Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 23


__ADS_3

Mentari telah menyinari kain tipis di luar jendela, Renggra benar-benar kesiangan tak menjalankan shalat dan mengaji seperti biasa yang Ia lakukan.


Bangun dengan kepala masih berat, usapnya wajah yang masih merasa letih dan lelah. Inginnya tidur kembali tapi hari telah siang.


Merenung sedikit, mengingat ke jadian semalam. Sadarnya melihat tubuh yang tertutup kain putih tebal ucapnya istighfar.


Tolehnya ke arah wanita yang wajah tertutup kain selimut tabal, rambut yang terurai, memperlihatkan punggung yang putih mulus berbercak kemerah-merahan di mana-mana. Mungkin itu ulah dirinya.


Nafas yang tak beraturan membuat khawatir yang berlebihan, apa yang di perbuatnya semalam? Siapa wanita di sebelahnya? Fikiran Renggra terus melayang.


Jika Laura tahu, apa yang sudah di perbuatnya dengan wanita lain, Ia pasti akan memintai cerai.


Bidadari yang di jaga selama bertahun-tahun, diri yang telah di serahkan pada Renggra dengan seutuhnya.


Membuat air mata Renggra menetes"Maaf, kan aku, Ay."ucap batin. Merasa sesak di dada melakukan zina dalam semalam tanpa ke sadaran.


Menyapu air mata, sadar harus mempertanggung jawabkan atas perilakunya semalam.


Tak sanggup menerima semua, ujian yang di derita. Semoga hati dan fikiran, bisa di beri kelapangan, ke sabaran yang seluas-luasnya oleh sang pencipta.


Bergerak tubuh wanita itu, membuat Renggra terkejut. Apa yang harus Ia lakukan? Selain membangunkan, dan bertanggung jawab atas semuanya.


Tariknya nafas dan menghebuskan agar fikirannya tenang"Kamu, sudah bangun."suara datar.


"Eemmm."jawab pelan merasa malu.


Ragu-ragu"Maaf, telah membuatmu seperti ini?"rasa bersalah.


"Ba.bapak harus tanggung jawab. Atas semua yang bapak lakukan."suara yang berdengung akibat kain tebal.


Hembusnya nafas panjang dengan mengangguk,"Jika itu yang kamu mau, aku tak bisa menolak. Memang ini salahku."ingatkan ke Laura"Tapi kamu harus ingat, aku mempunyai istri yang baru saja di nikahi. Dia orang yang aku cintai seutuhnya, tak bisa di gantikan dengan siapa pun termasuk dirimu. Mungkin kau akan menjadi istri kedua yang tak akan pernah aku toleh sedikit pun."ungkapan hati yang harus di perjelas sebelum semuanya terjadi.


Dengan nada yang sedang merintih,"Teganya bapak, memperlakukanku seperti sampah. Sudah di makan isinya lalu di buang."memegang erat kain selimut tebal itu.


Renggra benar-benar melakukan kesalahan, tapi Ia tak bisa menerima hal lainnya. Cintanya pada Laura begitu besar tak bisa di bagi untuk wanita lain. Walaupun sudah di nikmatinya semalaman.


"Itu sudah resikonya, Aku melakukan kesalahan itu bukan atas ke inginanku sesungguhnya."jelas yang melakukan dengan tak sadar.


Tolehnya ke arah wanita itu"Bukalah wajahmu, jangan merasa takut. Aku tak akan memangsamu lagi."ingin melihat siapa sosok wanita di sampingnya.


"Benar bapak tak akan lagi menyetuhku?"pastikannya.


Menganggukkan kepala"Iya aku janji."jawab singkat membuang muka ke samping.

__ADS_1


Buka kain menarik nafas panjang, tolehnya ke Renggra.


Ternyata wanita itu Laura"Bapak janjikan?"


Renggra langsung menoleh mendengar suara Laura, ternyata benar itu istrinya.


Renggra langsung memeluk, air mata yang tertahan akhirnya tumpah.


"Ay, ini kamu kan?"lirihnya.


Memeluk erat suaminya"Iya Pak ini Laura, katanya nggak akan nyetuh lagi."ucapp di kuping Renggra sempatnya gurau.


"Itu, kan wanita lain, Ay. Kamukan istri, sahku."peluknya semakin erat"Ay, makasih, jika bukan kamu tadi gimana? Mas nggak mau kehilanganmu, Ay."isak tangis yang benar-benar pecah.


Elus pelan pundak Renggra, tak bisa berkata apa-apa lagi sampai Renggra berhenti menangis.


"Mas, udah belum. Aku susah bernafas nih?"tubuh Renggra yang berat membuat nafas menjadi sesak.


Lepasnya pelukkan, mencium Laura"Ay, kenapa bisa ada di sini?"ingin tahu Renggra apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah Angga di telepon Renggra, menyatakan dirinya kurang baik-baik saja. Angga berinisiatif langsung menelepon Pak Tono untuk menjemput Laura menemui Renggra di hotel, takut Renggra kenapa-kenapa. Ketika Laura mengetuk pintu Renggra tak juga menjawab, takutnya Renggra pingsan di dalam karena mendengar dari Angga yang berbicara suaminya kurang sehat.


Laura langsung memanggil pelayan yang lewat, untuk membantunya membukakan pintu. Pelayan jelas tak mau membukakan pintu kamar bos besar pemilik hotel tersebut.


Suasana lampu yang kuning yang menghiasi mencari Renggra tak berada di kamar, mendengar suara di bilik kamar mandi Laura langsung melepas hijab dan menunggu Renggra keluar. Alhasil baru saja melepas hijab, Ia di terbab singa yang kelaparan.


"Buas, Mas."gurau Laura nyambil bercerita"Di gigit pula, nih penuh."tunjuknya.


Renggra hanya diam menggigit bibir bawah, merasa malu. Tariknya nafas legah untung istrinya yang langsung datang, kalau orang lain entah apa yang harus di lakukan saat ini.


Tuhan benar-benar memberikan perlindungan hambanya yang benar-benar meminta pertolongan.


"Maaf, ya Ay. Mas benar-benar tak bisa mengendalikannya. Seperti ada obat perangsang yang di buat oleh orang lain."merasa khawatir"Untung ada kamu, Ay."ciumannya punggung tangan Laura.


Laura yang mendengar suaminya terkena sesuatu, merasa khawatir ke depannya. Bagaimana jika tak ada dirinya? Bagaimana jika malam tadi Renggra bersama wanita lain? Rasa takut benar-benar menghantui.


Semoga Allah melindungi pernikahan mereka.


"Ay..."


"Eemmm."


"Sekali lagi boleh,"bujuknya.

__ADS_1


Menyipitkan mata"Apa?"


"Jatah, Ay."peluknya yang kembali tergoda melihat penampakan Laura pagi yang menggemaskan.


Tatik nafas"Malam aja udah, masa mintak lagi Mas."


Renggra tak menta izin lagi, karena dalam seminggu pisah dengan istri Ia harus menahan semua yang di rasa. Jika tahu rasa itu nikmat, mungkin habis sunnat Ia langsung menikahi Laura.


Selepas sarapan pagi, Laura dan Renggra duduk di kursi sofa dekat jendela. Pemandangan yang luas bisa terlihat semua dari ketinggian kamar hotel.


Tolehnya ke arah Renggra"Mas, ini hotel kamu yang punya?"rasa penasaran sebanyak apa usaha yang di geluti suaminya itu.


"Eemmm, benar, Ay."senyumnya.


Mengerutkan kening"Emang kamu nggak capek, urusin banyak pekerjaan?"keinginan tahuannya semakin dalam.


Wajah yang tersenyum"Syukuri, apa yang di punya, nikmati apa yang di beri, jalani apa yang telah di amanahkan. Semuanya insyaallah baik-baik aja, Ay."jalasnya bahwa hidup hanya bisa di jalani, kita sebagai manusia harus terus berjalan sampa Allah berkata"Stop, kembalilah padaku."yaitu kematian.


Laura seperti di tampar dengan motivasi Renggra,"Mas, emang selain pekerjaan ini. Kamu buka apa aja?"menyelidiki.


"Ada Mall, Supermarket, perhotelan, kosmetik, dan kerja sama dengan perusahaan lainnya."senyum Renggra yang istrinya mulai ingin tahu suaminya itu kerja apa?


Renyit kening"Mas, banyak banget. Itu kerjanya gimana?"penasaran bagaimana suami bisa membagi waktu.


Senyum Renggra"Tenang, Ay. Ada yang bantu Mas."memegang tangan Laura.


"Siapa?"


Hembusnya nafas"Ada Bu Ani dan Amel yang membantu di bagian kosmetik dan pemasaran, terus Angga sebagai sekertaris membantuku mengatur jadwal dan lainnya, ada Nova juga membantuku mengawasi hotel dan Mall. dan masih banyak lagi kerjaan kami."jelasnya singkat agar Laura mengerti.


Laura merasa dirinya beban keluarga, tak melakukan pekerjaan apapun"Mas, aku nggak di suruh apa gitu?"ingin di beri kerjaan juga agar tak menyusai suaminya itu.


Elusnya kepala Laura"Ada, Ay!"senyumnya.


Laura merasa senang, ada hal yang bisa Ia kerjaan"Apa, Mas?"mengedipkan mata.


Dekatnya di telinga Laura"Kerja melayani, Mas."gigitnya bibir bawah.


Menghebuskan nafas"Mas..."geramnya pada Renggra yang fikiran mesum tiap hari.


Terkekeh Renggra melihat istri, ingin marah tapi tak bisa di ungkapkan, pegangnya wajah Laura"Ay, cukup di rumah. Urusin rumah tangga kita. Itu sudah cukup untukku."mencium kening Laura"Istri yang shalihah, itulah permintaanku."yakinnya yang ingin berumah tangga dengan Laura tanpa memberi beban padanya.


Selanjutnya ~>Chapter 24

__ADS_1


__ADS_2