dan Amel telah memiliki anak laki-laki yang usianya masih mudah setahun dari Yusuf. Masih sekolah di tingkat TK dan Yusuf akan masuk SD sebulan lagi.
Lirik Angga ke Bu Ani dan Renggra"Nanti aku tanyakan pendapat Amel dulu, gimana maunya?"menaiki alis"Kalian tau sendiri, Gimana Amel?"
Senyum Bu Ani"Mana baik kalian, intinya anak jangan terlalu di manja."toleh ke Angga"Kamu tuh Ga, nggak nambah lagi apa, anak?"sindir Bu Ani yang ingin rumah itu, penuh dengan anak kecil. Harapnya pada Renggra mana mungkin, pasangan saja nggak ada.
Hembus nafas panjang"Amel belum mau Bu,"wajah Angga memerah merasa malu.
Senyum Renggra"Paksa Ga,"serunya menjahili.
Hembus nafas terdengar, merasa muda apa menghadapi Amel. Toleh Angga ke Bu Ani"Ibu saja yang bilang,"menyuruh Bu Ani, jika dirinya yang bertindak pasti ada saja perdebatan dalam pembicaraan mereka.
Menggelengkan kepala pelan, merasa pusing dengan Angga dan Renggra. Jika di suruh, balik nyuruh. Anak manja, yang selalu mengedepankan orang tua yang bertindak.
Siap melaju mobil, Angga memasangkan sabuk pengaman. Membawah mobil tanpa Pak Tono supir pribadi.
"Kita mau pergi kemana Reng?"lanjutnya pelan membawah mobil.
Duduk di sebelah Angga"Ke Mall tempat restoran Laura kerja dulu."inginnya melihat seseorang.
Renyit kening Angga merasa Renggra masih ingin mengenang masa lalunya bersama Laura"Kenapa nggak tempat lain Reng?"usulnya agar berpindah tempat, jangan sampai hari yang indah itu menjadi suram.
Menaikan alis"Aku mau duduk di sana, ayolah."rayu Renggra mengerti mungkin takut Angga, dirinya akan bersedih kembali.
__ADS_1
Melihat ke inginan Renggra yang tak gentar walau badai menghampiri, membuat Angga hanya bisa pasrah, mengikuti kehendak yang mengajaknya jalan-jalan.
"Iya Reng!"jawabnya singkat, malas berkomentar.
Tak lama sampai, Angga langsung memarkirkan mobil di tempat biasa. Melepasnya sabuk pengaman menoleh ke arah Renggra"Kamu duluan saja, aku mau ke toilet sebentar."tahannya yang ingin buat air kecil.
Angguk Renggra, yang keluar dari dalam mobil. Masuk ke dalam Mall, menggunakan pakaian biasa dan masker agar tak terlalu mencolok saat berpapasan dengan orang lain. Jelasnya yang seperti selebritis, selalu di idolakan oleh kaum wanita tanpa hari dan tanpa waktu.
Duduk di kursi plastik, mulai melepas masker. Memanggil pelayan, memesan minuman dan sedikit cemilan berupa steak kentang, melirik ke arah wanita berhijab panjang ternyata Sella.
Setelah dua pekan Renggra berkerjasama dengan Sella, membuat hatinya sedikit tergoyah.
Terkadang Renggra juga terus-menerus menepis fikirannya, melihat tingkah Sella yang selalu menyamai dengan Laura. Fikiran itu terus kembali, mungkinkah Sella pengganti Laura yang tuhan berikan.
Selama enam tahun, lewat via SMS sesekali Renggra menanyakan soal merevisi perkerjaan. Padahal semua itu hanyalah pendekatan Renggra berikan, setelah Angga masuk dari libur panjangnya.
Sella yang pindah departemen lain, Ia juga sempatnya berkerja harian di restoran tempat Laura berkerja dulu. Jika waktu libur saja seperti hari sabtu dan minggu.
Selama enam tahun juga, Sella masih menjomblo dan belum juga menikah. Dirinya yang sedang menunggu seseorang atau ada hal yang lain membuatnya menundah pernikahan.
Senyum-senyum melirik ke Sella, dengan memegang pipet besi yang di sediakan. Entah Sella tahu atau tidak, jika Renggra berada di sana dan memandanginya sesekali.
Datang perempuan cantik berjas hitam, menggunakan pakaian dress panjang berwarna coklat mudah, menggunakan hijab pasmina, juga memegang tas di tangan kirinya. Berhenti melepaskan kacamata, melihat ke kiri fokusnya ke Renggra yang melihat gadis berhijab panjang tak jauh darinya.
Perasaan yang aneh menerpa, hembusan angin melewati wajah cantik itu. Entah kenapa dirinya bisa berhenti dan fokus melihat laki-laki yang melirik wanita lain?
Angga memegang tas kecil berwarna coklat mudah masuk ke dalam Mall, berjalan melirik suasana Mall yang semakin hari makin ramai. Berhenti melangkahkan kaki, melihat wanita cantik yang fokus melihat Renggra dari kejauhan ternyata itu Laura.
***
Bangun dari tempat tidur memegangi kepala, berat rasanya seperti sedang mengangkat beban. Melihat diri yang terpasang selang infus dan selang di hidung membuatnya risih, lepas pelan meletakkan di atas meja kecil sampingnya.
Lirik ke arah lain, melihat laki-laki yang terpasang perban di kepala, infus yang terpasang dan selang oksigen tak jauh darinya.
__ADS_1
Suara batuk kecil, mengawali sadar dirinya.
Malam terjadinya ledakan, Aditya dan Laura berhasil di selamatkan pengawal setianya. Mereka merasa berhutang budi pada Aditya yang selalu membantu keluarganya sejak kecil. Sifat yang berbeda dengan Pak Septo, membuat mereka berfikir Aditya bukanlah orang yang berambisi terlalu berlebihan.
Renyit kening Laura, merasa bingung apa yang harus di lakukan? Turun dari tempat tidur, menarik tiang infus mendekati Aditya.
Aditya yang masih bermimpi panjang, berjumpa dengan sang Ibu. Berbaring di atas pangkuan, meluapkan semua isi hati, atas kehilangan orang yang terkasih. Kapan dirinya bisa seperti orang lain, bisa menikmati masa-masa bahagia bersama keluarga, termasuk Ayah dan Ibunya?
Menceritakan banyak keluh kesah, membuat air mata itu mengalir dengan deras. Sesak di dada, apa yang harus dilakukan, agar berjalan sesuai keinginan?
Derita pahit yang setiap hari di lakoni, membuat gemuruh di dada tak tertahan, inginnya ikut sang Ibu agar bisa keluar dari jeratan besi yang meliliti tubuh, meninggalkan bekas luka yang amat perih jika di sentuh.
Laura melihat mata Aditya yang terus mengeluarkan air membasahi wajahnya, membuat resah hati. Apa sebenarnya yang terjadi?
Buka perlahan mata yang masih di penuhi genangan air mata, melihat bayangan wanita cantik di hadapannya.
"Ibu..."lirih Aditya, ingin sekali memeluk wanita itu. Namun lengan yang masih berat, membuatnya belum bisa bergerak.
Memegang ujung tempat tidur, nyambil duduk di kursi kecil dekat Aditya"Ma.maaf! Kamu mau di panggilkan siapa?"suara pelan nan merdu terdengar di telinga Aditya.
Pejam mata, mengeluarkan sisa-sisa genangan air mata, agar melihat dengan jelas. Suara siapa, yang di dengar?
Membuka mata kembali secara perlahan, melihat wanita yang selama ini di idam-idamkan berada di dekatnya.
"Kenapa, kamu di sini?"ucap batin yang ingin di katakan. Namun tak sampai.
Terbayang, Ingatan yang telah terjadi"Ternyata kami selamat?"ucap batin kembali, merasa sedikit legah.
Tarik nafas panjang, telah melakukan sesuatu yang mempertaruhkan nyawa orang lain. Fikirnya bagaimana ke adaan yang lain? Apa kelompok Renggra selamat atau telah meninggal?
Jatuh kembali air mata, sungguh mengerikan diri ini telah melakukan kesalahan yang hina. Terlalu berambisi dalam kejahatan yang dilakukan, aliran darah Pak Septo benar-benar berada dalam dirinya. Rasa putus asaan, membuatnya terjerumus kembali dalam lubang hitam, tali yang terikat samakin kuat. Derita yang pahit semakin pahit, bagaimana Ia bisa keluar dari jeratan yang terus membelenggu itu?
Selanjutnya~>Chapter 44
__ADS_1