Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 41


__ADS_3

Satu pekan Angga libur bulan madu, tibalah dentingan handphone Renggra berbunyi.


"Halo, Assalamualaikum. Ada apa Ga?"tanya Renggra, ada apa gerangan Angga meneleponnya.


Suara terdengar jelas"Waalaikumussalam. Gimana Reng dengan perkerjaanmu?"menanyakan kabar, apa perkerjaan yang banyak itu telah usai atau butuh bantuan dirinya. Jika iya, mungkin secepatnya masuk kerja kembali membantu Renggra.


Hembuskan nafas panjang melihat dokumen yang sedikit"Alhamdulillah pekerjaanku, semakin hari semakin longgar."


"Tumben Reng?"merasa bingung, biasa tiap hari pulang larut malam merevisi semua dokumen. Sekarang baru pukul dua siang pekerjaan itu hampir selesai.


Melirik ke pintu"Eemmm, mungkin di bantu sekretaris baru. Dia sepertimu sebelas dua belas, bedanya Ia merevisi lebih teliti sehingga aku hanya membacanya sebentar."melirik lagi ke layar komputer.


Helayan nafas legah terdengar dari seberang telepon"Syukurlah, kami tak salah pilih berarti. Apa ada masalah pada saat dia berkerja Reng?"pastikannya kembali, agar dirinya tak perlu khawatir dengan perusahaan.


Lirik lagi ke pintu, melihat tempat kerja Sella yang berada di dekat pintu masuk"Seminggu ini, sepertinya tak ada. Cukup baik dalam mengurus berbagai macam perkerjaan."


"Eemmm, baiklah kalau begitu, berarti aman sampai aku cuti. Ya sudah, aku matikan dulu telepon, hanya nanya pekerjaan saja."


Memegang keyboard"Eemmm, liburan dululah sana. Urusan perkerjaan jangan di fikirin."fokusnya mengetik.


"Baiklah aku tutup teleponnya, Assalamualaikum."


Senyum Renggra"Waalaikumussalam."meletakkan handphonenya kembali.


Suara ketukan pintu menghampiri.


"Masuk,"refleks menoleh ke arah Sella.


Mata Sella melihat dokumen, tak melihat ke arah Renggra. Sipit mata Renggra, tiap hari bersamanya semakin melihat sosok Laura pada diri Sella.


"Pak, apa bapak dengar saya berbicara?"dari tadi menjelaskan rangkuman investor yang ingin bertemu dengan Renggra esok hari, Renggra hanya melamun melihat ke arahnya.


Mata Renggra berkedip, sadar dengan pikiran yang aneh. Alihnya pandangan itu ke layar komputer"Ekhem, kirim saja lewat SMS saya akan baca."merasa malu ketawan melamuni Sella secara terang-terangan.


Senyum Sella"Baik Pak,"mengundurkan diri kembali keluar ruangan. Merasa semakin hari bekerja dengan Renggra, dirinya tak merasa canggung lagi. Ada hal pendekatan yang baik untuk kedepannya.


Lirik Renggra melihat Sella telah keluar ruangan,"Apa barusan yang kulakukan?"ucap batin.


Dengan tersenyum menggelengkan kepala, menyamai istrinya dengan orang lain. Begitu dramatis hidup ini, fikir Renggra.


Bacanya Via SMS yang di kirim oleh Sella. Ternyata besok malam para investor ingin mengajaknya makam malam.

__ADS_1


Mengerutkan kening merasa bingung, haruskah pergi ke sana sendirian. Biasanya ada Angga yang menemani.


Lihatnya ke arah pintu, terbayang wajah Sella. Mengedipkan mata"Apa Sella mau?"ucap batin.


Menekan tombol telepon menyambung ke telepon Sella"Tolong keruangan saya sebentar."mematikan telepon.


Masuk Sella menghampiri"Ada apa Pak?"melihat berkas yang di buka Renggra.


Melihat Sella"Tadi kamu bilang investor besok malam ingin mengajak makam malam?"


Menganggukkan kepala.


Sambung Renggra kembali"Biasa Angga selalu menemaniku bertemu investor, kalau kamu gimana?"memastikan apa Sella mau keluar malam bersamanya menemui klien.


Menganggukkan kembali kepalanya"Baik Pak,"


Menaikkan alis"Keluar malam loh Sel, nggak papa?"memastikannya lagi.


Senyum Sella"Malam atau siang sama saja Pak, asal rezeki yang di cari halal toyiban. Lagian kita makan di tempat yang ramai insyaallah saya juga akan baik-baik saja."jelasnya.


Entah kenapa hati Renggra seperti di getarkan oleh sesuatu perasaan, mendengar perkataan Sella setiap hari.


Melihat data dari status perkerjaan, tak bisa di pungkiri banyak sekali keahlian Sella di bidang lainnya. Sikap dan akhlak sangat bagus di mata Renggra, mana lagi perempuan di hadapannya masih sigle.


Entah Kenapa terbesit ingatan Bu Aminah berbicara.


"Reng, kamu tak mencoba membuka lembaran baru, mencari istri dan Ibu bagi Yusuf? Ekhem, Reng. Maksud Ibu, kamu akan tau suatu saat nanti jika Yusuf tak memiliki Ibu, rasa kesepian dan rasa kasih sayang darinya itu beda."tepuk pelan pundak Renggra"Semoga kamu paham, Ibu mau nemuin Bu Ani dan Yusuf dulu."


Renyit kening Sella, kenapa Renggra hanya diam saja. Liriknya sebentar ke wajah Renggra yang melamun"Ekhem."cobanya mengeluarkan suara agar Renggra sadar.


"Eeemmm,"sadarnya"Ya kau benar. Baiklah besok malam kau ikut."melihat ke layar komputer.


Menganggukkan kepala,"Baik Pak. Ada lagi yang ingin bapak sampaikan?"


Mengetik Keyboard"Siapkan saja dokumennya,"perintahnya.


Tunduk sedikit"Baik Pak, kalau begitu saya permisi."


Angguk Renggra.


Berbalik arah kembali ke tempatnya.

__ADS_1


Lirik kembali pintu yang telah tertutup,"Ada apa denganku ya Allah? Secepat inikah hatiku engkau bolak-balikkan."ucap batin.


Menarik nafas, membuka lemari kecil mengambil secarik kertas berisi foto.


"Ay, maafkan aku. Aku khilaf, jangan marah ya sayang."cium foto itu"Hanya kamu cukup kamu di hatiku."meyakinkan hatinya kembali.


***


Bersalaman dengan investor,"Salam kenal Pak Renggra."


Senyum Renggra"Salam kenal Pak Joko, semoga kalian senang dengan jamuan kami."ajak Renggra makam malam di restoran miliknya.


Senyum riang Pak Joko melihat suasana di sana,"Iya Pak Renggra."liriknya ke Sella"Salam kenal Bu."mengajaknya bersalaman.


Merapatkan telapak tangan, tolaknya secara halus bahwa Ia enggak bersentuhan"Salam kenal Pak."


Senyum Pak Joko merasa Iba melihat sikap Sella, tariknya tangan kembali.


Renggra melihat sikap Sella, kembali ingatnya pada Laura yang selalu menjaga diri tak ingin bersentuhan dengan laki-laki lain.


"Mari duduk,"ajak Renggra melirik ke Sella, mengalihkan perhatian investor agar tak canggung.


Senyum mereka, duduk di kursi mengikuti arahan Renggra"Apa Ibu ini, istri bapak?"tanya penasaran Pak Joko.


Renggra tak mempublikasikan masalah meninggalnya Laura, tutup rapat agar tak menambah masalah lain. Terutama menghadapi berbagai pihak yang menyelidiki atas meninggalnya keluarga besar Pak Septo. Angga dan Nova telah bertemu dengan pihak berwajib dan berurusan dengan mereka.


Perasaan yang malu di rasa Sella,"Bukan Pak,"sahutnya langsung"Saya sekretaris sementara Pak Angga yang sedang ambil cuti."senyum Sella melihat ke arah lain.


Renggra merasa malu, untung Sella dengan cepat menjawab. Liriknya ke Sella apa benar hatinya sekarang telah berpindah arah? Hanya melihat tingkahnya yang sama dengan Laura.


Senyum Pak Joko"Oh saya kira ini istri bapak, kalian sangat serasi sekali."melihat sisi Renggra dan Sella sangat mencolok. Pakaian yang mereka kenakan pun warnanya sangat menyatu, sama-sama berwarna merah hitam.


Renggra meneguk Saliva, melihat Sella hanya tersenyum-senyum tak berkata apa-apa.


"Mari kita makan bersama, selagi masih hangat?"alihkan pembicaraan.


Angguk Pak Joko"Baik Pak Reng, mari nikmati dulu hidangannya."senyum rama


Senyum Renggra, mengambil segelas air putih. Perlahan mereka makan bersama, sebelum membahas perkerjaan.


Selanjutnya~>Chapter 42

__ADS_1


__ADS_2