
Memarkirkan mobil, melepaskan sabuk pengaman turun dari dalam mobil, mengedipkan lampu, tanda mobil telah terkunci.
Meletakkan kunci di dalam saku celana, berjalan sebentar. Stopnya langkah kaki Aditya melihat Laura dan Renggra tengah berhadapan nyambil berbincang.
Seperti mereka berdua telah menyatu kembali.
Mata yang sesekali berkedip, menahan perih luka yang timbul. Menundukkan kepala, dirinya harus sadar. Memutar balik arah kembali ke mobil dan meninggalkan tempat.
Bukan waktunya menemui Laura, dengan kondisi Renggra masih bersamanya.
Mungkinkah Laura telah mengingat masa lalunya? Akankah sebentar lagi, Laura akan pergi meninggalkan dirinya? Air mata yang membendung. Semua telah berakhir, cepat menyapu air mata yang menutupi pandangan, agar mobil berjalan dengan baik.
Hati yang tak bisa berbohong dengan perasaan yang masih mencintai Laura, ingin hidup bahagia bersama. Namun sayang, bukan takdirnya.
Cinta bertepuk sebelah tangan, cinta yang tak akan pernah Ia dapatkan, walau hanya sedikit saja.
Haruskah dirinya pergi jauh sekarang juga, sebelum Laura memarahinya dengan bentuk makian. Tak sanggupnya jika itu semua terjadi. Apakah tuhan masih ingin terus memberikan ujian?
Mencoba ikhlas berkali-kali, namun sesulit itu untuk mengikhlaskannya. Diri yang kesepian, tak ada yang menemani, menjalani hidup penuh dengan lika liku.
Tariknya nafas panjang, semua belum terjadi, mungkin akan ada secercah harapan Laura akan memaafkan segala kesalahan dan mau menjadikan dirinya kakak, sahabat, atau lainnya. Walau itu semua tak akan pernah terwujud.
Memberhentikan mobil di pinggir jalan. Tangis Aditya pecah, bolehkah dirinya menangis seperti ini untuk sebentar saja. Meluapkan isi hati, agar beban di pundak sedikit berkurang.
Suara ketukan dari luar mobil, Aditya segera menyapu air mata. Bukannya kaca"Sella."ucap batin.
Dengan pakaian seksi yang menggebu-gebu"Tolong bantu aku! Ku mohon..."wajah yang panik, melihat arah belakang.
Aditya tampa berfikir panjang membuka pintu dan menutup jendela.
Sella langsung duduk, menghadap Aditya menutupi wajahnya dengan tas berukuran sedang.
"Tolong sekali ini saja bantu aku, mengurus orang di luar."bisiknya dengan wajah yang ketakutan, belum sadar jika itu Aditya, karena suasan yang di rasa panik dan sedikit gelap.
Fikir Sella melarikan diri dulu, urusan balas budi bisa di gantikan nanti.
Aditya membuka jaket panjangnya dan menutupi tubuh Sella.
Sella merasa terkejut laki-laki itu baik sekali meminjamkan jaketnya untuk membantu. Berusaha duduk di lantai mobil, dengan tubuh yang kecil dirinya muat dengan kursi yang di munduri sedikit.
Menggunakan jiket Aditya yang besar, dapat menutupi semua tubuhnya.
__ADS_1
Laki-laki bertubuh besar tibanya mengetuk kaca.
Mengerutkan kening bingung dengan keadaan Sella, yang di cari lelaki yang terlihat marah itu, Ia pun membuka pintu.
Sedikit menunduk"Bang, liat wanita seksi lewat sini nggak?"tanya dengan wajah datar, menjilati bibir dengan banyak keringat.
Aditya menggelengkan kepala, tanpa menjawab.
"Oh, oke."maaf mengganggumu.
Aditya menutup kaca, melihat lelaki bertubu kekar itu berjalan ke arah depan lihatnya sana sini, dan tak lama Ia menjauh.
"Sudah aman, Sel."melihat Sella yang terus meringkuk.
Mengintip sedikit dan mengeluarkan kepalanya keluar duduk di kursi, menghembuskan nafas panjang.
"Terimakasih,"menoleh ke Aditya sambil menujuk"Aditya."dengan terkejut.
"Iya."mengedipkan mata.
"Ternyata benar kamu masih hidup?"senangnya melihat sahabat kecilnya itu masih hidup.
Bibir yang tersenyum"Bagas cerita, saat ketemu tak sengaja denganku di club."menutupi tubuhnya dengan jaket, merasa dingin.
Menghebuskan nafas"kamu masih kerja di sana, Sel? Pasti tadi kamu di kejar body guard lagi ya?"
Menganggukkan kepala"Eemmm, tadi ada lelaki yang mabuk hampir memperkosaku. Tak sengaja, aku membuat keributan."menghebuskan nafas legah"Yah, mau gimana lagi Dit? Beginilah caraku membayar hutan orangtuaku yang tak kunjung selesai, gaji di sana lumayan besar nambah pemasukan."
"Sudah bertahun-tahun, masih juga nggak selesai, Sel?"tahunya Aditya Sella membanting tulang sana sini, melakukan perkejaan apa saja demi membayar hutang orang tua laki-lakinya yang sering mabuk-mabukan, berjudi, narkoba, dan berhutang sana sini, serta main perempuan. Apalagi hutang itu memiliki bunga yang besar, mau tak mau Sella harus membayar. Kalau tidak, mereka bakalan di ancam dengan cara di bunuh hidup-hidup.
Menganggukkan kepala"Eemmm! Uang yang kamu berikan dulu, habis untuk berobat ayahkku yang sakit."air mata membendung"Tapi!"
Mengerutkan kening"Tapi, apa, Sel?"penasaran.
Meneteskan air mata"Meninggal, Dit. Sudah berobat sana sini, ternyata Tuhan berkehendak lain."
Menghembuskan nafas panjang"Innalilahi wa innailaihi roji'un."tepuk pelan pundak Sella"Sabar, Sel. Allah lebih sayang padanya. Berhentilah berkerja di sana. Biar ku bantu melunasi hutangmu."
Menggelengkan kepala"Nggak Dit! Aku nggak mau menyusahkan siapa-siapa lagi."menganggukkan kepala menyapu air mata"Ya, aku sudah lama ingin berhenti berkerja di sana. Lelah terjadi seperti ini terus, untung ada Bagas yang melindungi. Aku bukanlah wanita malam Dit, jangan berfikiran seperti itu."tak mau sahabatnya menyangka dirinya wanita yang mengorbankan mahkotanya"Tapi, jika tubuhku tak mampu berkerja lagi. Mungkin! Mungkin! Ini yang bisa ku jual demi membayar hutang dan membahagiakan Ibuku yang sudah tua."menundukkan pandangan, malu melihat ke arah Aditya dengan berpakaian seksi.
Menggelengkan kepala"Jual ke aku aja, mau?"candanya.
__ADS_1
Menyipitkan mata"Iya, jika aku tak mampu kerja lagi."balasnya canda.
Memperhatikan mata Aditya yang merah, seperti habis menangis"Kamu habis menangis, ya Dit?"
Mengusap-usap mata, puranya gatal"Eemmm, nggak. Tadi kelilipan hewan, mangkanya aku berhenti sebentar. Eh, malah ketemu kamu."cobanya beralasan agar tak ketahuan Sella.
Senyumnya"Oohhh, gitu. Tapi makasih, ya Dit."main percaya.
Menganggukkan kepala"Eemmm, sekarang kamu mau kemana? Aku anter, mumpung lagi di luar."
"Eemmm!"mengingat sesuatu"Aku nggak ada tujuan, Dit. Kecuali pulang. Kamu tadinya mau kemana Dit?"
Melajukan mobil pelan, setelah memasang sabuk pengaman"Pulang, habis dari bertemu klien sebentar."bohongnya melihat ke arah depan.
Hembusnya nafas"Eemmm, Kamu ada tujuan. Aku ikut aja."
"Oke, kita cari makan. Mau nggak?"ajaknya, sudah lama mereka berdua tak makan bersama. Sekalian merendahkan rasa sesak di dada yang sedang menumpuk.
Menunjuk ke Aditya"Aku yang traktir, karena kamu telah membantuku."rasa berterima kasihnya pada Aditya.
Senyumnya"Sudah simpan aja uangmu, malam ini aku yang traktir. Anggap aja ini pertemuan kita pertama kali setelah sekian lamanya."
"Serius nih, aku nggak enak loh."
Mengedipkan mata"Kapan aku nggak serius , Sel?"senyum-senyum melihat ke arah depan merasa sedikit terhibur.
Menganggukkan kepala"Eemmm, baiklah. Jika itu sudah menjadi ke seriusanmu dalam meneraktirku."
Terkekeh"Ada-ada aja jawabmu. Mau makan apa?"
"Eeemmm, ikut kamu aja."
"Yakin nih nggak milih tempat. Entar nyesel loh."lirik sebentar ke Sella.
Senyumnya"Yakin, Dit."melihat ke arah Aditya.
Menganggukkan kepala"Oke, kita makan bakso."
"Oke! Go!"sahut Sella penuh riang, senangnya bisa kembali bersama sahabat lamanya.
Selanjutnya~> Chapter 59
__ADS_1