Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 34


__ADS_3

Besuk Merisa dan Nova datang kerumah sakit, menghampiri kedua pasutri yang sedang berbahagia.


Bawahnya bingkisan buah-buahan dan kado kecil untuk sang bayi.


Pelukkan hangat memeluk Laura"Selamat, ya Ra. Atas kelahiran baby yusuf."ucap Merisa dengan lembut.


Senyum manis Ibu muda itu terlukis di wajah Laura"Iya, Mer. Makasih ya kalian sudah mau datang kesini?"perasaan bahagia banyak yang membesuk mereka.


Nova mendekati Renggra, berjabat tangan"Selamat, ya Reng. Telah mendapat gelar baru menjadi Ayah."bahagia melihat sahabat telah mempunyai keturunan.


Senyum Renggra membalas jabatan tangan Nova"Eeemmm, terimakasih Nov. Gimana sudah nabung belum?"ingin mengetahui, apa Merisa sedang hamil.


Geleng kepala Nova"Belum Reng, doain aja semoga kami cepet nuler."bahasa isyaratnya, siapa tahu doa mereka di ijabah.


Angguk Renggra"Eemmm, insyaallah kami berdua doakan."


Laura memegang tangan sahabatnya itu"Masih baru Mer, jangan terlalu di khawatirkan. Nikmati masa pacaran kalian dulu."gurau Laura, agar Merisa merasa nyaman dengan kondisinya saat ini.


Senyum Merisa menandakan ia tak terlalu kefikiran,"Iya Ra."


Melihat mata bayi yang sipit sedang tidur terlelap, membuat Nova dan Merisa merasa ingin menggendongnya. Namun sayang, masing ngeri dengan bayi yang masih lembut itu.


***


Tiga bulan berlalu, kondisi Laura telah pulih kembali. Menggendong sang buah hati di tangannya sambil berjemur di bawah sinar terik mentari pagi.


Jalan Renggra mendekati Laura, yang tampak cantik dan menawan melihat kepiawaiannya mengendong baby yusuf.


"Ay, Mas berangkat dulu ya?"mencium baby yusuf"Ayah berangkat dulu, ya Nak. Jaga Ibu dirumah."suara pelan di lontarkan sambilnya mengelus kepala yusuf.


Lirik ke Laura yang tersenyum.


"Hati-hati ya Mas?"ucap Laura.


Angguk Renggra menunduk sedikit, seperti biasa meminta casan.


Kerut kening Laura melihat tukang taman yang bebersihan"Malu, Mas di lihat mereka?"bisik Laura.


Menggigit bibir bawah dan mengintip dengan mata sebelah"Nggak papa, Ay. Kamukan istri Mas."tutupnya mata kembali"Sedikit aja."bujuk Renggra yang sudah lama tak di perhatikan, akibat fokus ke yusuf.


Laura tersenyum, mengerti maksud dari Renggra. Ia mencium kening suaminya itu.

__ADS_1


Renggra tersenyum-senyum bahagia, dirinya di beri ciuman manis dari sang istri.


"Iya udah, Mas berangkat dulu. Assalamualaikum."


Angguk Laura"Waalaikumussalam."dengan tersenyum.


Perasaan terlukis bahagia mengarungi bahtera rumah tangga mereka berdua.


Tak lama Laura masuk ke dalam rumah, dengan membawah baby yusuf yang sedang tertidur pulas.


Lihatnya Bu Ani sibuk melihat foto-foto album yang tebal di tangannya dan juga berserakan di atas meja bersama Amel.


Jalan mendekati mereka,"Pada ngapain Bu?"penasaran Laura yang duduk di samping Bu Ani.


"Ini lagi lihat-lihat undangan buat pernikahan Amel."membolak-balik foto undangan yang terpajang.


Setelah Laura pulang kerumah, Bu Ani menyidang Angga dan Amel. Menanyakan bagaimana ketindak lanjutan hubungan mereka. Perasaan yang campur aduk membuat jantung Amel dan Angga merasa ingin copot di pertanyakan soal perasaan mereka.


Angga yang menarik nafas panjang-panjang menjelaskan perasaannya di depan Amel, membuat dirinya gemetar. Biasa berhadapan dengan orang elit dan klien perusahaan lain biasa-biasa saja, ini berbicara masalah hati ke hati membuat jantungnya ingin lepas saat itu juga.


Amel yang kegirangan dalam hati mendengar perkataan Renggra hanya bisa tersenyum-senyum, merasa geli campur senang.


Apalagi ungkapannya di depan Bu Ani,


Secara resmi mereka berdua berbicara didepan Bu Ani akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius dalam waktu dekat.


Senyum Bu Ani mendengar keputusan Amel dan Angga, ternyata jodoh nggak kemana-mana bila waktunya telat tiba.


Semua persiapan mulai mereka lakukan, agar setelah hari pernikahan tak ada yang kurang satu apapun.


liriknya Bu Ani ke yusuf"Eemmm. Bobok cucu nenek."mencium pipi yusuf yang gembul, merasa gemas.


Ngeliut-liut di pelukan Laura, tanda tak suka tidurnya di ganggu.


Senyum Amel, Laura dan Bu Ani melihat perkembangan yusuf setiap harinya.


"Bu, kerjaan Laura apa, bantui pernikahan Amel?"melirik ke arah kertas yang berserakan, merasa kurang nyaman tak membantu.


"Udah kamu fokus ke yusuf aja, urusan ini biar Ibu ama Amel."Bu Ani tak mau ambil pusing, dan tak mau membebani Laura yang tidur saja kurang akibat yusuf yang sering mengajaknya begadang.


Rengut Laura"Tapi,kan Bu."mengharap ambil bagian.

__ADS_1


Hembus nafas Bu Ani,"Jangan di fikirin Ra, ini tugas kami. Kamu jagai yusuf yang lagi fase butuh perhatian lebih. Ini masa-masa emas pembentukan karakter anak. Kamu harus lebih memberi perhatian padanya."Ngotot Bu Ani yang tak mau menambahi kerjaan Laura.


"Bener kak, lagian ini perkejaan udah banyak yang selesai kok."jelas Amel yang fokus memilih mana yang sesuai dengan keinginannya.


Angguk Laura"Eemmm, Iya Bu."paham dengan maksud Bu Ani dan Amel.


Memang sejak melahirkan Laura ingin merawat yusuf sendiri tanpa bantuan baby sister atau perawat lainnya.


Laura ingin merasakan bagaimana menjadi seorang ibu, dengan bantuan Bu Ani dalam merawat yusuf. Senang dengan tumbuh kembang sang anak membuat Laura yakin, proses yang tak mudah ia jalani sekarang akan membuahi hasil yang baik untuk masa depan anaknya.


***


Menyerahkan Map berisi dokumen,"Ini Reng, periksa kembali dan tanda tangan."berdiri di hadapan Renggra"Oh ya Reng, besok malam Pak Septo mengundang kita datang ke acara ulang tahunnya yang ke-67."


Pak Septo adalah paman tiri Renggra, yang terus bersaing dalam memperebutkan posisi CEO di perusahaan yang di miliki Renggra.


Hembus nafas panjang"Setiap tahun, lelaki tua itu terus-terusan mengadakan pesta."malas Renggra pergi ke pergaulan kelas atas, dengan alasan acara ulang tahun.


Menaiki alis,"Menurutmu kita datang, Nggak?"


Tibalah Nova datang menghampiri mereka berdua.


"Reng, Pak Septo ngajak kita ke pestanya besok malam?"berdiri dekat Angga dan berhadapan dengan Renggra.


Toleh Angga ke arah Nova"Ini kami lagi bahas, masalah undangan dari Pak Septo."lirik ke arah Renggra kembali"Mereka kali ini mengundang kita bersama pasangan, bukan sendirian."


Renggra teringat dengan Laura yang belum pernah mengajaknya ke pesta mana pun. Apalagi semenjak ada Yusuf, Laura dan dirinya hanya di rumah.


Angguk Renggra,"Iya sudah, kali ini kita pergi. Sekalian ngajak Laura dan Merisa melihat pestanya."setuju Renggra.


Renyit kening Angga"Aku sendirian dong, Amel besok ke luar kota nyelesaiin pekerjaan di sana, sebelum tanggal pernikahan."


Senyum Nova"Itu mah, resiko elu. Terlalu banyak mikir."sindir Nova.


Senyum Renggra,"Nggak papa, nanti juga kalau udah sah baru kemana-mana."membelah Angga yang terus-terusan di sindir"Oh ya Nov, nggak papa dengan kandungan Merisa yang masih muda?"tanyanya sebelum berpergian.


Ketika Nova dan Merisa menjenguk Laura yang habis melahirkan di rumah sakit, ternyata Merisa tengah hamil satu bulan. Namun, mereka berdua belum mengetahuinya.


"Insyaallah, baik Reng."


Hembusnya nafas"Iya sudah besok malam habis sholat isya kita berangkat, agar aku sama Laura nggak lama-lama ninggalin Yusuf sama Bu Ani."

__ADS_1


Angguk, serentak Nova dan Angga.


Selanjutnya~>Chapter 35


__ADS_2