
Menaikkan alis"Loh, duduk aja di kursi. Jangan mengikutiku."memegang gelas Jus.
Meneguk Jus, rasa tenggorokan yang kering"Aku akan duduk di atas, jika istriku juga duduk di sana."usai meminum Jus.
Cengir Laura"Istri apaan?"lirihnya.
"Memang benar kamu istriku, Ay."perjelasnya kembali.
Hembusnya nafas panjang, meminum seteguk Jus"Terserah kamu aja, Tuan."
Renggra meletakkan gelas, usai setengah teguk Jus"Panggil aku Mas Renggra, jangan tuan, Ay."inginnya mendengar panggilan itu dari mulut Laura lagi, rindunya dengan suasana mereka berdua dahulu.
Lihatnya ke arah meja, mendengar perkataan Renggra, tiba bayangan gelap tampak sedikit terang itu kembali bermunculan. Suara yang terdengar dirinya memanggil sebutan Mas Renggra tampak jelas wajah Renggra terlihat.
Keringat Laura mengalir,
Mengerutkan kening, melihat Laura kembali melamun dengan keringat yang bermunculan.
"Ay!"panggilnya cepat, ada apa dengan Laura yang tibanya diam.
Sadar begitu cepat, mendengar suara Renggra"Ya, ada apa?"liriknya sesekali, nyambil memegangi kepala yang mulai terasa pusing.
"Ada apa, Ay? Kamu terus melamun, ada yang kamu fikirkan?"ingin memegang pundak Laura, tapi takut Laura yang masih sensitif itu, menimbulkan kesan tak nyaman dengan mula pendekatan mereka.
Ingin bertanya langsung pada laki-laki itu, Apa yang sebenarnya Ia lihat barusan? Ingatannya dengan keadaan mereka sekarang"Ekhem,"meletakkan gelas"Kamu ke sini ada apa?"puranya lupa, mengalihkan pembicaraan. Laura masih ingin mencari tahu dulu sebelum bertanya.
Senyum Renggra, yang paham Laura tak ingin bercerita. Dirinya tak akan memaksa, jika Laura tak mau mengungkapkannya dan dirinya yang mungkin masih malu untuk memanggil dengan sebutan yang barusan di pinta"Aku datang meminta pertanggung jawabanmu, Ay."ucap lantang"Kamu janji padaku, Ay. Akan menghubungiku. Tapi, sampai sekarang malah kamu menjauh."tak mau Laura melarikan diri.
Upayanya tersenyum"Maaf aku lupa,"bohongnya"Kamu lihat, kan aku baru saja pindah dari rumah lamaku, nanti sudah selesai semuanya rencanaku baru menghubungimu."upaya mengeles.
Menaiki alis"Baiklah, sekarang anggap saja udah selesai. Aku ingin mendengar penjelasanmu. Kapan kita akan menikah?"
Cengirnya"Tadi istriku, sekarang mengajak menikah? Dari sini aja kamu, sudah ketahuan, bahwa hanya main-main."menyudutkan.
Meneguk Saliva, salahnya dalam berucap"Memang kamu istriku! Kita menikah lagi agar kamu percaya, Ay."mencari alasan, tak mau salah dalam bertindak.
Menarik nafas panjang"Gila sudah beristri mau menikah lagi,"melipatkan kedua tangan, merasa kesalnya sudah mencapai ubun-ubun kepala.
Menghembuskan nafas panjang"Ay, kamu lupa sama aku? Tapi aku tak pernah lupa sama kamu,"ucap batin.
__ADS_1
Mengedipkan mata"Kamu lihat di artikel ya?"
Menganggukkan kepala"Eemmm, malah ada fotomu dengan sang istri tapi sayang di blur."menyipitkan mata.
Mengambil handphone di saku celana, mengotak-atik layar"Lihat semua foto di sana, Ay."menyerahkan handphonenya.
"Untuk apa?"melirik sekilas ke arah layar handphone.
Meletakkan di atas meja"Lihatlah dulu semuanya, Ay."
Dengan perasaan ragu,"Nggak, Ah."
Mengedipkan mata"Coba lihat dulu, Ay. Hilangkan rasa penasaranmu, setelah melihat siapa wanita itu?"
Laura diam, tak maunya kepo dalam urusan rumah tangga orang. Namun, rasa penasaran dengan wajah wanita yang menjadi istri dari laki-laki itu, membuatnya ingin tahu. Siapa tahu dengan melihat, dirinya bisa terbebas dari segala macam ancaman.
Mengambil pelan, dan menggeserkan layar handphone. Mata Laura membulat, terkejutnya wajah wanita itu ternyata dirinya. Banyak sekali foto-foto mereka berdua, membuat Laura semakin penasaran.
Tibalah foto dirinya menggendong bayi mungil, hati Laura terasa tergores. Benarkah apa yang di lihatnya itu? Memejamkan mata,"Jangan percaya dulu, Ay. Zaman sudah canggih, siapa tau itu foto editan."ucap batin. Meletakkan kembali handphone dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Apa kamu mengingat sesuatu, Ay?"mengambil handphone meletakkan kembali di saku celana.
Refleks memegang pundak"Nggak, Ay."khawatirnya.
Melepaskan tangan Renggra"Lepasin, pergi atau aku akan berteriak."
"Tapi, Ay."
Merasa kesal Laura tak berpikir panjang, dirinya berdiri menghampiri pintu. Renggra langsung meraih tangan Laura saat berada di dekat pintu.
"Ay!"
Laura berhenti.
Renggra melepaskan pegangannya"Baiklah, aku keluar."dengan hati yang tak mau melihat Laura mengambil tindakan gegabah.
Membuka pintu dan menutupnya.
Hembuskan nafas panjang, berjalan duduk di kursi sofa, dengan perasaan yang sedikit bersalah akhirnya terfikirkan. Seharusnya dirinya bertanya tentang semua ingatan yang bermunculan. Apalagi melihat foto dirinya yang sedang menggendong bayi mungil.
__ADS_1
Anak siapa itu? Jika itu anakku dan dirinya, bagaimana nasibnya sekarang tanpa seseorang Ibu? Gimana cara laki-laki itu merawat? Pasti dirinya telah menikah lagi. Tuduhnya.
Mengedipkan mata, lebih baik mencari tahu dulu kebenarannya. Siapa tahu foto yang di lihat itu semua di rekayasa. Tapi bagaimana jika itu asli dan menyatakan bahwa dirinya istri sah dari laki-laki itu?
Jika benar, kenapa Aditya tak bercerita?
Meneteskan air mata, melihat ruangan yang akhirnya sepi. Membuat kepala itu makin pusing, semakin berjalannya waktu, banyak sekali rahasia yang terungkap.
Menghebuskan nafas kembali, dan menghapuskan air mata. Ingatannya terus pada foto-foto yang di perlihatkan Renggra, apalagi bayi mungil itu. Terlihat jelas wajah Laura yang sedikit senang, bahwa dirinya mempunyai seorang anak. Tapi bagaimana jika itu anak orang lain yang di gendongnya?
Tak terasa hari sudah pukul delapan malam. Laura yang telah shalat Isya itu, mulai merasa perutnya lapar.
Fikirnya diam-diam Ia akan mencari tahu semuanya secara langsung, tanpa di ketahui siapapun termasuk Aditya yang penuh tanda tanya.
Mengambil hijab dengan pakaian santai keluar rumah, inginnya berjalan kaki ke supermarket terdekat membeli sesuatu yang bisa di masak.
Keluar apartemen dengan suasana yang cukup ramai, karena posisi apartemennya di tengah kota.
Menghentikan langkah kaki, lihatnya laki-laki itu duduk di kursi besi dekat apartemen, masih menggunakan pakaian tadi.
Rasa yang berbeda, melihatnya menunggu lama di luar dengan penampilan sama. Membuat hati Laura merasa bersalah, kiranya laki-laki itu akan pergi ternyata masih di sekitarnya.
Laura mencoba mendekatinya, entah kenapa hatinya merasa sangat bersalah. Apa yang dilakukan laki-laki itu sungguh membuatnya penasaran? Inikah cara mendapatkan wanita yang Ia kira istrinya itu.
Apa kejadian waktu itu juga, termasuk jebakannya, agar kami berdua bisa bertemu? Mengedipkan mata, cobanya mencari informasi sesuatu saat sudah dekat dengan laki-laki itu.
Renggra menoleh ke arah Laura, saat melihat kaki yang berhenti di samping kanannya menggunakan sedal jepit plastik berwarna hitam"Ay!"berdiri berhadapan.
"Kenapa masih di sini?"ingin tahunya, apa laki-laki itu sedang menunggunya atau ada perkerjaan lain?
Senyum Renggra"Aku tak bisa pergi, meninggalkanmu yang masih marah padaku, Ay."memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana"Maaf, Ay. Aku melakukan kesalahan."rasa yang bersalah, telalu gegabah dalam bertindak. Mencoba memaksa Laura mengingat sesuatu.
Menganggukkan kepala"Eemmm, tak apa."mencoba berbaikan mungkin ada jalan"Apa kamu sudah makan?"ajaknya.
Menggelengkan kepala,"Belum, Ay."senyum tipis, apa istrinya akan mengajaknya makan? Padahal dirinya telah makan dan shalat di masjid, berhubung fikirnya yang belum tenang saat melihat Laura dalam keadaan yang tak baik-baik saja. Dirinya yakin pasti Laura telah mengingat-ngingat sesuatu walaupun hanya sedikit.
Menunggunya di luar sebentar, tak masalah mungkin Laura akan keluar. Pada saat itulah dirinya akan mendekati Laura lagi, apapun cara istrinya harus kembali. Kasian Yusuf anak itu, yang ingin sekali mempunyai kedua orang tua lengkap.
Irinya pasti di rasakan, saat melihat Musa dan teman sekolahnya mempunyai orang tua yang selalu bersama saat mengantarkan ke sekolah.
__ADS_1
Selanjutnya~>Chapter 58