
Laura keluar dari ruang pakaian tak menggunakan hijab"Ay, nggak pakai hijab lagi di kamar?"rasa ada yang berubah.
Duduk di tepi ranjang, memunggungi Renggra"Di kamar nggak papakan, Mas. Kalau keluar, baru pakek."mainnya jari.
Tersenyum"Iya, Ay. Santai aja sama Mas. Maksud Mas kemarin juga gitu. Tapi takut kamu marah, Ay."berdiri"Keluar yuk, Ay. Sarapan."ajaknya.
Menunduk"Iya, Mas bentar. Aku pakek hijab dulu."berjalannya kembali ke ruang pakaian, Renggra langsung menghampiri Laura"Oh iya, Ay."berhentinya di depan Laura"Sudah sarapan, Mas mau olahraga. Kamu kalau jenuh, nungguin sebelum berangkat, duduk di taman aja berjemur. Panas pagi bagus untuk kesehatan."jelasnya.
Menganggukkan kepala"Eemmm, Iya Mas insyaallah."
Nunduk kembali ke arah Laura, dengan memejamkan mata, Laura yang selesai memakai hijab menoleh ke Renggra"Ngapain, sih Mas?"pura-puranya tak tahu, menahan malu.
"Mas, kan mau olahraga. Batrenya belum di isi, Ay."rayuannya.
Tanpa ragu lagi, Laura memegang wajah Renggra dan mencium keningnya.
Wajah yang tersenyum-senyum"Makasih, Ay. Energinya full."reflek memegang kedua pipi Laura.
Menganggukkan kepala"Iya, Mas."perlahan mulai terbiasa di sentuh.
Mengernyitkan kening"Kamu, nggak marah, Ay?"penasaran dengan perubahan sikap Laura yang tak kesal saat di sentuh dan menurut.
Laura hanya mengangguk,
"Alhamdulillah, istri Mas. Mulai menerima."rasa senang batu es itu, mencair"Yuk, ke tempat tidur."guraunya.
Sontak merasa takut"Mas..."pekiknya memberi isyarat bahwa belum siap.
Terkekeh"Salah sayang, maksudnya ke bawah sarapan."senang hati membuat Laura ketakutan. Harap-harap mau, ternyata masih belum juga.
Laura merasa malu, di jahili suaminya terus.
***
Bu Ani, Angga, dan Amel duduk di kursi sofa dengan ke sibukannya masing-masing.
Lihat Bu Ani ke arah pasutri yang turun, bangun kesiangan. Mungkin habis begadang semalam fikirnya.
Renggra dan Laura memdekati mereka yang duduk"Kalian udah makan ya?"tanya Renggra.
Toleh mereka"Sudah semua kak,"jawab Amel.
"Iya sudah, kami sarapan dulu."menoleh ke Laura"Yuk, Ay."jalannya ke meja makan.
"Kesingan, tuh."gurau Amel.
Bu Ani tersenyum"Doain aja, cepat mendapat keponakan."inginnya.
Angga menahan senyuman, membaca koran.
"Aamiin, Ya Allah."jawab Amel.
Tak lama Renggra dan Laura menghampiri mereka yang duduk di sofa, depan televisi. Sembari menuruni sarapan yang di makan, agar tak sakit perut saat olahraga.
Senyum-senyum Bu Ani"Siang, Reng. Bangunnya."guraunya.
"Iya Bu, karena mulai cuti hari ini."ambilnya koran.
__ADS_1
"Bulan madu?"penasaran.
"Eemmm!"bukanya koran.
Laura hanya menyimak dengan menonton televisi.
"Ekhemm, bawah kabar baik, ya Reng."mulai gurauan yang di lontarkan Bu Ani, yang ingin sekali rumah itu ada tangisan bayi.
"Doain aja Bu, ini aja belum apa-apa."bahasa isyarat.
Tarik nafas panjang"Kirain udah pecah ketuban, semalam."
Angga dan Amel menahan tawa.
"Harapannya gitu, ternyata..."menoleh ke Laura yang fokus melihat televisi"Ternyata apa, Reng?"sambung Angga.
"Begitulah,"tarik nafas panjang.
"Sabar Reng!"sahut Bu Ani.
"Ra..."panggil Bu Ani.
Laura masih fokus ke televisi.
"Ay... Ibu manggil."
Kaget Laura"Eemmm, Iya Bu. Ada apa?"
"Kamu, nggak denger."harap Laura mendengar percakapan mereka, supaya terbuka pintu hatinya.
Renggra memejamkan matanya, diri yang begini tak di inginkan. Sedangkan artis aja, di idolakan.
"Ya Allah, Laura."Bu Ani merasa gemas.
Angga dan Amel hanya menahan tawa.
"Emang kakakku tak sebanding dengan mereka?"gurau Amel"Aku aja suka."mengompori.
Renggra merasa cemburu, Ia pun melipat koran"Yuk Ga, olahraga! Udah siang. Jangan ganggu para wanita."letaknya koran di atas meja dan berdiri jalan ke ruangan lain.
"Yelah tuh, ngambek."gurau Amel.
Angga mengikuti Renggra.
Laura merasa geli di hatinya melihat Renggra, ngambek seperti anak kecil.
"Ra, cemburu tuh paksu. Baliknya susah, butuh ektra rayuan penuh."cloteh Bu Ani dengan wajah tersenyum-senyum.
Laura merasa bingung"Maksud, Ibu?"
Masuk jebakan"Renggra kalau seperti itu, pasti hatinya sedih Ra."kedipnya mata ke Amel supaya ikut mengompori.
Amel langsung tersenyum"Iya kak, bisa di bilang memendam. Kelihatannya aja baik-baik aja."sambung Bu Ani"Ra, Renggra udah di kasih belum?"ungkitnya.
Laura tersenyum-senyum, belum paham"Apa, Bu?"
Muncungnya mulut,"Entuh, ibadah dalam selimut. Dosa besar, Ra bagi wanita. Jika laki-laki menahan hajatnya."geregetan"Malaikat pun ikut menjauhkannya dari kasih sayang atau rahmatnya, sampai subuh. Bisa jadikan Ra, sampai menunaikan hajatnya."nasehatnya semoga hati menantunya tebuka kali ini.
__ADS_1
Laura menunduk, terlintas gambaran tadi pagi melihat benda aneh"Takut, Bu. Apalagi katanya sakit."jujurnya.
"Ra, jika kamu ikhlas, insyaallah rasa itu menjadi nikmat."senyumnya"Amel, Laura. Dengerin nasehat ibu! Jika kalian tidak memberikan hak suamimu, dosanya besar dan jika suamimu tak tertahankan dan mencari wanita lain jangan salahkan mereka, karena itu dari kesalahan istrinya."memperjelas, semoga ada jalan setelah bulan madu.
Laura merasa tertampar dengan ucapan Bu Ani, hatinya renyuh saat membayangkan Renggra mencari wanita lain"Aku tak mau, semua itu terjadi."ucap batin.
"Terus Laura, harus apa Bu?"bingung dalam hal itu.
Bu Ani tersenyum-senyum"Intinya, kalau di ajak, jangan nolak."akhirnya ada jalan, nafas legah.
Amel hanya bisa tersenyum-senyum, melihat ke polosan Laura.
Angguk Laura, tanpa malu-malu.
Laura merasa hal inilah yang Ia cita-citakan dahulu, menjadi istri shalihah ketika sudah menikah, mungkin belum terbiasa dengan ke adaan yang tiba-tiba. Itulah yang membuat Laura lupa, akan kaudratnya sebagai istri.
Laura ingin menjalankan pernikahan sekali dalam seumur hidup, semoga Allah mengizinkan.
Renggra dan Angga datang"Ay... Siap-siap, kita mau berangkat."dekatnya dengan berkeringat ke Laura.
Laura langsung berdiri,
"Bu, kami siap-siap dulu."
Angguk Bu Ani.
Sesampainya di kamar, Renggra langsung membuka pakaiannya merasa panas"Ay, siap-siaplah."menoleh ke Laura yang bersikap biasa-biasa saja"Kamu, nggak marahkan. Mas, lepas baju. panas, Ay?"keringat yang mengucur.
Laura yang melihat sempurnanya Renggra, hanya diam menegguk Saliva. Dirinya mulai merasakan, hal aneh dalam tubuhnya.
"Kok, diam, Ay?"kerutnya alis.
Laura sadar"Ah, iya. Mas, ngomong apa?"tatapan yang tak berpaling.
"Kamu, ngelamuni apa, Ay?"
"Nggak ada, Mas. Kamu itu sangat tampan."jujurnya.
Hidung Renggra kembang kempis menahan gejolak hatinya, saat sang istri memuji ketampanannya"Ay, kamu membuat jantungku berdebar-debar."jujur dengan wajah yang tersenyum-senyum.
Laura terkekeh melihat reaksi Renggra,
Renggra di kejutkan lagi dengan perubahan Laura"Ay, kamu ketawa?"naiknya alis.
"Nangis, Mas! Udah ah, aku mau nyiapin baju dulu."berjalan ingin meninggalkan Renggra.
Memegang tangan Laura"Kamu, nggak marah. Lihat Mas, kayak gini?"kedipnya mata.
Gelengnya kepala"Nggak, Mas. lebih baik kamu mandi sana, udah siang."
"Mau, mandi bareng, Ay?"gurauannya.
Senyum Laura"Nanti, ya Mas. Aku mau nyiapin baju kita. Gantian aja."melepaskan tangan Renggra.
Renggra hanya bisa diam, dengan ucapan Laura yang memberinya lampu hijau, rasa ada anak pana di dada yang menusuk berbentuk LOVE.
Selanjutnya~>Chapter 13
__ADS_1