Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 24


__ADS_3

Sore hari Renggra dan Laura pulang kerumah"Assalamualaikum."ucap kedua pasutri yang baru pulang, masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumussalam."ucap serentak yang duduk berkumpul di ruang tengah.


Mereka ingin langsung ke kamar, Bu Ani sedang membaca majalah langsung menyapa.


"Gimana, Reng hadian semalam?"celoteh Bu Ani mengaku, apa yang terjadi pada Renggra semalam ulah dirinya.


Renggra dan Laura langsung berhenti, menoleh ke arah Bu Ani"Jadi ini ulah Ibu, yang melakukannya?"merasa kurang nyaman, tapi Renggra mengerti Bu Ani mungkin melakukan ini demi dirinya.


Menurut Bu Ani, Renggra dan Laura harus di beri hadiah, agar mereka berdua miliki kemajuan dalam berumah tangga.


Bu Ani menoleh Angga dan Amel kemudian ke Renggra dan Laura"Eemmm, itu kado kami untukmu. Selepas pulang dari luar kota."meletakkan majalah ke atas meja.


Renggra memejamkan mata"Gimana kalau wanita itu, bukan Laura?"hembus nafas mengatur emosi, ingin marah tapi tak bisa.


Senyum Bu Ani dan lainnya merasa berhasil"Tenang Reng, sudah di atur dengan ketat."menaikkan alis sesekali.


Renggra merasa keluarganya, kurang kerjaan mengurusi hubungan rumah tangganya"Kalian nggak kasian apa?"tolehnya ke arah Laura yang berwajah biasa-biasa saja"Laura semalaman mengipasi Renggra,"toleh ke arah yang duduk di kursi sofa.


Sipitnya mata, kurang percaya"Yakin, Reng?"terus memojok kedua pasutri.


Angguk Renggra, yang ingin membalas kejahilan mereka."Eeemmm, tanya aja sama Laura."menoleh ke arah Laura mengedipkan matanya memberi kode.


Bu Ani menaikkan alis"Iya apa, Ra?"taunya Laura tak pernah berbohong.


Laura bingung ingin berkata bohong takut dosa, nggak di turuti takut Renggra marah. Ia terpaksa menganggukkan, mengatakan bahwa yang di ucapkan Renggra benar.


Bu Ani menarik nafas, memegangi kepalanya"Percuma, ngasih hadiah kalau memang yang salah ada pada anakku."merasa semua di lakukan sia-sia.


Angga dan Amel hanya senyum-senyum, tak ikut campur nanti salah plus tambah imbasnya. Diam dan tersenyum lebih baik.


Renggra menarik tangan Laura,"Emang salah di Renggra Bu, hari ini jangan ganggu Laura dia butuh istirahat. Sudah bantu ngipasi semalaman dan nggak tidur."cukup memberi kode.


Bu Ani tersenyum-senyum, entah itu kodenya berhasil atau tidak. Namun, Ia merasa sepertinya berhasil"Semoga anakku dan istrinya cepat di karuniai cucuku, Aamiin."ucap batin.


Melihat ke arah kedua pasutri yang menaiki tangga ke lantai atas.


***

__ADS_1


Seminggu yang lewat, tepat di hari sabtu. Pagi-pagi suara ketukan kamar.


Tok.Tok.Tok.


Renggra yang membuka pintu mendengar suara ketukan, selepas habis mandi, menggunakan baju handuk. Sedangkan Laura, masih di ruang pakaian.


Di luar ternyata Angga,"Ada apa Ga?"mempertanyakan ada apa gerangan Angga langsung ke kamarnya.


Angga yang melihat Renggra menggunakan pakain handuk, Ia pun berfikir bahwa telah mengganggunya pagi-pagi. Dengan sedikit menahan senyum.


Renyitnya kening Renggra, merasa Angga memikirkan sesuatu"Apa yang kau lihat bukanlah suatu yang aneh, aku baru mandi jadi masih menggunakan ini."ungkapnya dengan sinis.


Salah tingkah"Maaf Reng, aku kira sedang menganggumu. Oh ya, ada berkas yang harus kau tanda tangani dan juga ada undangan dari Nova."menyerahkan Kertas tebal.


Mereka berdua berbicara dengan berjalan keruang kerja.


Duduknya di kursi"Undangan dari Nova, kemarin bertemu dengan kita di kantor dia tak cerita apa-apa?"heran sahabatnya diam-diam memberi undangan.


Ikut duduk di kursi"Nova akan segera menikah Reng?"meletakkan berkas di atas meja.


Membuka undangan"Eemmm, cepat juga."senyum Renggra"Tinggal kau yang belum."sindiran halus.


Naiknya Alis"Amel, gimana?"ingat dua hari yang lalu Amel mengirim pesan bahwa Ia benar-benar menyukai Angga.


Renggra awalnya merasa terkejut dengan sikap adiknya. Mereka kira Amel hanya main-main selama ini, tahunya itu serius.


Senyuman tipis"Aku tak cocok dengannya Reng, kaukan tau sendiri, Amel itu adikmu. Aku hanyalah orang pendatang yang miskin. Amel tak pantas denganku."ungkapnya merasa status yang tak pantas untuk Amel.


Renggra tersenyum-senyum, miskin dari mananya. Gaji yang di berikan cukup banyak untuk menghidupi tujuh keturunan. Apalagi Angga rajin menabung untuk masa depannya jika telah menikah"Itukan dulu, Ga. Sekarang berbeda. Aku harap kau cepat memberi ke putusan."lihatnya dokumen"Sebenarnya ada nggak, rasa sukamu ke Amel?"melihat ke arah Angga.


Menggelengkan kepala"Nggak, Reng!"yakinnya yang masih ragu-ragu.


Mengeryitkan kening"Kalau enggak, ya jawab aja jujur."


Memegang kepalanya, rasa pertama kali membahas percintaan sesulit itu. Apalagi yang mencintainya adik angkat serumah dengannya.


Dua hari setelah via SMS itu masuk, Angga dan Amel tak pernah berjumpa biasa duduk di tengah bersama, bertemu satu sama lain saja rasanya canggung.


"Nantilah ku pikir-pikir dulu Reng, ini berkas kau tanda tangan dulu."fokusnya ke pekerjaan, walau hari sabtu Angga tak mau menambah banyak kerjaan di hari selanjutnya.

__ADS_1


Menaiki Alis,"Eemmm baiklah, tapi mikirnya jangan lama-lama."mendatangani berkas, setelah usai di berikan lagi ke pada Angga.


Angguk Angga,"Iya Reng."ambilnya berkas"Aku ke kamar dulu."


"Eemmm!"


Selepasnya mereka berpisah Renggra masuk kembali ke dalam kamar.


Laura yang mendengar suara pintu, Ia pun langsung menoleh ke arah Renggra"Mas, kenapa keluar masih menggunakan itu?"herannya pertama kali melihat suaminya keluar belum menggunakan pakaian.


Renggra mendekati Laura yang duduk santai di ujung tempat tidur"Angga, meminta tanda tangan dan sekalian memberikan undangan dari Nova dan Merisa."duduk di sebelah Laura memberikan selembar undangan yang mewah bagi Laura.


Membuka undangan"Alhamdulillah, ya Mas. Jodohnya."Laura sudah tahu Merisa akan menikah dengan Nova, karena setiap hari mereka selalu membahas lewat via chat.


Senyum Renggra"Iya, Ay. Mas seneng banget, akhirnya sahabat Mas ada yang nyusul."melihat ke arah Laura.


"Iya, Mas. Semoga mereka bahagia dunia maupun akhirat."senyumnya.


"Eemmm! Kayak kita, ya Ay."memegang tangan Laura.


"Aamiin, Mas."lihatnya Renggra santai belum pergi ke ruang pakaian"Mas, pakailah dulu bajumu."meletakkan undangan di atas meja kecil di sampingnya.


Senyum Renggra,"Kirain dengan begini, istriku suka."jahilnya.


Mata Laura melebar,"Mas..."merasa geram yang sering jahil.


Pegang pipi"Ay,"kodenya meminta cium.


Hembusnya nafas,"Kasih, tapi hari ini jalan-jalan ya Mas?"bujuknya.


Angguk Renggra, dengan tersenyum.


"Ettss ada lagi,"


Toleh Renggra, merasa istrinya sering mengulur waktu"Eemmm, Apa?"


"Naik motor ya, Mas."mengedipkan mata, merasa bosen naik mobil kemana-mana.


"Iya, Ay."peluknya Renggra langsung mencium bibir Laura, merasa geram.

__ADS_1


Selanjutnya ~>Chapter 25


__ADS_2