Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 45


__ADS_3

Penjelasan yang Aditya lontarkan pada Laura, membuktikan bahwa Ia benar-benar lupa pada masa lalunya. Bingung dengan situasi yang membuat diri itu tak tahu arah, hanya bisa menjalani hidup dengan apa yang di lihat mulai detik ini. Selama beberapa hari di rawat dan nyatakan sembuh oleh pihak medis, mereka berdua di izinkan pulang.


Laura yang masih lupa ingatan, hanya rawat jalan. Secara garis besar, Laura tak bisa mengingat secara langsung, bisa juga bersifat permanen. Mungkin akan pulih kembali dengan berjalannya waktu.


Aditya hanya bisa pasrah, jika suatu saat nanti Laura mengingat kenangan masa lalunya, dan pasti akan marah besar saat melihat Aditya.


Hembusnya nafas, untuk saat ini biarkan dirinya mengurus Laura sampai ingatannya kembali. Saat semua yang harusnya terjadi baik buruk ke depan, Aditya akan menerima apapun resikonya.


Selain membuka lembaran baru, Aditya tak mau bersangkut pautkan dengan Pak Septo lagi, perlahan harta dan kekayaan Pak Septo di pindahkan atas nama Aditya.


Laura tinggal bersama Aditya. Namun rumah yang mereka tempati mempunyai kenangan pahit, Aditya menjual semua aset secara perlahan dan membangun lagi tempat yang baru dan nyaman.


Kamar Aditya dan Laura tak berjauhan, selama menjalani hidup sebagai tunangan. Laura merasa, rasa itu sedikit demi sedikit bermunculan. Namun resah hati yang terus mengganggu, membuat Laura tak tampak jika mulai menyukai Aditya.


Memulai bisnis baru, Aditya memperkenalkan pada Laura. Melakukan hari-hari di perusahaan yang dulu hanya memproduksi tas bermerek, sekarang berubah menjadi pelayanan bagi kaum hawa atau kaum laki-laki yang ingin melakukan perawatan diri.


Mula mendirikan sauna, Body spa, Salon, dan perawatan lainnya.


Laura yang melihat kinerja Aditya, sangat antusias inginnya terjun langsung ke dunia bisnis.


Awalnya Aditya ragu, takut Laura akan bertemu dengan orang terkenal, termasuk Renggra dan lainnya. Tak di pungkiri jika ia mendesak Laura untuk berkerja di rumah saja, Laura pasti akan bersikeras melakukan hal lain.


Dalam jangka waktu yang panjang, memikirkan hubungan mereka yang semakin harmonis, membuat Aditya setuju dan mengikuti kemauan Laura, siapa tahu kedepannya Laura bisa berkembang lebih baik lagi.


Usia yang sudah mencapai 27 tahun membuat Laura berhasil berkerja dan lulus kuliah di universitas ternama. Bagaikan wanita karir dan sukses, membuat dirinya mampu bersaing.


Aditya menyerahkan posisi asisten direktur pada Laura, awalnya menolak. Namun, melihat Laura mampu menjalankan berbagai aspek perkerjaan dan berpengalaman menjadi asisten derektur membuat Aditya yakin posisi itu mampu Ia jalani.


Fikir Aditya, walau cinta Laura tak bisa di dapatkan olehnya, paling tidak Laura bisa berada di dekatnya. Setelah Laura menjadi asistennya nanti tak di pungkiri ketakutan yang mencengkram Aditya kembali terjadi. Sudah terlanjut bagi Aditya menahan sakit oleh jeratan belenggu, mungkin melepaskannya secara perlahan akan membuat sakit itu hilang.


Dengan membuat Laura pantas bersanding dengan Renggra suatu saat nanti, mungkin itu juga membuat Aditya bisa membayar dosa-dosa yang pernah Ia lakukan selama ini.


***


Mengedipkan beberapa kali kelopak mata, masih tak percaya Laura masih hidup. Lihatnya Laura kembali menutup dengan kaca mata hitam, dengan sigat Angga ingin membuktikan jika itu benar Laura.

__ADS_1


Majunya cepat dengan menunduk, tibanya pundak mereka bersentuhan.


Terkejut Laura, langsung melepaskan kembali kacamata"Maaf saya tak sengaja?"melihat ke arah Angga.


Lihat Angga yang mengambil dompet yang di lepaskannya ke lantai"Tak apa-apa!"membersihkan dompet yang menemel sedikit debu.


"Kamu tak apa-apa?"pastikan Laura kembali, melihat tubuh Angga, takut terjadi sesuatu yang melibatkan dirinya.


Dengan alasan tak bertanggung jawab telah melakukan kesalahan, dan membuatnya rugi.


Banyak sekali di luar sana orang-orang yang ingin mendapatkan uang dengan beragam cara.


Renyit kening Angga, Laura tak mengenali dirinya. Geleng kepala, menandakan Ia baik-baik aja.


Senyum Laura mengangguk, pasang kembali kaca mata di tangannya. Meninggalkan Angga pergi ke arah luar.


Secara garis besar Laura akan mengingat wajah laki-laki yang di lihatnya, jika terjadi sesuatu, ia bisa mengatasinya dengan mudah tanpa bantuan orang lain termasuk Aditya yang sudah banyak membantu dirinya.


Angga melihat Laura pergi keluar tak lama mobil hitam mewah berhenti, masuk ke dalam mobil dan pergi tanpa hambatan.


Lihat Angga ternyata Sella, firasatnya mengatakan selama ini Renggra menyukai Sella benar kodenya tadi pagi. Renggra telah membuka hati.


"Reng!"cobanya menasehati, semua ini harus di hentikan.


Senyum Renggra"Gimana pendapatmu tentang Sella?"langsungnya menanyakan pendapat Angga.


Diam Angga merasa bingung memulai dari mana?"Menurutmu?"memastikan terlebih dahulu, apa di hatinya masih ada Laura.


Toleh ke arah Angga"Menurutku dia seperti Laura."mengambil steak menyuapi ke mulutnya.


Geleng kepala Angga, sungguh aneh apa yang mirip dari mereka berdua?


"Kenapa?"melihat reaksi Angga yang tak setuju.


Senyum Angga, bukan di sini tempat yang tepat untuk memulai pembicaraan sedikit sensitif itu"Kamu menyukainya Reng?"mengaduk-aduk Jus Mangga.

__ADS_1


Melirik ke Sella sebentar,"Mungkin?"senyumnya.


DEG!"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"memastikan kelanjutan reaksi Renggra.


Melihat ke Angga dengan wajah yang merona, menggigiti bibir bawah"Aku ingin melamarnya besok."suara pelan yang sedikit terdengar.


DEG! Rasa yang tak habis fikir, apa yang membuat Renggra berubah? Pondasi yang kokoh ternyata bisa hancur akibat cinta buta.


Menyedot sedikit, minuman ke mulut"Bolehkah aku tau Reng, Apa yang membuatmu jatuh cinta pada Sella?"ingin tau jelas seberapa cintanya Renggra ke Sella, apa Laura yang bertahun-tahun di tunggu dan meninggal membuat Renggra putus asa?


Senyum Renggra melihat semua makanan di atas meja, berukuran kecil berbentuk segi empat"Aku sudah bilang, dia mirip sekali dengan Laura Ga."ingatnya tingkah Laura yang sedang berada di tubuh Sella.


Angga tersenyum ternyata cintanya pada Laura tak hilang, namun berkhayal pada diri orang lain.


"Jadi kamu menyukainya, karena dia bersikap seperti Sella."tuduh Angga langsung.


Mata Renggra membulat terdiam, itulah yang membuatnya ragu. Yusuf yang hampir setiap hari hanya menanyakan, kapan dirinya punya Ibu, seperti anak-anak lain? Entah itu pancingan Bu Ani yang mengajarkan atau Keinginan Yusuf sendirian.


Membuat Renggra juga bingung desakan demi desakan selalu menghantui.


"Kamu sudah sholat istikharah belum?"sahut Angga kembali, yang melihat wajah Renggra bimbingan.


Shalat istikharah adalah Sholat yang dilakukan bagi setiap muslim maupun muslimat, yang sedang berada dalam keraguan menentukan pilihannya.


Pejamkan mata dan mengusap-usap dengan kedua telapak tangan ucapnya istighfar dalam hati, ternyata ia melupakan suatu hal yang selama ini membuang-buang waktu.


"Makasih ya Ga, sudah mengingatkanku."lirih Renggra merasa malu berbicara pada Angga yang inginnya mengambil keputusan secara tergesa-gesa.


Senyum Angga merasa legah ada jalan untuknya nanti sampai dirumah menjelaskan suatu hal yang penting.


"Yo... Sekarang kita ke tempat lain, aku ingin melihat suasana tongkrongan baru yang sudah jadi."ajaknya mengalihkan pandangan Renggra agar tak bersangkutan pada Sella terus-menerus.


Angguk Renggra, menyetujui ajakkan Angga.


Keluar memakai masker kembali, senyum Sella dengan hati yang senang. Mengetahui keberadaan Renggra dan Angga.

__ADS_1


Selanjutnya~>Chapter 46


__ADS_2