
Renggra memeriksa kepala Yusuf, takut kepala yang masih lembut itu kenapa-kenapa, akibat benturan pelan di dadanya.
Senyum Nova"Yusuf, nggak kenapa-napa Reng. Buktinya nggak rewel."menyadarkan Renggra agar tak perlu khawatir berlebihan.
Renyit kening Renggra, yang masih melihati Yusuf"Iya Nov,"
Lihat Nova ke arah Sella yang menjauh"Kau nggak kenal, dia?"toleh ke Renggra kembali.
Geleng kepala Renggra menandakan Ia tak kenal.
Menaikkan alis,"Itu namanya Sella Reng, sekertarismu sementara selama Angga cuti."
"Apa?"terkejutnya, merasa Nova dan Angga tak berdiskusi dulu. Main pilih sekretaris, apalagi yang di pilih wanita"Kenapa kalian memilih sekretaris wanita, nggak ada apa laki-laki? Satu ruangan lagi denganku."tak habis fikir dengan pilihan mereka.
Tepuk pelan pundak Renggra"Tenang dulu Reng,"tariknya nafas mencoba memperjelas keadaan"Bukannya kami tak mau menyampaikan pendapat kami, padamu. Kondisinya, kau sedang berduka. Ada memang laki-laki, tapi tak sebagus kinerja Sella."senyum Nova"Kamu juga tenang, ruangan kalian pisah dan jika masuk hanya mengantar dokumen. Sisanya lewat via SMS."hembusnya nafas, semoga Renggra menerima pilihan mereka.
Renggra merasa tenang, Angga dan Nova ternyata memikirkan matang-matang. Tahu dengan kondisinya.
"Baiklah, sementara boleh."setuju Renggra.
Hembus nafas legah,"Makasih Reng,"
Senyum Renggra,"Eeemmm! Sama-sama"
Pegang pundak Merisa"Oh ya, kami mau temui Angga dan Amel dulu Reng."
Menganggukkan kepala.
Senyum Merisa dan Nova yang berjalan pelan meninggalkan Renggra dan mendekati Angga dan Amel.
Bu Ani mendekat,"Reng sini, biar Yusuf sama Ibu. Dia belum minum susu,"ambilnya Yusuf di tangan Renggra. Telaten Bu Ani dalam mengasuh sang cucu.
Menyerahkan Yusuf ke Bu Ani,"Iya Bu,"Renggra mencium pipi dan kening Yusuf"Dada anak Ayah."senyumnya dengan melambaikan tangan.
Sahut Bu Ani"Dada Ayah."meninggalkan Renggra.
Tak lama Bu Aminah mendekat"Apa kabarmu, Reng?"berdiri di samping kanan Renggra.
__ADS_1
Dengan wajah yang tersenyum menoleh ke Bu Aminah, dan menyalaminya"Alhamdulillah Kabarku baik-baik Bu. Gimana kabar Ibu?"melepaskan, tangan Bu Aminah.
Senyum Bu Aminah"Aku juga baik-baik saja Reng. Mana Yusuf?"lihatnya tadi Renggra sedang menggendong.
Renggra melihat Bu Ani, mengajaknya ke tempat lain"Tadi Bu Ani barusan, bawah Yusuf."
Liriknya ke arah penglihatan Renggra,"Iya sudah nanti Ibu susul. Eemmm, Reng. Sekarang ini kau hidup sendirian, Nova sudah menikah, adikmu juga sudah menikah dengan Angga. Ibu tau kamu sekarang masih merasa sedih, Ibu juga Reng masih sangat sedih kehilangan Laura. Masih belum menyangka secepat itu dia pergi meninggalkan kita semua."menghapus air mata yang hampir jatuh.
Senyum Renggra"Iya Bu. Kita hanya bisa bersabar dengan ujian ini. Mati dan hidup sudah di tentukan."menahan air mata yang ingin jatuh.
Angguk Bu Aminah melihat Renggra kembali bersedih, Ia begitu kurang nyaman. Cobanya mengalihkan cerita yang lain.
"Reng, kau tak mencoba membuka lembaran baru, mencari istri dan Ibu bagi yusuf?"melihat respon Renggra dalam membuka hati untuk yang lain.
Renggra terdiam sebentar, entah apa yang di fikirkan semua orang. Kenapa mereka ingin, dirinya menikah lagi? Padahal hati itu susah di ubah, hanya Lauralah yang di cintai.
Renyit kening Bu Aminah, merasa aneh kenapa Renggra hanya berdiam diri saja. Apa dirinya telah mengatakan sesuatu yang membuatnya terganggu?
"Ekhem, Reng. Maksud Ibu, kamu akan tau suatu saat nanti jika Yusuf tak memiliki Ibu, rasa kesepian dan rasa kasih sayang darinya itu beda."tepuk pelan pundak Renggra"Semoga kamu paham, Ibu mau nemuin Bu Ani dan Yusuf dulu."meninggalkan Renggra.
Renggra hanya bisa mengangguk, tak dapat di pungkiri apa yang di katakan Bu Aminah ada benarnya. Mungkin suatu saat nanti, hati itu akan goyah atau tidak, hanya Allahlah yang tahu.
Dua hari setelah acara pernikahan, Angga dan Amel pamit pergi bulan madu ke villa sekitar dua minggu.
Angga yang telah menjelaskan perihal Sella sekretaris baru itu, membuat Renggra paham. Kepintaran dalam memilah, ketepatan dalam waktu, dan kegesitan dalam bertindak itulah yang menjadi pertimbangan Renggra menerima Sella menjadi sekretaris sementara.
Dalam ruangan yang penuh dengan tumpukan dokumen, membuatnya mengedipkan mata. Bisa-bisa tak pulang lebih awal, menemui Yusuf.
Tok.Tok.Tok.
"Masuk."ucap Renggra memegang dokumen, lepas mendengar suara ketukan.
"Permisi, Pak."suara lembut nan merdu itu mengawali pertemuan.
Toleh ke arah suara, yang mengusik. Lihatnya Sella dengan pakaian rapi berjas hitam longgar dalaman putih longgar, dengan rok hitam yang menjuntai ke lantai. Memperlihatkan dirinya wanita yang shalihah.
Senyum Sella mendekati Renggra, namun menjaga jarak menyerahkan dokumen. Mata yang di alihkan ke tempat lain agar tak bertatapan"Ini berkas yang perlu bapak tanda tangani."menyerahkan dokumen lagi"ini dokumen dari departemen marketing, perlu bapak revisi. Sebelum melakukan investasi pada klien baru."
__ADS_1
Angguk Renggra tanpa menjawab.
"Baiklah saya permisi."tunduk Sella.
Angguk Renggra kembali.
Sella keluar meninggalkan ruangan.
Renggra menghebuskan nafas, melihat kembali dokumen yang di serahkan oleh Sella fokus merevisi data yang di berikan.
Keseharian dengan jadwal yang penuh, akibat cuti lama. Membuat Renggra merasa lelah, melihat kembali dokumen yang sedikit lagi selesai membuatnya harus semangat. Tak boleh mengeluh, lihatnya sebentar foto yang tersimpan di lemari kecil.
Bergambar Laura dan Yusuf sedang tersenyum"Kalian penyemangatku."ucap batin.
Letaknya kembali secarik kertas itu di lemari. Lanjutnya dengan melihat dokumen.
Suara ketukan pintu terdengar kembali.
"Masuk."sahut Renggra.
Sella dengan tersenyum, membawah segelas kopi di tangannya"Permisi Pak,"berjalan mendekati Renggra menyerahkan secangkir kopi meletakkan di atas meja"Tadi saat saya mau pulang, lihat bapak masih lembur. Jadi saya mintak tolong pelayan membuatkan ini"tunjuknya sedikit"Itu bapak jangan marah, saya sering membuatkan karyawan lain saat lembur."takut Renggra marah dan memecatnya.
Menganggukkan kepala, mengerti maksud Sella"Iya terimakasih."
"Ka.kalau begitu Sa.saya, permisi pulang duluan Pak."rasa gugup yang di rasa, kurang nyaman saat atasan belum pulang, dirinya pulang duluan. Tapi jam kerja telah lama berlalu"Bapak masih ada yang mau di suruh ke saya, mengerjakan hal lain?"tanyanya dulu sebelum pulang, siap tahu ada perkerjaan yang belum selesai.
Geleng kepala Renggra, menandakan tak ada.
Senyum Sella, merasa atasannya tak banyak bicara"Iya Pak, saya permisi."
Menganggukkan kepala kembali.
Sella pergi meninggalkan ruangan.
Lihat Sella telah keluar membuat Renggra tersenyum, kembali teringat pada Laura pertama kali berjumpa di restoran. Fikirnya hampir sama dengan tingkah mereka berdua.
Melihat ke arah secangkir kopi berukuran sedang, seperti sedang merayunya agar segara minum.
__ADS_1
Hembusnya nafas"Baiklah, ku coba."seruput pelan kopi yang hangat itu membuat fikirannya rileks"Eemmm, boleh juga."ucap batin. Entah kenapa hatinya merasa damai, kali ini akibat secangkir kopi.
Selanjutnya~>41