Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 14


__ADS_3

Shalat magrib berjamaah telah usai"Ay, aku duluan kedapur."jalannya keluar ruangan.


Menganggukkan kepala dengan merapikan alat shalat.


Tak lama Laura mengintip di belakang pintu kamar"Mas..."pekiknya.


"Iya, Ay."


"Ada orang nggak?"


"Nggak, Ay. Hanya kita berdua di sini."


Suara yang terdengar jelas, karena keadaan rumah kecil dan sepi.


Laura tak menggunakan hijab, rambut yang panjang di ikat ke belakang. Dirinya tercengang melihat Renggra yang memakai celemek berwarna hitam, dengan memegang pisau mengiris bawang dengan mahirnya"Mas, masak ya?"dekat ke arahnya.


"Iya, sayang, masa shopping."guraunya.


Mengeryitkan kening"Mas, bisa?"berada di samping Renggra memperhatikan apa yang di masak.


Renggra tersenyum"Kalau nggak bisa ngapain, Ay. Mas di sini."


Rasa kagum yang muncul, melihatnya memotong bahan makanan begitu lihai. Seperti Chef ternama.


"Mas, kerjanya tukang masak, ya?"


Renggra terkekeh,"Iya, Chefnya kamu."guraunya lagi.


Wajah cemberut"Mas, nih. Orang nanya yang bener."


Merebus air"Ini hanya hobi, Ay. Kalau lagi libur beginilah."mengusap kepala Laura.


"Mas, sini ku bantu. Masa aku lihat aja."berupaya mengambil bahan.


"Ambil sendok aja, Ay. Cicipin yang udah mateng."tunjuknya lemari belakang.


Laura membuka lemari. Namun, tangannya tak sampai"Mas, ini gimana ngambilnya. Tinggi banget."berusaha menjinjit.


Renggra mendekati Laura, dan membantu mengambilkan sendok. Tepat berada di belakangnya"Ay, nih"memberikan.


Tiba-tiba Mencium pipi sebentar"Mas..."kagetnya mengambil sendok di tangan Renggra.


Renggra tersenyum-senyum, kembali mendekati masakan.


Dengan wajah yang merona, Laura merasa malu"Mas, mesum deh."sipitnya mata.


"Habis, kamu tuh bikin gemes, Ay. Nggak papalah dikit juga."jahilnya.


Wajah makin merona, cepatnya alihkan hal itu dengan mencicipi masakkan Renggra"Awas panas, Ay. Pelan-pelan."


"Mas, enak banget."cicipnya kembali sayur yang di tumis.


Renggra tersenyum, merasa puas bisa membuat sang istri senang.


Masakkan telah di sajikan di meja makan kecil, mereka berdua makan bersama.


Lahapnya Laura makan"Ay, makan yang pelan. Jangan takut, Mas habisin."nasehatnya.

__ADS_1


Memegang sendok, ingin makan"Mas, kita buka restoran aja yuk? Masakkanmu enak Mas, kamu berhenti aja kerja di sana."kembali mengunyah makanan.


Renggra tersenyum-senyum"Emang, kamu tahu apa pekerjaan, Mas sekarang?"tanyanya balik.


Gelengnya kepala,"Kan, Mas nggak ngasih tau aku."jawabnya yang ingin menang.


"Kamu, di ajak nggak mau, Ay."


"Iya sih, tapikan itu demi kamu juga, Mas. Dari pada takut di pecat orang, lebih baik kita buka restoran."bujuknya kembali.


Renggra hanya tersenyum-senyum, menguyah makanan. Kumpul di rumah kemaren, ternyata Bu Ani belum cerita tentang dirinya. Jadi apa yang di obrolin para wanita saat berkumpul?


Selesai makan Laura membereskan, meja makan"Mas, aku aja yang nyuci piring. Kamu, duduk aja. Tadi, kan kamu udah masak. Giliran aku yang nyuci piring."


Menganggukkan kepala"Iya, Ay. Tapi shalat Isya dulu udah azan. Nanti baru cuci piring."berdirinya Renggra"Yuk, Ay. Ambil wudhu dulu."


"Iya, Mas. Kamu duluanlah, Aku bawak piring ke sana dulu."tunjuknya wastafel.


Renggra menganggukkan kepala.


Selesai shalat Isya berjamaah, Laura mencuci piring sedangkan Renggra menonton televisi. Liriknya ke Laura merasa sangat bahagia berdua bersamanya di villa, seperti menjalin rumah tangga yang sesungguhnya.


Tak lama Laura menghampiri"Mas, aku ke kamar duluan ya. Rasanya capek mau istirahat."


Menganggukkan kepala kembali, yang masih asyik menonton televisi.


Laura langsung saja, tidur. Tak lama Renggra tertidur di sofa.


Hari semakin malam menjelang subuh, Renggra langsung terbangun"Eemmm, aku tidur di sofa."ucap batin, sadarnya mematikan televisi melihat jam setengah empat"Ambil wudhu dulu,"inginnya melaksakan shalat tahajud seperti biasa.


Duduk di tempat tidur"Nungguin kamu bangun, Mas. Ikut shalat tahajud."


Berhentinya di depan kamar mandi,"Nggak banguni, Mas?"


Gelengnya kepala pelan,"Takut, ganggu Mas tidur."


Senyumnya merasa gemas melihat Laura. Shalat tahajud yang begitu nikmat. Biasa sendirian, sekarang bersama istri yang mau bangun malam shalat dan mengaji dengannya.


Tak lama mereka melanjutkan shalat subuh.


"Ay, udah ini joging, yuk."ajaknya dengan melipat kain sarung, di berikan ke Laura.


"Iya, Mas. Tapi aku ke kamar mandi dulu. Perutku mules."letaknya alat shalat di lemari.


"Eemmm."


Laura merasa aneh, kenapa perutnya sering mules-mules padahal nggak ingin buang air besar.


Kagetnya melihat, bulanan datang. Tariknya nafas"Eeemmm wajar, perutku mules-mules. Badanku juga kurang nyaman. Tapi, gimana mau beli pembalut?"rasa bingung, Ia pun mengintip dari pintu.


"Mas, Renggra."panggilnya dengan nada pelan menahan malu.


Renggra masih fokus ke handphone.


"Mana sih, Mas Renggra."ucap batin.


Panggilnya lagi"Mas, Renggra."

__ADS_1


"Iya, Ay."sadarnya mendengar suara Laura.


Laura mengeluarkan kepalanya"Mas, di sini ada warung nggak?"tanyanya yang malu.


Lihatnya ke Laura yang masih di dalam kamar mandi, tak jauh dari sisi kirinya"Warung nggak ada, Ay. Supermarket yang ada. Tapi agak jauh dari sini. Kenapa, Ay?"


Dengan malu-malu"Itu! Itu..."ragu-ragu.


"Itu, apa Ay?"rasa penasaran.


Pejamnya mata, menarik nafas lihat lagi ke Renggra"Bulananku, datang Mas."lirihnya menahan malu.


Renggra langsung paham maksud Laura, berdirinya mengambil jiket"Iya udah, kamu tunggu di situ, Mas beliin bentar."


"Mas, nggak papa?"takut suaminya itu malu membelikan pembalut.


"Santai aja, Ay. Mas, berangkat dulu."jalannya keluar menutup pintu.


Merasa malu semalu malunya, di bantu membelikan pembalut oleh sang suami.


Renggra memarkir mobil, karyawan yang melihat hanya tersenyum.


Supermarket itu milik Renggra, banyak usaha yang Ia kembangkan. terutama di wilayah pelosok yang di kunjunginya. Selain membuka lapangan pekerjaan, juga memudahkan para warga untuk berbelanja karena jauh dari kota.


Renggra masuk ke dalam,"Pagi Pak?"sapa karyawan yang baru saja membuka supermarket.


Karyawan di sana telah biasa, bertemu dengan Renggra. Setiap liburan pasti mampir membeli apa saja yang di butuhkan.


Renggra mengambil berbagai merek pembalut, Ia tak tahu Laura memakai merek apa?


Satu keranjang penuh di bawahkan Renggra, ke kasir.


"Banyak Pak pembalutnya?"gurau once penjaga kasir di sana"Untuk non Amel ya Pak?"tanyanya mengakrabkan diri dengan membungkus belanjaan.


Keluarnya uang beberapa lebar"Nggak, ini untuk istri,"jawabnya lantang.


"Pak nggak usah bayar, kan ini supermarket punya bapak"tolaknya.


"Saya di sini jadi pembeli, bukan datang sebagai yang punya."


Once hanya merasa tak enakkan"Iya, Pak! Ehh tadi bapak bilang sudah beristri. nggak ada berita di televisi Pak?"ambilnya uang di Renggra.


Senyumnya"Ngundang keluarga dekat aja."


Once merasa berdebar hatinya, melihat senyuman Renggra yang tampan"Aku mau jadi yang ke dua Pak?"celotehnya.


Renggra terkekeh,"Masa makan pisang,"guraunya.


Malu once yang dirinya merasa wanita padahal laki-laki"Bapak tega, gini-gini Ama pisang, maknyus loh Pak."guraunya kembali.


Ambilnya belanjaan"Kamu aja, aku nggak."jalan meninggalkan once.


Once tersenyum-senyum.


Setelah sampai di mobil Renggra meletakkan belanjaan di sampingnya dan pulang meninggalkan supermarket.


Selanjutnya ~>Chapter 15

__ADS_1


__ADS_2